Pelita Umat

Pelita Umat

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pelita Umat, Education, Bojonegoro.

13/06/2023

Ketika fir'aun berkata:

أنا ربكم الأعلى

"Aku adalah Tuhanmu yang maha tinggi".

ALLOH berfirman kepada Musa dan Harun:

اذهبا إلى فرعون إنه طغى فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى

"Pergilah engkau berdua kepada firaun, sesungguhnya ia melampaui batas, kemudian berkatalah engkau berdua kepadanya dengan perkataan yang lembut semoga ia ingat atau takut".

Bagaimanapun keadaannya, Fir'aun sudah berjasa kepada Nabi Musa, saat kecil ia diasuh oleh istri Fir'aun di dalam istana kerajaan. Di samping itu, sang Ibu yang bertugas sebagai juru susunya juga mendapatkan sesuatu sebagai upah menyusui.

Karena telah menjadi orang tua angkat, maka jasa tersebut tidak boleh dilupakan. Pada saat pertama kali mengajak ke dalam ajarannya, Musa diperintahkan untuk berkata dengan lemah lembut.

Begitulah ayat Al-Qur'an, tidak ada pertentangan antara yang satu dengan yang lain. Di dalam ayat lain adalah perintah tidak menaati orang tua yang memaksa untuk berbuat maksiat maupun kekufuran.

وإن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما.

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya".

Dan terusan ayat itu adalah:

وصاحبهما في الدنيا معروفا

"Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik".

Kalau dengan orang yang mengaku Tuhan bahkan mengatakan:

أنا ربكم الأعلى

ALLOH memerintahkan untuk berbuat yang begitu lembut, bayangkan bagaimana kasih sayang ALLOH kepada orang yang berkata:

سبحان ربي الأعلى

Maha suci tuhanku yang maha tinggi.

Begitu lembutnya kasih sayang ALLOH kepada hambanya yang mengatakan:

ما علمت لكم من إله غيري

"Saya tidak mengetahui Tuhan selainku (Fir'aun)".

Terus bagaimana besarnya kasih sayang ALLOH kepada hamba yang senantiasa berkata:

لا إله إلا الله.
***

اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عنا يا كريم
اللهم يا من لا يشغله سمع عن سمع
أنت أنيسنا في الوحشة
أنت عوضنا عن كل مصيبة
لا تبعدنا عن جناح رحمتك
أذقنا برد إحسانك ولطفك
بجاه سيدنا وحبيبنا وقرة أعيننا محمد
صلى الله عليه وسلم
والحمدلله العالمين

28/04/2023

Seperti diketahui bahwa jarak diperbolehkan untuk sholat qoshor adalah empat barid. Satu barid (satu pos) mempunyai empat farsah. Sehingga jarak diperbolehkannya sholat qoshor adalah enam belas Farsah.

Dalam kitab I'anah Al-Tholibin dikatakan bahwa Abdulloh bin Abbas dan Abdulloh bin Umar menqoshor sholat dan berbuka puasa pada perjalanan jarak empat barid.

وذلك لأن ابني عمر وعباس رضي الله عنهم كانا يقصران ويفطران في أربعة برد ولا يعرف مخالف لهما.

Menurut Syaikhona Maimoen Zubair satu farsah adalah lima kilometer. Hal itu mengitung jarak antara Makkah dengan Tan'im. Tan'im adalah miqot terdekat untuk ahli Makkah.

Bila dihitung, maka jarak minimal diperbolehkan untuk qoshor menurut Syaikhona Maimoen Zubair adalah delapan puluh (80) kilometer, yaitu 5 kilometer dikalikan 16 farsah.

Bila perjalanan itu diukur dengan waktu, maka dihitung perjalanan dua hari atau dua malam atau sehari semalam dengan mengendarai unta yang diberi muatan. Disamping itu juga mempertimbangkan waktu untuk makan, minum, sholat dan istirahat atau disebut Ishoma.

وأما تحديدها بالزمان فهو سير يومين معتدلين أو ليلتين معتدلتين أو يوم وليلة وإن لم يعتدلا بسير الأثقال وهي الإبل المحملة مع اعتبار النزول المعتاد للأكل والشرب والصلاة والاستراحة (إعانة الطالبين).

Unta yang diberi muatan dalam sehari bisa menempuh perjalanan empat puluh kilometer atau delapan farsah, dengan istirahat setiap lima kilometer (satu farsah).

Bila perjalanan itu terus-menerus dilakukan, maka dalam sebulan bisa menempuh jarak sejauh 1.200 kilometer (30 hari × 40 kilometer).

Dari sini kita mengetahui sedikit rahasia ALLOH menciptakan unta.

أفلا ينظرون إلى الإبل كيف خلقت.

Rosululloh diberi pertolongan oleh ALLOH dengan ditimpakan rasa takut di hati orang-orang kafir dalam perjalanan sebulan.

نصرت بالرعب مسيرة شهر

Imam Bukhori dalam Shohihnya meriwayatkan bahwa Abu Sufyan suatu ketika datang ke Syam untuk berdagang. Kaisar Hiroql (Heraclius) memintanya untuk menghadap bersama rombongan orang-orang Quraisy. Peristiwa itu terjadi setelah adanya Sulhul Hudaibiyah pada tahun ke enam hijriah.

Mereka menemui kaisar Heraclius ketika berada di Iliya. Setelah berdialog dengan Abu Sufyan, Kaisar Heraclius meminta diambilkan surat Nabi Muhammad itu kemudian memerintahkan kepada Abu Sufyan untuk membacanya. Setelah selesai membaca surat, terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara ribut dari tokoh-tokoh kerajaan. Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy diperintahkan untuk meninggalkan ruangan.

Abu Sufyan berkata: “Ajaran Ibnu Abu Kabsyah benar-benar telah tersebar. Raja bani Ashfar (kulit putih) pun takut kepadanya"

"لقد أمر أمر ابن كبشة إنه يخافه ملك بني أصفر"

Yang mempunyai arti bahwa Kaisar Heraclius yang berada di Syam merasa takut terhadap Nabi yang berada di Madinah. Padahal jarak keduanya adalah 1.182 kilometer atau perjalanan sebulan dengan unta. Pada akhirnya daerah-daerah yang berada di antara Madinah dan Syam juga menjadi daerah yang mayoritas penduduknya beragama islam.

