*Kepemelikan Manusia Bersifat Amanah*
Ta’lim Bakda Subuh KH Didin Hafidhuddin
Tafsir Al-Quran Surat Az-Zukhruf Ayat 51-56
Ahad, 24 Juli 2022
Disarikan oleh
Bustanul Arifin
1. Alhamdulillahi rabbil a’lamin. Jamaah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hadir secara offline di masjid, maupun yang hadir secara online di rumah. Kita dapat berkumpul bersama pada Ahad pagi ini, tanggal 24 Dzulhijjah 1443 H bertepatan dengan tanggal 24 Juli 2022, meneruskan kajian kita, mendalami ayat-ayat Allah. Insya Allah kita akan membahas Surat Az-Zukhruf ayat 51-56. Kita mulai dengan membaca Ummul Kitab Surat Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan Surat Az-Zukhruf ayat 51-56, yang artinya, “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, "Wahai kaumku! Bukankah Kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; Apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?" Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik. Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian”.
2. Ada dua tugas yang melekat pada kita mnusia, yaitu: (1) Tugas melakukan pengabdian hanya kepada Allah (akidah, ibadah, muamalah, tarbiyah, siyasah) dll, dan (2) Tugas sebagai khalifah (pemimpin) di buka bumi, yaitu amanah untuk mengelola, mengatur dan berbuat sesuatu untuk kesejahteraan manusia. Jika tugas (ibadah) pengabdian juga diberikan kepada jin dan manusia, tapi tugas amanah hanya diberikan kepada manusia. Bahkan semua makhluq lain tidak sanggup untuk memikulnya. Perhatikan Surat Al-Ahzab Ayat 72-73. “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh, sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik, laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Tugas khalifah adalah tugas kepemimpinan. Ketika tugas ibadah dan kepemimpinan menyatu dalam diri manusia, maka amanah itu akan menghasilkan kebaikan. Pemimpin yang amanah akan menghasilkan kesejahteraan. Tugas ibadah dan tugas khalifah atau kepemimpinan akan menghasilkan peradaban yang baik, kesejahteraan dan keadilan. Tapi, jika pemimpin tidak amanah, maka akan menghasilkan kedzaliman dan kebangkrutan. Misalnya Fira’un yang banyak digambarkan dalam Al-Quran. Firaun tidak pernah merasa bahwa tugasnya sebagai pemimpin itu adalah amanah. Firaun merasa semuanya sebagai kekuasaannya, sebgaimana dijelaskan dalam ayat-ayat di atas.
3. Ketika kita merasa bahwa apa yang kita miliki ini adalah amanah, maka hal itu akan menghasilkan kesejahteraan, karena akan mengerjakannya dengan rasa tanggung jawab. Sebaliknya, ketika kita merasa bahwa semua yang kita miliki berkat jasa ilmu atau karya kita sendiri, maka hal itu akan menghasilkan kesombongan dan kedzaliman dan bahkan akan menghasilkan kecelakaan. Sekali lagi, esensi dari kepemimpinan adalah amanah. Perhatikan Surat Al-Ahzab ayat 36 “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata”. Kita diperintah untuk tidak mengkhianati Allah dan Rasul-nya dan tidak mengkhianati amanah, baik sebagai hamba yang mengabdi atau ibadah, maupun sebagai khalifah. Semua yang ada pada kita adalah bersifat amanah, termasuk diri kita, umur kita, harta, anak-anak kita dll. Kita tidak memiliki hak mutlak terhadap harta, kekuasaan, keluarga, dll karena semuanya amanah. Kita tidak menguasai diri kita. Bahkan, hari esok pun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Perhatikan Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist bawa “Seseorang pasti kelak akan ditanya tentang 4 hal, yaitu: (1) Usianya, akan ditanya telah dipakai untuk apa saja, dan semua akan dipertanggungjawabkan, (2) Masa Muda, akan ditanya dipergunakan untuk apa saja, untuk leha-leha, untuk belajar dan mencari nafkah dll. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Desain masa depan tergantung pada pemuda hari ini; (3) Harta yang dimiliki, dari mana atau bagaimana cara mendapatkannya, dan bagaimana cara memanfaatkannya. Inilah perbedaan penting antara ekonomi syariah dan ekonomi konvensional. Dalam ekonomi syariah, harta yang dimiliki akan ditanya bagaiamana cara mendapatkannya dan bagaimana cara memanfaatnya, termasuk menunaikan hak-hak orang fakir-miskin di dalamnya; dan (4) Ilmu yang dimiliki, apakah dimanfaatkan untuk kebaikan atau menghasilkan kerusakan. Sekadar catatan, ilmu yang dimanfaatkan untuk kebatilan, bahkan berdampak lebih merusak.
