SMK AL-BASYARIAH

SMK AL-BASYARIAH

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from SMK AL-BASYARIAH, High School, Gang langgar, Bogor.

majelisrasulullah.org - Home 09/12/2011

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Sunday, 23 October 2011
Berdusta Atas Ucapan Rasul SAW
Senin, 10 Oktober 2011


قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas ucapanku maka ia (bersiap) mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari)
Image

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya, terlebih lagi bagi yang memohonnya, Yang Maha memiliki kebahagiaan dan keluhuran serta memberikannya kepada hamba-hamba-Nya sepanjang waktu dan zaman, Dialah Yang Maha menciptakan segala sesuatu termasuk p**a Yang menciptakan waktu dan zaman. Dialah Allah subhanahu wata’ala yang mana jika seseorang memanggil nama-Nya maka terbukalah seluruh pintu rahmat-Nya, dan tertutuplah seluruh pintu kemurkaan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi riwayat Shahih Al Bukhari :

أَنَا مَعَ عَبْدِيْ حَيْثُمَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ

“ Aku bersama hamba-Ku ketika ia menyebut-Ku dan bergetar bibirnya menyebut nama-Ku”

Maka seluruh pintu musibah, bala’ atau kesusahan di dunia dan akhirat yang akan datang kepada kita ditutup dan disingkirkan oleh Allah disaat kita mengingat-Nya , menyebut dan memanggil nama-Nya serta merindukan-Nya, disaat kita memanggil dan menangis karena cinta kepada-Nya, di saat kita meminta dan mengadu kepada Allah, di saat kita mendambakan pertemuan dengan Allah. Dan di saat ia merindukan Allah sungguh ia juga dirindukan Allah subhanahu wata’ala. Sepanjang hidup manusia sejak ia lahir hingga ia wafat, tidak ada sesuatu yang lebih indah dari detik-detik ketika ia dirindukan Allah. Satu detik itu akan membuat sirna dosa-dosanya. Semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan kerinduan kita kepada-Nya, sifat rindu kepada Allah subhanahu wata’ala sungguh sangat indah jika berpijar di dalam jiwa, dan hal itu akan muncul dengan kita mengenali nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, pemimpin orang-orang yang dicintai dan mencintai Allah subhanahu wata’ala. Dan orang yang paling mencintai Allah pastilah ia juga mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semua cinta Allah tersimpan pada sosok sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

( آل عمران : 31 )

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Ali Imran : 31 )

Sampailah kita pada hadits agung dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang mendustakan hadits-ku ( Rasulullah ) dengan sengaja maka bersiaplah kelak untuk menempati neraka”.

