30/03/2019
Mengangkat suara dalam belajar dan menghafal ilmu itu bisa membantu kuat dan cepatnya hafalan..
Kalam seorang Ulama :
عن أبي حامد أنه كان يقول لأصحابه : إذا درستم فارفعوا أصواتكم ، فإنه أثت للحفظ وأذهب للنوم
"Dari Abi Hamid Seungguhnya dia pernah berbicara kepada Sahabat2nya : Apabila kalian belajar, maka angkatlah ( keluarkanlah ) suara kalian maka sesungguhnya ( perbuatan itu ) memperbanyak ( kuatnya ) hafalan dan menghilangkan tidur ( nagntuk )..
Wallahu A'lam
29/03/2019
AMAL JARIYAH yg takkan terputus pahalanya sampai kiamat menjelang
وعن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعا:
سبع يجري للعبد أجرهنّ بعد موته وهو في قبره: من علّم علماً، أو أجرى نهارا، أو حفر بئرا، أو غرس نخلا، أو بنى مسجدا، أو ورّث مصحفا، أو ترك ولدا يستغفر له
المنهج السوي
Dari Sahabat Abu Hurairah Ra
Tujuh amal yang mana pahalanya tetap akan mengalir pada seseorang meskipun ia telah meninggal:
1.Orang yang mengajarkan ilmu,
2.Mengalirkan air sungai,
3.Menggalikan sumur,
4.Menanam pohon kurma,
5.Membangun masjid,
6.Mewariskan mushaf² al-Qur'an,
atau
7.Mereka yang meninggalkan anak Sholeh yang senantiasa mendoakannya.
(Kitab AlManhajus Sawiy)
27/03/2019
*[ HASIL HUKUM MENINGGALKAN TASYAHHUD AWAL ]*
*_OLEH : Ustd Salim Alwi Assery_*
TASYAHHUD AWAL HUKUMNYA SUNNAH DALAM SHOLAT BAIK SHOLAT FARDHU MAUPUN SUNNAH, BOLEH DIKERJAKAN DAN BOLEH DITINGGALKAN
*_JIKA DITINGGALKAN APAKAH BOLEH KEMBALI UNTUK MELAKUKAN TASYAHHUD AWAL :_*
*1.) BAGI IMAM DAN MUNFARID ( SHOLAT SENDIRI ) :*
*A.) JIKA SUDAH PADA POSISI BERDIRI ( KE ROKA'AT SELANJUTNYA ) :*
HARAM BAGINYA UNTUK KEMBALI, BAIK DIA TINGGALKAN SECARA SENGAJA MAUPUN LUPA,
*_JIKA KEMBALI KE TASYAHHUD :_*
- JIKA SENGAJA DAN MENGETAHUI KEHARAMANNYA MAKA SHOLATNYA BATAL
- JIKA TIDAK SENGAJA KARENA LUPA ATAU TIDAK MENGETAHUI KAHARAMANNYA MAKA SHOLATNYA TIDAK BATAL, AKAN TETAPI WAJIB BAGINYA KEMBALI BERDIRI JIKA INGAT
*B.) JIKA BELUM PADA POSISI BERDIRI :*
KADANG DITINGGALKAN KARENA LUPA KADANG SENGAJA
*_- JIKA KARENA LUPA :_*
SUNNAH BAGINYA UNTUK KEMBALI KETASYAHHUD AWAL
*_- JIKA SENGAJA :_*
a.) JIKA POSISINYA SEKARANG LEBIH DEKAT KEPADA DUDUK DARI PADA BERDIRI ATAU SEJAJAR BOLEH BAGINYA KEMBALI KE TASYAHHUD AWAL
b.) JIKA POSISINYA LEBIH DEKAT KEPADA BERDIRI DARI PADA DUDUK HARAM BAGINYA UNTUK KEMBALI KE TASYAHHUD AWAL, JIKA IA KEMBALI DENGAN SENGAJA DAN MENGETAHUI KEHARAMANNYA MAKA SHOLATNYA BATAL
*_NB :_*
DISUNNAHKAN SUJUD SAHWI JIKA POSISI BANGKITNYA LEBIH DEKAT KEPADA BERDIRI DARI PADA DUDUK,
JIKA LEBIH DEKAT DUDUK KEPADA BERDIRI ATAU SAMA TIDAK DISUNNAHKAN SUJUD SAHWI
*2.) BAGI MAKMUM :*