4. Contoh kedzaliman kepemimpinan Firaun yang diabadikan dalam Surat Az-Zukhruf di atas cukup jelas. Misalnya, perhatikan bagaimana bahasa atau kosa kata yang dipakai Firaun dalam memimpin negara dan bangsanya. Bangsanya dianggap tidak mampu berfikir atau bodoh, karena cenderung akan mempercayai Nabi Musa AS, bukan dirinya yang merasa maha perkasa. “Bukankah Kerajaan Mesir ini adalah milikku? Bukankah sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasaanku?” dst. Di sekitar Sungai Nil dan Istana Firaun itu landskap dan pemandangannya memang sanat indah. Dalam Shofwatut Tafsir, Ssungai-sungai yang bersambung dengan Sungai Nil adalah Sungai Malik, Sungai Tawaf, Sungai Rais, dan Sungai Yaiz, yang semuanya bersambung Sungai Nil. Firaun terlihat marah kepada kaumnya, apalagi tokoh laki-laki itu (Nabi Musa AS) adalah orang hina dan tidak dapat berbicara secara baik”. Kita masih ingat cerita-cerita masa kecil bahwa Nabi Musa AS pernah makan bara api ketika kecil, sehingga bicaranya pun cedal atau tidak jelas. Nabi Musa berdo’a kepada Allah agar dibantu seorang Wazir dari keluarganya, yaitu Saudaranya sendiri, Nabi Harun AS untuk membantu berbicara atau menjadi juru bicaranya, yang mampu menjelaskan dakwah kepada kaumnya. Pada ayat-ayat di atas, terlihat bahwa Bangsa Mesir memang mentaati perintah Firaun, karena takut dibunuh, takut dipancung, bukan karena respect karena akhlak dan perbuatannya. Firaun merasa bahwa semuanya adalah miliknya yang mutlak, hingga Allah SWT murka dan menenggelamkan Firaun dengan pengikutnya di Laut Merah. Itulah esensi dari tafsir ayat-ayat ini. Dalam Al-Quran terdapat banyak sekali sejarah orang baik, sejarah orang buruk, dll. Ini merupakan ibrah atau pelajaran penting dari kisah-kisah manusia terhdahulu.
5. Menjawab pertanyaan tentang pemimpin dzalim hanya dapat berhasil jika didukung oleh orang-orang di sekelilingnya. Sekali lagi, pemimpin yang adil dalam sejarah adalah pemimpin yang amanah. Khalifah pertama sampai keempat (Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib), bahkan sampai Khalifah ke-5 Umar bin Abdul Aziz, merupakan pemimpin yang amanah. Kita diajarkan bahwa kedzaliman itu akan mendapatkan balasan di dunia, tidak harus menunggu di akhirat. Dua perkara yang akan dibalas di dunia, yaitu: berlaku dzalim dan berlaku buruk pada orang tua. Tapi, kapan pemimpin dzalim di dunia ini akan hancur, itu merupakan hak dari Allah SWT. Kita tidak perlu memimirkannya kapan ia akan jatuh. Allah Yang Maha Tahu. Perhatikan Surat Al-Baqarah ayat 214, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”.