Pulau Jawa mempunyai panjang sekitar 1.162 kilometer, yaitu jarak antara Banten (daerah paling barat Jawa) dan Blambangan Banyuwangi (daerah paling timur Jawa). Jarak itu hampir sama dengan perjalanan satu bulan dengan unta. Daerah-daerah antara Banten dan Blambangan pun menjadi daerah yang mayoritas penduduknya beragama islam.

Hal itu merupakan sebuah keanehan, karena pada zaman dahulu orang-orang Jawa banyak menganut agama Hindu dan Budha yang mahir dalam membuat arca dan candi seperti Borobudur (Budha) dan Prambanan (Hindu).

Hal itu salah satunya karena barokahnya para Sayyid keturunan Rosululloh, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Gunung Jati. Dan juga karena tirakatnya salah satu keturunan dari Salman Al-Farisi yang bernama Syaikh Subakir Persia. Para sunan tersebut banyak tersebar di p**au Jawa bagian Utara.

Sama seperti keadaan orang-orang Arab Zaman dahulu yang beribadah kepada berhala baik Ashnam maupun Autsan. Setelah datangnya dakwah Nabi, mereka menjadi para sahabat yang beriman.

Setelah perang Khondak atau Ahzab, golongan yang memerangi Rosululloh dan para muslimin pun sudah tidak berani untuk memerangi lagi. Khondaq adalah strategi perang dari Salman Al-Farisi. Para kaum muslimin membuat parit di sebelah utara Madinah.

ALLOH menolong kaum muslimin yang sudah berusaha menghalau pasukan Ahzab dengan membuat parit. Pertolongan ALLOH berupa angin besar sehingga memporak-porandakan kemah, memecahkan periuk, dan memadamkannya api pasukan Ahzab.

Pertolongan ini diperingati oleh kaum muslimin dengan bertakbir:

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده، وهزم الأحزاب وحده....

Itulah sedikit keterangan Syaikhona Maimoen Zubair yang dapat saya tulis.
Dikutip dari tulisan ust.

26/03/2023

Rosululloh menerima wahyu pertama pada umur 40 tahun. Yang menjadi pertanyaan adalah dengan tanggal rembulan atau matahari kah umur itu dihitung?.

Al-Qur'an surat Al-Baqoroh ayat 189 menyatakan bahwa perhitungan ibadah haji menggunakan metode rembulan. Begitu juga dengan manusia, perhitungan umurnya juga dengan metode rembulan.

يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج.

Pada kesempatan kali ini mari kita kupas sedikit tentang manusia terbaik, yaitu Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam.

Rosululloh menerima wahyu pertama pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum hijrah atau 6 Agustus 610 Masehi (Menurut Syaikhona tahun 611), di gua Hiro'.

Seperti diketahui bahwa Rosululloh lahir pada tanggal 20 April 571 M. Melihat dari hal ini, maka dapat diketahui bahwa umur Rosululloh saat menerima wahyu adalah 39 tahun, 3 bulan, 16 hari dengan perhitungan matahari. (April 10 hari+ Mei 31 hari+ Juni 30 hari+ Juli 31 hari+ Agustus 6 hari).

Dalam satu tahun matahari terdapat 365 hari. Hal itu bila bukan termasuk tahun kabisat. Bila tahun kabisat, maka dalam satu tahun matahari terdapat 366 hari. Tahun kabisat adalah tahun yang bisa dibagi empat, sehingga bulan februari tahun kabisat mempunyai 29 hari.

Satu tahun rembulan terdapat 355 hari. Dilihat dari sini, bisa diketahui bahwa setiap tahun terdapat selisih 10 hari antara tahun matahari dan tahun rembulan. Bila dihitung dengan tahun kabisat, maka setiap empat tahun matahari terdapat selisih 41 hari tahun rembulan.

Dapat kita ketahui bahwa jalan rembulan lebih cepat 10 hari setiap tahunnya daripada jalan matahari. Dan lebih cepat 41 hari setiap empat tahun sekali. Al-Qur'an memberikan isyarat pada Surat Yasin:

لا الشمس ينبغي لها أن تدرك القمر ولا الليل سابق النهار وكل في فلك يسبحون

Dalam sebagian kitab tafsir disebutkan bahwa umur manusia saat mencapai kekuatan fisik (luar) dan ma'nawi (dalam) dimulai saat umur 33 tahun. Dan sempurna keduanya saat berumur 40 tahun.

حتى إذا بلغ أشده وبلغ أربعين سنة قال....

Saat manusia berumur 33 tahun matahari (33×365= 12.045 hari), bila dihitung dengan tahun rembulan maka berjumlah 33 tahun (33×355=11.715 hari) lebih 338 hari (41 hari×8= 328+10). Atau 33 tahun, 11 bulan, 17 hari.

Dalam satu tahun rembulan terdapat 5 bulan yang setiap bulannya berjumlah 29 (5×29=145), dan 7 bulan yang setiap bulannya berjumlah 30 (7×30=210). Bila dijumlahkan, maka keluar hasil 145+210=355.

Bila kita hitung selisih diantara 355-338, maka akan sisa 17 hari. Maka bisa disimpulkan bahwa setiap berumur 33 tahun matahari, maka saat dihitung dengan tahun rembulan berumur 33 tahun, 11 bulan, 17 hari.

Diatas kita sudah menghitung bahwa saat menerima wahyu pertama bila dihitung dengan matahari berjumlah 39 tahun, 3 bulan, 16 hari.

Angka terakhir ini (39 tahun, 3 bulan, 16 hari) dikurangi 33 tahun matahari, yang berarti masih sisa 6 tahun, 3 bulan, 16 hari tahun matahari.

Sisa (yaitu 6 tahun, 3 bulan, 16 hari) tahun matahari bila dihitung selisihnya dengan tahun rembulan maka ada: (61+2= 63 hari) atau 2 bulan 3 hari. Jumlah sisa dan selisih bila kita hitung berjumlah: 6 tahun, 5 bulan, 19 hari.