KADANG IMAM MENINGGALKAN TASYAHHUD AWAL KADANG MELAKUKANYA
*A.) JIKA IMAM MENINGGALKAN*
*_( BAIK IMAM KEMBALI KE TASYAHHUD KARENA LUPA ATAU TIDAK KEMBALI )_* *:_*
WAJIB BAGINYA BERDIRI MENINGGALKAN TASYAHHUD AWAL
JIKA IA TIDAK BERDIRI MELAINKAN SENGAJA MELAKUKAN TASYAHHUD AWAL ( JIKA HAL TERSEBUT IA LAKUKAN SECARA SENGAJA, MENGETAHUI KEHARAMANNYA DAN TIDAK NIAT MUFAARAQAH/MEMISAHKAN DIRI DARI IMAM ) MAKA HUKUM SHOLATNYA BATAL
*B.) JIKA IMAM MELAKUKANNYA :*
SUNNAH BAGI MAKMUM UNTUK MENGIKUTINYA,
_JIKA MAKMUM BERDIRI ( MENINGGALKAN TASYAHHUD ) TIDAK MENGIKUTI IMAM :_
KADANG IA LAKUKAN SECARA SENGAJA KADANG TIDAK SENGAJA
*- JIKA TIDAK SENGAJA :*
MAKA WAJIB BAGINYA KEMBALI KE TASYAHHUD AWAL UNTUK MENGIKUTI IMAM, JIKA TIDAK KEMBALI MAKA SHOLATNYA BATAL ( JIKA IA LAKUKAN SECARA SENGAJA DAN MENGETAHUI KAHARAMANNYA )
*- JIKA SENGAJA :*
TIDAK WAJIB, MELAINKAN SUNNAH BAGINYA KEMBALI KE TASYAHHUD AWAL UNTUK MENGIKUTI IMAM
*والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب*
27/03/2019
TIDAK PERLU OBAT DAN KE DOKTER, ISTRI PUN BISA CEPAT HAMIL
(ﻓﺎﺋﺪﺓ) ﺭﻭﻱ ﺃﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻤﻨﻲ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﺩﻭﺍﺀ ﻻ ﺃﺣﺘﺎﺝ ﻣﻌﻪ ﺇﻟﻰ ﺩﻭﺍﺀ ﻭﻻ ﻃﺒﻴﺐ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻭﻣﺎ ﻫﻮ ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﺇنا ﺑﻨﺎ ﺣﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺆﺧﺬ ﺷﻴﺊ ﻣﻦ ﻣﺎﺀ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻭﺗﺘﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺳﻮﺭﺓ ﺍﻹﺧﻼﺹ ﻭﺍﻟﻔﻠﻖ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺁﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﻣﺮﺓ ﻭﻳﺸﺮﺏ ﻏﺪﻭﺓ ﻭﻋﺸﻴﺔ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻓﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻧﺒﻴﺎ ﻟﻘﺪ ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﺇﻧﻪ ﻣﻦ ﺷﺮﺏ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺟﺴﺪﻩ ﻛﻞ ﺩﺍﺀ ﻭﻋﺎﻓﺎﻩ ﻣﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﻭﺍﻷﻭﺟﺎﻉ ﻭﻣﻦ ﺳﻘﻲ ﻣﻨﻪ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﻭﻧﺎﻡ ﻣﻌﻬﺎ ﺣﻤﻠﺖ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ تعالى ﻭﻳﺸﻔﻲ ﺍﻟﻌﻴﻨﻴﻦ ﻭﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﺴﺤﺮ ﻳﻘﻄﻊ ﺍﻟﺒﻠﻐﻢ ﻭﻳﺰﻳﻞ ﻭﺟﻊ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﻭﺍﻷﺳﻨﺎﻥ ﻭﺍﻟﺘﺨﻢ وﺍﻟﻌﻄﺶ ﻭﺣﺼﺮ ﺍﻟﺒﻮﻝ ﻭﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺣﺠﺎﻣﺔ ﻭﻻ ﻳﺤﺼﻰ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻊ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻟﻪ ﺗﺮﺟﻤﺔ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﺍﺧﺘﺼﺮﻧﺎﻫﺎ والله تعالى أعلم.
