25/03/2022
Di buka Jariyah semen dan besi.
Besi warmes 10 inc.
12 lembar.
Harga .981.000,-
Semen 100 sak @ Rp.66.000,-
Total Rp.18.370.000,-
pendidikan
25/03/2022
Di buka Jariyah semen dan besi.
Besi warmes 10 inc.
12 lembar.
Harga .981.000,-
Semen 100 sak @ Rp.66.000,-
Total Rp.18.370.000,-
01/05/2020
SYEKH ALI AL BANJARI
(JURU TULIS KITAB I'ANAH THOLIBIN SYARAH FATHUL MUIN)
Kitab Fenomenal I'anah Atthalibin juru tulisnya adalah Ulama Banjar
Di kalangan santri di Indonesia kitab I’anah Ath-Thalibin sangat dikenal. Namun siapa sangka, penulisnya (juru tulis Syekh Bakri Satha) ternyata seorang syekh keturunan orang Banjar.
Syekh keturunan orang Banjar itu bernama Syekh Ali bin Abdullah bin Mahmud bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Beliau dilahirkan di Makkah Al Mukarromah tahun 1285 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1868 Miladiyah (Masehi), dan tumbuh di dalam keluarga shaleh dan shalehah.
Ayahnya, Syekh Abdullah bin Mahmud Al Banjari merupakan ulama karismatik di Makkah Al Mukarromah. Beliau dijuluki dengan julukan Syekh Abdullah Wujud dikarenakan apabila beliau berdzikir, tubuhnya tidak lagi nampak terlihat, melainkan hanya pakaian dan sorbannya saja.
Di dalam keluarganya yang shaleh dan menjunjung tinggi ilmu agama itulah Syekh Ali tumbuh besar,hingga beliau mewarisi kecintaan pada ilmu agama sebagaimana ayah,kakek, dan datuknya yang lebih dulu menjadi ulama besar di zaman mereka.
Syekh Ali tak mau menjadi pemutus “nasab emas” keilmuan para leluhurnya,beliau pun dengan gigihnya menimba ilmu kepada banyak ulama,di antaranya kepada Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha,
Syekh Said Yamani,
Syekh Yusuf Al Khaiyat,
Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi,
Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf),M***i Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki,
Habib Ahmad bin Hasan Al Atthas,
Habib Umar bin Salim Al Atthas,
Syekh Mahfuz Termas,
Syekh Ahmad Fathani,
Syekh Zainuddin As Sumbawi dan lainnya.
Dalam ilmu nahwu,shorof,dan Fiqih Syekh Ali belajar kepada Syekh Abu Bakar Satha,Syekh Said Yamani,dan Syekh Mahfuz Termas (Ulama dari tanah Jawa).
Dalam bidang hadits beliau berguru kepada Syekh Said Yamani,Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi,Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf), M***i Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki.
Adapun dalam ilmu falaq,Syekh Ali belajar kepada Syekh Yusuf Al Khaiyat.
Tafsir, kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Dan, mengambil ijazah Thoriqoh Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi.
Menjadi Juru Tulis Gurunya
Guru dari Syekh Ali,Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha adalah salah satu ulama besar bermazhab Syafi’i yang hidup pada akhir abad ke-13 H dan permulaan abad ke-14 H.Kala itu,Sayyid Abu Bakar Satha mengajar kitab syarah Fath al Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari,di Masjidil Haram.
Selama mengajar Kitab Fathul Mu’in, Sayyid Abu Bakar Satha menulis catatan sebagai penjelasan dari kalimat-kalimat yang terdapat dalam Kitab fathul Mu’in.
Catatan-catatan inilah yang kemudian diminta untuk dikumpulkan oleh para sahabat beliau, guna dijadikan sebuah kitab (hasyiyah) untuk memahami Kitab Fathul Mu’in.
Saat itu,Syekh Ali menjadi perhatian di antara sekian banyak murid yang mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Kecakapannya dalam bidang ilmu fiqih membuat Sayyid Abu Bakar menunjuk Syekh Ali sebagai katib (Juru tulis) kepercayaannya ketika mengarang kitab. Salah satu kitab yang diketahui merupakan hasil tulis dari Syekh Ali adalah Kitab ‘Ianah Ath-Thalibin,syarah dari Kitab Fathul Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari.
