30/06/2026
SANTRI
Santri, pada prinsipnya adalah para sarjana yang bukan "nonformal", tetapi memang sengaja menolak formalitas dan apalagi formalisme menara gading. Mereka adalah kaum terpelajar yang sederhana dan bersahaja, rela membaur mengabdi tanpa embel-embel apa pun di tengah masyarakat pedesaan dan pedalaman. Sebuah fakta mencengangkan mengingat para sarjana lulusan perguruan tinggi bonafid biasanya enggan pulang kampung dan membangun desa. Dalam filsafat Jawa disebutkan bahwa: urip kuwi urup, urip kuwi urap (hidup itu menyala dan bercahaya, hidup itu membaur dan bermasyarakat). Falsafah ini santri banget!
Dari 27.000 desa yang terhampar di seluruh Nusantara, nyaris selalu santri mengambil peranan penting terutama dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter, melestarikan kebudayaan dan tradisi, menggeluti sektor pertanian,
peternakan, perekonomian mikro, kecil dan menengah, bahkan sektor paling vital, yakni menjaga kerukunan umat beragama dan kedaulatan NKRI. Bukankah kebanyakan kaum terpelajar non-santri (terutama para politisi) hanya berwacana, beretorika, dan membual ke sana kemari soal kedaulatan, padahal mereka merampok dan menjual tanah airnya sendiri?.
Santri tidak perlu diajak bicara perihal wawasan kebangsaan dan kerukunan, mengapa? Karena, ketika wawasan itu baru diseminarkan di perguruan tinggi dan masyarakat perkotaan, kaum santri telah menerapkannya selama berabad-abad. Mau tahu buktinya? Gus Dur adalah produk pesantren yang paling autentik. Kurikulum pesantren mengalahkan kurikulum universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Sebab, begitu Gus Dur hendak kuliah di sana, ternyata semua mata kuliah di fakultas Dirasah Islamiyah sudah diajarkan di pesantren klasik di Indonesia. Nah, pernyataan lucunya kemudian, kalau kurikulum pesantren klasik saja sudah setara universitas Al-Azhar, mengapa negara tidak mau adopsi kurikulum itu?.
Soal kerukunan umat beragama dan multikulturalisme? Kaum santri tidak ada yang intoleran dan radikal, karena pesantren klasik khususnya lebih menomorsatukan moral (tarbiyyah) dari pada sisi intelektual (ta'lim). Soal narkoba dan terorisme? Pesantren malah sejak awal paling anti merusak generasi muda dengan dalih apa pun, maka, penyuluhan narkoba di pesantren sangat tidak berguna. Soal keamanan dan keutuhan bangsa? Pesantren adalah benteng NKRI yang paling kokoh sejak pra kemerdekaan, masa revolusi bahkan hingga kini dan nanti.
Soal kemandirian dan survivalitas hidup? Kaum sarungan paling tangguh dan pantang mengeluh. Bahkan, kaum santri nyaris tidak pernah merepotkan negara dan memang kaum santri dipandang sebelah mata oleh negara. Yang ada malah negara selalu merepotkan santri, bahkan sejak perjuangan prakemerdekaan hingga kini. Meski negara tak pernah hadir, santri tetap membela Sabang-Merauke ini sampai jasad ke liang lahad.
Tanpa negara dan kemanusiaan memanggil pun, kaum sarungan telah terpanggil dan bahu-membahu merebut kemerdekaan dengan keringat, darah, air mata, dan doa. Tidak ada yang lebih berani menyabung nyawa melawan kekejaman penjajah selain santri. Bahkan, setelah kemerdekaan, khususnya ketika Orde Baru mempersempit ruang gerak santri dan pesantren, setelah penguasa melakukan kanalisasi untuk memperkecil peranan santri, mereka tetap bertahan dengan prinsip dan falsafah hidup mereka.