Makna hadits ini sudah jelas, namun kita perlu menelaah lagi berkaitan dengan saudara-saudara kita yang terjebak dengan rendahnya pemahaman, sehingga tergesa-gesa untuk menghapus hadits-hadits semau mereka, atau dengan berkata : “hadits itu dha’if maka jangan digunakan sebagai dalail”, dll. Padahal hadits dha’if bukanlah hadits palsu, dimana para ahli hadits membagi hadits dha’if menjadi 40 bagian, dan diantaranya ada hadits yang masih bisa digunakan sebagai hujjah, sebagaimana Al Imam Ahmad bin Hanbal menggunakan hadits dha’if dalam menetapkan dalil akan sentuhan suami dan istri tidak membatalkan wudhu’, adap**a hadits yang tidak bisa lagi digunakan sebagai hujjah namun bisa dijadikan amal untuk dianut dan diikuti, dan ada p**a yang bisa dijadikan sebagai dalil sejarah, karena tidak semua hadits dha’if itu termasuk hadits palsu. Namun jika telah disebutkan bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu maka besar kemungkinannya bahwa hadits itu riwayatnya juga palsu. Namun para ulama salafusshalih tidak berkenan menghapus hadits dha’if begitu saja karena para periwayatnya adalah para shalihin. Dan hadits Shahih itu sangat berat syaratnya sebagaimana Al Imam Bukhari ketika beliau mendengar ada salah seorang yang menyimpan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan belum beliau ketahui, lalu beliau tempuh perjalanan 3 bulan untuk menemui orang tersebut dan ternyata dia adalah seorang penggembala kambing dan di saat itu ia menggembala kambingnya kemudian memanggil kambingnya dengan mengangkat sorbannya yang berwarna hijau, maka kambingnya pun datang karena mengira sorban itu adalah rumput karena berwarna hijau, maka Al Imam Bukhari berkata : “aku tidak mau mengambil hadits dari orang itu ”, karena dia adalah penipu. Sekedar menipu hewan saja haditsnya tidak diambil oleh Al Imam Bukhari, meskipun belum tentu orang tersebut berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun hal itu demi menjaga hadits yang shahih. Oleh karena itu jangan terburu-buru mendengarkan ucapan orang yang biasa memvonis suatu hadits sebagai hadits dha’if, karena hal tersebut termasuk mendustakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saat ini kita berada pada bulan mulia bulan Dzulqa’dah, dimana telah terjadi perjanjian Hudaibiyah di bulan ini. Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 H bulan Dzulqa’dah, diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, shahih Muslim dan lainnya, ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju Makkah Al Mukarramah bersama 1500 kaum muslimin muslimat dengan berpakaian ihram, dan setelah mendekati kota Makkah, orang kuffar quraisy telah melihat bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam datang bersama 1500 orang muslimin menuju ke Makkah dan mereka pun mulai waspada, setelah kabar itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melihat kaum quraisy tidak menerima mereka secara damai, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya mencari jalan lain untuk menuju Makkah namun tetap saja kaum quraisy mengetahuinya dan menghalangi mereka. Dan dalam perjalanan itu kaum muslimin kehabisan air, teriwayatkan di dalam Shahihul Bukhari bahwa ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta air kemudian para sahabat membawakan air dalam bejana yang hanya tinggal sedikit, lalu para sahabat berkata bahwa persediaan air habis dan semua sumber air yang ada disekitar saat itu pun kering, maka Rasulullah memasukkan tangan beliau ke dalam bejana yang berisi air sedikit itu lalu keluarlah air dari jari-jari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka mulai minum sepuasnya dan berwudhu’ dari air tersebut, yang mana jumlah mereka di saat itu adalah 1500 orang, dan teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa jika jumlah mereka di saat itu adalah 100.000 orang maka air itu pun akan mencukupi untuk semua, karena air keluar dari jari-jari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan derasnya dan tanpa berhenti. Demikian dari mu’jizat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau tidak ingin melihat orang yang dicintainya kesusahan. Dan di saat itu datanglah Urwah sebagai utusan kaum quraisy sebelum ia masuk Islam, dia datang untuk membuat perjanjian yang disebut dengan perjanjian Hudaibiyah , maka Urwah berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan setiap kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara urwah selalu memegang jenggot beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, karena merasa geram ingin mencelakai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di saat itu ada salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berada di samping Rasulullah selalu memukul tangan Urwah setiap kali ingin memegang janggut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berlaku sopan dihadapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan diriwayatkan bahwa Urwah berkata tidak satu pun dari para sahabat yang mengangkat kepala untuk memandang wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena penghormatan mereka terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi berwudhu, para sahabat berebut mengambil bekas air wudhu’ beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mengusapkan ke muka dan ke tangan mereka, adapun mereka yang tidak mendapatkan bagian air bekas wudhu’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka mereka mengambil dari bekas sahabat yang lain kemudian mengusapkan ke wajah mereka, dan air bekas wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu wangi. Diriwayatkan dalam kitab As Syifaa oleh Al Imam Qadhi ‘Iyadh bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah sumur, lalu para sahabat berkata bahwa air di sumur itu rasanya pahit, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “tidak demikian, air di sumur ini rasanya enak dan baunya wangi”, kemudian Rasulullah meminta untuk diambilkan air dari sumur itu kemudian beliau berkumur dengan air itu lalu memuntahkan air itu ke dalam sumur, dan ternyata air itu baunya lebih wangi daripada bau misik, karena telah tercampur dengan air ludah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh segala sesuatu yang tersentuh atau disentuh oleh sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka akan dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala, maka terlebih lagi jika itu adalah hati yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka di saat itu Suhail yang juga merupakan utusan musyrikin membuat perjanjian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah memerintahkan kepada sayyidina Ali Kw untuk memulai dan menuliskan “Bismillahirrahmanirrahim”, namun Suhail menolak dan meminta untuk menulis “Bismika Allahumma”, Rasulullah terdiam dan kemudian memerintahkan untuk mengikuti kemauan musyrikin akan hal itu, lalu Rasulullah memerintahkan untuk menulis “Min Muhammad Rasulullah (dari Muhammad utusan Allah)”, maka kaum musyrikin tidak menerimanya dan meminta untuk menghapus kalimat “Rasulullah”, karena mereka tidak meyakini bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasulullah, namun tangan sayyidina Ali tidak mampu untuk menghapusnya kemudian Rasulullah sendiri yang menghapusnya seraya berkata :

