09/05/2026
Sepeda Sore di Sukamerindu
Langit sore di Kampung Sukamerindu berwarna jingga keemasan. Angin dari Sungai Ogan berhembus pelan membawa aroma air sungai, tanah basah, dan kayu bakar dari dapur rumah-rumah panggung.
Tahun itu 1985.
Di kampung kecil pinggir Baturaja, Sumatra Selatan itu, belum banyak mobil lewat. Jalan masih berupa tanah merah bercampur batu. Jika kemarau datang, debu beterbangan setiap kali anak-anak berlari. Kalau hujan turun, jalan berubah jadi lumpur lengket yang membuat sandal sering tertinggal.
Belum ada handphone.
Belum ada suara televisi dari setiap rumah.
Bahkan listrik belum masuk ke sebagian kampung. Saat malam tiba, cahaya lampu minyak tampak berkelip dari balik dinding papan rumah-rumah sederhana.
Namun anak-anak Sukamerindu tidak pernah merasa kekurangan hiburan.
Sore itu, Andi sedang membersihkan sepedanya di bawah pohon mangga dekat rumah. Sepeda kecil berwarna biru kusam itu adalah hadiah dari Apri, sepupunya yang baru pindah ke kota.
“Biar kau yang pakai, Di,” kata Apri dulu sebelum pergi. “Jangan lupa belajar naik tanpa pegangan.”
Sejak hari itu, sepeda itu menjadi harta paling berharga bagi Andi.
“Di! Cepatlah! Kita balapan sampai jembatan kayu!” teriak Fadli dari ujung jalan sambil melambaikan tangan.
Andi langsung menaiki sepeda. Kakinya yang kecil mulai mengayuh cepat melewati jalan kampung yang dipenuhi suara ayam dan anak-anak bermain.
“Siapa kalah dorong sepeda pulang!” teriak Fadli.
Mereka tertawa.
Suara lonceng sepeda berbunyi nyaring.
“Tin… tin…!”
Di pinggir Sungai Ogan, beberapa rakit kecil tampak terikat di batang kayu. Orang-orang tua duduk di beranda sambil mengipas nyamuk. Sebagian ibu sedang mencuci pakaian di tepian sungai sambil berbincang.
Anak-anak lain ikut berlari di belakang Andi dan Fadli.
Debu beterbangan.
Langit makin merah.
Saat melewati jalan kecil dekat rumpun bambu, roda depan sepeda Andi menghantam batu.
Bruk!
Andi jatuh terguling ke tanah. Lututnya lecet sedikit. Fadli yang tadi tertawa keras langsung panik.
“Di! Sakit dak?”
Andi bangun sambil meringis kecil, lalu malah tertawa.
“Dak ape-ape!”
Mereka tertawa bersama sampai suara azan maghrib terdengar dari Masjid Baiturahman dekat sungai.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Suasana kampung mendadak tenang.
Burung-burung kembali ke sarang.
Anak-anak berhenti bermain.
“Sudah maghrib,” ujar Fadli pelan.
Andi mengangguk. Ia menuntun sepeda birunya perlahan pulang melewati rumah-rumah panggung Sukamerindu yang mulai menyalakan lampu minyak.
Malam itu langit dipenuhi bintang.
Tak ada cahaya layar.
Tak ada bunyi notifikasi.
Yang terdengar hanya suara jangkrik, gemericik Sungai Ogan, dan tawa anak-anak kampung yang masih tersisa di udara malam.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Sukamerindu mulai ramai dan jalan sudah dipenuhi kendaraan, Andi sering teringat masa kecil itu.
Tentang sepeda hadiah dari Apri.
Tentang sahabatnya, sekaligus sepupunya Fadli.
Dan tentang sore-sore sederhana di pinggir Sungai Ogan yang ternyata adalah kebahagiaan paling mahal dalam hidupnya.