“Kitab asli tulisan tangan beliau itu ada di Sumatra,” kata Ustadz Muhammad bin Husin bin Ali Al Banjari.
Kitab ini merupakan tulisan bermodel hasyiyah,yaitu berbentuk perluasan penjelasan dari tulisan terdahulu yang lebih ringkas.
Kitab I’anah Ath-Thalibin ini selesai ditulis pada Hari Rabu ba’da Ashar, 27 Jumadil al-Tsani Tahun 1298 H.
Kitab I’anah Ath-Thalibin memiliki kelebihan sebagai fiqh mutakhkhirin yang lebih aktual dan kontekstual karena memuat ragam pendapat yang diusung ulama mutaakhkhirin utamanya Al-Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar dan banyak lainnya yang tentunya lebih mampu mengakomodir kebutuhan penelaah akan rujukan yang variatif dan efektif.
Rujukan penyusunan kitab ini adalah kitab-kitab fiqh Syafi’i mutaakhkhirin, yaitu Tuhfah al-Muhtaj,Fath al-Jawad Syarh al-Irsyad,an-Nihayah, Syarh ar-Raudh,Syarh al-Manhaj, Hawasyi Ibnu al-Qasim,Hawasyi Syekh ‘Ali Syibran al-Malusi,Hawasyi al-Bujairumy dan lainnya.
Mursyid Thoriqoh Sammaniyah
Dalam bidang tasawuf,
Syekh Ali Al Banjari diketahui pernah mengambil ijazah Thoriqoh Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi,hingga menjadi mursyid dalam thoriqoh tersebut.
Hal ini diketahui dengan adanya catatan silsilah masyaikh (keguruan) pada Thoriqoh Sammaniyah yang terdapat nama beliau di dalamnya.
Thoriqoh Sammaniyah adalah thoriqoh yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani.
Di antara murid Syekh Muhammad Samman adalah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Beliaulah yang membawa thoriqoh ini ke tanah Banjar,dan mengijazahkannya kepada keluarga dan pengikut beliau.
Dari keluarga dan pengikut beliau inilah kemudian thoriqoh tersebut terjaga hingga sekarang.
Mursyid Thoriqoh Sammaniyah yang masyhur dari keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Sekumpul).
Di antara mata rantai sanad keguruan Syekh Muhammad Zaini dalam bidang Thoriqoh Sammaniyah ini,terdapat nama Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari.
Berikut perinciannya sanad keguruan dari Syekh Samman hingga Syekh Muhammad Zaini:
Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani,
Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari,
Syekh Syihabuddin Al Banjari,
Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani,
Syekh Zainuddin bin Badawi As Sumbawi,
Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari,
Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al Banjari,
Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari.
Mengajar di Mesjidil Haram
Setelah dinilai guru-gurunya mumpuni dalam bidang keilmuan, Syekh Ali pun diizinkan mengajar di Mesjidil Haram dalam mata pelajaran Nahwu,Shorof,dan Fiqih Mazhab Syafi’ie.
Sejak saat itu pula,rumahnya di Daerah Syamiyah,Jabal Hindi, menjadi tempat tujuan para penimba ilmu.
Terlebih,ketika umat Islam Seluruh dunia berdatangan untuk menunaikan ibadah haji. Momentum ibadah haji ini biasanya dimanfaatkan para muslimin untuk menimba ilmu dari ulama-ulama besar di tanah haram,tak terkecuali dengan Syekh Ali.Dari sekian banyak murid Syekh Ali Al Banjari yang datang dari tanah Banjar dan kemudian menjadi ulama besar,di antaranya: KH Zainal Ilmi (Dalam Pagar), Syekh Sya’rani bin Haji Arif (Kampung Melayu),Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan (Bangil,Surabaya),Syekh Seman bin Haji Mulya (Keraton), Syekh Hasyim Mukhtar,Syekh Nasrun Thohir,Syekh Nawawi Marfu’,Syekh Abdul Karim bin Muhammad Amin Al Banjari (wafat di Makkah).