وَاللهِ إِنِّيْ لَرَسُوْلُ اللهِ وَإِنْ كَذَّبْتُمُوْنِيْ اُكْتُبْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ

“ Demi Allah, sungguh aku adalah utusan Allah walaupun kalian mengingkariku, tulislah -Muhammad bin Abdillah- “.

Kemudian ditulislah : “Min Muhammad bin Abdillah ( dari Muhammad putra Abdullah)”. Dan perjanjian berikutnya sangat mengagetkan muslimin, yaitu jika ada orang muslim yang masuk Islam dari Makkah dan lari ke Madinah, maka harus dikembalikan kepada kaum musyrikin quraisy, para sahabat tidak menerima hal itu namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya terdiam, para sahabat kebingungan, dan dalam keadaan seperti itu datanglah Jandal bin Suhal dan berkata : “ Aku datang dari Makkah untuk masuk Islam”, maka Suhail berkata : “dialah orang yang pertama kali yang masuk Islam dan harus dikembalikan kepada kaum musyrikin”, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada Suhail agar kaum muslimin tidak mengembalikannya ke Makkah, hingga tiga kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memohon kepada Suhail namun Suhail tetap menolaknya. Kemudian datang sayyidina Umar bin Khattab RA kepada Rasulullah shallallahu, dan berkata : “wahai Rasulullah bukankah Engkau adalah benar-benar utusan Allah?”, Rasulullah menjawab : “iya betul aku adalah utusan Allah”, kemudian sayyidina Umar berkata : “Bukankah kita kaum muslimin berada pada kebenaran dan mereka dalam kesesatan?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “iya benar”, sayyidina Umar berkata : “ lantas mengapa kita harus menghinakan diri kepada orang-orang yang dalam kebathilan sedangkan kita dalam kebenaran?”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا

“ Sungguh aku adalah utusan Allah, dan Allah tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”

Kemudian sayyidina Umar bin Khattab RA pun terdiam lalu mendatangi sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan menceritakan perbincangannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemudian di akhir percakapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا

“ Sungguh aku adalah utusan Allah, dan Allah tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”

Kemudian sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata : “jika demikian, maka sungguh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah dan Allah tidak akan mengecewakannya”, maka sayyidina Umar bin Khattab pun terdiam mendengar jawaban sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA. Setelah beberapa waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari kemahnya dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk memotong rambut dan menyembelih hewan kurban, dan setelah itu beliau dan kaum muslimin kembali ke Madinah Al Munawwarah tanpa memasuki Makkah, namun para sahabat tidak ada yang melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga setelah beliau menerima pendapat Ummu Salamah untuk memulai mencukur rambut beliau dan menyembelih hewan qurban, kemudian para sahabat pun dari Muhajirin dan Anshar mengikuti langkah beliau karena cintanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan teriwayatkan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memotong rambut, tidak sehelai rambut pun yang terjatuh ke tanah kecuali telah berada di genggaman tangan para sahabat. Dan diriwayatkan dalm Shahih Al Bukhari bahwa salah seorang sahabat menyimpan sehelai rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berwarna hitam kemerah-merahan kemudian beliau menceritakan pada sahabat yang lainnya, maka sahabat itu berkata :

