"Kami berada di lapangan dan di ruang ganti untuk
mengajarkan pemain kami bagaimana untuk menang.
Bukan hanya di lapangan hijau, tapi dalam profesi apa pun yang mereka pilih.
Kami ingin memberikan kebiasaan yang akan menuntun mereka untuk
keunggulan seluruh kehidupan mereka. Kebanyakan dari semua,
kami ingin mengajarkan mereka nilai kesetiaan, integritas, dan kerja sama tim.
Setelah Anda tahu bagaimana bekerja dengan orang,
Anda bisa mencapai apa pun "
(Holtz, 1998, h. 52)
Maestro School of Entrepreneurship
Sebuah Pendidikan Kewirausahaan setingkat Perguruan Tinggi yang melakukan proses pembelajaran dengan metode pendekatan langsung kepada sang Ahli (Maestro) nya
The Billionaire, Never Too Young to be a Millionaire
Saat usia 16, Dia adalah pencandu game online.
Saat usia 17, Dia putus sekolah untuk menjadi penjaja kacang.
Saat usia 18, Keluarganya bangkrut & meninggalkan hutang 40 juta Baht.
Saat usia 19, Dia menciptakan cemilan rumput laut ‘Tao Kae Noi’ yg dijual di 3.000 cabang 7-Eleven di Thailand.
Kini, di usia 26, Dia adalah produsen cemilan rumput laut terlaris di Thailand, berpenghasilan 800 juta Baht per tahun & mempekerjakan 2.000 staf.
Namanya Top Ittipat, dan ini adalah kisah nyata hidupnya yang luar biasa.
What are we doing at our age?
******************
Film Billionaire adalah salah satu film yang sangat menginspirasi bagi saya dan mungkin beberapa orang yang telah menontonnya.
Adegan film dimulai dengan setting di sebuah kantor, seorang pemuda duduk menghadap manajer keuangan di bank. Pemuda itu bernama Itthipat Kulapongvanit, ia berusaha untuk menceritakan tentang dirinya.
Top, demikian sapaan untuk Itthipat Kulapongvanit, seorang remaja berusia 16 tahun, penggemar game online. Suatu saat ada seorang rekan virtualnya yang ingin membeli asesoris untuk karakter di game onlinenya. Singkat cerita, diterimalah tawaran itu, dan Top medapat imbalan sebesar SGD 500 yang setara dengan THB 12,000. Untuk 1 item saja ia bisa mendapatkan uang sebesar itu dan ia masih mempunyaI item-item yang lainnya, pasti bisa dapat uang banyak, demikian imajinasi si Top.
Top memang dilahirkan dari keluarga yang cukup berada, orang tuanya merupakan pengusaha yang cukup sukses, membuat Top menjadi anak yang kurang perduli dengan sekolah, perkenalannya dengan bisnis bisa dibilang didapatkan Top tanpa sengaja, dia adalah seorang pecandu game online, ada satu kejadian yang membuat Top berbisnis item game online, dan dalam waktu singkat dia bisa memiliki hampir 1 juta Baht, dan bahkan dia membeli sebuah mobil sedan seharga 600 ribu Baht (sekitar Rp 200jt) lebih, untuk anak umur 16 tahun, sanggup membeli mobil mahal dengan uang sendiri membuat Top menjadi besar kepala dan membangkang orang tuanya, bahkan kehilangan minat untuk sekolah.
Pada suatu hari, ia pergi ke toko elektronik dan membeli satu unit PS2 dan DVD player. Ketika membawa pulang barang-barang tersebut, orang tuanya kembali marah, dan kemarahannya ditambah ketika mereka tahu bahwa Top tidak diterima di perguruan tinggi negeri. Sebenarnya orangtuanya sangat khawatir, namun Top berkata, “I can take care my self, I don’t need your money” kepada orangtuanya. Bisnis orang tuanya mengalami kesulitan, sehingga ayahnya menolak untuk membiayai kuliah Top ke Universitas Swasta yg mahal
Ia pun kembali melanjutkan ‘bisnis online’nya, menjual item-item dari game online. Namun ternyata akunnya telah diblokir karena diketahui untuk digunakan secara komersil.
Tidak kehilangan akal, dengan sisa uang tabungannya, ia membeli set DVD di toko elektronik tadi dengan harga yang lebih murah untuk dijual kembali. Sesampainya di rumah, ketika ia mencobanya ternyata ia ditipu oleh penjual, semua DVD tersebut rusak. Ia kembali ke toko dan membentak si penjual, Top pulang dengan luka memar di wajahnya.