Bila sudah sampai di sini, maka kita akan mengetahui berapa umur Rosululloh saat menerima wahyu pertama dihitung dengan metode rembulan.

Mari kita hitung: 33 tahun, 11 bulan, 17 hari ditambah 6 tahun, 5 bulan, 19 hari.

Jumlah penambahan tersebut adalah 40 tahun, 5 bulan, 6 hari. Inilah umur Rosululloh saat pertama kali menerima wahyu di gua Hiro' dihitung dengan menggunakan tahun rembulan.

Sedangkan bila dihitung dengan hitungan tahun matahari, maka umur Rosululloh saat menerima wahyu pertama adalah 39 tahun, 3 bulan, 16 hari.

Melihat penjelasan diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa Rosululloh sudah genap berumur 40 tahun dan memasuki umur 41 tahun rembulan.

Penjelasan di atas dianugerahkan ALLOH setelah berfikir pada setengah bait pertama dari bait Aqidatul Awam yang dibuat wirid dengan dibaca bersama-sama oleh para santri Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu Sarang Rembang sebelum sholat Maghrib. Bait itu adalah:

أتم قبل الوحي أربعينا * وعمره قد جاوز الستينا.

والله أعلم بالصواب.

Syaikhona Maimoen Zubair dulu pernah mengajarkan metode hitung menghitung. Dan sedikit banyak dari pengajaran beliau sangat berharga.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh Kanthongumur, pada malam Sabtu Kliwon, 16 Romadlon 1441 H/ 9 Mei 2020 M di Kramatsari Pekalongan Barat.

17/12/2022

"Wong Nek Kepengin Mulyo Uripe Kudu Akeh Ngempete".

Dawuh Syaikhona Maimoen Zubair Sarang.

08/01/2022

Saat Abu Hanifah Hijrah dari Dunia Pasar Menuju Halaqah Intelektual

“Sejak awal remaja, Abu Hanifah sudah mendedikasikan hidupnya agar menjadi seorang pebisnis ulung seperti ayahnya”. Statemen ini disampaikan oleh Syekh Wahbah bin Musthofa Az-Zuhayli dalam bukunya yang berjudul Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (juz 2, hal. 132).

Dari kalimat pendek ini, ia berusaha menjelaskan bagaimana kegetolan Abu Hanifah terhadap dunia pasar dan impiannya sebagai entrepreneur sukses yang jujur lagi amanah.

Puncaknya, ia pun berhasil mewujudkan mimpinya itu. Abu Hanifah tak hanya mewarisi keilmuan dan kebijaksanaan Nabi, tapi juga jiwa bisnisnya yang luhur. Ada sekian banyak cerita ihwal kejujuran dan prinsip bisnis Abu Hanifah. Salah satunya adalah keharusan memberi tahu pembeli bila terdapat aib pada barang yang hendak dijualnya. Nyaris tak ditemukan komoditas beraib yang laku terjual kecuali antara dirinya dan pembeli menyetujui kekurangan pada barang tersebut. Kalau memang ada, pasti bukan Abu Hanifah pelakunya.

Seperti yang diceritakan dalam tulisan yang lalu saat ia meminta partner bisnisnya, Hafsh untuk menjualkan suatu baju beraib milik Abu Hanifah. Itu pun, setelah diketahui, semua hasil penjualannya langsung disedekahkan. Indah sekali prinsip bisnis putra Tsabit ini.

Bukti keluhuran jejak bisnis imam Nu’man ini terekam rapi menghiasi buku-buku sejarah mazhab fiqih, walau mungkin tak semua. Dorongan para ulama dan peneliti untuk melakukan semua itu, tentu setelah melihat background Abu Hanifah sebagai seorang ulama. Sebab, ia lebih tenar sebagai seorang alim, pendiri mazhab fiqih daripada seorang pebisnis ulung.

Setelah mengenal Abu Hanifah yang pernah bergelut di dunia pasar, pertanyaanya, bagaimana kisah hijrah Abu Hanifah dari dunia pasar menuju halaqah intelektual? Sejak kapan mulai menjauhi pasar dan mendekati para ulama? Apa dan siapa motif dari perubahan ini?

Pertemuan Abu Hanifah dan Imam As-Sya’bi

Syekh Abu Zahroh dalam Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (masih di juz dan halaman yang sama), menceritakan kisah pertemuan Abu Hanifah dengan imam as-Sya’bi, seorang ulama besar pakar hadist dari kalangan tabiin. Nama lengkapnya adalah Abu Amr Amir bin Syurahil al-Hamiri as-Sya’bi. Ia lahir di kota Kufah pada tahun 19 H, wafat dan dikebumikan di kota yang sama pada 103 H, dalam hitungan usia yang cukup senja, 84 tahun.

Pertemuan berkah inilah yang mengubah jalan hidup Abu Hanifah. Dan, sejak itu p**a ia bertekad banting setir dari dunia pasar ke dunia para pelajar. Lumayan ampuh juga nasehat sang muhaddist kenamaan itu. Sebab, mampu memikat Abu Hanifah untuk keluar dari kenikmatan dunia pasarnya dan memulai perjuangan baru di jalur intelektual.

Singkat kisah, suatu hari di tengah perjalanan menuju pasar, Abu Hanifah dipanggil oleh seorang berpakaian serba putih, bersurban rapi, tampak sangat berwibawa. Ternyata, dialah yang tenar disapa imam as-Sya’bi di Kufah.

Waktu itu, laki-laki berjenggot putih tersebut sedang duduk di tempat yang agak jauh dari jalan yang biasa dilalui Abu Hanifah. Tampaknya, ia memang sengaja menunggu putra sang saudagar sutra itu di sana.

Melihat Nu’man menuju pasar, ia pun memanggil dan bertanya: إلى من تختلف؟
Artinya, “Anak muda, kau akan pergi ke mana?,” tanyanya santun bersahaja.

Nu’man remaja menjawab, Akhtalifu ila as-suq, “Aku hendak pergi ke pasar,” jawabnya penuh hormat. Mendengar jawaban Abu Hanifah, kakek tua itu pun langsung to the point. Memberi tahu apa maksud ia duduk menunggu di sana.

As-Sya’bi mengatakan: لم أعْنِ الإختلاف إلى السوق عنيت الإختلاف إلى العلماء
Artinya, “Anak muda, saya kurang setuju melihatmu bolak-balik ke pasar, saya berharap engkau punya simpati besar kepada para ulama, mengaji dan mengabdi kepada mereka.”

Kata-kata ini cukup membuat Abu Hanifah tercengang kaget. Sekonyong-konyong orang tak dikenal tadi menyarankannya meninggalkan dunia yang ia geluti dan senangi saat ini. Terlebih, dunia itu adalah warisan dari leluhur, dan Nu’man telah bertekad untuk menjadi seperti ayahnya.

Tak habis pikir, apa yang akan Nu’man katakan kepada orang itu. Akhirnya, dengan terbata-bata ia mengatakan, Ana qalilul ikhtilaf ila al-ulama, “Bagaimana mungkin, saya ini orang pasar, tak banyak bergelut dengan orang ‘langit’ semacam itu,” jawab Abu Hanifah merendah.

Lalu, imam Amir as-Sya’bi mengungkapkan apa yang membuatnya memberi saran demikian. Ternyata, ia memiliki firasat baik tentang pemuda yang satu itu. Tampaknya, as-Sya’bi telah mampu menerawang potensi besar yang tertanam dalam diri Abu Hanifah. Ulama besar itu mengatakan:

لا تفعل وعليك بالنظر في العلم ومجالسة العلماء فإني أرى فيك يقظة وحركة

Artinya, “Tolong jangan lakukan lagi! Kamu harus mulai bergelut di dunia intelektual dan banyak duduk dengan para ulama. Sebab, saya melihat potensi besar dan jiwa suci yang tumbuh dalam dirimu.”

Setelah itu, as-Sya’bi pun berlalu. Tinggal Abu Hanifah seorang diri, terpaku, dan tertunduk. Ia masih terngiang-ngiang dengan kata-kata seorang arif yang ditemuinya tadi. Abu Hanifah mengurung niatnya ke pasar. Ia memilih kembali lantaran gejolak batinnya yang tak menentu.

Beberapa hari kemudian, ia pun akhirnya memutuskan untuk mulai membuka lembaran barunya. Sejak itulah ia menjadi seorang santri yang taat dan tekun belajar, tak pernah alpa dari pengajian para kiai di Kufah. Suatu ketika, Abu Hanifah menceritakan kisah pertemuannya itu dengan as-Sya’bi. Di akhir cerita ia mengatakan:

فوقع من قلبي من قوله فتركت الإختلاف إلى السوق وأخذت في العلم فنفعني الله بقوله
Artinya, “Karena kata-kata as-Sya’bi itu, hari-hariku dirundung gelisah luar biasa. Akhirnya, dengan tulus kulepaskan dunia pasar dan mulai berkecimpung di dunia intelektual. Karena nasihat as-Sya’bi juga, Allah menyiramiku penuh manfaat,” kata Abu Hanifah mengenang masa lalunya.

Rupanya, inilah faktor mengapa Abu Hanifah begitu cepat meninggalkan dunia lamanya, karena tak tahan dengan gundah gulana yang merundung hari-harinya. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawwab.

10/10/2021

Hubungan Erat Lirboyo dan Sarang, Dari Sahabat, Sanad, Hingga Nasab.

Siapa yang tidak kenal dengan dua Pondok Pesantren diatas? Dua Pondok Salaf besar yang tetap eksis ditengah gempuran Pendidikan Modern. serta sebagai tempat penempaan untuk mencetak insan yang berakhlaqul karimah, religius, jenius, cendikiawan dan tentunya beriman.

Lirboyo, Pondok besar yang kokoh berdiri pada tahun 1910 di Bumi Brawijaya, Kota Kediri, Dengan data terbarunya mecapai 28.000 Santri lebih.

Serta Sarang, Sebuah kota santri yang menjadi Maghnet untuk menimba ilmu agama disekitaran Jawa Tengah, khususnya Wilayah Pantura.

Dua Pengasuh pondok besar ini juga memiliki peran penting dan menjadi panutan bagi umat islam Nusantara, Wabil Khusus Ormas terbesar di Dunia, Nahdlatul Ulama.

KH Anwar Mansur, Pengasuh
Pondok Lirboyo sekarang menduduki posisi Mustasyar PBNU dan Syuriah PWNU Jatim, begitup**a Alm. KH Maimoen Zubair dimana masa hidup beliau sering menduduki posisi penting di PBNU, hingga beliau meninggal posisi beliau masih sebagai Mustasyar PBNU. Bahkan Dzuriah dari dua Pondok salaf ini juga ada yang menduduki post-post penting negeri ini.

Dibalik perkembanganya yang begitu pesat, ternyata Lirboyo dan Sarang memiliki hubungan yang erat, bermula dari hubungan antar sahabat dekat, kemudian saling menyambung sanad keilmuan, dan sekarang terhubung tali nasab.

•Sahabat Erat

Hubungan sahabat erat antara Lirboyo dan Sarang bermula ketika Pendiri Pondok Lirboyo yakni KH. Abdul Karim bersahabat dengan Kiai Ahmad bin Syu’aib, dimana keduanya dahulu bersahabat ketika satu almamater dipondok Tebuireng Jombang, asuhan Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Perlu diketahui, Kiai Ahmad bin Syu’aib ini merupakan kakek dari KH. Maimoen Zubair (dari jalur ibu). beliau berdua Mbah Ahmad bin Syua’ib dan Mbah Manab Abdul Karim meninggalkan Tebuireng ditahun yang sama, tepatnya pada tahun 1909. Mbah Ahmad bin Syu'aib kembali ke Sarang Rembang, dan Mbah Manab Abdul Karim ke rumah mertuanya di BanjarMelati Kediri, lalu setahun kemudian mulai merintis pondok pesantren Lirboyo.

