KESAN MALO

KESAN MALO KELUARGA SANTRI DAN ALUMNI PONDOK PESANTREN LANGITAN KECAMATAN MALO

Rutinan Pembacaan Istighotsah, Rotib al-Haddad dan Shalawat KESAN LANGITAN PAC MALO ------------------------------------...
29/08/2026

Rutinan Pembacaan Istighotsah, Rotib al-Haddad dan Shalawat KESAN LANGITAN PAC MALO

--------------------------------------------------------------------------------------------
Sabtu, 16 Rabiul Awal 1448 H./ 29 Agustus 2026 M.
Kediaman K. Muslih Hasan/Agus Aqib Desa Malo Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro

Mengutip sahabat Ibnu Mas'ud, beliau menegaskan bahwa ilmu hakiki bukanlah sekadar hafalan atau teori (hadisun), melaink...
19/07/2026

Mengutip sahabat Ibnu Mas'ud, beliau menegaskan bahwa ilmu hakiki bukanlah sekadar hafalan atau teori (hadisun), melainkan cahaya (nur) yang masuk ke dalam hati. Tanpa rasa takut kepada Allah (al-khasyah), ilmu hanya menjadi kumpulan kata-kata yang tidak memberikan manfaat bagi pemiliknya.

Ilmu dianggap tidak bermakna jika tidak diwujudkan dalam perbuatan (amal) yang diniatkan semata-mata karena Allah. Beliau menyoroti bahwa banyak orang tampak ahli dalam cabang ilmu seperti fiqih atau ushul, namun jika orientasi mereka tidak tertuju pada keridhaan Allah dan mereka tidak membersihkan diri dari akhlak yang buruk, maka ilmu tersebut tidak akan mencapai hakikatnya.

​Ilmu akan menjadi seperti racun jika penuntutnya tidak membersihkan hatinya dari akhlak tercela (akhlak mazmumah). Tanpa adanya penyucian jiwa, ilmu tersebut hanyalah "dongeng" atau informasi di permukaan yang tidak mengubah perilaku seseorang ke arah kebaikan akhirat.

​Singkatnya, ilmu menjadi sekadar dongeng apabila hanya berhenti pada lisan dan hafalan tanpa meresap ke dalam hati dalam bentuk rasa takut kepada Allah serta tidak membuahkan amal nyata yang memperbaiki akhlak pelakunya.

Pengajian Kitab Ihya' Ulumuddin Juz 1 - Ngaji Mingguan I KH. Abdullah Habib Faqih

https://www.youtube.com/live/F3gfoCvXMtc?si=QNQBdWZxhjfLKwS3

SANTRISantri, pada prinsipnya adalah para sarjana yang bukan "nonformal", tetapi memang sengaja menolak formalitas dan a...
30/06/2026

SANTRI

Santri, pada prinsipnya adalah para sarjana yang bukan "nonformal", tetapi memang sengaja menolak formalitas dan apalagi formalisme menara gading. Mereka adalah kaum terpelajar yang sederhana dan bersahaja, rela membaur mengabdi tanpa embel-embel apa pun di tengah masyarakat pedesaan dan pedalaman. Sebuah fakta mencengangkan mengingat para sarjana lulusan perguruan tinggi bonafid biasanya enggan pulang kampung dan membangun desa. Dalam filsafat Jawa disebutkan bahwa: urip kuwi urup, urip kuwi urap (hidup itu menyala dan bercahaya, hidup itu membaur dan bermasyarakat). Falsafah ini santri banget!

​Dari 27.000 desa yang terhampar di seluruh Nusantara, nyaris selalu santri mengambil peranan penting terutama dalam pendidikan agama dan pembentukan karakter, melestarikan kebudayaan dan tradisi, menggeluti sektor pertanian,
peternakan, perekonomian mikro, kecil dan menengah, bahkan sektor paling vital, yakni menjaga kerukunan umat beragama dan kedaulatan NKRI. Bukankah kebanyakan kaum terpelajar non-santri (terutama para politisi) hanya berwacana, beretorika, dan membual ke sana kemari soal kedaulatan, padahal mereka merampok dan menjual tanah airnya sendiri?.

​Santri tidak perlu diajak bicara perihal wawasan kebangsaan dan kerukunan, mengapa? Karena, ketika wawasan itu baru diseminarkan di perguruan tinggi dan masyarakat perkotaan, kaum santri telah menerapkannya selama berabad-abad. Mau tahu buktinya? Gus Dur adalah produk pesantren yang paling autentik. Kurikulum pesantren mengalahkan kurikulum universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Sebab, begitu Gus Dur hendak kuliah di sana, ternyata semua mata kuliah di fakultas Dirasah Islamiyah sudah diajarkan di pesantren klasik di Indonesia. Nah, pernyataan lucunya kemudian, kalau kurikulum pesantren klasik saja sudah setara universitas Al-Azhar, mengapa negara tidak mau adopsi kurikulum itu?.