Di mobil ia melihat ayahnya sedang berjalan pulang, ia mengajaknya untuk naik bersama di mobilnya. Ketika di mobil, ayahnya pun berkata, “Life isn’t fun as playing online game”. Ayahnya pun mengatakan, ia akan membiayai dimanapun Top ingin melanjutkan pendidikannya, namun karena sifat Top yang keras kepala, ia menolaknya, ia tidak ingin dibiayai oleh ayahnya.
Cerita ini juga diwarnai oleh hadirnya Lin sebagai kekasih Top.
Tanpa sepengetahuan orangtuanya, ia mengambil jimat milik orangtuanya dan menggadaikannya untuk biaya kuliah, dan ia mendapatkan THB 100,000. Top memang kuliah, tapi hari-harinya dihantui dengan bayangan bagaimana ia bisa mengembalikan jimat milik ayahnya.
Suatu hari ketika sedang kelaparan, ia pun mengajak pacarnya, Lin untuk pergi makan bersama, namun ternyata Lin sedang sibuk untuk pementasan drama, dan akhirnya pergilah si Top sendirian.
Meski pernah tertipu pada bisnis yang telah menghabiskan banyak uang tabungannya, tidak membuat Top kapok memulai bisnis lagi. Pada saat itulah Top mulai mengenal kerasnya “dunia” bisnis yang sebenarnya, keadaan semakin hari semakin memburuk, bisnis orang tuanya benar-benar ambruk dan berhutang banyak, rumahnya disita bank dan lain sebagainya. Top terlanjur memiliki passion yang sangat kuat di dunia bisnis sehingga dia bertekad untuk tetap berbisnis dan bertekad untuk membantu orang tuanya.
Di perjalanan, ia melihat banner bahwa sedang ada festival makanan, ia pun kesana. Karena sedang festival, maka banyak makanan gratis, dan makanlah ia disana. Sambil menikmati makanan-makanan gratis, ia mengamati mesin-mesin yang memproduksi makanan dan ia tertarik dengan satu mesin pembuat cheese-nut yang akhirnya ia putuskan untuk menyewanya.
Top lalu menyewa alat tersebut dengan harga 10.000 bath perbulan, disini keberanian Top terlihat.
Top adalah tipe pebisnis sejati jalanan. Sebelum memulai bisnis, dia melakukan riset ke pasar-pasar, memperhatikan dan mencatat bagaimana orang lain berjualan, cara pemilihan bahan dan cara memasak kacang. Ternyata percobaanya berhasil menghasilkan cheese-nut yang enak. Ia pun pergi ke sebuah mall dan menyewa sebuah tempat untuk menjual cheese-nut-nya, dibantu pamannya, ia memulai usahanya.
Hari pertama, karena ia harus kuliah, maka pamannya yang berjualan. Namun hanya mendapat sekitar THB 100 pada hari itu. Ia pun mengajari pamannya untuk menarik pelanggan lebih, dan belum membuahkan hasil sedikit pun.
Suatu ketika ketika ia sedang mengantar Lin berbelanja untuk perlengkapan drama di sebuah pasar tradisional, ia melihat teknik bagaimana para penjual menarik konsumen, ia juga mempelajari bagaimana pengaruh lokasi. Top melakukan nego ulang dengan pengelola mall dan minta pindah ke pintu masuk mall. Jualan kacang Top laku keras dan mulai membuka banyak cabang.
Sayang, dia mendapatkan komplain dari pedagang lain dan pengelola mall karena asap kompornya mengotori langit-langit mall. Top akhirnya menyanggupi untuk mengecat ulang. Sampai larut malam, ia ditemani ibunya. Pekerjaan belum selesai, namun waktu telah habis dan ia telah ditegur oleh keamanan untuk segera pulang.
Karena belum selesai dan ia harus pulang, ia pun ingin melanjutkan pekerjaannya besok. Dan ternyata ibunya berkata, “Sudah tidak ada waktu lagi, besok kau harus mengurus paspormu”. Top terheran, ternyata mereka akan pindah ke China untuk tinggal bersama saudara-saudaranya. Mereka pindah karena orangtuanya terjerat hutang oleh bank yang membuat seluruh asetnya disita...
Esoknya ketika pembuatan paspor, Top berkata kepada orangtuanya, ia memilih untuk tetap tinggal dan bersekolah. Orang tuanya merestuinya..
Sepeninggal orangtuanya, Top bukannya sekolah tapi mencoba meneruskan kembali usahanya. Tapi ia dirundung masalah, manajer mall mengatakan bahwa seluruh kedai cheese-nut milik Top harus dikeluarkan, karena Meskipun telah mengecat langit-langit mall, akhirnya dia tetap harus keluar dari mall tersebut karena komplain pedagang lain dan pengelola mall karena catnya mengotori tempat pedagang lain.