Berhenti Mengajar di Masjidil Haram
Setelah sekian lama tanah haram hidup tenang,dan Syekh Ali tenang menjalani rutinitasnya sebagai pengajar di Masjidil Haram,Saudi Arabia dilanda perpecahan.
Perang antara kubu Syarif Husein (Turki Usmani) dengan kubu Muhammad Su’ud bin Abdul Aziz.
Peperangan tersebut tidak hanya berkisar perebutan daerah,tapi juga keyakinan dalam beragama.
Kubu Muhammad Su’ud yang membawa keyakinan Wahabi kemudian membuat “onar” di tanah haram. Para ulama Ahlussunnah di zaman itu dipanggil,tak terkecuali dengan Syekh Ali.
Sempat terjadi perdebatan sengit antara Syekh Ali dengan ulama wahabi tentang firman Allah Ta’la, “Yadullah fauqa aidihim”(Al Fath ayat 10).
Ulama Wahabi berpandangan lafaz “Yad” disana adalah tangan,dan Syekh Ali dengan tegas tidak menerima pandangan Mujassimah (menyerupakan Tuhan dengan makhluk,red) tersebut.
Beliau cenderung dengan pandapat tafsir tentang ayat tersebut yang menyatakan : Bermula kekuasaan itu atas segala kekuasaan mereka itu. Lafadz “Yad” dimaknai Qudrat. Dalam debat itu,beliau menang telak atas ulama Wahabi.
Sehingga,Syekh Ali yang tadinya akan dipancung, urung dilaksanakan.
Dalam masa peperangan itu-lah, Syekh Ali Al Banjari menitipkan anaknya Husin Ali kepada Syekh Kasyful Anwar Al Banjari untuk dibawa ke tanah Banjar.
Syekh Kasyful Anwar adalah sahabat Syekh Ali ketika mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha,yang juga keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Sejak perpecahan itu-lah Syekh Ali Al Banjari tak lagi mengajar di Masjidil Haram.
Namun,beliau masih menerima orang-orang yang datang menemuinya.
Baik yang menimba ilmu atau yang hanya meminta doa.
Karena nama Syekh Ali tidak hanya besar disebabkan kedalaman ilmunya,tapi juga kemustajaban doanya.
Sehingga, banyak orang yang datang menemuinya hanya untuk didoakan beliau.
Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari wafat di Makkah Al Mukarromah, Kamis malam (Malam Jum’at) 12 Dzulhijjah 1307 Hijriyah dimakamkan di Mu’alla,Makkah.
(penulis: muhammad buLkini ibnu syaifuddin)
Silakan copas,tapi sertakan nama penulisnya.
Sebab,suatu saat mungkin ada yang menjadikan referensi penelitian.
Tulisan ini bersumber dari wawancara penulis dengan Ustadz Muhammad Husein Ali bin KH Husin Ali bin Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari (Cucu Syekh Ali di Martapura).
Jika ada salah dan khilaf,baik di sengaja maupun yang tidak disengaja,penulis menghaturkan ampun dan maaf yang sebesar-besarnya.
Semoga ALLAH membukakan pintu Tobat Ampunan Taufiq Hidayah Istiqomah dan Husnul Khotimah pada kita sekalian baik bagi penulis maupun pembaca Berkat RASULULLAH SAW Syaikhuna Sekumpul Berkat Syekh Ali Al Banjari dan berkat orang orang Shaleh dulu sampai sekarang hingga akhir zaman nanti
Yaa ROBBal ‘Alamiin
اللهم صل علے سيدنـا و حبيبنـا و شفيعنـا و قرة أعيننـا و مولانـا محمد وعلے آلـہ وصحبـہ وسلم
Copas
21/11/2019
Kecintaan pohon kurma kepada Nabi Muhammad ﷺ
Dalam riwayat Anas : "Masjid Nabawi dulunya bertiangkan pohon-pohon kurma, dan Nabi Muhammad ﷺ ketika berkhutbah senantiasa berdiri di sebelah salah satu batang pohon kurma, ketika dibuatkan untuk Nabi ﷺsebuah mimbar (dan Nabiﷺ berkhuthbah di mimbar tersebut), kami mendengar rintihan dari pohon kurma tersebut seperti rintihan induk unta ketika akan melahirkan, sehingga Nabi letakkan tangannya di pohon tersebut sampai terdiam"
Kisah ini masyhur dan mutawatir dan dikeluarkan oleh para pakar hadits shahih, diriwayatkan oleh begitu banyak sahabat seperti : Ubay bin Ka'b, Jabir bin Abdillah, Anas, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Sahl bin Sa'd, Abu Sa'id al-khudri, Buraidah, Ummu Salamah, Muthallib bin Abi Wada'ah dan lain-lain.
