17/10/2014
Tua belum tentu Dewasa dan Dewasa tidak harus Tua dahulu
Manusia pasti mengalami seluruh perkembangan ini, mulai dari anak-anak hingga menjadi tua, tentu ada perbedaan psikologis yang dirasakan seiring dengan perkembangan fisik. Jika kita bisa membagi secara sederhana maka akan ada yang tua dan ada yang muda. Tua dan muda seringkali diidentifikasi dari representasi fisik semata, seperti kulit yang masih kencang bagi yang muda dan keriput untuk mereka yang tua, rambut yang hitam dengan rambut beruban, dan lain sebagainya.
Tidak ada orang yang menolak pengertian ini, akan tetapi membatasi pemaknaan antara tua dan muda pada aspek fisik semata hanya mempercepat proses penuaan fisik kita. Karena ketika seseorang sadar bahwa dirinya sudah tua dengan banyaknya rambut yang beruban, mata yang rabun, kaki yang sudah gemetar ketika berdiri, dan seabreg penurunan performa lainnya, maka ia akan pasrah dan hanya menunggu kematian menjemputnya tanpa tahu bahwa ternyata ia masih punya kesempatan sangat banyak untuk “menjadi muda” tanpa terbelenggu oleh fisik yang menua. Seperti apa menjadi muda tanpa terbelenggu realitas fisik? dewasa tentu sebuah pilihan terbaik.
Dewasa yang dimaksud lebih kepada dimensi psikologis sebagai sesuatu yang sangat penting bagi perkembangan hidup. Dewasa bisa dilihat dari cara berpikir yang open mind; terbuka menerima perubahan yang kian hari kian cepat, memiliki jiwa besar mengakui kebenaran dan kesalahan sesuai proporsinya, dan berusaha menjadi manusia pembelajar seumur hidup, dengan mengabaikan latar belakang pendidikan maupun keluarga.
Seringkali kita melihat orang yang berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga yang baik-baik tetapi sangat mudah goyah ketika masalah menerpanya, dan tak jarang kita temukan bapak yang tidak sekolah dan berekonomi sulit tetapi mampu tegak berdiri di atas prinsip hidup yang diyakininya. Tumpuan dari sikap kedewasaan mengarah kepada konsep diri yang positif. Bagaimana melihat dirinya sendiri, apakah ia melihat waktu yang diberikan oleh Allah pada dirinya adalah kesempatan baginya untuk berbuat baik ataukah ia melihat proses penuaan dirinya sebagai kemalangan terbesar. Bagaimana melihat orang lain dan lingkungan sekitar untuk melakukan kerja-kerja terbaik dalam hidup sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rasul dalam salah satu Haditsnya: Manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesama.