Panti Asuhan Yatim Al-Maa'uun PCM Cileungsi

Panti Asuhan Yatim Al-Maa'uun PCM Cileungsi

Share

Panti Asuhan Muhammadiyah Al Maa’uun adalah panti model pondok pesantren, yang sekarang disebut panti pesantren/pondok.

Photos 06/10/2013

اِبْـتِسَامَةُ الْفَقِيْرِ تُخْبرُنَا أَنَّ السّعَادَةَ لَيْسَتْ كُلّهَا بِالْمَالِ

Senyuman orang miskin memberitahu kita bahwa kebahagiaan itu tidak selamanya dengan harta

03/08/2013

Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang akuadalah hamba-Mu dan aku diatasikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu)

27/05/2013

Bersyukur Adalah Tampilan Nyata Orang Beriman
Oleh Abu Najlaa

Tidak jarang orang memahami istilah “syukur” itu sedemikian sederhana dan pragmatis. Seolah-olah kalau ada orang mau berterima kasih kepada Allali SwT dan mengucapkan lafal “al-hamdu li- ’llaahi rabbi-’l-’aalamiin” sudah dianggap cukup untuk disebut sebagai orang yang “bersyukur”. Apakah demikian itu pengertian “syukur” kalau dilihat dari perspektif orang beriman?

Dari perspektif orang beriman, bangunan atau struktur tampilan “syukur” itu memiliki 2 (dua) komponen inti, yaitu komponen “kesadaran memiliki Tuhan” dan komponen “kesadaran mengelola diri sendiri”. Setiap komponen inti tersebut memiliki subkomponen yang mau tidak mau harus ada dan harus dimunculkan. Bagaimana penjelasan rincinya?

Komponen inti yang pertama, yaitu “kesadaran memiliki Tuhan”. Kesadaran ini sungguh-sungguh penting. Bahwa dalam hidup ini perlu disadari adanya pihak yang senantiasa menemani. Tetapi sekaligus mengawasinya, yaitu Tuhan, Allah SwT.

Bagi orang beriman, karena dia selalu merasa ditemani dan diawasi oleh Tuhan, Allah SwT, maka apa pun yang diusahakan dan dikerjakan merasa dirinya bukan satusatunya yang berusaha atau bekerja. Temannya dan pengawasnya, yaitu Allah SwT ikut andil besar terhadap keseluruhan usaha dan pekerjaannya itu. Karena itu, komponen inti yang pertama, yaitu “kesadaran memiliki Tuhan” mengandung subkomponen yang jumlahnya 2 (dua) saja, yaitu: “sadar berterima kasih” dan “sadar untuk terus berdoa/memohon” .

Kalau di atas dikatakan bahwa setiap usaha dan pekerjaan itu terdapat andil dari Allah SwT. Sekarang pertanyaannya adalah “apakah Allah SwT memerlukan bagian dari keberhasilan tersebut?” Hal ini dijawab sendiri oleh Allah SwT lewat Al-Qur’an yang berbunyi (Q.s. Luqman [31]: 12): wa man yasykur fa innamaa yasykuru li nafsihi wa man kafara fi inna-‘l-laahaa ghaniyyun hamiidun = Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya (sendiri), dan barangsiapa kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Dengan pernyataan ayat ini, jelas ditunjukkan bahwa Allah SwT tidak minta bagian. Sebab Allah SwT adalah Dzat yang sudah Maha Kaya (ghaniyyun) dan yang sudah sangat Maha Terpuji. Karena itu, Allah SwT sudah tidak membutuhkan apa pun, termasuk pujian.

