26/09/2026
PANITIA MAU BAYAR HOTEL, MBAH SAHAL MENOLAK:
“AKU JEK DUWE DUIT DEWE”
Ada satu kisah kecil tentang KH MA Sahal Mahfudh yang sederhana, tetapi kalau direnungkan dalam-dalam, pesannya sangat besar.
Suatu ketika Mbah Sahal menghadiri acara PBNU di Surabaya. Acara itu berlangsung selama dua hari dan dihadiri p**a oleh sejumlah duta besar negara sahabat.
Selama acara, Mbah Sahal menginap di sebuah hotel berbintang. Setelah acara selesai, panitia bermaksud membayar biaya hotel beliau. Tetapi Mbah Sahal menolak. Beliau memilih membayar hotel itu menggunakan uangnya sendiri.
Prinsipnya sederhana: beliau tidak ingin menggunakan uang NU untuk keperluan pribadi, meskipun hanya sedikit.
Dalam kisah yang dituturkan tentang beliau, sikap itu bahkan disampaikan dengan ungkapan yang sangat sederhana: “Aku jek duwe duit dewe./Saya masih punya uang sendiri.” Padahal saat itu Mbah Sahal bukan orang sembarangan di NU. Beliau adalah Rais Aam PBNU.
Kalau beliau mau menerima fasilitas, tentu panitia tidak akan keberatan. Bahkan secara posisi, beliau sangat mungkin mendapatkan pelayanan khusus. Tetapi justru di situlah letak keteladanan beliau. Mbah Sahal tidak berpikir,
“Karena saya pimpinan, maka saya berhak mendapatkan fasilitas.” Sebaliknya, beliau berpikir: “Kalau masih bisa membayar sendiri, mengapa harus memakai uang organisasi?”
NU Online mencatat bahwa Mbah Sahal menolak menggunakan uang NU dan menekankan pentingnya membangun kemandirian NU, bukan menjadikan NU sebagai tempat seseorang mencari kemandirian hidupnya. Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi kalau diterapkan dalam kehidupan organisasi, maknanya sangat dalam.
Sebuah organisasi seharusnya dihidupi oleh orang-orang yang berada di dalamnya, bukan justru dijadikan tempat untuk mencari keuntungan pribadi. Dan ternyata sikap mandiri itu bukan baru muncul ketika Mbah Sahal sudah menjadi Rais Aam.
Sejak kecil, beliau memang telah terbiasa berusaha sendiri.
Dalam biografi yang dikutip NU Online, Sahal kecil pernah berjualan kacang goreng dan bahkan memperoleh uang dengan membantu membersihkan makam. Pengalaman kecil itu kemudian menjadi bagian dari karakter kemandirian beliau ketika dewasa.
Karena itu, ketika sudah menjadi ulama besar, sikap tersebut tidak berubah. Jabatan tidak membuatnya merasa berhak mengambil lebih banyak. Justru semakin tinggi kedudukannya, semakin hati-hati beliau menjaga amanah.
Kisah hotel ini mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tidak ada pidato, tidak ada kamera, tidak ada panggung. Hanya seorang kiai yang mengeluarkan uang dari sakunya sendiri untuk membayar kebutuhan pribadinya. Tetapi dari peristiwa kecil itu kita bisa belajar sesuatu yang besar: Tidak semua yang boleh kita terima harus kita ambil.
Kadang-kadang ukuran amanah bukan ketika kita menolak sesuatu yang memang tidak boleh. Tetapi ketika kita mampu berkata: “Ini sebenarnya bisa saya terima, tetapi saya memilih tidak mengambilnya.
Mbah Sahal telah mengajarkan bahwa menjadi bagian dari organisasi bukan berarti mencari hidup dari organisasi. Justru sebaliknya: Bagaimana kita bisa ikut menghidupi perjuangan yang kita cintai.
Semoga Allah merahmati KH MA Sahal Mahfudh, menjaga keikhlasan beliau, dan menjadikan keteladanan hidupnya terus menginspirasi para pengurus, aktivis, dan pelayan umat.
Al-Fatihah.
Sorotan Meta