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: Jibril mengajariku sebuah obat yg tdk usah butuh pd obat lain dan dokter.
Kemudian Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, bertanya Obat apa itu wahai Rasulullah? Sesungguhnya kami membutuhkan obat itu, Lalu Nabi Muhammad ﷺ bersabda : Ambillah sedikit air hujan dan bacakanlah surat Al-Fātihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Nās, dan ayat Al-Kursiy. Masing² dibaca sebanyak 70X. Dan diminum waktu pagi dan sore selama 7 hari.
Demi Dzat yg telah mengutusku dg hak sbagai seorang Nabi, sungguh Jibril telah berkata kepadaku: ” Sesungguhnya, barangsiapa yg minum air tersebut, maka Allah akan menghilangkan segala penyakit dari tubuhnya dan Allah akan menyembuhkan dari semua sakit dan penyakit, dan barang siapa yg meminumkan air tersebut pd istrinya, lalu tidur bersamanya, maka istri akan bisa hamil dg idzin Allah.
Dan air tersebut jg bisa menyembuhkan mata, menghilangkan sihir, menghilangkan dahak, menyembuhkan sakit dada, sakit gigi, pencernaan, sembelit, kencing tidak lancar dan tidak butuh dibekam (cantuk) dan banyak kemanfaatan lain yg tak dpat menghitungnya kecuali Allah Ta'ala.
Annawadir 142
26/03/2019
=IROB LAFADZ ROJAB=
Sebagai seorang Muslim, tentu kita tidak asing dengan doa Nabi yang kerap di share diberbagai media sosial dalam menyambut datangnya bulan Rajab. Doa tersebut kerap dibaca di masjid-masjid kampung menjelang shalat Magrib sambil diiringin dengan puji-pujian shalawat. Terdapat perbedaan pembacaan dalam membaca doa tersebut.
اللهم بارك لنا (فى رجب) وسعبان وبلغنا رمضان
Perbedaan bacaan tersebut hanya terletak pada kalimat "Fii Rojaba" dan "Fii Rojabin". Sehingga memunculkan perdebatan, manakah yang benar, apakah dibaca "FII ROJABA" atau "FII ROJABIN"???.
Terdapat perdebatan diantara kalangan Ahli Nahwu (Linguist) Bahasa Arab mengenai pembacaan tersebut. Akan kita urai satu persatu, biar kelak tidak terjadi perdebatan hanya karena kalimat yang dibaca berbeda tersebut. Menurut Al-Danûsyirî, sebagaimana dikutip oleh Muhammad bin 'Alî al-Shabbân dalam Hâsyiyah al-Shabbân, bahwa lafadz "ROJAB" dalam bahasa Arab memiliki 2 (dua) bentuk, yaitu :
Jika yang dimaksud "ROJAB" itu adalah bulan ROJAB tertentu, maka lafad "Rojab" itu termasuk dalam kategori ISM GHAIRU MUNSHARIF (isim yang tidak bisa menerima tanwin).
Namun ketika yang dimaksud dengan lafad "Rojab" itu adalah bulan Rojab secara umum, maka lafad "Rojab" termasuk isim munsharif (isim yang bisa menerima tanwin).
Kemudian muncul pertanyaan "Jika memang lafadz "Rojab" itu termasuk Ism ghairu munsharif, lalu 'illatnya apa?" Maka jawaban illatnya adalah "lil 'alamiyyah ma'al 'udul". Hal ini seperti tertulis dalam Kitab Alfiyyah Karya Ibnu Malik :
Pada bait Syair Al-Fiyyah di atas illat 'alamiyyah ma'al 'udul ini, yaitu lafad "Sahar" (waktu sahur atau waktu sebelum Shubuh). Sama dengan lafad "ROJAB", bahwa lafadz "Sahar" juga berstatus sebagai isim ghairu munsharif jika yang dimaksud adalah waktu sahur tertentu. Nampaknya Al-Danûsyirî menyamakan lafad "Rajab" dengan lafad "Sahar", sehingga status keduanya adalah isim ghairu munsharif ketika yang dimaksud adalah waktu tertentu.