Selanjutnya, komponen inti yang kedua, yaitu “kesadaran mengelola diri sendiri”. Kesadaran ini sungguh-sungguh penting p**a. Bahwa hidup kita, umatmanusia, senantiasa dipenuhi oleh bermunculannya keinginan. Keinginan yang paling tampak adalah keinginan memiliki dan keinginan menikmati. Keinginan memiliki ini meliputi jumlah/ kuantitas (misalnya tabungan uangnya banyak, rumahnya banyak, tanahnya luas, perusahaannya beranak-pinak, kesehatannya prima, dan sebagainya) dan mutu/ kualitas (misalnya terlihat indah, terdengar merdu, terbau harum, terasa enakmenyelerakan, terasa halus-empuk, terasa nyaman badan, terasa segar-bugar, terasa gembira-menyenangkan, terasa menyejukkan- menenangkan, dan sebagainya). Kalau berbagai keinginan ini dibiarkan, maka orang akan tergulung dan dipermainkan o.leh “sang keinginan” itu sendiri. Pada hakikatnya, justru keinginan itu sekedar energi dan semangat untuk melakukan gerak, usaha, dan bekerja, bukan sebagai tujuan. 0leh sebab itu, kalau sampai terjadi “sang keinginan” menjadi tujuan atau penyetirnya, maka kondisi seperti itu benarbenar terbalik secara hakiki.

Agar apa yang disebut “keinginan” di atas berjalan sebagaimana mestinya, wajar, dan proporsional, maka perlu 2 (dua) hal, yaitu: “membatasi medan keinginan” dan “menikmati secara maksimal hal yang dihadapi”. Yang dimaksud dengan “membatasi medan keinginan” ini adalah bahwa bertambahnya jumlah keinginan itu tidak terbatas. Apa saja diingini, terutama yang menyangkut keinginan “memiliki” dan “menikmati”. Pembatasannya adalah dengan memilah dan memilih, mana keinginan yang benar-benar perlu. Untuk proses memilah dan memilih ini faktor penalaran harus difungsikan, bukan faktor perasaan yang menjadi acuan. Inilah yang disinggung Al-Qur’an sebagai berikut (Q.s. Al-A’raf [7]: 31): wa kuluu wa’asy-rabuu wa laa tusrifun innahu laa yuhibbu-‘l-musyrifiina = Dan makanlah serta minumlah dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan.

Berkaitan dengan komponen inti yang kedua di atas, maka subkomponen yang harus ada adalah “membatasi medan keinginan” dan “menikmati secara maksimal hal yang dihadapi”. Dua subkomponen ini perlu dilatihkan dan dibiasakan.

Berdasarkan uraian menyeluruh di atas, maka bagi seorang yang beriman, pengertian “syukur” yang perlu diresapi adalah bahwa dalam perjalanan hidup ini perlu “kesadaran memiliki Tuhan” (komponen inti yang pertama) dan “kesadaran untuk mengelola diri sendiri” (komponen inti yang kedua). Kesadaran memiliki Tuhan akan mempertajam “rasa terima kasih” dan “menyatakan doa dan permohonan” kepada Tuhan. Selanjutnya, kesadaran mengelola diri sendiri akan mempertajam “pembatasan medan keinginan” dan kesanggupan “menikmati secara maksimal hal yang dihadapi”. Jadi, bersyukur tidak sekedar mengucapkan hamdalah (“al-hamdu li-’llaahi rabbi-’l-’aalamiin”) saja. Perlu lebih dalam daripada itu. Bagaimana dengan Anda selama ini?l

Kementerian Agama: 27-28 Mei 2013 Momen Tepat bagi Umat Islam untuk Koreksi Arah Kiblat 27/05/2013

Kementerian Agama: 27-28 Mei 2013 Momen Tepat bagi Umat Islam untuk Koreksi Arah Kiblat

Rubrik: Nasional | Kontributor: Tim dakwatuna - 26/05/13 | 23:13 | 17 Rajab 1434 H

Belum ada komentar dan belum ada reaksi
1636 hits
Email 1 email

arahl-qiblat

27-28 Mei dan 15-16 Juli Tiap Tahun, waktu untuk menentukan arah Kiblat (inet)

dakwatuna.com – Jakarta. Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin memberi tips bagaimana menentukan arah kiblat dengan benar.