6. Menjawab pertanyaan, apakah dalam memilih wakil rakyat (Anggota DPR) itu merupakan perwujudan menyerahkan tugas kekhalifahan di muka bumi kepada pemimpin atau wakil rakyat? Hal yang perlu diingat adalah bahwa pemimpin itu harus orang yang beriman, menegakkan shalat dan membayar zakat dan s**a ruku’ dan sujud (atau menegakkan shalat) bersama orang-orang yang sering shalat. Tidak mungkin kita serahkan kepemimpinan kepada orang yang tidak menegakkan shalat. Betapa pentingnya kepemimpinan itu, hingga Rasulullah SAW mengajarkan do’a-do’a untuk mendidik dan membesarkan anak adalah menjadikan orang-orang yang bertakwa “waj alna lil muttaqina imama”. Sekali lagi, pemimpin yang bertakwa akan menghasilkan kesejahteraan. Pemimpin yang tidak bertakawa atau yang tidak baik adalah jika hanya mengurus kepentingan pribadi dan keluarganya. Bahkan Firaun itu sering mengadu domba rakyatnya, sehingga mereka terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok yang saling melemahkan, bukan saling menguatkan. Hasilnya adalah kemelaratan, ketakutan dan kerasakan di muka bumi.
7. Menjawab pertanyaan apakah kempimpinan islam yang cemerlang akan terulang lagi, dan apa saja yang harus dilakukan? Pada intinya kita ummat islam tidak cukup hanya menunggu dan menunggu, tapi harus aktif bergerak dan beperan, misalnya dalam pendidikan generasi muda. Pemimpin itu akan lahir dari Generasi Qurani yang bertakwa kepada Allah SWT, menegakkan shalat dan menuaikan zakat. Kita harus optimis bahwa masa depan akan lebih baik di tangan generasi muda yang tepat. Kita dilarang mengeluh terhadap keadaan, terlebih lagi jika berbuat pun tidak, bahkan berdoa pun tidak. Kita dilarang hanya menyalahkan orang lain. Pada prinsipnya kita mendukung hal yang baik, dan menentang hal-hal buruk.
8. Menjawab pertanyaan, apakah syarat kemimpinan itu hanya amanah? Bagaimana dengan syarat lain seperti siddiq, tabligh dan fathanah. Logika berfikirnya dapat diurutkan sebagai berikut: Amanah itu adalah prasyarat, akar atau pusat dari kebaikan bagi seorang pemimpin. Orang yang amanah pasti dia orang jujur atau orang baik (siddiq), memiliki ilmu pengetahuan dan bahkan menyampaikan (tabligh), hingga mencerahkan (fathanah) atau mengajak ummatnya berbuat menuju kebaikan dan kesejahteraan bersama.
9. Mari kita berdoa untuk kesembuhan para jaamaah kita dan untuk kesehatan dan kebaikan kita semua. Lalu kita tutup pengajian kita dengan doa kiffarat majelis. “Subhaanaka allahumma wa bihamdika. Asy-hadu an(l) laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruka wa atuubu ilaika”. Demikian catatan ringkas ini. Silakan ditambahi dan disempurnakan oleh hadirin yang sempat mengikuti Ta’lim Bakda Subuh Professor Didin Hafidhuddin tersebut. Terima kasih, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika mengganggu. Salam. Bustanul Arifin
Muara Istiqomah - Bogor
Muara Istiqomah adalah Yayasan yang memiliki tujuan untuk melakukan belajar tentang keislaman (tsaqofah islamiyah)
Muara Istiqomah adalah Yayasan yang memiliki tujuan untuk melakukan belajar tentang keislaman (tsaqofah islamiyah). Ditujukan untuk segala umur dari mulai anak-anak hingga lansia. Dalam tahap awal YMI Bogor mendirikan prasarana Masjid, Asrama Yatim Piatu dan Pondokan Lansia guna memfasilitasi proses pembelajaran. Metode pembelaaran dilakukan dengan berbagai metode yang syar'i dan bisa dipertanggun
Kepemimpinan Para Nabi yang Mencerahkan dan Menyelamatkan
Ta’lim Bakda Subuh KH Didin Hafidhuddin Tafsir Al-Quran Surat Az-Zukhruf 46-50 | Ahad, 17 Juli 2022
Disarikan oleh Bustanul Arifin
1. Alhamdulillahi rabbil a’lamin. Jamaah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hadir secara offline di masjid, maupun yang hadir secara online di rumah. Kita dapat berkumpul bersama pada Ahad pagi ini, tanggal 17 Dzulhijjah 1443 H bertepatan dengan tanggal 17 Juli 2022, meneruskan kajian kita, mendalami ayat-ayat Allah. Insya Allah kita akan membahas Surat Az-Zukhruf ayat 46-50. Kita mulai dengan membaca Ummul Kitab Surat Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan Surat Az-Zukhruf ayat 46-50, yang artinya, “Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka dia (Musa) berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seluruh alam. Maka ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa mukjizat-mukjizat Kami, seketika itu mereka menertawakannya. Dan tidaklah Kami perlihatkan suatu mukjizat kepada mereka kecuali (mukjizat itu) lebih besar dari mukjizat-mukjizat (yang sebelumnya). Dan Kami timpakan kepada mereka azab agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Dan mereka berkata, "Wahai pesihir! Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami (jika doamu dikabulkan) akan menjadi orang yang mendapat petunjuk. Maka ketika Kami hilangkan azab itu dari mereka, seketika itu (juga) mereka ingkar janji.”