Dalam riwayat Sahl, pohon tersebut dikuburkan di bawah mimbar.
-Asysyifa Qadhi 'Iyadh-
Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata,
يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ
“Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, Kitab Manaqib 6: 697)
اللهم صل و سلم على سيدنا محمدﷺ
07/11/2019
Sebuah catatan :
Tentang Kiai Abdul Manan dan Jejak Transmisi Keilmuan Ulama Al-azhar dengan Pesantren di Indonesia.
Dzikra Haul Muassis Pondok Tremas, Mbah Kiai Abdul Manan Dipomenggolo, tahun ini sudah memasuki tahun ketujuh, yang diselenggarakan awal bulan Juli yang lalu.
Bila saat ini beliau hanya dikenal sebatas muassis Pondok Tremas, diselenggarakannya Dzikra Haul ini salahsatunya untuk mengenalkan jasa besar beliau sebagai salahsatu perintis jejaring ulama dan pesantren nusantara, yang mulai bermunculan pada akhir abad 19 hingga awal abad 20.
Sangat disayangkan, tokoh sekaliber KH Abdul Manan Dipomenggolo kurang dikenal di kalangan pesantren nusantara. Padahal beliaulah generasi pertama yang belajar di Al-Azhar, Mesir, dimana hampir sebagian besar kitab yang dikaji di pesantren tanah air dan menjadi kurikulum wajibnya adalah kitab2 karangan ulama Mesir.
Meskipun saat ini sumber tertulis riwayat hidup dan perjuangan KH Abdul Manan Dipomenggolo relatif terbatas, beberapa informasi dan catatan yang mengungkap kiprah beliau, sedikit demi sedikit mulai terkuak. Meski demikian, masih diperlukan usaha untuk terus menggali dokumen2 bersejarah yang bisa mengungkap peran beliau pada awal perjuangan, termasuk biografi perjalanan intelektualnya.
Sebagaimana diketahui, dalam buku Jauh di Mata Dekat di Hati; Potret Hubungan Indonesia – Mesir terbitan KBRI Kairo, tersebut bahwa pada medio tahun 1850-an di komplek Masjid Al Azhar telah dijumpai komunitas orang Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Ruwak Jawi (hunian bagi mahasiswa dari nusantara/ Indonesia), dimana salahsatu mahasiswa yang tinggal di ruwaq tersebut adalah Abdul Manan Dipomenggolo.
Sebagai bagian dari catatan sejarah perjalanan intelektualnya, studi Abdul Manan di Al-Azhar sebenarnya merupakan rihlah ilmiyah kedua beliau belajar di mancanegara. Pilihannya ke Mesir juga dalam rangka ngalap berkah, belajar di tanah kelahiran guru besarnya, Syaikh Muhammad Syatha, ulama Makkah kelahiran Dimyath, Mesir. Sebagaimana disebut dalam buku Sanad Ulama Nusantara, yang ditulis alumnus Al-Azhar, Ustaz Adhi Maftuhin, tigapuluh tahun sebelum menginjakkan kaki di Mesir, beliau telah lebih dahulu belajar agama pada ayah dari Syaikh Abu Bakar Syatha itu, selama beberapa tahun hingga sang guru wafat (1226 H).
