28/05/2010
WAH REWEL AMAT, SIH...!
Menghadapi
batita yang rewel, orang tua harus ekstrasabar karena ia mudah sekali
menangis.
Tak
jarang terjadi, si kecil yang berusia batita menjadi begitu rewel.
Sampai-sampai dalam melakukan kegiatan sehari-hari ia pun selalu
mengawali
dengan menangis terlebih dahulu. Ada beberapa penyebab yang
tergolong
sering jadi pencetus kerewelan pada anak (lihat boks).
Selain itu, kerewelan si
batita ada p**a
yang berhubungan dengan temperamennya. Umumnya temperamen anak
dibagi
menjadi 3, yakni mudah, sulit, dan lambat (slow to warm up).
Untuk
mengetahui seperti apa temperamen anak kita, orang tua sudah bisa
melihat
ciri-ciri mudah, sulit, dan lambat ini semenjak anak masih bayi.
Anak yang tergolong
bertemperamen mudah
sangat mudah beradaptasi dalam menghadapi situasi yang baru,
tidurnya
teratur, termasuk buang airnya. Sebaliknya anak yang tergolong
bertemperamen sulit akan sulit beradaptasi dengan menunjukkan
reaksi yang
keras bila dikenalkan pada lingkungan baru.
Sedangkan anak-anak yang
tergolong
bertemperamen lambat butuh rentang waktu tertentu untuk
menyesuaikan diri.
Biasanya setelah merasa nyaman, ia akan dapat segera menyesuaikan
diri.
Nah, umumnya anak-anak yang tergolong rewel adalah anak-anak yang
bertemperamen slow to warm up hingga sulit.
PENYEBAB
REWEL & CARA MENGATASINYA
1. KONDISI
FISIK YANG TAK NYAMAN
Anak yang mengantuk,
kepanasan,
kedinginan, kelaparan, kehausan umumnya menjadi rewel.
Sikap Orang Tua:
Cari tahu penyebab rewelnya
dan
selesaikan permasalahan itu. Umumnya bila disebabkan masalah
fisik, anak
akan segera kembali ceria jika dirinya sudah kembali nyaman.
2. MENCARI
PERHATIAN
Kadang si batita rewel
sekadar untuk
mencari perhatian. Ini kerap terjadi karena umumnya orang tua
banyak
memberikan perhatian kepadanya saat sedang rewel saja. Sementara
saat
sedang bersikap manis si kecil kurang mendapat perhatian.
Akibatnya, si
batita telanjur "belajar" bahwa keinginannya akan dipenuhi
dengan cara merengek-rengek sambil menangis. Bahkan ada p**a yang
sampai
tantrum.
Sikap Orang Tua:
*
Jangan
berikan perhatian khusus pada saat si batita rewel. Bila perlu
jangan
penuhi permintaannya sehingga ia menyadari bahwa cara yang telah
dilakukan
tidaklah benar. Tindakan ini dapat sekaligus untuk mengajari si
batita
mengendalikan diri.
*
Ajak si batita berkomunikasi, sampaikan bahwa cara yang dilakukan
adalah
salah. Misal, "Kalau ngomong-nya sambil menangis,
Bunda
tidak tahu apa yang kamu inginkan. Coba tenang dulu, ngomong yang
baik."
*
Biasakan untuk memberi perhatiaan kepada anak setiap saat,
terutama saat
ia bersikap manis. Bentuk perhatian itu cukup berupa kalimat
seperti,
"Bunda bangga, lo, karena Tia tidak sulit diajak mandi."
3. INGIN
MENUNJUKKAN KEKUATANNYA
Batita memiliki kecenderungan
menolak. Ia
sesungguhnya hanya mau menunjukkan bahwa dirinya pun punya
keinginan atau
pendapat. Jadi tak perlu kaget bila dalam banyak hal si batita
kerap
menolak dan lebih menyenangi pilihannya sendiri. Bila keinginannya
tidak
terpenuhi, hal ini menyebabkannya menjadi rewel. Apalagi banyak
orang tua
yang malah bersikap memaksakan kehendak karena merasa dirinyalah
yang
paling berhak terhadap anaknya. Semakin menjadilah kerewelan si
batita.
Sikap Orang Tua:
Jangan paksakan keinginan
Anda. Cobalah
untuk berstrategi dengan cara melontarkan pilihan semu, yaitu
pilihan-pilihan yang tetap memiliki tujuan akhir yang sama.
Melalui cara
ini, anak diharapkan dapat sekaligus belajar untuk mengambil
keputusan
sehingga dapat memupuk rasa percaya dirinya p**a. Contoh, bila
ajakan
mandi kita ditolaknya, cobalah lontarkan tawaran, "Adik mau mandi
dengan air hangat atau air dingin?" Melalui tawaran ini, tujuan
mandi
tetap dapat tercapai dan anak pun bisa mengambil keputusan dari
dua
pilihan itu sehingga tak terkesan dipaksa.