​Soal kerukunan umat beragama dan multikulturalisme? Kaum santri tidak ada yang intoleran dan radikal, karena pesantren klasik khususnya lebih menomorsatukan moral (tarbiyyah) dari pada sisi intelektual (ta'lim). Soal narkoba dan terorisme? Pesantren malah sejak awal paling anti merusak generasi muda dengan dalih apa pun, maka, penyuluhan narkoba di pesantren sangat tidak berguna. Soal keamanan dan keutuhan bangsa? Pesantren adalah benteng NKRI yang paling kokoh sejak pra kemerdekaan, masa revolusi bahkan hingga kini dan nanti.
​Soal kemandirian dan survivalitas hidup? Kaum sarungan paling tangguh dan pantang mengeluh. Bahkan, kaum santri nyaris tidak pernah merepotkan negara dan memang kaum santri dipandang sebelah mata oleh negara. Yang ada malah negara selalu merepotkan santri, bahkan sejak perjuangan prakemerdekaan hingga kini. Meski negara tak pernah hadir, santri tetap membela Sabang-Merauke ini sampai jasad ke liang lahad.

​Tanpa negara dan kemanusiaan memanggil pun, kaum sarungan telah terpanggil dan bahu-membahu merebut kemerdekaan dengan keringat, darah, air mata, dan doa. Tidak ada yang lebih berani menyabung nyawa melawan kekejaman penjajah selain santri. Bahkan, setelah kemerdekaan, khususnya ketika Orde Baru mempersempit ruang gerak santri dan pesantren, setelah penguasa melakukan kanalisasi untuk memperkecil peranan santri, mereka tetap bertahan dengan prinsip dan falsafah hidup mereka.

Alhamdulillah, PAC KESAN Malo telah melaksanakan agenda rutinan bulan Muharram: Sowan Masyayikh & Ziarah Muassis Pondok ...
27/06/2026

Alhamdulillah, PAC KESAN Malo telah melaksanakan agenda rutinan bulan Muharram: Sowan Masyayikh & Ziarah Muassis Pondok Pesantren Langitan.

​Kegiatan ini merupakan ikhtiar kami sebagai santri yang telah berkiprah di masyarakat agar tetap tersambung dengan barokah para guru. Sowan kepada para masyayikh untuk memohon doa serta nasihat, dilanjutkan dengan ziarah ke makam para muassis (pendiri) sebagai wujud takzim dan pengingat akan perjuangan beliau-beliau.
​Semoga langkah kaki ini dinilai sebagai amal saleh, dan semoga kita semua diakui sebagai santri para masyayikh Langitan hingga yaumil qiyamah. Amin.

​“Seorang santri akan tetap menjadi santri selama ia menjaga hubungan batin dan takzim kepada gurunya.”

​

18/06/2026

Sambutan mewakili keluarga oleh Agus. H. Ahmad habibullah sholeh Dalam rangka haul KH. Abdullah munif marzuqi yang ke 3.

17/06/2026

Sugeng ambal warsa KH. Muhammad Ali Marzuqi.

أطال الله عمره في صحة وعافية. آمين

Rabu, 17 Juni 2026

Rekonstruksi Peradaban Berbasis Al-Qur'an: Refleksi Muharram dari Surah Al-Anfal & Al-Hasyr​Selamat Tahun Baru Hijriah 1...
16/06/2026

Rekonstruksi Peradaban Berbasis Al-Qur'an: Refleksi Muharram dari Surah Al-Anfal & Al-Hasyr
​Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H.

Momentum perpindahan tahun ini bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah alarm bagi kita untuk merefleksikan kembali hakikat hijrah dan bangunan sosial-politik yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

​Melalui kacamata tafsir, mari kita bedah korelasi epistemologis antara Surah Al-Anfal (1-2, 75) dan Surah Al-Hasyr (7-9) untuk melihat bagaimana Islam memandang spiritualitas, ekonomi, dan tata kelola negara.

​1. Karakteristik Ayat Madaniah: Dialog dan Fondasi Peradaban

​Surah Al-Anfal diturunkan di fase Madinah (Madaniah). Ciri khas dari ayat Madaniah adalah adanya dialog yang nyata antar-manusia dengan Nabi ﷺ sebagai figur sentral. Di fase inilah Islam mematangkan dua domain besar:

​Muamalat (Sistem Sosial): Mengatur interaksi antarkomponen masyarakat.
​Peradaban (Civilization): Bagaimana nilai-nilai teologis diejawantahkan dalam bentuk tata kelola negara, ketahanan pangan, hukum perang, dan kedaulatan politik.