Hubungan persahabatan ini selepas dari Tebuireng masih berlanjut, dibuktikan dengan KH. Abdul Karim sering menanyakan kabar sahabatnya ini kepada Mbah Moen muda yang notabenenya cucu dari Kiai Ahmad.

“Beliau Kerapkali tanya kepada saya tentang kawan sejawat beliau dikala masih mondok di Tebuireng”,
Begitu kata Mbah Moen di Buku Sejarah Pesantren Lirboyo.

•Menyambung Sanad

Setelah era Syaikhona Kholil Bangkalan, Lirboyo yang waktu itu diasuh KH. Abdul Karim menjadi tujuan utama para pencari ilmu zaman itu.

Salah satu sebabnya, konon ketika ada orang yang mau nyantri ke Syaikhona Kholil, beliau menolaknya dan menyuruh untuk Mondok Ke Lirboyo Kediri, Praktis Pondok Lirboyo jumlah santrinya terus mengalami peningkatan dari masa ke masa.

Hal itu p**a yang mengilhami KH. Zubair Dahlan (ayah Mbah Moen) memondokan Putranya ke Lirboyo, yang mana Pondok itu diasuh oleh sahabat kakeknya Mbah Moen.

Mbah Moen Mondok di Lirboyo kurang lebih 3 tahun, mulai 1945 hingga tahun 1948 (era Mbah Abdul Karim), banyak kisah menarik selama Mbah Moen Mondok di Lirboyo. Salah satunya ketika Mbah Moen Ngaji pertama kali, makna kitab yang dibacakan KH. Abdul Karim bertepatan dengan makna kitab yang dibacakan abahnya sewaktu disarang.

Dengan Mondoknya Mbah Moen ini sanad keilmuan Sarang tersambung langsung dengan Lirboyo.

Belum cukup disitu, tatkala keilmuan KH. Maimoen Zubair telah tinggi, dan menjadi seorang Kiai, salah satu Putra keluarga besar Pondok Lirboyo telah Mondok di Sarang, beliau lah KH. Imam Yahya Mahrus, Putra Pertama KH. Mahrus Ali, sekaligus Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusy.

Ada hal unik dibalik nyantri Gus Imam (Sapaan Akrab KH. Imam Yahya), beliau Berangkat mondok ke Sarang Rembang tanpa pamit, gegara mendapat bisikan suara Gaib ketika melaksankan suatu perjalanan di daerah Trowulan. Uniknya sesampai di Sarang langsung bertemu KH. Zubair Dahlan ayahanda Mbah Moen.

•Ikatan Nasab

Dua Pemuda dari Lirboyo dan sarang tadi, seiring berjalannya waktu, KH. Maimoen Zubair dan KH Imam Yahya Mahrus kelak menjadi tokoh besar, dengan memiliki santri ribuan tersebar dipenjuru Nusantara.

Disinilah hubungan erat Lirboyo-Sarang terikat lebih dalam. Setelah melalui Sahabat, saling sambung nasab, dan Terikat nasab menjadi puncak.
dimana guru dan murid tadi saling menjadi besan, Putra KH. Maimoen Zubair yakni KH. Abdurrouf Maimoen mempersunting Ning Hj. Etna Iyana Miskiyah, putri KH. Imam Yahya Mahrus.

KH. Imam Yahya Mahrus yang notabene lebih muda dari Mbah Moen, telah kembali ke HaribaanNya pada tahun 2012, dan di Makamkan di Desa Ngampel, yang sekarang berdiri Pon.Pes Al-Mahrusiyah III Asuhan Gus Reza (5 KM keutara dari Desa Lirboyo).

Manakala KH Maimoen Zubair ‘Kapundut’ di Makkah, Keluarga besar KH. Imam Yahya Mahrus sedang Ihrom, Ibu Nyai Hj. Zakiyah Miskiyah lah yang menghibur istri Mbah Moen, Gus Reza juga turut dalam tahjiz hingga selesai dikuburkan. Hemat menulis, ini merupakan hal yang tidak kebetulan, seolah sudah digariskan olehNya.

Mbah Moen meninggal dunia ini disamping orang-orang tercinta beliau.

Semoga hubungan erat Lirboyo dan Sarang ini dapat terus berlanjut, sehingga bisa melahirkan Generasi penerus Mbah Manab Abdul Karim , Mbah Ahmad bin Syu'aib , Mbah Moen dan Mbah Imam.

Wallohu A’lam

Al-Fatihah.

Foto📸: Mbah KH. Imam Yahya Mahrus (baju coklat) sungkem atas kerawuhan Mbah KH. Maimoen Zubair ke Lirboyo tahun 2010 lalu

05/04/2021

Kemarin kita sudah membahas tentang perjalanan beliau berkunjung dan berziarah ke tempat lahir dan tempat wafatnya Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily. Dan pada kesempatan kali ini saya akan berbagi informasi mengenai perjalanan beliau mendapatkan ijazah Mursyid Thoriqoh An-Naqsyabandiyyah.

Berbicara mengenai perjalanan Syaikhona Maimoen Zubair, kita akan membahas terlebih dahulu bahwa pada tahun 2000, Mbah Maimoen berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah dalam rangka melakukan ibadah haji.

Akan tetapi terjadi suatu hal yang menyebabkan beliau tidak bisa melanjutkan perjalanan haji. Akhirnya perjalanan beliau dialihkan ke Mesir.

Di Mesir Mbah Yai Maimoen berkholwat dan bertemu dengan mursyid Thoriqoh An-Naqsyabandiyyah yakni Syaikh Dliyauddin Al-Kurdi.

Mbah Yai pun dibaiat menjadi mursyid thoriqoh Naqsyabandiyah oleh Syaikh Dliyauddin.