Top putus asa, apalagi ia mendapati rumahnya dipasang papan sita oleh bank. Ia memutuskan menemui Lin dan berkata ingin kembali serius kuliah. Lin lalu mengajak Top untuk makan bersama, membeli jajanan yang dulu sering mereka beli ketika SMA. Di perjalanan Lin membawa snack rumput laut yang rasanya membuat Top mendapatkan inspirasi baru.
Namun sekali lagi, karena tidak punya pengalaman dan hanya belajar sendiri, Top harus menghabiskan lebih dari 100.000 baht (sekitar Rp 29juta) untuk mencoba menemukan cara memasak yang pas agar mendapatkan kerupuk lumput yang renyah. Akhirnya gagal dan menghabis semua stok bahan. Sampai pamannya yang membantu Top memasak dan berjualan putus asa karena merasa telah menghabiskan modal begitu saja
Top tidak menyerah dan membeli lagi bahan rumput laut dengan menjual komputer dan PS-nya. Namun pulang membeli bahan ia mendapat musibah, pamannya ditemukan dalam kondisi terluka setelah terjatuh di dapur rumah.
Pada titik nadir keputusasaan—sementara paman yang biasa membantu berada di rumah sakit, Top mencoba sendiri dan sampai semua bahan habis ia tetap belum berhasil mendapatkan rasa yang enak. Saat itulah, Top akhirnya menemukan cara memasak rumput laut yang pas. Ketika semua bahan habis dicoba, ia mendapatkan sisa bahan yang tercecer di lantai yang telah terkena dan terendam air hujan. Ini membangkitkan kembali semangatnya untuk berjualan kembali.
Ia mulai produksi, namun rumput laut hanya awet sampai beberapa hari saja setelah itu basi. Sampailah ia ke sebuah sekolah pertanian dan pengolahan pangan, di sana ia meminta seorang dosen untuk membantunya memberikan pengetahuan bagaimana supaya makanan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama.
Karena rumput laut goreng berminyak, maka ia akan mengalami proses oksidasi yang disebabkan adanya oksigen di dalam kemasannya, oleh karena itu oksigen harus dikeluarkan (dibuat hampa udara) lalu dimasukkan Nitrogen.
Top mulai berdagang kembali dan dibantu oleh pamannya yang telah sembuh. Hari-hari selanjutnya Top disibukkan oleh outletnya. Dagangannya mulai laku dan diserbu pembeli. Dalam hitungannya dia bisa mendapatkan keuntungan 1 juta baht/tahun. Namun ayahnya memberitahukan bahwa hutangnya 40juta baht! Kalau begitu, berapa lama dia bisa membayar hutang ini?
Top memutar otak bagaimana bisa menduplikasi atau me-leverage penjualannya. Akhirnya dia mendapat ide dan memutuskan mengajukan penawaran ke Seven-Eleven. tapi ternyata untuk bisa masuk 7-Eleven pun tidak mudah Kunjungan demi kunjungan ia ditolak karena kemasan, harga, dan lain sebagainya. Dengan tekad yang pantang menyerah, ia mengubah desain kemasan dengan bantuan seorang designer. Ia dengan semangat kembali ke 7-Eleven, tetapi penantiannya tidak mendapat respon manajemen. Ia pun memberikan sample produknya kepada satpam penjaga di sana. Dan ternyata produknya diambil oleh beberapa karyawan di gedung itu.
Di saat ia merasa ingin putus asa, tiba-tiba ia di hubungi oleh pihak 7-Eleven karena produknya diterima. Tetapi, ia harus mempunyai sebuah pabrik. Selama ini ia menggoreng rumput lautnya hanya di sebuah dapur kecil bersama Pamannya. Lalu ia teringat keluarganya masih mempunyai sebuah kantor kecil. Maka ia merenovasi kantor tersebut menjadi sebuah pabrik agar ia bisa lolos kualifikasi.
Ketika pihak 7-11 ingin meninjau pabrik makanannya, Top dan pamannya harus pontang-panting menyiapkan tempat produksi. Karena tidak punya modal, Top harus mengajukan pinjaman ke bank untuk membuat pabrik, namun ditolak karena belum cukup umur. Top baru berumur 19 tahun ketika mulai mendirikan “pabrik” makanan.
Akhirnya Top benar-benar putus asa dan memutuskan untuk berangkat ke China, tapi kepergiannya ke China ia mencoba untuk yang terakhir kalinya, dan kali ini Top benar-benar habis-habisan dan mengambil resiko besar untuk bisa memenuhi syarat dari pihak 7-Eleven. Akhirnya Top terpaksa menjual mobil kesayangannya yang didapat dari bisnis jualan “senjata” game online.