Sepulang dari Makkah, sekitar tahun 1820 beliau mendirikan pesantren di desa kelahirannya, Semanten. Menurut opini penulis, saat meletus perang Diponegoro, beliau memilih memindahkan pesantren ke pedalaman ( Tremas ) demi menghindari kontak dengan para penguasa kolonial. Pada saat yang bersamaan, kemungkinan besar putra tertua beliau (KH Abdulloh) telah dikader dengan mengirimnya belajar ke Makkah dibawah bimbingan keluarga Syatha. Setelah dirasa cukup dan kondisi pesantren telah stabil dan kondusif, Kiai Abdul Manan kembali melanjutkan studinya, sementara pondok di bawah kendali sang anak, Kiai Abdulloh .
Pilihan studi ke Mesir bagi Kiai Abdul Manan adalah impian yang telah lama dipendam demi bisa tabarruk di tanah kelahiran guru besarnya, yang juga pernah mengenyam pendidikan di Al Azhar.
Kedekatan keluarga Syatha dengan Tremas bisa dilihat dari kelanjutan studi putra dan cucu beliau, Kiai Abdulloh dan Syeikh Mahfuzh, yang belajar kepada putra Syeikh Muhammad Syatha, Abu Bakar Syatha.
Seperti cerita Syaikh Mahfuzh dalam kitab Kifayatul Mustafid, ayahnya mengajarinya kitab-kitab karya ulama Mesir, seperti Fath Al-Qarib, Minhaj Al-Qowim, Fath Al-Wahab, Syarah Syarqawi atas kitab Hikam, Tafsir jalalain, Fath Al-Muin dan beberapa kitab lain. Meski Fath Al-Muin bukan karangan langsung ulama Al-Azhar, tapi merupakan ringkasan dari ulasan Ibnu Hajar Al haitami (Ulama Al-Azhar), yang merupakan guru dari pengarang kitab Fath Al-Muin, Zainuddin Al-malibary.
Dari sini bisa kita lihat, betapa kitab-kitab ulama Al-Azhar, Mesir, memiliki pengaruh besar pada sistem pengajaran hampir di seluruh pesantren di nusantara, dimana kitab-kitab yang beredar luas di pesantren, sebagian besar karya ulama Al-Azhar maupun ulama-ulama nusantara yang pernah belajar pada ulama2 Mesir atau mengenyam pendidikan di Al-Azhar.
Bila demikian, Kiai Abdul Manan, yang pernah berguru kepada ulama-ulama Mesir dan belajar di Al-Azhar, punya andil besar membuka jalur transmisi keilmuan ulama Al-Azhar dengan pesantren di nusantara.
Wallahu a’lam bisshawab.
Lahul Fatihah.
(Copas)
29/10/2019
Qila.
PAHALA SEDEKAH
Amal sholeh pahalanya berbeda-beda di sisi Allah, ada yang banyak dan ada yang sedikit.
Upayakan sedekahmu mendapat pahala yang paling banyak.
Pahala sedekah dibagi menjadi lima tingkatan:
1. 10 derajat: sedekah kepada orang yang sehat
2. 100 derajat: sedekah kepada orang yang membutuhkan
3. 1000 derajat: sedekah kepada orang tua
4. 10000 derajat: sedekah kepada kerabat
5. 100000 derajat: sedekah untuk menyebarkan ilmu dan agama
20/10/2019
Tahun 1960 an hingga 3 dasawarsa berikutnya, masih banyak orangtua yang bilang kepada anaknya, "Kamu nggak usah mondok. Santri nggak bisa apa-apa. Bisanya cuma ngajar ngaji. Udah gitu miskin. Tuh lihat tetangga kita,"
Kini, zaman berubah. Orangtua seperti itu masih ada. Tapi lebih banyak yang berkata dengan nada optimis, "Kamu harus mondok, nak. Biar bisa menjadi orang baik yang bermanfaat, bukan hanya untuk Islam tapi juga untuk Indonesia, negeri tercinta ini. Santri itu bisa menjadi apa saja. Termasuk menjadi Presiden RI seperti KH. Abdurrahman Wahid, dan Wakil Presiden RI seperti KH. Ma'ruf Amin."
Ayo mondok!