Menentukan arah kiblat yang benar dengan menggunakan benda tegak, misalnya kusen jendela. Menentukan arah kiblat dari bayangannya pada waktu yang ditentukan. Beri tanda arah bayangan, misalnya dengan sajadah. Buat garis shaf baru berdasarkan arah yang telah ditentukan.

“Jangan ragu menyempurnakan arah kiblat demi kebenaran,” ujarnya, Ahad (26/5). Ia membenarkan pada setiap 26 Mei hingga 30 Mei adalah waktu yang tepat bagi umat Islam di Indonesia Barat untuk mengoreksi arah kiblat secara mudah dan sederhana.

“Dengan bayangan matahari pada saat-saat tertentu yang disebutkan di bawah ini, arah kiblat dapat lebih mudah dan lebih akurat ditentukan,” ujar Anggota Badan Hisab Rukyat, Kemenag RI ini. Rentang waktu plus atau minus 5 menit masih cukup akurat.

Arah kiblat adalah dari ujung bayangan ke arah tongkat. Selain itu, tanggal 14 hingga 18 Juli pada pukul 16:27 WIB bisa juga melihat arah bayangan.

Kementerian Agama merilis pada tanggal 27 hingga 28 Mei 2013 merupakan momentum yang tepat bagi umat Islam yang ingin mengoreksi arah kiblat masjid atau mushala di Indonesia.

Pasalnya pada kedua hari itu, tepat pukul 16.13 WIB sampai 16.23 WIB, matahari berada pada titik kulminasi (matahari tepat di atas kepala) di atas kota Makkah.

Secara astronomis, peristiwa matahari berada di atas Kakbah dapat terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 27-28 Mei dan tanggal 15-16 Juli.

Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag), Ahmad Izzudin mengatakan, pada tanggal tersebut, nilai deklinasi (posisi) matahari hampir sama dengan titik koordinat lintang Mekah yakni sebesar 21 derajat 25 menit.

Pada tahun ini rashdul kiblat jatuh pada hari Senin-Selasa, 27-28 Mei 2013. “Untuk daerah geografis Indonesia yang memiliki perbedaan bujur dengan Mekah, maka umat Islam yang ada di Indonesia akan dapat melihat bayangan kiblat pada waktu sore hari,” jelas Ketua Umum Asosiasi Dosen Ilmu Falak Indonesia ini, Ahad (26/5).

Sedangkan untuk Indonesia bagian tengah dan timur, waktunya bertambah satu jam, sehingga untuk daerah Indonesia bagian tengah bertepatan pada pukul 17. 18 WITA dan wilayah Indonesia bagian timur pada pukul 18.18 WIT.

Pada bayang-bayang kiblat atau yang disebut dengan rashdul kiblat, Mekah terletak pada garis lintang 21 derajat 25 menit LU, dan pada saat awal matahari melintasi Ka’bah (titik zenith Ka’bah) dari garis lintang utara menuju selatan juga tepat berseberangan meridiannya pada garis bujur 39 derajat 34 menit, pada saat itu secara astronomis kedudukan matahari di atas Kakbah. (USB/AA/ROL)
Redaktur: Samin

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/26/33872/kementerian-agama-27-28-mei-2013-momen-tepat-bagi-umat-islam-untuk-koreksi-arah-kiblat/
Follow us: on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Kementerian Agama: 27-28 Mei 2013 Momen Tepat bagi Umat Islam untuk Koreksi Arah Kiblat "Jangan ragu menyempurnakan arah kiblat demi kebenaran," ujarnya, Ahad (26/5). Ia membenarkan pada setiap 26 Mei hingga 30 Mei adalah waktu yang tepat bagi umat Islam di Indonesia Barat untuk mengoreksi arah kiblat secara mudah dan sederhana. "Dengan bayangan matahari pada saat-saat tertentu yang di...