2. Kisah Nabi Musa AS termasuk yang paling banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Hampir di setiap surat dengan ayata-ayat yang panjang, kisah perjuangan Nabi Musa AS senantiasa disebutkan. Nabi Musa AS termasuk nabi Ulul Azmi (orang-orang yang punya keteguhan luar biasa), bersama Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Isa AS, dan Nabi Muhammad SAW. Kita sebagai muslim semua diperintah Allah SWT untuk memiliki sifat keteguhan seperti para nabi itu. Perhatikan Surat Al-Ahqaf ayat 35 “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul ulul azmi (yang memiliki keteguhan hati) dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah mereka tinggal (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari. Tugasmu hanya menyampaikan. Maka tidak ada yang dibinasakan kecuali kaum yang fasik (tidak taat kepada Allah).” Intinga adalah kita diperintah untuk bersabar dalam berdakwah, sebagaimana sabarnya para nabi Ulil Azmi. Kita tidak diminta mempercepat adzab kepada mereka yang dzalim. Bayangkan, Nabi Musa AS berhadapan dengan Fira’un, suatu rezim dinasti yang sangat kuat, didukung oleh masyarakat dan birokrat, kaum intelektual, seperti Haman. Rezim Firaun didukung oleh para orang kaya, seperti Qarun, serta para tukang ramal dan tukang sihir. Mereka mendukung rezin Firaun untuk membunuh anak laki-laki yang baru lahir dari kalangan Bani Israil, jika kekuasaan dan tradisi Firun ingin langgeng dan bertahan. Kita sudah paham, berhubung dasarnya adalah wahyu dan ajaran islam, maka Nabi Musa AS dapat mengatasi rezim yang sangat dzalim dan kuat seperti Firaun. Kepemimpinan Nabi Musa AS dibangun berdasarkan bimbingan Allah SWT, sehingga hasilnya mampu menyelamatkan dan mencerahkan Bani Isaril dan membangun peradaban berikutnya yang lebih baik.
3. Berbeda dengan kepemimpinan Firaun dan bala tentaranya yang hanya didukung oleh para pendukung, oleh para loyalis, yang mementingkan keluarga dan kelompoknya sendiri, dan tidak tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Di dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa Allah SWT menghancurkan kedzaliman dan memberikan kemenangan kepada para nabi yang membangun kepemimpinan dan kekuasaannya berdasarkan Wahyu Allah SWT dan ajaran-ajaran Islam. Pada hakikatnya, sejarah itu adalah pengulangan dari peristiwa atau kisah manusia dan kekuasaannya pada zaman dahulu. Jika sekarang terjadi sifat-sifat manusia seperti zaman dahulu, maka hal itu bukan suatu yang aneh. Firman Allah SWT “Kami akan putarkan kehidupan itu di antara manusia, agar Allah SWT mengetahui kadar keimanannya”. Pada prinsipnya, sekuat apa pun kedzaliman, pasti ia akan hancur, karena itu kekuatan kedzaliman itu bersumber dari syetan, dari sihir, atau jampe-jampe”. Tujuan sihir itu semuanya negatif, mendzalimi orang lain. Berbeda dengan wahyu Allah atau ajaran islam, yang senantiasa berupaya membereskan perosalan kehidupan. Ajaran islam adalah ajaran yang penuh dengan islah, perbaikan-perbaikan. Islahul aqidah, Islahul muamalah, Islahut tarbiyah, dll. Ajaran Islam itu arahnya ke sana, membawa perbaikan, sesuai atau sejalan dengan fitrah manusia. Tidak ada yang bertentangan dengan ajaran-jaran kemanusiaan.