Mengenai hal ini, saya menukil dawuh Syaikh Dr. Fathi Al-Hijazi: "Sebenarnya banyak dari para pembesar ulama dan orang-orang yang mulia telah meminta kepada Syaikh Dhiyauddin agar diberi Ijazah sebagai Mursyid Thariqoh Naqsyabandi. Bahkan di antara para pembesar ulama tersebut, ada para ulama yang selalu dihormati dan dimuliakan. Akan tetapi Syaikh Dhiyauddin Al-Kurdi tidak memberikan Ijazah ini kepada mereka. Padahal mereka meminta-minta dengan amat sangat, akan tetapi Syaikh Dhiyauddin Al-Kurdi malah menolak dengan keras. Kemudian, Syaikh Dhiyauddin tiba-tiba memberikan Ijazah ke-Mursyid-an Thoriqoh Naqsyabandiyah ini kepada Syaikh Maimoen Zubair saat pertama kali bertemu beliau". Atau tepatnya

Setelah Syaikh Dliyauddin Al-Kurdi wafat, Syaikhona Maimoen Zubair ingin ziarah ke maqbaroh beliau, akan tetapi tidak tahu dimana pusaranya.

Mbah Yai pun menyewa taksi. Setelah Syaikhona Maimoen naik taksi, tiba-tiba di tengah perjalanan mobil itu mogok. Sopir taksi meminta beliau yang ditemani Abah Abdulloh Ubab, putra sulung Syaikhona Maimoen untuk turun, dan si sopir ngecek kerusakan mobil.

Syaikhona Maimoen pun mencari masjid untuk sholat dan istirahat, ternyata di sekitar masjid itulah Syaikh Dliyauddin Al-Kurdi dimakamkan. Syaikhona Maimoen kemudian ziarah, lalu kembali ke mobil. Saat beliau datang mobil pun menyala.

“Ya Syaikh, anda memang dipanggil Syaikh Dhiya’, mobil ini tidak ada yang rusak, tiba-tiba di sini di depan masjid mobil berhenti dan setelah anda ziarah mobil itu nyala kembali,” kata si sopir.

Begitulah, kiai merupakan sosok yang mengisi ruhaniyah santri (Murobbi Ruhina). Oleh karena itu, guru atau pun kyai adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Maka santri harus memuliakan sosok kyai.

Syaikh Baha'uddin An-Naqsyabandi usai berguru kepada Sayyid Amir Kulal, beliau diperintahkan untuk kholwat di Baghdad selama tujuh tahun. Setelah masa itu dilewati, Syaikh Baha'uddin An-Naqsyabandi mampu berjabat tangan dengan Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, walaupun rentang keduanya sekitar 150 tahun. Maka sangatlah tepat bila ia dijuluki Naqsabandi yang berarti diukir di dalam hati.

Selain memuliakan sosok kiai, guru juga perlu dipandang perspektif khususiyahnya. Yakni memandangnya dari sisi kealiman, kewiraian dan sebagainya. Karena itu banyak kiai yang mempunyai anak kemudian di pondokkan kepada kiai lain. Seperti halnya putra-putra Syaikhona Maimoen Zubair yang belajar kepada Sayyid Muhammad, Sayyid Abbas, Sayyid Ahmad, Syaikh Muhammad Romadhon Al-Buthy dan lain-lainnya.

والله يختص برحمته من يشاء والله ذو الفضل العظيم

Bila kita memandang, basyariyah guru berarti melihat sosok dengan pasti ada kekurangan di balik itu. Bila sosok basyariyah, maka kadang dianggap biasa saja oleh anak, istri dan khodimnya.

Sekian, sedikit cerita tentang perjalanan bai'at, In Syaa ALLOH besok akan kita bahas perjalanan beliau ke tempat lahir dan wafatnya Syaikh Baha'uddin An-Naqsyabandi.

Photos from Pelita Umat's post 11/03/2021

Perjalanan Syaikhona Maimoen Zubair ke tempat lahir dan tempat wafatnya Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzily.

Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzili lahir di Ghumaroh Maroko, sebelah selatan Spanyol, dekat Samudera Atlantik (Barat). Negara Maroko termasuk dalam benua Afrika.

Dan Wafat di Humaistaroh Mesir, daerah sebelah barat Saudi Arabia. Mesir pun masuk termasuk benua Afrika.

(lahir di barat, wafat di timur).

Beliaulah yang mendirikan thoriqoh Syadziliyyah.

***

Disamping sebagai ulama yang mengajarkan berbagai ilmu agama di dalam maupun di luar pondok, Syaikhona Maimoen juga berkhidmah di Jam'iyyah Thoriqoh Mu'tabaroh An-Nahdliyyah mulai tahun 1989 sampai 2000. Beliau menjadi salah satu rais pada Jam'iyyah itu.

Dan sebagai Mursyid Syadziliyyah beliau menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat lahir serta berziarah ke maqbaroh Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzily.

Pada tahun 2005 Mbah Yai berkunjung ke Luxor dan Aswan Mesir. Setelah itu beliau ziarah maqbaroh Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily. Hal itu seperti diceritakan oleh Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’.

Mas Fadlolan berkhidmah tiga kali saat Mbah Yai Maimoen tiap kali ke Mesir. Mbah Yai diagendakan ziarah wisata ke Luxor dan Aswan didampingi Ibu Nyai Heni Maryam.

Saat di ruang boarding Airport Cairo, Mbah Yai berkata kepada Mas Fadlolan: “Mas Fadlolan, nanti kita ziarah ke Imam Syadzily ya…!!!”.

Ajakan itu terasa berat bagi Mas Fadlolan, karena tiket pesawat PP Ciro-Luxor-Cairo sudah dibeli. Biasanya kalau ziarah ke makam Imam Syadzili, mesti nginap, karena perjalanan tidak cukup p**ang-pergi sehari semalam. Jarak tempuh Cairo Luxor +- 900 km dengan pesawat terbang, Luxor Humaisarah perkampungan Imam Syadzili +-400 km dengan jalan darat. Jalan sepi tidak begitu baik aspalnya. Maklum bukan jalur wisata turis. Yang paling aneh jalur ini tidak ada fasilitas kehidupan (tidak ada listrik, air, sinyal telpon, pom bensin, toilet, warung, dan lain-lain. Tidak ada sama sekali). Akan tetapi saat itu perjalanan bersama Mbah Yai berangkat pukul 07.00 kembali pukul 20.00.