23/05/2013

CERITA BAHASA ARAB 3
ANAK YANG SHOLEH

ذات يوم فى المدينة، وهذا يوم عظيم، يوم عيد الفطر، كان ولد يلعب مع اصدقائه فى وسط الشارع، وهو يلبس لباسا قبيحا ويلبس اصدقاؤه لباسا جديدا جميلا. وفي جانب الشارع كان رجل ينظر إليه وهو يبكى. وهو أبوه. ولما يعلم ولد أن أباه ينظره ويبكى، فهو يقرب أباه ويسأل لماذا تبكى ياأبي، هذا يوم عظيم، هذا يوم عيد الفطر. وقال أبوه يابني احزن و ابكى لانك لا تلبس لباسا جديدا كما اولاد آخر. وقال ولد إلى أبيه، يا ابي، ولد بلباس قبيح بالتقوى فى قلبه خير من ولد بلباس جديد بدون التقوى فى قلبه. وهذا القصة كما قال الشاعر ليس العيد من لبس الجديد ولكن العيد من طاعته تزيد.

23/05/2013

CERITA BAHASA ARAB 2
KELEBIHAN ILMU

وقال النبي، أنا مدينة العلم، وعلي بابها، فلما سمع الخوارج هذا الحديث، حسدوا عليا، واجتمع بعض انفار، وقالوا إنا نسأل منه مسئلة واحدة ، ونرى كيف يجيب لنا، فلو اجاب لكل واحد منا جوابا آخر، نعلم أنه عالم كما قال النبي. فجاء واحد منهم، وقال يا علي، العلم افضل أم المال، فأجاب علي، فقال العلم افضل من المال، فقال بأي دليل، قال العلم يحرسك والمال تحرسه. فذهب بهذا الجواب. وجاء واحد منهم، وسأل كما سأل الاول. فأجاب علي، وقال العلم افضل من المال، فقال بأي دليل، فقال لصاحب المال عدو كثير، ولصاحب العلم صديق كثير. فذهب بهذا الجواب. وجاء آخر ، فقال العلم افضل أم المال. فقال العلم أفضل، فقال بأي دليل. قال إذا صرفت من المال فإنه ينقص، واذا صرفت من العلم يزيد....