4. Perhatikan Surat Al-Baqarah ayat 165-167, tentang perlunya kita mengikuti wahyu Allah. “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zhalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus. Dan orang-orang yang mengikuti berkata, "Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal per-buatan mereka yang menjadi penyesalan mereka. Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka”. Intinya adalah bahwa orang-orang beriman lebih mencintai Allah SWT. Kekuatan itu hanya milik Allah. Allah Mahadahsyat adzabnya. Kita juga paham bahwa para nabi memiliki mujizat yang bersifat indrawi dan yang bersifat hakiki. Mujizat indrawi akan hilang begitu nabi meninggal dunia. Misalnya, Nabi Musa AS tongkat jadi ular, dll. Nabi Ibrahim AS dengan api yang tidak mampu membakarnya. Nabi Muhammad SAW dengan awan yang senantiasa menaungi dan mengikutinya. Tapi, mujizat yang hahiki insya Allah akan abadi selamanya. Mujizat Rasulullah SAW berupa Al-Quran akan abadi sampai akhir kiyamat, karena Allah SWT sendiri yang mejaganyan. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan sesunggunya Kami yang akan menjaganya”.
5. Menjawab pertanyaan tentang bagaimana strategi pencapaian kesejahteraan dan keadilan ummat, setelah ditinggal Rasulullah SAW setelah 15 abad lebih. Pengertian sejahtera itu ketika fisik dan fikiran kita tunduk kepada perintah Allah. Orang yang memiliki etos kerja yang baik akan memiliki kebahagiaan luar biasa ketika mencapai hasilnya, karena kebahagiaan ini didukung oleh kekuatan spiritual. Sebenarnya, ada 4 mancam kesejahteraan di dalam ajaran islam, yaitu: (1) Sejahtera materi dan spiritual, lahir dan batin, atau kaya dan tetap bertakwa kepada Allah SWT, sebagaimana dalam Surat An-Nahl 97 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik; dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (2) Sejahtera materi cukup dan secara spiritual sabar dalam menghadapi kekurangan yang ada. (3) Sejahtera secara materi, tapi secara spiritual menjadi merusak atau menentang, sehingga secara piritual dia miskin. (4) Miskin secara materi, dan miskin juga secara spiritual, misalnya tidak shalat, tidak puasa dll. Kelompok ini berkebalikan dengan kelompok pertama, karena mereka hanya mendapatkan kehidupan sempit (“maisyatan dhankan”), sebagaimana dibahas pada pengajian sebulan lalu, mereka yang senantiasa mendapatkan kesulitan dalam hidupnya. Peran kepemimpinan dalam islam sangat luat biasa, karena pemimpin itu pelayan ummat, dan mampu mewujudkan rakyat yang dipimpinnya mencapai kesejahteraan seperti pada kategori kelomok pertama. Contoh kepemimpinan yang demikian telah diabadikan dalam kisah empat khalifah atau khulafaaur-rasyidin: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Bahkan, terdapat Hadist Rasulullah SAW, betapa tingginya nilai atau pahla bagi pemimpin yang adil, yang kelak akan mendapat naungan Allah SWT kelak di hari kiamat, bersama tujuh kategori lain. Dalam hal ini, adilnya para pemimpin sama dengan pahala ratusan rakaat shalat.
6. Menjawab pertanyaan, apa saja yang harus dilakukan ketika sekarang kita menghadapi kedzaliman? Sebenarnya orang yang berlaku dzalim pasti selalu ada dalam setiap zaman. Rasullah SAW telah memerintahkan untuk memperbaiki kedzaliman dan kemungkaran malalalui Hadist Shahih ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman” (H.R. Muslim). Jika tidak sejutu dengan kemungkaran, minimal hati kita menolak atau tidak setuju, walau itu termasuk selemah-lemahnya iman. Jika di hati saja kita sudah tidak memprotes atas kedzaliman, berarti kadar keimanan sudah semakin hilang.