SHALATMU CERMIN HIDUPMU
ﻣﻦ ﺗﻌﻮﺩ ﻋﻠﻰ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺭﺟﻞ ﺍﻭ ﺇﻣﺮﺍﺓ
Barangsiapa terbiasa mengakhirkan shalat, baik laki-laki maupun perempuan
ﻓﻠﻴﺘﻬﻴﺄ ﻟﻠﺘﺄﺧﻴﺮ ﻓﻲ ﻛُﻞ ﺃﻣﻮﺭ ﺣﻴﺎﺗﻪ !!
Maka bersiaplah ia terlambat dalam segala urusan kehidupannya!!
ﺯﻭﺍﺝ ، ﻭﻇﻴﻔﺔ ، ﺫُﺭﻳﺔ ، ﻋﺎﻓﻴﺔ ، ﺗﻜﻤﻠﺔ ، ﺗﻮﻓﻴﻖ
Nikah, pekerjaan, keturunan, kesehatan, kemapanan, petunjuk
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤَﺴﻦُ ﺍﻟﺒَﺼﺮﻱ :
Hasan Al-Bashri berkata :
ﺇﺫَﺍ ﻫَﺎﻧَﺖ ﻋَﻠﻴﻚَ ﺻَﻼﺗﻚ ﻓَﻤَﺎ ﺍﻟﺬﻱ ﻳَﻌﺰُ ﻋَﻠﻴـﻚْ ؟
Jika shalat saja sepele bagimu, maka adakah urusan yg penting menurutmu?
*ﺑﻘﺪﺭ ﻣﺎﺗﺘﻌﺪﻝ ﺻﻼﺗﻚ ﺗﺘﻌﺪﻝ ﺣﻴﺎﺗﻚ .*
Seperti apa engkau merubah shalatmu, seperti itulah engkau merubah hidupmu.
*ﺑﻘﺪﺭ ﻣﺎﺗﺘﻌﺪﻝ ﺻﻼﺗﻚ ﺗﺘﻌﺪﻝ ﺣﻴﺎﺗﻚ .*
Seperti apa engkau merubah sholatmu, seperti itulah engkau merubah hidupmu.
*ﺃﻟﻢ ﺗﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻗﺘﺮﻧﺖ ﺑﺎﻟﻔـﻼﺡ
Tidakkah engkau tahu bahwa shalat itu bergandengan dg kesuksesan
“ ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻼﺡ ”
"Marilah melakukan shalat, marilah meraih kesuksesan"
ﻓﻜﻴﻒ ﺗﻄﻠﺐ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺃﻧﺖ ﻟﺤﻘﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﺠﻴﺐ
Bagaimana mungkin engkau minta kesuksesan kepada Allah, sedangkan kamu tidak tunaikan hak-Nya
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺟﻌﻠﻨﺎ ﻣﻤﻦ ﻳﻘﻴﻢ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﻭﻗﺘﻬﺎ ،،،
Ya Allah jadikanlah
kami termasuk orang yg mendirikan shalat di awal waktu.
🤲🏻Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin...🤲🏻
WALLahu a'Lam 😊🙏🏻
أثر_الحديث_في_اختلاف_الفقهاء
اثر الحديث الشريف في اختلاف الأئمة الفقهاء رضي الله عنهم
الشيخ محمد عوامة
نواة هذا الكتاب محاضرة ألقاها المؤلف في جامع الروضة بحلب الشهباء، سنة (1398 هـ)، وقد رغب كثير من الإخوة بطباعتها؛ لنفاستها وغزارة ما فيها، فاستجابةً لذلك قام المؤلف بنشر هذه الدرة الثمينة، التي يحتاجها كل طالب علم بل وكل غيور على دينه.
إن هذا الكتاب هو جسرٌ بين علمي الرواية والدراية: رواية الحديث وفقهه، هذا الكتاب يوقف المسلم على براعة أئمة الإسلام في طرق استنباطهم لأحكام هذا الدين الحنيف،ويوقفه أيضاً على ما بذلوه من جهد عظيم في هذا الاستنباط، وعندها تخيم السكينة والطمأنينة إلى أئمة الدين الذين استنبطوا لنا هذه الأحكام.