23/05/2013

Contoh Muhadhoroh : (Untuk Para Santri)
BAHASA ARAB
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ اَشْرَفِ اْلاَنْبِياَءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ إِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ سَيِّدِ الْمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . أَمَّا بَعْدُ.
فَياَ اَيُّهاَ الْخُطَبَاءُ الْكُرَمَاءُ ، وَياَإِخْوَانِىْ رَحِمَكُمُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ .
اَوَّلاً هَياَّ نَشْكُرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِاَنَّ بِعِناَيَتِهِ وَبِرَحْمَتِهِ نَسْتَطِيْعُ اْلآنَ اَنْ نَجْتَمِعَ فِى هذاَ الْمَكاَنِ الْمُبَارَكِ. وَلاَ اَنْسَى أَنْ اَشْكُرَ رَئِيْسَ الْجَلَسَةِ عَلَى الْفُرْصَةِ الْمَحْدُوْدَةِ الَّتِىْ اَعْطَانِيْهَا لاُلْقِيَ الْخُطْبَةَ فِى هذِهِ السَّاعَةِ.
اَيُّهَا اْلاِخْوَة
"كاَنَ فِى الْغُرْفَةِ اَلشَّابُّ ، هُوَ يَجْلِسُ فِى زَاويَةِ اْلغُرْفَةِ بِوَجِهٍ شَدِيْدِ كَدَارَةِ اللَّوْنِ، وَعِظَامُ جِسْمِهِ تَمْرُضُ ، وَبَدَنُهُ تَخْفُقُ ، وَذَوْبَةُ اَنْفِهِ تَخْرُجُ ، اَحْيَاناً يَدْحَكُ ، وَاَحْياَناً هُوَ يَبْكِى ، وَيَصِيْح ُوَيَصْرَحُ وَيَتَأَوَّهُ."
أَيُّهَا اْلاِخْوَة ذلِكَ الشَّابُّ الَّذِىْ قَدْ وَقَعَ إِلىَ سَهْلِ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَةِ اْلمُحَرَّمَةِ. يَدْحَكُ حِيْنَ يَجِدُ الْمُخَدِّرَةَ ويَبْئَسُ حِيْنَ لاَ يَجِدُهَا.
أيها الاخوة، مِنَ التَّزْيِيْنِ اَنِفًا، أُرِيْدُ أَنْ اُلْقِىَ الْخُطْبَةَ بِالْمَوْضُوْعِ :
"إِسْتِئْصَالُ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَاتِ الْمُحَرَمَّةِ "
كَمَا عَرَفْناَ جَمِيْعاً أَنَّ الشَّبَابَ يَقُوْمُوْنَ بِدَوْرٍ هَامٍّ فِى تَرْقِيَّةِ الشُّعُوْبِ وَتَقَدُّمِهِمْ. فَهُمْ اَمَلُ اْلاُمَّةِ الَّذِيْنَ سَيُجَاهِدُوْنَ لِمُسْتَقْبَلِ بَلَدِنَااْلبَاهِرِ . فَهُمْ اَيْضًا اَمَلُ ْالاِسْلاَمِ الَّذِيْنَ سَيُضَحُّوْنَ اَنْفُسَهُمْ لِتَطْبِيْقِ تَعَالِيْمِهِ فِى المُسْتَقْبَلِ كَمَا قَالَ النَِّبىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ فِى يَدِ الشُّبَّانِ أَمْرَ اْلأُمَّةِ وَفِى اَقْدَامِهِمْ حَيَاتَهَا. وَبِهذَا كُنَّا نَعِىْ أَنَّ الشَّبَابَ سَوْفَ يَقُوْمُوْنَ بِدَوْرٍِ هَامٍّ فِى الْمُسْتَقْبَلِ .