​2. Redefinisi Takwa: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan Tata Kelola

​"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Al-Anfal (harta rampasan perang). Katakanlah: 'Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul-Nya...' Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu..." (QS. Al-Anfal: 1)

​Refleksi Kritis:

Banyak dari kita mereduksi makna takwa sebatas ritual vertikal (shalat dan puasa). Padahal, dalam konteks ayat ini, takwa berkaitan erat dengan:
​Distribusi materi/ekonomi yang berkeadilan.
​Regulasi hukum pertahanan dan stabilitas politik.
​Manajemen konflik demi menjaga keharmonisan sosial (aslihu dzata bainikum).

​Islam menolak keras monopoli moneter. Hal ini ditegaskan kembali dalam QS. Al-Hasyr: 7, yang menyatakan bahwa harta publik harus didistribusikan agar "jangan sampai harta itu hanya berputar di antara orang-orang kaya saja (kai la yakuna dulatan bainal-aghniya'i minkum)." Secara tersirat, ayat ini merupakan antitesis terhadap sistem kapitalisme ugal-ugalan yang mengebiri hak-hak kaum marjinal.

​3. Tiga Dimensi Menikmati Al-Qur'an (Metode Imam Ali Zainal Abidin)

​Untuk memahami progresivitas iman, kita harus menyelami Al-Qur'an melampaui teks. Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad membagi tingkatan interaksi dengan Al-Qur'an menjadi:

​Ibarat (Akwal/Teks): Memahami diksi, bahasa, dan struktur literal ayat.

​Isyarat (Ahwal/Konteks): Membaca indikasi realitas sosial saat ayat diturunkan. Menggunakan pendekatan double movement (gerak ganda): bawa teks ke masa lalu untuk paham asbabun nuzul, lalu tarik maknanya ke realitas kontemporer saat ini.

​Lathaif (Software/Piranti Lunak): Menjadikan esensi ayat sebagai penggerak kesadaran spiritual dan emosional manusia.

​4. Sikap Mental Kaum Hijrah: Bring an Empty Cup

​Dalam QS. Al-Hasyr: 8, Allah memuji kaum Muhajirin dengan predikat Fuqara (orang-orang fakir yang terusir dari kampung halaman demi membela Allah dan Rasul).
​Pesan Filosofis untuk Kita:
Jika Anda ingin melakukan hijrah—baik dalam konteks belajar, bekerja, berumah tangga, atau berpindah ekosistem hidup—posisikan diri Anda sebagai Fuqara (merasa fakir ilmu, fakir wawasan).

​“You cannot fill a cup that is already full.” Kosongkan gelas Anda agar siap menerima pengetahuan dan adaptasi baru di ruang yang baru.

​5. Karakter Anshar: Altruisme (Mengutamakan Orang Lain)

​Sebaliknya, kaum Anshar (pribumi Madinah) digambarkan dalam QS. Al-Hasyr: 9 memiliki karakteristik peradaban yang luar biasa:

​Menciptakan ekosistem yang kondusif (tabawwa'ud-dar).

​Inklusif dan penuh cinta kepada kaum pendatang tanpa pandang bulu.

​Bersih dari kepentingan/pamrih (la yajiduna fi sudurihim hajatan).

​Altruistik (yu'tsiruna 'ala anfusihim walau kana bihim khashashah): Mereka rela mengorbankan kepentingan sendiri dan mendahulukan orang lain, meskipun mereka sendiri sedang dalam kondisi kekurangan/membutuhkan.

​Siapa pun yang jiwanya diselamatkan oleh Allah dari sifat kikir/pelit (syuhha nafsihi), maka merekalah orang-orang yang mencapai kejayaan sejati (al-muflihun).

​
​Jika hari ini kita masih melihat ketimpangan sosial, eksploitasi pajak yang tidak adil, atau institusi keagamaan yang acuh terhadap hukum dan kesejahteraan umat, berarti kita sedang mengalami deviasi (penyimpangan) dari cetak biru peradaban Madinah.

​Mari jadikan 1 Muharram ini sebagai momentum untuk membangun kesadaran kolektif: beragama secara matang, dan bernegara secara bertanggung jawab.

​

15/06/2026

Selamat Memperingati Tahun Baru Islam
1448 Hijriyah

[ 01 Muharram 1448 H/ 16 Juni 2026 M]

15/06/2026

KH. Abdullah Habib Faqih menjelaskan perbandingan antara orang yang hobi debat (munadarah) dengan orang yang meminum khamr. Beliau menekankan bahwa debat seringkali dianggap ringan, padahal dapat merembet ke penyakit hati lainnya seperti sombong, hasad, dan ujub, layaknya khamr yang memicu perbuatan dosa lainnya.

Pengajian rutin kitab ihya' ulumuddin setiap Minggu oleh KH. Abdullah habib faqih
di Ponpes Langitan - Widang - Tuban.

Source :

14/06/2026

Ilmu.

Address

Bojonegoro

Telephone

+6282335318151

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KESAN MALO posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share