وعندما يطلع المسلم على أسباب الاختلاف، وأن كل واحد منهم طالب حق، وأن سبب اختلافهم هو الدليل الذي بين أيديهم، فلا عصبية ولا أنانية ولا تكابر.. عندها تطمئن النفوس لهؤلاء الأعلام، هذا الموضوع هو مدخل إلى زاويةٍ من زوايا الاجتهاد.
ولصعوبة هذا الموضوع وتشعبه لزم تحديد جانب من جوانبه؛ وهو أثر الحديث في اختلاف الأئمة الفقهاء، فعرض المؤلف في مقدمة الكتاب منزلة الحديث الشريف في نفوس الأئمة رضي الله عنهم ومكانته.
ثم عرض المؤلف أربعة أسباب مفصَّلة: الأول: متى يصلح الحديث الشريف للعمل به؟
والثاني: اختلاف الأئمة في فهم الحديث الشريف،
والثالث: اختلاف مسالكهم بين المتعارض من السنة ظاهراً،
الرابع: اختلافهم لتفاوتهم في سعة الاطلاع على السنة.
في هذه المباحث أجوبة لأسئلة كثيرة، وإيضاح لقضايا مهمة، وقع فيها الخلط والتشويه، فأتى خلال هذه الأسباببشبهاتٍ تعرض لكثيرٍ من الناس، ويضطربون في فهمها وفي الجواب عنها، فأزال عمايتها وجلاها لطالبيها.
وزبدة القول والخلاصة فيه: أن هؤلاء الأئمة لهم طرق حديثية معلومة عندهم، وربما لم يصرحوا بها ولم يذكروها، فيظن من لا دراية له أنهم مخطئون أو جاهلون على حد قول المتنبي رحمه الله تعالى:
وكم من عائب قولاً صحيحاً
وآفته من الفهم السقيم
وهذا من أهم الجوانب في هذا الكتاب.
03/10/2019
Jomblo
Al-Syaikh al-Muhaddits Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam karyanya al-Ulama' al-Uzzab memulai dari penjelasan keutamaan menikah dan keutamaan ilmu. Juga menjelaskan hukum menikah dan membujang menurut para ulama.
Masuk bagian inti kitab, beliau mengisahkan 35 ulama hebat yang rela membujang (tidak menikah) karena kesungguhannya yang luar biasa dalam ihtimam dan khidmat pada ilmu. Termasuk di urutan yang ke-35 adalah seorang ulama perempuan. Beliau adalah al-Syaikhah al-'Alimah al-Fadhilah al-Musnidah Ummu al-Karam, yakni Karimah bintu Ahmad bin Hatim al-Marwaziyyah.
Kitab ini bukan menganjurkan menjomblo, tapi menjelaskan betapa kesungguhan para ulama menjadi khadimul ilmi. Pelayan ilmu dan umat. Mereka menjadi pelita penerang bagi umat. Mereka menghasilkan karya dan peninggalan yang luar biasa. Ilmu yang merupakan warisan dari Nabi ﷺ.
Justru kalau kesungguhan dan karyanya tidak seperti mereka rahimahumullah, untuk apa menjadi jomblowan atau jomblowati. Nikah saja. Namun bagi yang belum dapat jodoh, tak usah risau. Perkara yang sudah pasti menurut Allah, tak sepantasnya manusia risau.
YRT
02/10/2019
Singkatan Shalawat
Sebagian orang menganggap menyingkat shalawat tidak mengapa, karena tulisan hadits pun biasa disingkat, seperti حدثنا disingkat نا، lafzh أخبرنا disingkat أنا, maka tidak mengapa dengan menyingkat shalawat kepada Nabi صلى الله عليه و سلم dengan singkatan صلعم.
Dalam bab ini al-hafizh Al-'Iraqi memakruhkan perkara tersebut seraya berkata dalam alfiyyahnya:
(571) وَكَرِهُوا فَصْلَ مُضَافِ اسْمِ اللَّهْ . مِنْهُ بِسَطْرٍ إِنْ يُنَافِ مَا تَلَاهْ
(576) وَاجْتَنِبِ الرَّمْزَ لَهَا وَالْحَذْفَا. مِنْهَا صَلَاةً أَوْ سَلَامًا تُكْفَى
Dalam Syarah As-Sakhowi :
واجتنب أيها الكاتب الرمز لها أي للصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم في خطك بأن تقتصر منها على حرفين ونحو ذلك فتكون منقوصة صورة كما يفعله الكسالى والجهلة من أبناء العجم غالبا وعوام الطلبة فيكتبون بدلا صلى الله عليه وسلم ص أو صم أو صلم أو صلعم فذلك لما فيه من نقص الأجر لنقص الكتابة خلاف الأولى.