لَكِنْ لَلاَسَفِ كُناَّ نُشَاهِدُ كَثِيْرًا مِنْ اَصْحَابِناَ مِنَ الشَّباَبِ اْلآنَ، يَتَجَاوَزُوْنَ عَنْ اَحْكَامِ دِيْنِ اْلاِسْلاَمِ وَلاَيَهْتَمُّوْنَ بِالتَّرْبِيَّةِ وَالتَّعْلِيْمِ وَيَتَخَلَّقُوْنَ بِاْلاَخْلاَقِ السَّيِّئَةِ . كَمَا شَاهَدْناَ فِى التِّلْفَاذِ ، اَوْ سَمِعْناَ فِى الْمِذْياَعِ ، أَوْ قَرَأْناَ فِىالْجَرِيْدَةِ أَنَّ كَثِيْرًا مِنَ الشَّباَبِ الَّذِيْنَ يَشْرَبُوْنَ الْخَمْرَ وَيَأْكُلُوْنَ الْمُخَدِّرَةَ وَاْلاَفْيُوْنَ وَغَيْرَ ذلِكَ مِنَ اْلاَدْوِيَاتِ اْلمُحَرَّمَةِ . وَكَمَا سَمِعْتُ فِى SCTV أَنَّ حَوَالَىْ ثَلاَثَةَ مِلِيُوْن مِنْ اَصْحَابِناَ مِنْ شَباَبِنَا قَدْ سَقَطُوْا إِلَى سَهْلِ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَاتِ الْمُحَرَّمَةِ. مَا شَا اللهُ تَبَارَكَ اللهُ. أَيُّهَا اْلاِخْوَة هذَا اْلآنَ ، وَلَكِنْ كَيْفَ فِى السَّنَةِ اْلآتِيَةِ؟ كَيْفَ فِى السَّنَوَاتِ الْقَادِمَةِ؟ كَمْ جُمْلَةُ الشَّبَابِ الَّذِيْنَ سَيَقَعُوْنَ إِلىَ سَهْلِ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَاتِ الْمُحَرَّمَةِ.
كُناَّ لاَ نَسْتَطِيْعُ أَنْ نَتَفَكَّرَ وَنَتَصَوَّرَ مَاذاَ سَوْفَ يَقَعُ فِى الْمُسْتَقْبَلِ ؟ وَكَيْفَ بَلْدَتُنَا هذِهِ فِى الْمُسْتَقْبَلِ ، إِذاَ كاَنَ جَمِيْعُ أَصْجَابِناَ يُخْدَعُوْنَ بِالْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَات الْمُحَرَّمَةِ ؟
إِذَنْ ، كَيْفَ نُقْبِلُ إِلىَ هذِهِ الْمَسْئَلَةِ ؟ أَيْوَهْ ، أَيُّهَا اْلاِخْوَة. فِىْ هذِهِ فُرْصَةٍ سَعِيْدَةِ ، سَأُقَدِّمُ لَكُمْ ثَلاَثَةَ طُرُقٍ اَوْ اَحْوَالٍ لِتَوْجِيْهِ وَضَرْبِ هذِهِ الْمَسْئَلَةِ.
اْلأَوَّلُ ، يَجُوْزُ إِلَيْناَ أَنْ نَغْرِسَ اْلاِيْمَانَ وَالتَّقْوَى ، خَاصَّةً ، لِكُلِّ اْلاُسْرَةِ. يَجِبُ عَلىَ كُلِّ اْلاُسْرَةِ وَعَلىَ كُلِّ الْوَالِدِ اَنْ يَغْرِسَ اْلاِيْمَانَ وَالتَّقْوَى عَلَى اَوْلاَدِهِ مُنْذُ صِغاَرِهِمْ . ِلاَنَّ الْوَالِدَ يَلْعَبُ دَوْرًا مُهِمًّا فِىْ تَشْكِيْلِ شَخْصِيَّةِ اَوْلاَدِهِ . كَماَ قاَلَ النَِّبىُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ . ايها الاخوة، بَعْدَ أَنْ نَسْمَعَ الْحَدِيْثَ اَنِفًا، نَفْهَمُ أَنَّ الْوَالِدَ يَجِبُ أَنْ يُؤَدِّبَ وَيُعَلِّمَ اَوْلاَدَهُ بِاْلاِسْلاَمِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى . ِلاَنَّ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى اللَّذَانِ غَرَسَا مّنْذُ صِغَارِهِمْ ، فَهُمْ سَيَكُوْنُوْنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُؤْمِنِيْنَ الْقَوِيِّيْنَ ِلاِعْتِصَامِ تَعْلِيْمِ اْلاِسْلاَمِ وَسَكُوْنُوْنَ مِمَّنْ لاَيُرَاوَدُوْنَ وَلاَ يُوَسْوَسُوْنَ بِرِوَادِ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَاتِ الْمُحَرَّمَةِ.