لِأَنْ تَكُوْنَ عِنْدِيْ شَعْرَةٌ مِنْهُ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“ Jika aku memiliki sehelai dari rambut beliau ( Rasulullah ) hal itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya ”

Demikian cintanya para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelah mereka selesai memotong rambut dan menyembelih hewan qurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kaum muslimin kemudian membai’at mereka di bawah sebuah pohon, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

( الفتح : 18 )

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) .” ( QS. Al Fath : 18 )

Dan firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat yang sama :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

( الفتح : 10 )

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah . Tangan Allah di atas tangan mereka , maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” ( QS. Al Fath : 10 )

Kemudian turun juga ayat tentang hal tersebut firman Allah subhanahu wata’ala:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

( الفتح : 27 )

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat .” ( QS. Al Fath : 27 )

Setelah itu sahabat bersiap-siap untuk kembali ke Madinah Al Munawwarah, tiba-tiba di suatu pagi sayyidina Umar bin Khattab dipanggil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sayyidina Umar bin Khattab merasa khawatir jika perkataannya kemarin telah menyinggung perasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga turun ayat sebagai teguran untuk sayyidina Umar bin Khattab, maka beliau datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah berkata : “Wahai Umar, semalam telah turun ayat yang mana ayat itu lebih aku cintai dari terbitnya matahari”, ayat itu adalah firman Allah subhanahu wata’ala:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا ، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

( الفتح : 1-3 )

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” ( QS. Al Fath : 1-3 )

Maka setelah mendengar hal itu, wajah sayyidina Umar bin Khattab menjadi cerah dan berkata : “wahai Rasulullah, apakah kelak kita akan masuk ke Masjidil Haram?”, Rasulullah menjawab : “iya betul wahai Umar”, maka dua tahun kemudian di bulan Ramadhan tahun 8-H masuklah kaum muslimin ke kota Makkah dengan aman dan damai, dan tidak ada lagi kaum musyrikin yang bisa melawan atau menghalangi pasukan kaum muslimin yang berjumlah 10.000 dari golongan muhajirin dan anshar, dan tidak ada lagi gencatan senjata dan ketika itu Abu Sofyan pun kemudian menyerah dan masuk Islam dan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “ Wahai Rasulullah, kuserahkan semua kekuasaan quraisy dan tidak ada lagi kekuasaan quraisy setelah hari ini”. Demikianlah kejadian perjanjian Hudaibiyyah pada tahun ke-6 bulan Dzulqa’dah.

Selanjutnya kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala semoga kita termasuk dalam kelompok ahli Hudaibiyyah yang bersumpah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membantu sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dan cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, membantu sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam semampunya dan menjauhi larangan Allah semampunya, serta mematuhi perintah Allah semampunya, dan semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kekuatan kepada kita untuk taat pada seluruh perintah Allah dan untuk mampu menjauhi seluruh larangan Allah, semoga Allah mengangkat seluruh kesulitan kita yang sedang terjadi dan yang akan terjadi di dunia dan di akhirah, semoga Allah menjaga kita dari segala musibah yang akan terjadi Ya Rahman Ya Rahiim…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Sumber : http://www.majelisrasulullah.org

majelisrasulullah.org - Home Majelis Rasulullah - Komunitas online pecinta Rasulullah saw

majelisrasulullah.org - Home 09/12/2011

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Tuesday, 11 October 2011

Kemuliaan Shalat Tahajjud
Senin, 03 Oktober 2011


عَنْ أَمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَيْقَظَ لَيْلَةً فَقَالَ سُبْحَانَ اللهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ اْلفِتْنَةِ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ مَنْ يُوْقِظُ صَوَاحِبِ الْحُجُرَاتِ ؟ يَارُبَّ كَاسِيَةٍ فيِ الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فيِ اْلآخِرَةِ

(صحيح البخاري)

“ Dari Ummu Salamah RA, dia berkata: Pada suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terbangun lalu berkata : “Subhanallah, fitnah apakah yang diturunkan di malam hari, dan perbendaharaan apakah yang diturunkan pada orang yang membangunkan para penghuni kamar, dan berapa banyak orang yang mengenakan pakaian di dunia, tapi telanjang di akhirat". ( Shahih Al Bukhari)

ImageLimpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, dengan kehadiran kita di majelis yang mulia ini, dan semoga dengan majelis yang mulia ini dan majelis-majelis dzikir dan majelis ta’lim yang kita hadiri kita juga termuliakan untuk menuju keluhuran.