7. Menjawab pertanyaan, walaupun Firaun itu orang dzalim, tapi dia masih patuh atau menurut saran isterinya. Allah SWT juga menurunkan kasih sayang kepada manusia, sehingga kepatuhan Firaun kepada isterinya Siti Asiah itu sebenarnya merupakan wujud cara Allah dalam memberikan Wahyu kelak kepada Nabi Musa AS. Perhatikan Surat At-Tahrim Ayat 11. “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim," Perumpamaan perempuan yang baik bagi orang beriman, seperti isteri Firaun Siti Asiah, yang sebenarnya merupakan ketentuan kekuatan Allah SWT. Ketika Siti Asiah meminta untuk tidak membunuh bayi laki-laki Musa yang ditemukan mengambang atau dihanyutkan di Sungai Nil, ternyata Firaun juga setuju untuk memelihara bayi itu dan membesarkannya. Kelak kita paham bahwa laki-laki yang dipelihara Siti Asiah dan tinggal di Istana Firaun kelak menjadi Nabi Musa AS.
8. Menjawab pertanyaan ajaran islam komprehensif dari bangun tidur sampai tidur lagi, tapi mengapa masih banyak alergi membicarakan politik. Politik harus dibicarakan, harus dimengerti oleh ummat islam, karena politik itu siasah. Asal kata sais (pengendali delman) diambil dari kata siasah ini. Siasah artinya adalah alat untuk mengatur atau mengendalikan. Jadi di sini, kita memerlukan politik yang bersih, yang seseuai dengan ajaran islam. Jika kita orang islam alergi dan tidak membicarakan politik, maka politik itu akan dikuasai oleh orang-orang yang memanfaatkan politik untuk tujuan yang tidak baik atau dengan segala macam atau menghalalkan segala cara. Politik yang dimaksudkan sebagai siasah adalah politik berkaitan dengan kebijakan, bukan dengan politik kotor yang bertentangan dengan ajaran islam. Kita butuh sekarang kendaraan yang baik, berikut sopir dan kenek yang baik juga. Kita butuh kendaraan yang dapat berhenti di masjid ketika waktu shalat tiba, sopir menjadi imam dan kenek menjadi muadzdzin dll.
9. Mari kita berdoa untuk kesembuhan para jaamaah kita dan untuk kesehatan dan kebaikan kita semua. Lalu kita tutup pengajian kita dengan doa kiffarat majelis. “Subhaanaka allahumma wa bihamdika. Asy-hadu an(l) laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruka wa atuubu ilaika”.
06/05/2022
Sembilan Hikmah Puasa Syawal
Almarhum Ustadz Muhammad Arifin Ilham
(Al Fatihah untuk Beliau)
Pertama,
Muslim yang menunaikan puasa Syawal, maka ia meraih nilai puasa setahun penuh.
Kedua,
Ia dicintai Allah dan meraih ampunan dosa. Allah menegaskan, "Katakanlah! Jika memang kalian benar benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Penyayang." (QS Ali Imran: 31).
Ketiga,
Muslim yang menegakkan puasa Syawal, maka ia meraih syafaat Rasulullah dan bersama beliau karena menghidupkan sunnah beliau. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW, "Siapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia mencintaiku dan siapa yang mencintaiku bersamaku di surga."
Keempat,
Orang yang melaksanakan puasa Syawal tanda iman dan takwanya meningkat. Karena itulah disebut "Syawal" yang artinya bulan peningkatan.
Kelima,
Puasa Syawal menutupi kekurangan selama shaum Ramadhan.
Keenam,
Di antara tanda ikhlas, gemar dengan amal sunnah, kalau wajib ya kewajiban tetapi kalau sunnah adalah kerelaan seorang hamba mengabdi kepada Allah. Termasuk di antaranya adalah puasa Syawal.
Ketujuh,
Puasa Syawal adalah cara terbaik memupuk keimanan kepada Allah dan kecintaan kepada Nabi-Nya.
Kedelapan,
Hamba Allah yang beriman cerdas adalah semua sunnah dihidupkan sebagai bekal di akhirat kelak.