اَلثَّنِىْ ، يَجُوْزُ إِلَيْنَا أَنْ نَتَّحِدَ . ِلاَنَّ بِاْلاِتِّحَادِ سَنَسْتَطِيْعُ أَنْ نَسُدَّ وَنُزْيِلَ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَةِ الْمُحَرَّمَةِ مِنَ بَلْدَتِنَا هذِهِ. كَمَا قَالَ تَعَالَى : وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَّلاَتَفَرَّقُوْا. ايها الاخوة. اَمْرٌ شَعْبٌ وَثَقِيْلٌ سَيَكُوْنُ سَهْلاً وَيَسِيْرًا بِاْلاِتِّحَادِ. إِذاَ يَتَّحِدُ الْمُجْتَمَعُ اَوْ أَهْلُ اْلقَرْيَةِ وَاْلاُمَرَاءُ وَاْلعُلَمَاءُ وَمُنَظَّماَتُ الشَّبَابِيَةِ كُلُّهُمْ ِلإِزَالَةِ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَةِ الْمُحَرَّمَةِ . فَلاَ يَشْجُعُ مَسِيْلُوْنَ اَوْ بَائِعُوْنَ اَوْ مُدِيْرُوْنَ الْمُخَدِّرَةَ وَاْلاَدْوِيَةَ الْمُحَرَّمَةَ لِدُخُوْلِ بَلْدَتِنَا هذِهِ. هُمْ سَيَفِرُّوْنَ وَيَهْرَبُوْنَ مِنْ بَلْدَتِنَا. وَسَنَكُوْنُ اَمِنِيْنَ مِنْ اَخْطَارِ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَاتِ الْمُحَرَّمَةِ.
اَلثَّالِثُ ، هَيَّا نُعِيْنُ اَصْحَابَناَ اَوْ جِيْرَانَنَا اَوْ اِخْوَاتَنَا الَّذِيْنَ قَدْ وَقَعُوْا فِىْ سَهْلِ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَاتِ الْمُحَرَّمَةِ. كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى . وَكَمَا قَالَ النَّبِىُّ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذلِكَ اَضْعَافُ اْلاِيْمَانِ. بِهذَاالدَّلِيْلِ، ايها الاخوة . نَفْهَمُ وَنُحِسُّ اَنَّنَا يَجِبُ اَنْ نُعِيْنَ اَصْحَابَناَ وَجِيْرَانَناَ وَإِخْوَاتَنَا وَمَنْ حَوَالَيْنَا الَّذِيْنَ وَقَعُوْا فِىْ سَهْلِ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَةِ الْمُحَرَّمَةِ. هَيَّانَدْعُوْهُمْ وَنَنْصَحُهُمْ اَنْ يَرْجِعُوْا إِلىَ طَرِيْقِ دِيْنِ اْلاِسْلاَمِ. هَيَّا نَجْعَلُهُمْ اَنْ يَشْعُرُوْا بِالْوَعْيِ عَلَى أَنَّ السُّرُوْرَ وَالنِّعْمَةَ وَاْلفَرْحَةَ الَّتِىْ يَجِدُوْنَ مِنَ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَاتِ الْمُحَرَّمَةِ اُخْدُوْعَةٌ لاَحَقِيْقِيَّةٌ وَلِسَاعَةٍ وَلَحْظَةٍ فَقَطْ.
ايها الاخوة ، بِثَلاَثَةِ طُرُقٍ الَّتِىْ قَدَّمْتُ اَنِفًا، إِنْ شَاءَ الله ، سَتَأْمَنُ بَلْدَتُنَا هذِهِ مِنْ اَخْطَارِ الْمُخَدِّرَةِ وَاْلاَدْوِيَاتِ الْمُحَرَّمَةِ الْمُهْلِكَةِ.
ايها الاخوة رَحِمَكُمُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ. اَكْتَفِىْ كَلاَمِىْ فِىْ هذِهِ النَّهَارِ وَاَطْلُبُ مِنْ سُوَيْدَاءِ قُلُوْبِكُمْ الْعَفْوَ. إِذَا وَجَدْتُمْ مِنَ الْخُطْبَةِ أَنِفًا الْخَطَّاتِ . ِلأَنَّ اْلاِنْسَانَ مَحَلُّ الْخَطَاءِ وَالنِّسْيَانِ.
اَيْوَهْ. إِلىَ اللِّقَاءِ فِىْ وَقْتٍ آخَرَ. وَأَخِيْرًا اَقُوْلُ لَكُمْ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى اللهِ. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ.
Diposkan oleh Abu Najlaa

Want your school to be the top-listed School/college in Bogor?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Perumahan Griya Alam Sentosa Blok X14 No. 1 Cileungsi/Bogor
Bogor
16820