Maha Suci Allah subhanahu wata’ala Yang Maha membuka rahasia rahmat-Nya sehingga Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Dermawan menyiapkan bumi beserta isinya untuk keturunan nabi Adam As untuk mereka olah, dan sampailah kita pada malam yang agung ini dalam anugerah-anugerah yang bersifat rohani yang membawa ketenangan jiwa, serta membuka kunci kemakmuran di dunia dan akhirat, dan semakin jauh seorang hamba dari Allah subhanahu wata’ala maka akan semakin banyak musibah yang akan datang menimpanya, dan sebaliknya semakin seseorang dekat kepada Allah subhanahu wata’ala maka semakin banyak musibah yang akan disingkirkan oleh Allah, maka beruntunglah hamba yang ingin mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala, karena Allah akan lebih mendekat kepadanya, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi :

وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلّيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“ Jika dia (hamba-Ku) mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku mendatanginya dengan bergegas”.

Jika telah muncul dalam diri seseorang keinginan untuk mendekat kepada Allah maka ketahuilah di saat itu Allah juga ingin mendekat dengannya. Diumpamakan ada suatu pesta besar yang diadakan oleh seorang pemimpin atau orang yang sangat kaya raya dan dermawan sehingga segala macam hidangan disiapkan, begitup**a keadaan kita di majelis ini dimana Allah subhanahu wata’ala sedang menjamu kita dengan hidangan-hidangan yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui . Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rahmat-Nya di setiap waktu, akan tetapi ada waktu-waktu tertentu yang mana layak dan seharusnya kita memohon dan berdoa di waktu-waktu tersebut agar kita dijauhkan dari musibah dan mendapatkan banyak anugerah, dan diantaranya adalah di majelis-majelis seperti ini maka perbanyaklah berdoa dan meminta kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan juga sebagaimana hadits yang kita baca tadi, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di suatu malam terbangun untuk melakukan qiyamul lail, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سُبْحَانَ اللهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ اْلفِتْنَةِ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ مَنْ يُوْقِظُ صَوَاحِبِ الْحُجُرَاتِ ؟ يَارُبَّ كَاسِيَةٍ فيِ الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فيِ اْلآخِرَةِ

“ Subhanallah (Maha Suci Allah), fitnah apakah yang akan diturunkan pada malam hari, dan perbendaharaan (anugerah-anugerah) apakah yang akan diturunkan pada orang yang membangunkan para penghuni kamar, dan berapa banyak orang yang mengenakan pakaian di dunia tapi telanjang di akhirat ”.

Berapa banyak ketentuan-ketentuan Allah subhanahu wata’ala yang akan turun di malam hari, yang berupa masalah atau musibah-musibah yang akan menimpa hamba-hamba Allah, dan juga berapa banyak anugerah-anugerah yang dibuka oleh Allah kemudian dilimpahkan kepada mereka, dan jika seorang hamba terbangun di saat itu kemudian berdoa dan bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala maka musibah atau cobaan yang akan menimpanya diangkat oleh Allah karena dia sedang mengingat Allah dan berdoa kepada-Nya, Allah berfirman dalam hadits qudsi:

أَنَا مَعَ عَبْدِيْ حَيْثُمَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ

“ Aku bersama hamba-Ku ketika ia menyebut-Ku dan bergetar bibirnya menyebut nama-Ku ”