Mas Fadlolan memang sudah berniat untuk berkhidmah kepada Mbah Yai, maka ia pun melepon seorang kawannya yaitu orang Mesir yang siap menjemput di bandara Luxor.

“Ya ammi Fauzi, hal mumkin ziarah ila al Imam Syadzili?”.

Dia jawab, “Mus mumkin/tidak mungkin”.

Tapi Mas Fadlolan mencoba meyakinkan dia berulang ulang, dan dia tetap menjawab tidak mungkin, karena dia sudah hafal ukuran kilometer perjalanan yang mesti nginap atau kalau langsung balik mesti ketinggalan pesawat dan nginap di Luxor.

Singkat cerita, Mas Fadlolan pun harus berkata: Kita coba, jika bisa PP ya alhamdulillah, bila tidak bisa ya kita nginap di Luxor dan tiket pesawat kita hangus". Akhirnya si Fauzi menyetujui.

Rombongan perjalanan yaitu Mbah Maimoen, Ibu Heny Maryam, Mas Fadlolan dan sopir tiba di bandara Luxor pukul 08.00 lalu mereka sarapan minum hangat sambil menunggu pintu gerbang Ma’bad Luxor atau Luxor Temple (Kuil tempat ibadah Firaun yang di Luxor) pukul 08.30 mulai masuk.

KH. Maimoen Zubair sangat mengagumi peninggalan Firaun. Beliau sambil mengajari Mas Fadlolan supaya senang sejarah peradaban. Saking senangnya, beliau lalui dua lokasi Ma’bad Luxor sambil cerita ayat-ayat kauniyat dihubungkan dengan ayat-ayat al-Quran, sambil foto-foto yang diabadikan.

Mas Fadlolan sering mengingatkan: "Jadi ke makam Imam Syadzili Mbah Yai?".
Beliau jawab: "Iya, Jadi".

Karena sudah pukul 10.30, namun saking asyiknya, beliau tidak terasa capek. Mas Fadlolan ingatkan ulang, dan beliau berkata: "Njih monggo berangkat ke Imam Syadzili".

Tepat pukul 11.00 beliau naikkan mobil sedan Daewoo yang sering direntalnya sekalian sopirnya, lalu meluncur cepat menuju Edfo, 100 km perbatasan Luxor dengan padang pasir yang tidak ada fasilitas kehidupan.

Tiba di Edfo pukul 13.30, mereka salat jamak taqdim, lalu makan siang di warung samping mushalla tersebut. Di sinilah kekeramatan KH. Maimoen Zubair, mulai tampak.

Seorang ibu pemilik warung makan, tiba-tiba keluar membawa air botol aqua besar, seraya berkata: “Ya Syekh, ud’u li zauji, wa hua maridh” / ”Ya Syekh, doakan suami saya, ia sedang sakit”.

Beliau langsung terima botolnya dan didoakan seperti biasa tamu-tamu di ndalem Sarang pada minta doa. Lalu beliau bertanya: “Aina zajak” / ”Dimana suamimu” lalu diajak ke kamarnya disuwuk dan diolesi air yang di botol tersebut.

Saat akan pamitan, mau bayar warung, sungguh saling menjaga wirai, maunya yang punya warung tidak mau dibayar, tapi si Mbah KH. Maimoen Zubair tetap membayar. Di situlah kekeramatan beliau terbaca oleh rombongan semua, terutama sang sopir amu/Lik Fauzi mulai kagum dan semakin percaya membawa seorang alim allamah.

Mereka meninggalkan warung pukul 14.30 menuju Humaisarah yang jaraknya sekiatar 300 km. Pukul 17.00 mereka tiba, lalu ambil wudlu dan ziarah. Mbah Maimoen Zubair membaca Hizb Nasr, tahlil singkat dan berdoa.

Tepat pukul 17.45 matahari gelap. Mereka segera meneruskan perjalanan kembali ke Luxor. Kekeramatan Syaikhona KH. Maimoen Zubair, tidak bisa ditutupi lagi, semakin jelas.

Beliau duduk sila di jok belakang bersama ibu Nyai Heni Maryam, wiridan. Mas Fadlolan di jok samping sopir. Melihat jam yang harusnya kami sudah tiba di bandara Luxoor pukul 18.30 (dulu belum ada check in online) tapi Mas Fadlolan hanya berdoa semoga kebagian pesawat. Semakin semangat sopir Arab itu, lupa kalau mobilnya itu sedan Daewoo tua, kok diajak lari 150-160/km. Mas Fadlolan merasa ban mobil itu tidak nempel aspal. Ditambah jalannya pun tidak begitu baik.

Tapi ia yakin yang karena mobil itu ditumpangi seorang waliyullah Syaikhona KH. Maimoen Zubair, semakin kencang wiridan semakin cepat.

Di tengah perjalanan itu mereka hanya dibekali istri mas Fadlolan cemilan ringan dan lemper buatan malam hari, yang dengan panas matahari sampai sore harinya sudah tidak sehat lagi. Tapi Syaikhona KH. Maimoen Zubair, sangat arif dan mendidiknya untuk qonaah/neriman: “Ayo mas Fadlolan, kita makan lempernya buatan neng Fenti, …itu enak ya…, pinter masak ya istri mas Fadlolan,” katanya.

Lalu mas Fadlolan bergegas menyiapkan makan malam. Mbah Yai pasti butuh kamar kecil untuk bersuci dan jamak salat Maghrib dan Isyak. Maka mas Fadlolan menelepon hotel dekat airport yang bisa menyiapkan makan malam siap santap dan bisa ke kamar kecil dan mushalla.

Perjalanan 400 kilometer sungguh terlipat waktunya hanya 2,5 jam (padahal setiap mas Fadlolan jalan ke sana bila tidak bersama Syaikhona KH. Maimoen Zubair, antar 7-9 jam). Namun pukul 19.00 mereka tiba di Luxor di sebuah restoran hotel, lalu mereka makan malam seafood dengan cepat.

Beliau memberi mas Fadlolan uang 300 pound Mesir, standar umum makan berempat sudah cukup. Ternyata totalan kasir harganya 750 pound Mesir. Si Mbah Maimoen Zubair melihat kalau mas Fadlolan menambahi banyak.