Kesembilan,
Muslim yang melaksanakan puasa Syawal insya Allah meraih surga-Nya. Hal itu karena ia termasuk sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Orang yang puasa Syawal melewati pintu Surga Ar-Rayan, yang disediakan spesial hanya untuk hamba-Nya yg berpuasa.
Sumber :
https://m.republika.co.id/amp/os5we2374 dengan sedikit edit seperlunya
Ta’lim Bakda Subuh KH Didin Hafidhuddin
Tafsir Al-Quran Surat Asy-Syura ayat 47-50
Ahad, 20 Maret 2022
*Indahnya Memenuhi Seruan Allah SWT*
Disarikan oleh
Bustanul Arifin
1. Alhamdulillahi rabbil a’lamin. Pada Ahad pagi ini, tanggal 17 Sya’ban 1443 H bertepatan dengan tanggal 20 Maret 2022, kembali kita dapat bersilaturrahmi, walaupun secara virtual, dalam rangka meneruskan kajian kita, mendalami ayat-ayat Allah. Insya Allah kita akan membahas Surat Asy-Syura ayat 47-50. Kita mulai dengan membaca Ummul Kitab Surat Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan Surat Asy-Syura ayat 47-50, yang artinya, “Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (atas perintah dari Allah). Pada hari itu kamu tidak memperoleh tempat berlindung dan tidak (p**a) dapat mengingkari (dosa-dosamu). Jika mereka berpaling, maka (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Dan sungguh, apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, dia menyambutnya dengan gembira; tetapi jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar), sungguh, manusia itu sangat ingkar (kepada nikmat). Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”
2. Ayat-ayat ini berkaitan dengan sifat-sifat orang beriman, yaitu “istijabud dakwah” atau memenuhi seruan Allah. Jika ada perintah dari Allah, maka ia langsung mengerjakannya. Jika ada larangan dari Allah, maka ia langsung meninggalkannya. Ada beberapa hal yang perlu kita resapi, kita jadikan pelahjaran, mengapa orang-orang beriman itu sampai berbuat demikain? Mengapa ia sangat responsif terhadap panggilan Allah SWT. Pertama, hal itu merupakan bukti dari keimanan dan keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya, akan kebenaran ajaran Al-Quran, dll. Perhatikan Surat An-Nur ayat 51-52. “Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, "Kami mendengar, dan kami taat." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. Mereka memiliki sikap “sami’na wa atha’na” kami mendengar dan kami mengikutinya. Pernyataan orang beriman dalam bersikap dan bertindak sesuai perintah Allah. Ia memiliki getaran hati untuk kembali kepada Allah SWT. Orang yang beriman bukan hanya sukses di dunia, tapi juga bahagia hidupnya, atau mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Misalnya, orang beriman akan sangat senang mendapatkan perintah puasa Ramadhan yang akan membuatnya menjadi orang yang bertaqwa kepaa Allah SW. Puasa Ramadhan hanya tingal 11 hari lagi, orang beriman sangat senang menunggu kehadiran bulan suci Ramadhan, mempersiapkan diri secara baik, bahkan berdoa sejak dua bulan lalu. “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’ban wa ballighna Ramahdan”, Ya Allah, berilaha kami keberkahan dalam bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke dalam bulan Ramadhan.
3. Kedua, orang beriman memiliki pikiran yang tenang, karena hatinya dijaga oleh Allah SWT. Orang beriman akan responsif dan senang mendengar panggilan adzan dan ajakan mendirikan shalat dan menggapai kemenangan. Misal, jika ada panggilan adzan, lalu kita diam saja, tidak responsif, maka hati akan mati. Bagi orang beriman, masalah apapun yang dihadapi, akan terdapat jalan keluar. Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa setiap ada satu kesulitan yang dihadapi orang beriman, maka jalan keluarnya akan banyak, bukan hanya satu. Fa inna ma’al usri yusran, wa inna ma’al usri yusran. Kesulitan satu, jalan keluarnya banyak. Perhatikan Surat Al-Anfal ayat 24. “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” Kita orang beriman diperintah untuk memenuhi printah Allah dan Rasul-Nya, apabila Allah menyeru kepada kalian. Hati di dalam dada ini akan hidup ketika memenuhi panggilan Allah. Sebaliknya, hati akan mati jika kita abai, tidak peduli dengan ketentuan Allah, walaupun ia memiliki kekuasaan di dunia. Perlu diingat juga bahwa hati yang hidup akan bergetar ketika kita mendengar seruan Allah SWT. Kita akan menjadi hamba-hamba Allah yang sukses mengemban amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi.