Dalam 1/3 malam terakhir banyak musibah yang akan turun namun telah dirubah oleh Allah subhaanahu ta’ala menjadi anugerah baginya, atau mungkin ada anugerah yang akan sampai pada seseorang namun ketika 1/3 malam terkahir ia tidak bangun dari tidurnya, maka bisa jadi anugerah itu tidak jadi sampai kepadanya, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk membangunkan para keluarga di 1/3 malam terakhir untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala. Beliau juga bersabda bahwa bisa jadi seorang yang berkecukupan di dunia akan kesusahan di akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

( الزخرف : 67 )

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. ( QS. Az Zukhruf : 67 )

Semua orang yang saling mencintai akan bermusuhan dan saling menyalahkan antara satu dan yang lainnya, diantara mereka mungkin saling menyalahkan karena ketika di dunia tidak saling menasihati untuk berbuat kebaikan dan tidak p**a saling mengingatkan atau melarang untuk berbuat kejelekan, kecuali orang-orang yang bertakwa mereka akan berada dalam ketenangan dan kegembiraan dan selamat dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا

( الإنشقاق : 9 )

“Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira”. ( QS. Al Insyiqaaq: 9)

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, ketika rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkumpul dengan beberapa sahabatnya di suatu malam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “ seratus tahun yang akan datang tidak akan ada lagi yang tersisa di muka bumi ini”, maksud beliau adalah orang-orang yang hidup di saat itu semuanya akan wafat. Hujjatul islam Al Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mereka yang dikatakan saja, karena nabiyallah Khidir masih tetap hidup hingga berjumpa dengan Dajjal. Namun makna hadits tadi adalah betapa singkatnya hidup kita dan merupakan peringatan bagi kita untuk selalu berwaspada, dalam majelis ini saja mungkin seratus tahun yang akan datang tidak akan ada lagi yang tersisa tetapi telah berada di dalam kuburnya masing-masing. Apakah mereka dalam perkump**an keluhuran atau perkump**an kehinaan, karena di alam barzakh pun perkump**an keluhuran dan kehinaan sebagaimana ketika hidup di muka bumi. Di alam barzakh pun ada orang yang menyendiri, ada yang tidur, ada yang bangun, ada yang miskin dan ada juga yang kaya , ada yang berkelompok dalam kesenangan dan ada yang berkelompok dalam kesusahan hanya saja disana tidak ada yang bermaksiat namun tetap ada yang melakukan ibadah, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan lainnya ketika rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَرَرْتُ بِمُوْسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عِنْدَ اْلكَثِيْبِ اْلأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِيْ قَبْرِهِ

“ Saya melewati Musa yang sedang shalat di kuburnya di sebuah tumpukan pasir merah pada malam saya dijalankan oleh Allah (isra’ mi’raj)”