Sehingga, ketika kita membaca doa Nabi SAW di atas, kemudian dalam hati "gretek/bermaksud" agar kita diberkahi di bulan Rajab tahun ini, maka kita membacanya "FII ROJABA", dibaca fathah, dikarenakan lafad "ROJABA" berkedudukan sebagai isim ghoiru munsharif yang. Maka sesuai kaidah bahasa Arab, isim ghairu munsharif akan dibaca fathah ketika dibaca jer, kecuali pada kondisi tertentu.
Sebagaimana ungkapan Ibnu Mâlik وجر بالفتحة ما لا ينصرف.... dan Imam Yahyâ al-Imrithî واخفض بفتح كل ما لا ينصرف.
Sebaliknya, ketika kita tidak mengkhususkan keberkahan di bulan Rajab tahun ini saja, tapi bulan Rajab secara umum, maka kita membacanya "FII ROJABIN", dengan harakat kasratain sebab kata "ROJABIN" di sini termasuk ke dalam Ism Munshorif (menerima perubahan).
Akan tetapi, pendapat Al-Danûsyiri tersebut disanggah oleh Al-Zarqânî. Al-Zarqânî berpendapat bahwa lafad "Rojab" itu termasuk Ism munsharif, meskipun yang dimaksud adalah bulan Rajab tertentu. Maka ketika diterapkan dalam doa di atas, bacaan yang benar adalah "FII ROJABIN", baik si pembaca doa itu ber"gretek/bermaksud" bulan Rajab tertentu atau tidak.
Kesimp**an akhir, membaca doa Nabi SAW tersebut, baik dibaca "FII ROJABA" atau "FII ROJABIN" sama-sama diperbolehkan atau dibenarkan. Tidak perlu memunculkan masalah baru dalam pembacaan doa tersebut. Sekian.... semoga tidak menimbulkan polemik. Sudahkah kita menyambut Sang Rajab dengan doa-doa yang kita panjatkan??
26/03/2019
=Tahapan Kitab Fiqih=
fiqh yang setara untuk awwaliyah:
ياقوت النفيس
الغاية والتقريب
التذهيب في أدلة متن الغاية والتقريب
تقريرات السديدة
fiqh yang setara untuk tsanawiyah:
فتح القريب المجيب
كفاية الأخيار
عمدة السالك
بلوغ المرام
قرة العين
fiqh yang setara untuk aliyah:
فتح المعين
نهاية الزين
منهاج القويم شرح بافضل
غاية البيان
مواهب الصمد
بشرى الكريم
بغية المسترشدين
إبانة الأحكام
الإقناع الخطيب
fiqh yang setara untuk kuliah S1:
فتح الوهاب
منهاج الطالبين
التنبيه
المحرر
الأنوار يوسف أردبيل
فتح الجواد
إرشاد
عباب
تحرير الفتاوي
fiqh yang setara untuk kuliah s2:
روضة الطالبين
تحفة المحتاج
نهاية المحتاج
مغني المحتاج
كنز الراغين المحلي
أسنى المطالب
تلخيص الحبير
fiqh yang setara untuk kuliah s3:
المهذب للشيخ الشيرازي
الوجيز
البسيط
الوسيط
fiqh yang setara untuk para profesor doktor:
المجموع
البيان في مذهب الشافعي
الحاوي الكبير
بحر المذهب
مختصر المزني
مختصر البويطي
نهاية المطلب في دراية المذهب
الأم
kalau sudah mencapai ini maka patutlah orang itu dapat gelar kehormatan dalam mazhab syafi'i yaitu:
الأصحاب
16/01/2018
Transaksi Aneh Jual-Beli Abu Hanifah dengan Seorang Perempuan*
*Nu'man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi* atau *lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah* suatu hari kedatangan seorang perempuan yang membawa pakaian sutra di tangannya. Perempuan ini berniat menjual kain mewah tersebut kepadanya.