4. TERLUKA
PERASAANNYA
Biasanya ini terjadi bila si
batita habis
dimarahi. Buntutnya ia akan rewel dan kerap tanpa sadar
mengucapkan
kata-kata yang menyakitkan, seperti, "Aku benci sama Mama."
Ungkapan itu sesungguhnya hanya sekadar untuk menunjukkan rasa
sedihnya.
Namun, mendengar ucapan itu banyak orang tua yang terpancing dan
balik
memarahi.
Sikap Orang Tua:
Jangan terpancing. Rangkullah
si batita
dan ucapkan kalimat yang menenangkan seperti, "Mama sayang banget,
lo, sama Adik. Nangis-nya sudah ya nanti capek." Dengan
rangkulan dan kalimat yang menenangkan akan membuat si batita
merasa
nyaman. Perasaan nyaman dan terlindungi, niscaya tak akan membuat
si
batita jadi rewel berkepanjangan.
5. KETIDAKMAMPUAN
MENGERJAKAN SESUATU
Orang tua tanpa sadar sering
menuntut
anaknya untuk mampu melakukan sesuatu dengan ukuran orang dewasa.
Dalam
hal makan, misalnya, tanpa sadar terkadang orang tua meminta
kepada si
batita untuk bisa makan dengan cepat dan rapi, padahal si batita
belum
mampu melakukannya. Buntutnya, untuk menutupi ketidakmampuan itu,
si
batita malah jadi rewel.
Sikap Orang Tua:
Jangan paksa anak melakukan
sesuatu yang
memang belum mampu dilakukannya. Untuk memacu semangatnya
sekaligus
membangun rasa percaya diri, berikan penghargaan walaupun
kemampuan yang
dicapai sangatlah kecil. Contoh, "Wah, Adek senang makan sayur
ya...
sayurnya tinggal sedikit tuh." Intinya, penghargaan itu diberikan
hanya pada saat anak mampu melakukan sesuatu yang positif.
5
SIKAP
POSITIF ORANG TUA MENCEGAH KEREWELAN
1.
Berpikir
positif
Orang tua hendaknya tak mudah
putus asa
bila melihat si batita misalnya tergolong bertemperamen slow to
warm
up, yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri.
Tumbuhkan saja pikiran positif bahwa saya dapat membentuknya
menjadi anak
yang baik. Dengan keyakinan ini, interaksi anak-orang tua yang
terbentuk
niscaya akan baik.
2. Tidak
mengalah pada kerewelan anak
Cara orang tua berinteraksi
dengan si
batita dapat memengaruhi sikapnya. Misal, si batita yang memiliki
kecenderungan rewel dapat jadi bertambah rewel saat memahami rewel
dapat
dijadikan sebagai senjata bagi dirinya. Apalagi bila orang tua
selalu
memenuhi atau mengalah saat ia bersikap rewel. Namun bila orang
tua
bersikap tidak mudah lunak dengan sikap rewelnya yang dijadikan
sebagai
senjata, maka bisa jadi ia tidak menjadi rewel karena ia sudah
mengalami
bahwa cara itu bukanlah cara efektif untuk meminta. Jadi interaksi
yang
benar bakal memengaruhi sikap anak.
3.
Tidak
memberikan
label
Pemberian label pada anak
malah akan
menyebabkannya menjadi tak percaya diri. Bahkan bisa jadi lambat
laun ia
menjadi anak seperti yang dilabelkan selama ini. Umpama, diberi
label si
rewel dan si cengeng. Bisa jadi anak memilih bersikap rewel
sepanjang
waktu.
4.
Fokus pada
sikap anak
Untuk membangun sikap positif
anak,
tangkap-basahlah sikap manisnya dan berikan penghargaan. Jangan
hanya
memberikan perhatian saat anak sedang bersikap buruk. Contoh,
"Wah,
hari ini kamu oke, deh." Sambil menunjukkan satu jempol ke
arahnya.
Ini dapat membangun rasa percaya diri anak.
5.
Tidak
membandingkan-bandingkan
Setiap anak memiliki
kelebihan dan
kekurangan. Tugas orang tua adalah memaksimalkan kelebihan setiap
anak dan
meminimalkan kekurangannya. Hal itu dapat menumbuhkan rasa percaya
si
batita bahwa dirinya memang memiliki keistimewaan.
Utami Sri Rahayu. Ilustrator:
Pugoeh
Konsultan
Ahli:
Dra.
Rozamon Anwar, Psi., MSi.,
28/05/2010
13/05/2010
13/05/2010
13/05/2010
08/05/2010
08/05/2010
24/04/2010
24/04/2010