Dalam tafsir Al Imam Ibn Katsir dijelaskan bahwa dalam sebuah riwayat yang tsiqah dijelaskan bahwa salah seorang ulama’ berkata : “Aku setiap malam Jum’at di masa hidupku selalu hadir pada suatu majelis dan setelah aku wafat pun ruhku masih terus dihadirkan pada majelis tersebut” . Maka ruh orang yang ketika di dunia selalu berkumpul dalam kebaikan maka ketika ia wafat pun akan terus dihadirkan dalam perkump**an itu seperti di masa hidupnya, dan selain itu ada yang dalam penjara yaitu dalam siksa kubur, ada yang dalam kesusahan, ada yang dalam keberkahan dan kebahagiaan disebabkan tetangganya, dan ada p**a yang dalam kesusahan disebabkan tetangganya . Dalam sebuah riwayat yang tsiqah, yaitu riwayat yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan karena maknanya shahih dan peristiwa atau kejadiannya didukung dengan dalil-dalil yang shahih walaupun riwayatnya belum tentu shahih, disebutkan bahwa ketika seseorang ayah telah meninggal anaknya yang masih kecil, beberapa hari kemudian ia mimpi melihat anaknya yang masih kecil itu terlihat sudah tua renta dan memutih rambutnya, maka sang ayah berkata : “wahai anakku, engkau meninggal ketika masih sangat kecil tapi mengapa wajahmu telah berubah menjadi sangat tua?”, maka si anak menjawab : “wahai ayah, di pemakaman ketika jenazah si fulan dimasukkan ke dalam kubur, kami mendengar gemuruh neraka jahannam maka kami semua ketakutan hingga wajahku berubah seperti ini karena takut dengan gemuruh api neraka”,. Dan dalam riwayat lainnya disebutkan, diantaranya dalam kitab Tadzkiratul Huffadh dan Siyaar a’laamunnubalaa’, dimana salah seorang bermimpi melihat temannya yang telah wafat puluhan tahun yang lalu dengan wajah yang sangat bercahaya dan terang benderang, maka ia berkata : “wahai fulan semasa hidupmu engkau bukanlah termasuk orang yang sangat shalih, namun bagaimana wajahmu bisa bersinar seperti ini?”, maka ia menjawab : “Ya betul, sejak kemarin ketika meninggal Al Imam Ahmad bin Hanbal dan ketika jenazahnya masuk ke pemakaman kami maka sepuluh ribu cahaya turun pada setiap kubur yang ada disekitarnya”, riwayat ini di dukung oleh riwayat Shahihul Bukhari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalati salah seorang yang wafat dikuburnya karena beliau shallallahu ‘alaihi wasallam belum sempat menshalatinya sebelum dikuburkan, jenazah itu adalah seorang wanita yang mempunyai kebiasaan menyapu masjid. Maka suatu saat nabi bertanya : “ dimana si fulanah, aku tidak lagi pernah melihatnya?”, dan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa dia telah meninggal maka beliau meminta sahabat untuk diantar ke makamnya dan menshalatinya di makam tersebut, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa perkuburan tersebut penuh dengan kegelapan, namun Allah menerangi seluruh makam disini karena shalatku kepada mereka, demikianlah sebagian dari keadaan di alam barzakh yang pasti akan mendatangi kita. Maka alangkah indahnya mereka yang selalu asyik duduk santai di Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena cintanya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketika wafat ruhnya dibawa oleh para malaikat dan dikumpulkan bersama para pecinta rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan ketika sayyidina Bilal tersengal-sengal menahan sakaratul maut, maka istrinya berkata : “betapa beratnya Bilal menahan sakitnya sakaratul maut”, maka Bilal menjawab : “tidak, aku bukan tersengal-sengal karena menahan sakitnya sakaratul maut akan tetapi karena aku ingin segera bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para kelompoknya”, demikian keadaan para sahabat dan para pecinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika wafat . Semoga Allah subhanahu wata’ala memanjangkan usia kita dalam keberkahan dan mewafatkan kita dalam husnul khatimah dan seindah-indah keadaan. Maka perindah hari-hari kita dengan hal-hal yang indah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“ Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik”

Allah subhanahu wata’ala menyukai sesuatu yang baik dan yang indah, dan tidak ada yang lebih baik dan indah dari yang telah diajarkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

( آل عمران : 31 )

“ Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” . ( QS. Ali Imran : 31 )

Maka dengan banyak membaca Al qur’anul Karim, membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau menelaahnya sungguh hal yang seperti itu indah di sisi Allah subhanahu wata’ala sehingga kita pun akan diperindah oleh Allah subhanahu wata’ala .

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh salah seorang sahabat dan berkata : “Wahai Rasulullah, di saat aku membaca surat Al Kahfi ketika itu turun kabut dari langit, apakah itu wahai rasulullah??”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ itu adalah para malaikat yang turun dari langit berupa ketenangan karena bacaan Al qu’ran yang dibaca di muka bumi”, ketika seseorang membaca Al qur’an maka ketenangan akan turun kepadanya, dan rahmat akan terbuka sehingga banyak musibah yang tersingkirkan dan banyak anugerah yang diturunkan, oleh sebab itu perbanyaklah membaca Al qur’an. Dan isnyaallah setiap malam Kamis kita akan membaca Al qur’an bersama beberapa surat juz ‘Amma dengan waktu kurang lebih 5 menit, kita mulai malam Kamis yang akan datang insyaallah yang dengan hal ini kita berharap dan berusaha untuk kembali memakmurkan Al qur’anul Karim.