*"Berapa harganya,"* tanya Imam Abu Hanifah.
*"Seratus dirham."*
*"Tidak. Nilai barang ini lebih dari seratus dirham."*
*Keruan saja si perempuan heran.* Lazimnya pembeli selalu menawar barang dagangan dengan harga lebih murah. *Tapi yang dilakukan ulama besar itu aneh.*
Perempuan itu pun melipatgandaan harganya menjadi empat ratus dirham.
*"Bagaimana bila barang itu lebih mahal lagi?"*
*"Anda bercanda?"* Tanya perempuan tersebut tercengang.
_*"Datangkanlah seseorang untuk menaksir harganya !"*_
Ya. Perempuan itu akhirnya menghadirkan seorang laki-laki. Kata si juru taksir : _*"Pakaian sutra ini seharga lima ratus dirham."*_
*Imam Abu Hanifah lantas membayarnya kontan dengan harga lima ratus dirham*. Ia paham bahwa perempuan tersebut menjual sutra itu *karena sedang sangat membutuhkan uang.*
_Kisah di atas tertuang dalam kitab *Mausû’atul Akhlâq waz Zuhdi war Raqâiq* (juz 1) karya *Yasir ‘Abdur Rahman* dalam *sub-bab ar-Rahmah bil Muhtâjîn* (berkasih sayang kepada orang-orang yang membutuhkan)._
_*Apa yang dilakukan Imam Abu Hanifah adalah di luar logika umum tentang untung-rugi* dalam sudut pandang materi. Beliau memberi contoh *bahwa membeli sesuatu tak harus selalu berpikir* bahwa *kita mesti mendapat barang sebagus-bagusnya dengan harga semurah-murahnya*. Apalagi bila si pembeli tahu bahwa penjual barang adalah orang yang membutuhkan pertolongan. Artinya, *membeli juga bisa berarti membantu.*_
_*Teladan ini barangkali relevan dengan keadaan kita sekarang*, di tengah-tengah gemarnya orang berbelanja di mini-market milik segelintir pemodal besar, *dibanding datang ke warung tetangga yang menjadi sumber nafkah dan pendidikan anak-anaknya* atau bersikerasnya orang menawar harga sayuran kepada para pedagang kecil yang bernilai ribuan, *namun di kesempatan lain menghabiskan ratusan ribu di restoran tanpa tawar-menawar atau merasa dirugikan*.[Mahbib]_
*Bisakah kita seperti Abu Hanifah dalam hal ini??*
*kenapa tidak kita coba..??*😊
_Semoga Barokah Hari ini_
👍
10/01/2018
Mutiara Kalam
Sayyidil Walid Al-Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf
HIKMAH MENGAGUMKAN
❤ ﺣﻜﻤﺔ ﺃﻋﺠﺒﺘﻨﻲ
❤ ﺍﻟﺒﻴﺎﺽ ﻻ ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ
Putih itu tidak selalu identik dengan kecantikan
❤ ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﻻ ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﻘﺒﺎﺣﺔ
Hitam juga tidak selalu identik dengan buruk rupa
❤ ﻓﺎﻟﻜﻔﻦ ﺃﺑﻴﺾ ﻭﻣﺨﻴﻒ
(Lihatlah) kafan itu berwarna putih namun menyeramkan
❤ ﻭﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻭﺟﻤﻴﻠﺔ
Sedangkan ka'bah itu berwarna hitam namun indah
❤ ﻭﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺑﺄﺧﻼﻗﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﻈﻬﺮﻩ
(Sesungguhnya) manusia itu dilihat dari akhlaknya, bukan dari penampakannya.
❤ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺮﺟﻮﻟﺔ ﺑﺎﻟﺼﻮﺕ ﺍﻟﻌﺎﻟﻲ ﻟﻜﺎﻥ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ
Sekiranya maskulinitas (kejantanan) itu dilihat dari kerasnya suara, niscaya anjing akan menjadi penghulunya kaum pria.