4. Ketiga, orang yang beriman memiliki persiapan yang baik untuk kelak kita kembali kepada Allah dan dikumpulkan pada hari yang tidak bisa satu pun yang menolak, yaitu kematian. Harta dan keluarga akan ditinggalkan di dunia, hanya amal baik yang menemani kita dalam kematian. Ada hadist Rasulullah SAW yang sangat terkenal (diriwayatkan oleh Imam Bukhari) tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naunangan atau perlindungan Allah SWT kelak ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah SWT. Pertama, pemimpin yang adil, bukan yang berkhianat. Kepemimpinan kita akan menentukan apakah kita akan mendapat perlindungan dari Allah. Pemimpin yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Kedua, pemuda yang hidupnya dipenuhi dengan ibadah kepada Allah. Ketiga, orang yang hatinya terpaut atau cenderung ke masjid. Kita jangan anti masjid, anti memakmurkan masjid dll. Keempat, dua orang yang berkasih sayang atau bersahabat karena Allah SWT, saling menasehati, dan kalua berpisah karena Allah SWT. Kelima, laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh Wanita kaya dan cantik, lalu ia berkata “aku takut kepada Allah SWT”. Keenam, orang yang bersedekah dengan menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Ketuju, orang yang berdzikir kepada Allah, mengerjalan shalat malam, mengasingkan diri sendirian, hingga kedua matanya basaha karena menangis menyadari kesalahan-kesalahannya dan memintakan ampunan kepada Allah SWT. Sekali lagi, kita diperintah untuk memperkuat hati dalam merespon perintah Allah SWT. Insya Allah kita akan mendapatkan kematian yang husnul khatimah.
5. Menjawab pertanyaan tentang keadaan terkini menjelang Ramadhan, harga kebutuhan hidup naik, minyak goreng langka dll. Sebenarnya apa saja tugas pemimpin dalam islam? Pemimpin harus berbuat adil, harus mencari jalan keluar terhadap masalah seperti itu. Jika seorang pemimpin melihat antrian panjang masyarakat dalam membeli minyak goreng, seharusnya ia sedih. Pemimpin adalah khadim atau pelayan masyarakat. Pemimpin harus merumuskan kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan berinovasi mencari jalan keluar permasaalahan yang terjadi.
6. Menjawab pertanyaan tentang bagaimana ciri-ciri yang hati yang mati dan bagaimana cara menghidupkannya? Hati yang mati adalah hati yang tidak mau menerima nasehat atau tidak berlaku tausiyah kepadanya. Maka, membaca Al-Quran akan menghidupan hati yang mati. Mendengarkan adzan atau panggilan Allah untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid akan menghidupkan hati yang mati. Di dalam hati itu ada titik hitam setiap kita berbuat salah dan dosa. Titik hitam akan memenuhi hati, jika kita terus-menerus berbuat salah dan dosa. Pada kondisi demikian, maka akan terjerumus menjadi tidak beriman. Jadi, orang yang baik itu ditentukan oleh pemahaman agama dengan baik, berkaitan dengan akhlaq atau adab.
7. Mari kita tutup pengajian kita dengan doa kiffarat majelis. “Subhaanaka allahumma wa bihamdika. Asy-hadu an(l) laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruka wa atuubu ilaika”. Demikian catatan ringkas ini. Silakan ditambahi dan disempurnakan oleh hadirin yang sempat mengikuti Ta’lim Bakda Subuh Professor Didin Hafidhuddin tersebut. Terima kasih, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika mengganggu. Salam. Bustanul Arifin
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Telephone
Website
Address
Jalan Amasandi Rt. 02/14 Muara Kel. Pasirjaya/Kec. Bogor Barat
Bogor