Hadirin hadirat yang dimulikan Allah
Disebutkan dalam suatu riwayat yang tsiqah bahkan didukung dengan dalil dari Al Qur’an dan hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan teguran dan himbauan agar kita jauh dari sifat sombong , di dalam kitab Qabasun Nuurul Mubiin dari kitab Ihyaa ‘Ulumuddin yang ditulis oleh guru mulia Al Arif Billah Habib Umar bin Muhammad bin Salim Al Hafidh, menjelaskan agar berhati-hati terhadap sifat sombong yang terkadang tidak diketahui dan tidak disadari, yang diantaranya adalah merasa senang jika melihat orang lain celaka, atau jika ia mempunyai musuh atau orang yang tidak ia sukai karena pernah mengganggu dan mencelakakan dia ketika ia terkena musibah maka ia merasa senang, mungkin dengan berkata : “itu karena dia menggangguku, sehingga Allah menurunkan musibah kepadanya”, atau dengan ucapan yang lainnya, maka hal yang seperti ini merupakan salah satu dari bentuk sifat kibr (sombong) yang terkadang tidak disadari oleh manusia. Para nabi dan Rasul banyak yang dicaci dan dihina namun Allah maafkan mereka yang mencaci di kemudian hari . Diriwayatkan p**a ketika seorang wanita yang tua renta sedang menyapu di tengah jalan dan di saat itu ada seorang panglima besar yang akan melewati jalan itu maka wanita itu disuruh pergi dari tempat itu, semua orang menghindar dari jalan namun si wanita itu tidak mau pergi dan tetap menyapu di jalan itu, maka dikatakan kepada wanita tua itu : “wahai ibu, pergilah dari jalan ini karena panglima akan melewati jalan ini”, maka wanita itu berkata: “ lewat saja, masih ada jalan yang bisa dilewatinya”, maka panglima itu berkata : “wahai ibu, apakah engkau mengenalku?”, maka wanita itu menjawab: “aku mengenalmu sejak engkau belum dilahirkan”, panglima berkata : “bagaimana hal itu bisa terjadi?”, wanita itu menjawab : “betul aku mengenalmu, permulaanmu adalah air mani dan akhirmu adalah bangkai”, maka panglima itu terdiam malu. Itulah hakikat manusia, entah itu seorang raja, panglima, atau rakyat biasa kesemuanya berawal dari air mani dan akan berakhir menjadi bangkai, kecuali para shiddiqin dan muqarrabin yang tubuhnya akan tetap dijaga oleh Allah dengan mengharamkan bumi dan seluruh binatang-binantang bumi memakannya, dan memerintahkan bumi untuk menjaga jasadnya. Oleh sebab itu ketika terjadi banjir besar di wilayah Uhud, Saudi Arabia, sehingga pemakaman Uhud menjadi longsor dan bergelimpangan jasad-jasad yang masih utuh dan seakan-akan mereka dalam keadaan tidur bukan wafat, dan sebagian darah mereka masih terlihat basah, mereka adalah para syuhada’ uhud yang telah wafat 1400 tahun yang silam, kemudian mereka dimakamkan kembali. Oleh sebab itu Allah subhanahu wata’ala memuliakan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, Allah subhanahu wata’ala membukakan pintu rahmat bagi yang dikehendaki-Nya, maka lewati kehidupan kita dengan seindah-indah kehidupan .

Selanjutnya kita berdoa keapda Allah subhanahu wata’ala semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebahagiaan, dan menenangkan jiwa dan hari-hari kita dalam segala keadaan, zhahir dan batin, dunia dan akhirat, dijauhkan dari musibah dan bala’, dan membukakan untuk kita seluruh pintu kebaikan, amin allahumma amin..

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Sumber : http://www.majelisrasulullah.org/index.php

majelisrasulullah.org - Home Majelis Rasulullah - Komunitas online pecinta Rasulullah saw

Want your school to be the top-listed School/college in Bogor?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Gang Langgar
Bogor
16320