Tapi lagi-lagi kerja kerasnya tidak semudah itu ia hampir gagal lagi saat pihak penyeleksi 7- Eleven menolak karena kurang adanya standar kesehatan dari mulai lampu sampai wastafel. Tapi pada saat ia dikirim fax dari pihak 7- Eleven tinta fax-nya habis. Untungnya ia mempunyai paman, ia di suruh melihat di bawah matahari, dilihatlah ke arah matahari dan tertulis bayang- bayang yang bertuliskan disetujui. Malam sebelum pengiriman, Top terbangun di rukonya Top berbicara dengan pamannya yang juga terbangun. Top merenung betapa dia ceroboh selama ini dan berbisnis tanpa banyak pikir. Pamannya menjawab, bahwa kalau dia terlalu banyak mikir mungkin dia tidak akan sampai sejauh ini.
Kemudian saat hendak melakukan pengiriman barang, Top berkata kepada pamannya, “Ini adalah usaha saya yang terakhir, saya sudah habis-habisan, kalau ini gagal lagi, saya akan menyerah, tinggal bersama papa mama.” Dan Top nyaris gagal setelah ia datang terlambat ke gudang, namun berkat belas kasihan manajer gudang Top tetap diizinkan memasukkan barang.
Pada akhirnya, kerja keras dan semangatnya berbuah hasil. Setelah 2 tahun, ia berhasil membayar hutang keluarganya dan berhasil mengambil kembali rumah yang selama ini mereka tinggali bersama kedua orangtuanya.
Saat ini Top telah berusia 26 tahun. Produknya telah diekspor ke 27 negara dan memiliki pabrik rumput laut di Korea Selatan serta memiliki penghasilan 800 juta bath per tahun (coba aja hitung berapa rupiahnya). Masih muda tapi telah menjadi miliarder, atau triliuner!
Kisah Top Ittipat sangat menginspirasi kita. Tentang kerja keras pantang menyerah. Di saat anak muda seumur dia asik bermain di mall, mengoleksi gadget terbaru dan sibuk dengan dunia muda, Top memikirkan peluang bisnis dan bagaimana mendapatkan kekayaan. Dia belajar dari pengalaman, tanpa guru, bacaan apalagi mentor. Film ini benar-benar mengajarkan kita untuk tidak hanya bermimpi tetapi juga harus bisa 'meraih' mimpi dan juga jangan pernah menyerah.
Dan Tahukah apa arti dari Tao Kae Noi? Artinya adalah “PENGUSAHA MUDA”! Luar biasa....
" I've really put everything i have in this. If this doesn't work then i'll have nothing left. I'll quit and stop being stubborn"
*Sayang filmnya Cuma ada di Blitzmegaplex jadi ga semua bisa nonton, nunggu VCD ato DVDnya pasti masih lama....*
”Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mampunyai cita-cita, lain dari pada kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup.”
- Prof. Hamka, dalam bukunya yang berjudul, Pribadi (1982, cet.ke-10),
09/10/2011
Trainers :: The Idea Resort New Website - Hosted by Exabytes™ - Your excellent hosting partner
Sosiolog David McClelland berpendapat bahwa suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduknya. Bandingkan antara Indonesia dengan Singapura. Negeri Singapura sudah 7,2% penduduknya yang menjadi entrepreneur (2009), padahal tahun 2001 hanya 2,1%. Sedangkan Indonesia baru 0,18 % dari jumlah penduduknya (sekitar 400.000 orang) (sumber : Media Indonesia, Senin 9 Mei 2011)
“Riset Profesor Payaman menemukan bahwa tiga dari sepuluh tukang ojek di Jakarta adalah sarjana,” demikian kata Agung B. Waluyo, PhD, dosen Universitas Ciputra, JakartaWaks...!
Baca berikut ini.Mari Berwirausaha
http://www.bppnfi-reg4.net/index.php/component/content/article/5-informasi/39-mari-berwirausaha.html
Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!
http://m.kompas.com/news/read/data/2011.04.08.03583312
Kompas.com - Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur.
Mulai Senin, 15 Maret 2011...seluruh mahasiswa SoE MAESTRO akan memulai pemagangannya ke berbagai Maestro Entrepreneur sesuai dengan bidang minat masing masing
21/12/2010
11/12/2010
Entrepreneurship sudah lama dikenal di Nusantara. Para saudagar dari kerajaan kerajaan di Nusantara telah lama mengenal adat berdagang dan berwirausaha, Serta bersama sama dengan China, India dan bangsa besar lainnya telah menjalin hubungan wirausaha yang setara. Setidaknya, sejarah sebagai bangsa dan pewirausaha besar telah tertoreh di Nusantara ini
Seseorang Entrepreneur tidak pernah merasa terlalu terlambat untuk gigih berjuang. Tidak pernah
terlalu terlambat memutuskan, jangan pernah menyerah. Terus mengetuk.
Terus bertanya. Teruslah mencari.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Telephone
Website
Address
Jalan Raya Parung Km 413
Bogor