وتصريح المصنف فيه وفيما بعده بالكراهة ليس على بابه …لكن وجد بخط الذهبي وبعض الحفاظ كتابتها هكذا صلى الله علم وربما اقتفيت أثرهم فيه بزيادة لام أخرى قبل الميم مع التلفظ بهما غالبا والأولى خلافه
“Wahai sang penulis, hendaknya engkau menjauhi penulisan simbol untuk bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tulisanmu, yaitu engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan yang semisalnya. Maka jadilah bentuk sholawatnya menjadi berkurang, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang malas dan orang-orang jahil dari orang-orang ‘ajam secara umum, dan juga para penuntut ilmu yang awam. Sebagai pengganti صلى الله عليه وسلم mereka tulis (ص) atau (صم) atau (صلم) atau (صلعم). Hal ini dikarenakan akan mengurangi pahala dikarenakan kurangnya tulisan. Ini adalah menyelisihi yang lebih utama.
Dan penegasan sang penulis (Yaitu Al-Haafiz Al-‘Irooqi rahimahullah-pen) di bait ini dan juga pada bait setelahnya akan kemakruhan ini adalah bukan pada bagiannya.
Akan tetapi ditemukan khot (tulisan tangan) Al-Imam Adz-Dzahabi dan juga sebagian para huffaz penulisan shalawat kepada Nabi seperti ini (صلى الله علم), dan terkadang aku mengikuti cara mereka (dalam penyingkatan-pen) dengan menambah huruf laam yang lain sebelum huruf miim dengan biasanya disertai melafalkan sholat dan salam. Dan yang lebih utama adalah tidak melakukannya"
(Fathul Mughits, tahqiq DR Abdul Karim Khudhair dan DR muhammad bin Abdillah bin Fuhaid, adapun dalam tahqiq Ali Husein Ali, kata الكسالى diganti dengan الكسائي)
Imam Suyuthi berkata:
ويكره الاقتصار على الصلاة أو التسليم هنا وفي كل موضع شرعت فيه الصلاة كما في شرح مسلم وغيره لقوله تعالى : ( صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ) …. ويكره الرمز إليهما في الكتابة بحرف أو حرفين كمن يكتب ( صلعم ) بل يكتبهما بكمالها
Dimakruhkan menyingkat shalawat dan salam di sini, dan di setiap kesempatan yang disyariatkan untuk bershalawat. Sebagaimana dinyatakan dalam Syarh Shahih Muslim dan lainnya. Berdasarkan firman Allah, yang artinya, ‘Berilah shalawat dan salam kepadanya’….dimakruhkan membuat rumus ketika menulis shalawat, baik dengan satu huruf atau dua huruf, seperti orang yang menyingkat dengan tulisan: صلعم , namun dia tulis secara lengkap (Tadribur Rawi, Tahqiq Hasan Syalby dan Mahir Tsalawi 299).
Bahkan di lanjut Imam Suyuthi
و يقال : إن أول من رمزهما بصلعم قطعت يده
Diceritakan bahwa orang yang pertama menyingkat menjadi صلعم terpotong tangannya.
Itu saja yang bisa disampaikan, jadi kalau ada yang beda pendapat gak masalah asal didatangkan dalilnya.
Santri saya aja yang marfu dibaca majrur juga gpp asal kasih tahu alasannya.
Tulisan ini buat yang nulis sendiri yang terkadang lagi malas masuk ke ranah makruh menurut Al-Iraqi dan Khilaful Aula menurut Sakhowi, dan terkadang menulis sempurna.
Maafkan Hamba-Mu ini Ya Allah
Copas@Gahwaharab