17/01/2026
Syahid Di Tepian Pemali
Kisah Detik–Detik Gugurnya Bupati Brebes KH. Syatori
Banyak lembar sejarah Brebes yang masih tersimpan di balik ingatan keluarga, tidak tercatat di buku resmi. Salah satunya adalah kisah Bupati Brebes ke-17, KH. Syatori—seorang pemimpin muda yang gugur di tangan NICA pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947. Cerita ini mengalir dari penuturan anak bungsunya, (Almh) Hj. Chozanah, yang pada 2020 masih menyimpan dengan jernih memori tentang ayah dan ibunya.
Chozanah lahir pada 9 Juli 1947, hanya dua pekan sebelum situasi Brebes berubah menjadi ladang perburuan. Belanda kembali datang mencari para pemimpin republik. Syatori, yang saat itu memimpin pemerintahan Brebes, menjadi target utama.
“Usia saya baru setengah bulan ketika Bapak pamit,” kenang Chozanah.
Demi keselamatan keluarga, Syatori meminta istri tercintanya, Hindun, bersama empat anak mereka mengungsi ke Songgom. Ia sendiri bergerak ke Desa Wangandalem, tempat pusat pemerintahan Brebes dipindahkan secara darurat.
Hindun sebenarnya ingin ikut mendampingi suaminya. Namun Syatori melarang. Sebelum berpisah, ia meminta satu-satunya gelang emas milik istrinya untuk dijual, bekal hidup selama pengungsian.
Bayangkan seorang ibu yang belum genap sebulan melahirkan, harus berjalan kaki sejauh 21 kilometer dari Kauman ke Songgom, menggendong bayi merah bernama Chozanah. Jalan sunyi itu menjadi saksi keteguhan seorang istri bupati yang memilih selamat demi anak-anaknya.
Di Songgom pun mereka belum aman. Tentara Belanda sempat memergoki tempat persembunyian Hindun. Perhiasan yang tersisa hendak dirampas. Dengan naluri seorang ibu, Hindun menyembunyikannya di tempat sampah berisi kotoran bayinya. Belanda jijik, perhiasan itu selamat.
Karena tekanan makin keras, Hindun kembali berjalan kaki membawa empat anaknya hingga ke Cerih, Jatinegara, Kabupaten Tegal. Di sana mereka hidup tanpa kabar tentang Syatori. Tidak ada surat, tidak ada pesan. Hanya ketidakpastian.
Baru setahun kemudian, setelah situasi agak reda dan keluarga kembali ke Kauman, sebuah kabar getir datang: Syatori telah ditembak Belanda.
Jasad yang Kembali ke Hulu
Kesaksian paling ajaib datang dari seorang warga Songgom bernama Tirnya. Ia melihat banyak mayat dilarungkan di Sungai Pemali menuju laut. Di antara tubuh-tubuh tak bernama itu, ada satu jasad yang aneh, setiap kali didorong ke hilir, jasad itu justru kembali ke tempat semula.
Tirnya merasa ada yang berbeda. Bersama warga, ia mengangkat jasad tersebut. Mereka terkejut melihat atribut pakaian yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang bupati. Di saku pakaiannya masih tersimpan gelang milik Hindun, tanda terakhir cinta seorang istri.
Jasad KH. Syatori dimakamkan secara diam-diam di Songgom. Beberapa bulan kemudian, setelah berani membuka rahasia itu, Tirnya mencari keluarga Syatori dan menceritakan semuanya. Makam kemudian dibongkar untuk dipindahkan. Rencana dibawa ke Brebes urung karena situasi belum aman, hingga akhirnya dimakamkan di Talang, Tegal, dekat keluarga Hindun.
KH. Syatori lahir 1912, menjadi Bupati pada usia 33 tahun, dan gugur di usia 35 tahun. Ia meninggalkan istri, Hindun (wafat 1976), serta empat anak: Choridah, Abdul Munif, Syaefullah, dan Chozanah.
Di hari-hari terakhirnya, Syatori selalu membawa kitab Dalailul Khairat, kumpulan wirid, doa, dan shalawat. Seakan ia telah menyiapkan diri untuk perjalanan yang tak kembali.
ketanggungan
https://www.facebook.com/share/1JxNvC8uCD/