21/07/2025
Hangatnya Semangat Belajar
_____
Diceritakan oleh guru bahasa Arab, Ustadz Mudzakkir Abidin
Udara Malino di siang hari selepas dhuhur masih dingin. Tak seperti biasanya. Padahal baru seminggu lalu saya ke sini, dan cuacanya masih bersahabat. Tapi memang, jika di Maros saja seminggu ini pada pagi hari terasa seperti Malino, maka bisa dibayangkan seperti apa dinginnya Malino yang asli.
Sembari menunggu para santri datang, saya menutup jendela masjid rapat-rapat, mencoba menghadang angin dingin.
Tak lama, anak-anak berdatangan.
"Bagaimana kalau kita belajar di luar masjid? Kita jalan-jalan sambil belajar, biar badan hangat dan otak pun segar," ajak saya. Mereka senang.
Kami mulai berjalan. Saya menunjuk pohon, bunga, daun, mobil, bambu, hingga rumah kayu tua yang berdiri di sisi jalan.
"Coba terjemahkan ke bahasa Arab, lalu bentuk menjadi kalimat sempurna," pinta saya.
Satu per satu mereka menjawab. Fasih. Tak satupun yang keliru.
Saya lanjutkan dengan tantangan: “Tulislah sebanyak-banyaknya benda yang kalian lihat di sekitar. Waktu 10 menit. Yang terbanyak akan saya beri hadiah."
Mereka langsung duduk, jongkok, mengambil posisi, dan menulis seperti sedang lomba lari jarak pendek.
Selesai. Saya bertanya dalam bahasa Arab, "Kam katabta?" Berapa yang kamu tulis?”
"37, Ustadz," jawab seorang santri dalam bahasa Arab.
Saya mengangguk kagum. Lalu yang lain menjawab, "35, Ustadz,"
Tiba-tiba, satu suara membuat semuanya menoleh.
"Saya 76, Ustadz.”
Serius?! Saya periksa kertasnya. Benar. Tujuh puluh enam kata, semuanya relevan dan tak ada satu pun dari anggota tubuh, yang sejak awal saya larang.
Namanya Muzammil. Santri asal Sinjai. Ia sedang mempersiapkan tasmi’ 25 juz dalam waktu dekat. Dan tampaknya, bukan hanya hafalannya yang istimewa. Kecepatannya menangkap, merespon, dan menuliskannya. Luar biasa.
Saya kagum dan tersenyum sendiri.
Saat itu, dingin Malino disuguhi hangatnya percikan-percikan api semangat dari anak-anak Wadizzuhur yang terus tumbuh.