❤ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻷﻧﻮﺛﺔ ﺑﺎﻟﺘﻌﺮﻱ ﻟﻜﺎﻧﺖ ﺍﻟﻘﺮﺩﺓ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﻜﺎﺋﻨﺎﺕ ﺃﻧﻮﺛﺔ
Sekiranya feminitas itu dilihat dari nuditinas (telanjang), niscaya kera adalah makhluk yang paling feminin
❤ ﻗﺒﻞ ﺍﻥ ﺭﻓﻊ ﻋﻴﻨﻴﻚ ﻭﺗﻄﻠﺐ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﻔﻘﻮﺩ
Sebelum kedua matamu terbuka dan kau meminta kepada Allâh atas apa yang hilang darimu
👁 ﺃﻧﺰﻝ ﻋﻴﻨﻴﻚ ﻭﺍﺷﻜﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻮﺟﻮﺩ ❤
Pejamkan kembali matamu dan bersyukurlah kepada Allâh atas apa yang ada saat ini
❤ ﺍﻟﺘﻮﺍﺿﻊ ﻧﺼﻒ ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ
Rendah hati itu adalah sebahagian kecantikan/
keindahan
❤ ﻭﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻵﺧﺮ ﺍﺑﺘﺴﺎﻣﺔ ﻋﻔﻮﻳﺔ
Dan sebagian lainnya lagi adalah senyuman yang spontan...
Semoga Ada Hikmahnya..
07/08/2017
= Ambillah dari dunia yang engkau perlukan untuk akhiratmu =
الدنيا مثل بيت الخلاء لا تطهر، و إن طهرتها أنت جاء غيرك فنجسها. ولكن ادخلها وقت الحاجة، واخرج منها مع عدمها
Dunia ini bagiakan kamar mandi yang tidak akan pernah suci (bersih) secara murni. Jika engkau membersihkannya, akan datang orang lain yang akan menajiskannya (mengotorinya).
Masuklah ke kamar mandi waktu engkau hajat/perlu saja, keluarlah dari kamar mandi ketika tidak adanya hajat/keperluan.
(الإمام أحمد بن حسن العطاس)
12/07/2017
اذازاد نظر الرجل واتسع فكره قل انكاره على الناس
"Ketika wawasan (pandangan ilmu) seseorang bertambah dan cakrawala pemikirannya semakin luas, maka ia tidak akan mudah menyalahkan orang lain"
08/07/2017
=Kurang Berkah Karena Enggan Bersholawat=
(Habib Jindan Bin Novel Bin Salim)
Sebab-sebab sedikitnya barokah di zaman kita ini adalah enggannya sebagian dari kita untuk memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Dan sungguh bersholawat kepada Nabi Muhammad Adalah sumber turunnya barokah dan kebaikan.
Dikisahkan ada sebuah desa di negara Maroko tertimpa paceklik dan kekeringan
Maka datanglah perempuan duduk di sekitar sumur yang telah kering.
Dan dia berdoa kepada Allah, seketika itu terpancarlah air.
Maka Syaikh Jazuli mendatanginya dan menanyakan perihal doa yang dia panjatkan.
Perempuan itu menjawab "Aku tidak memohon sesuatu pun kepada Allah SWT kecuali dengan bersholawat kepada Nabi SAW."
Perempuan itu duduk disamping sumur, kemudian bersholawat kepada Nabi SAW
Maka Allah melihat perempuan tersebut dengan pandangan rahmat, dan mengabulkan doanya, sehingga sumur itu memancarkan air, dan desa tersebut selamat dari kekeringan
Dan kejadian tersebut adalah sebab utama mengapa Syaikh Jazuli mengarang kitabnya (Dalailul Khairot)
Yang mana kitab tersebut tersebar keseluruh penjuru dunia, dan mengajarkan mereka jenis-jenis sholawat yang sangat barokah.
Dan kemudian lisan-lisan mereka menjadi terbiasa untuk bersholawat kepada Nabi SAW, dan sebab itulah Allah SWT menyinari hati mereka, dan meringankan kepada mereka persoalan-persoalan hidup, dan diringankan p**a urusan mereka, dan keinginan terbesar mereka adalah kebahagia di akherat, dan berdampingan dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.