“Mas Fadlolan kok nambah banyak…?” tanya beliau.

Ia jawab, “Tidak nambah Mbah,”.

“Lho saya lihat nambah kok…. “ katanya. Karena orang Arab Mesir biasa ngitung uang diangkat di depan mata dia, maka kelihatan dari jauh jumlah tambahannya lebih banyak.

Ringkas cerita, beliau mendesak pertanyaan:

“Berapa itu tadi mas..?,” tanya

Ia jawab, “750 pound Mbah…..”

Saking tidak ridlanya harga yang terlalu mahal, terucap kata-kata beliau “Laisa minna” / “bukan golongan kita”.

Subhanallah, mereka keluar dari restoran tersebut, tidak lama malam itu restoran terbakar bersama hotelnya, tidak bisa dipadamkan.

Sopir menelepon: “Masyaallah kalumu Syaikh Maemun Khothiir, kalamuhu dua”/ (Omongannya Syaikh Maemun bahaya, omongannya itu doa”. “Al-funduk alladzi na’kul fih mahruq lam yathfihi”/”Hotel yang kita buat makan tadi terbakar tidak bisa dipadamkan”.

Sebelum sampai restoran, mas Fadlolan sempatkan telepon kawan inteligen wilayah Luxor untuk menunda pesawat terbang yang akan mereka tumpangi, karena mas Fadlolan membawa seorang ulama besar dari Indonesia Syekh Maemun Zubair.

Telat sekitar 30-45 menit, mereka sudah dekat airport namun mau ke kamar kecil dan makan malam terlebih dahulu. Alhamdulillah pesawat didelay 30 menit. Perjalanan terlipat jauh lebih cepat, mereka masuk airport tidak usah check in, langsung disambut kawan-kawan mabahist dauli (inteligen Negara Mesir) langsung dikasih boarding pass mereka dan masuk pesawat tanpa urusan.

Begitu masuk pesawat, langsung pintu ditutup dan terbang. Orang Mesir dan turis lain, tertahan 30 menit di dalam pesawat. Begitu melihat mereka orang Indonesia yang menyebabkan mereka di-delay, lalu pada nyeletuk: Ya Andunisi/Hai orang Indonesia…!!!

Saking capeknya, mas Fadlolan ngantuk, tapi Syaikhona Maemun Zubair memegangi tangannya sepanjang perjalanan, dan sering dililing wajahnya seraya berkata: Mas Fadlolan tadi naik apa…?. Ia jawab: “Naik Burok, Mbah”. Beliau jawab: Hiya betul…betul…betul… mas Fadlolan.

Setibanya di Cairo, ia antar beliau istirahat, lalu pagi harinya ia bawakan Koran. Terdapat foto berita hotel yang tempat mereka makan tadi malam terbakar tidak bisa dipadamkan, akibat dingendikani: “laisa minna”. Itulah orang alim dan pengasih.

Ia curi pandang wajah beliau, ternyata air mata mengalir di pipinya, menangis tanda menyesali ucapan beliau yang menjadi doa kesedihan orang lain. Inilah waliyullah yang arif dan penyayang semua makhluk. Perjalanan ini tidak pernah bisa ia ulang seumur hidup ini.

Itulah perjalanan beliau berziarah ke maqbaroh Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzily.

Seperti dijelaskan tadi bahwa Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily lahir di Maroko. Dan pada bulan September 2011, Mbah Yai berziarah ke beberapa ulama Maroko.

Antara lain:

1. Abu Al-Abbas Ahmad (Al-Hasani), pendiri thoriqoh Tijaniyyah, di Fez, Maroko.

2. Ibnu Ajrum As-Shonhaji, pengarang kitab Jurumiyyah, di Fes, Maroko. Kitab beliau dipelajari di pondok-pondok pesantren, termasuk di pondok pesantren Al Anwar.

3. Syaikh Sulaiman Al-Jazuli, Pengarang Dalailul Khoirot, di Marokisy. Dan beliau pernah mengijazahkannya kepada para alumni.

4. Ibnu Bathutah, sang pengeliling dunia, di Tangier.

Disamping itu, Mbah Yai juga bertemu dengan mursyid thoriqoh Tijaniyyah, Prof. Dr. Ahmed Yesif. Dan juga bertemu dengan salah seorang keturunan dari Ibnu Bathutah, yaitu: Dr. Mariam Ait Ahmed.

Salah satu amalan dari Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily yang diamalkan adalah hizb nashor.

Selain itu, pada doa Yasin Fadlilah juga diselipkan sholawat Fatih, yaitu Sholawat Thoriqoh Tijaniyyah.

Dari kisah di atas, kita bisa mengetahui bahwa sebagai Mursyid Syadziliyyah, Mbah Maimoen mengunjungi tempat lahir dan tempat wafatnya pendiri thoriqoh Syadziliyyah.

Walaupun Mbah Maimoen lahir di daerah timur (Sarang), akan tetapi wafat dan dimaqbarohkan di daerah barat (Makkah).

Pada saat sholat shubuh hari Jum'at rokaat kedua Mbah Yai seringkali membaca surat Al-Kahfi yang menceritakan tentang Dzul Qornain. Dzul Qornain pertama kali datang ke daerah terbenamnya matahari, yaitu di samudera Atlantik.

حتى إذا بلغ مغرب الشمس وجدها تغرب في عين حمئة ووجد عندها قوما.

Dan dari perjalanan beliau ke tempat lahir Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily di Maroko bisa didapatkan pelajaran bahwa Mbah Yai pun sampai ke Samudera Atlantik.

Inilah salah satu perjalanan beliau, In Syaa ALLOH lain waktu akan kita tulis perjalanan beliau ke Maqbaroh Syaikh Baha'uddin An-Naqsyabandi.

***
والسلام علي يوم ولدت ويوم أموت ويوم أبعث حيا
وسلام عليه يوم ولد ويوم يموت ويوم يبعث حيا.

Kulo copas sangking pak atau biasa dari kalangan santri memanggil mbah wali

Want your school to be the top-listed School/college in Bojonegoro?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Bojonegoro

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00