Intelektual Santri

Directions Website

Intelektual Santri Berbagi keilmuan dan pendidikan Islam.

07/10/2026

Rival Abadi Saudi Vs Yaman takkan pernah akhir, dari sepanjamg sejarah perang doa ratusaba

05/10/2026

Dukun ini tak tahu tanah yg dia pijak, tanah Mak Lampir, nyi Roro Kidul, nyi Blorong, malah main komat-kamitan, Dukun Botak 😅 😁

Sesungguhnya Allah melarang mendatangi apalagi memakai jasa Dukun.

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Artinya: "Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia sungguh telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad."

SELAMAT ATAS TIMNAS INDONESIA ATAS RAIHAN JUARA Fifa Asean Cup 2026.

03/10/2026

Kenapa Niat itu letaknya di hati?

Dengerin soob...

03/10/2026

Ijasah Shalawat Jibril Gus Yusuf Chudlori

01/10/2026

Mbah Nun mhainunnajib

30/09/2026

Nikmatilah dunia tapi jangan lupa sholat

PANITIA MAU BAYAR HOTEL, MBAH SAHAL MENOLAK:“AKU JEK DUWE DUIT DEWE”Ada satu kisah kecil tentang KH MA Sahal Mahfudh yan...
26/09/2026

PANITIA MAU BAYAR HOTEL, MBAH SAHAL MENOLAK:
“AKU JEK DUWE DUIT DEWE”

Ada satu kisah kecil tentang KH MA Sahal Mahfudh yang sederhana, tetapi kalau direnungkan dalam-dalam, pesannya sangat besar.

Suatu ketika Mbah Sahal menghadiri acara PBNU di Surabaya. Acara itu berlangsung selama dua hari dan dihadiri p**a oleh sejumlah duta besar negara sahabat.

Selama acara, Mbah Sahal menginap di sebuah hotel berbintang. Setelah acara selesai, panitia bermaksud membayar biaya hotel beliau. Tetapi Mbah Sahal menolak. Beliau memilih membayar hotel itu menggunakan uangnya sendiri.

Prinsipnya sederhana: beliau tidak ingin menggunakan uang NU untuk keperluan pribadi, meskipun hanya sedikit.

Dalam kisah yang dituturkan tentang beliau, sikap itu bahkan disampaikan dengan ungkapan yang sangat sederhana: “Aku jek duwe duit dewe./Saya masih punya uang sendiri.” Padahal saat itu Mbah Sahal bukan orang sembarangan di NU. Beliau adalah Rais Aam PBNU.

Kalau beliau mau menerima fasilitas, tentu panitia tidak akan keberatan. Bahkan secara posisi, beliau sangat mungkin mendapatkan pelayanan khusus. Tetapi justru di situlah letak keteladanan beliau. Mbah Sahal tidak berpikir,

“Karena saya pimpinan, maka saya berhak mendapatkan fasilitas.” Sebaliknya, beliau berpikir: “Kalau masih bisa membayar sendiri, mengapa harus memakai uang organisasi?”

NU Online mencatat bahwa Mbah Sahal menolak menggunakan uang NU dan menekankan pentingnya membangun kemandirian NU, bukan menjadikan NU sebagai tempat seseorang mencari kemandirian hidupnya. Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi kalau diterapkan dalam kehidupan organisasi, maknanya sangat dalam.

Sebuah organisasi seharusnya dihidupi oleh orang-orang yang berada di dalamnya, bukan justru dijadikan tempat untuk mencari keuntungan pribadi. Dan ternyata sikap mandiri itu bukan baru muncul ketika Mbah Sahal sudah menjadi Rais Aam.

Sejak kecil, beliau memang telah terbiasa berusaha sendiri.

Dalam biografi yang dikutip NU Online, Sahal kecil pernah berjualan kacang goreng dan bahkan memperoleh uang dengan membantu membersihkan makam. Pengalaman kecil itu kemudian menjadi bagian dari karakter kemandirian beliau ketika dewasa.

Karena itu, ketika sudah menjadi ulama besar, sikap tersebut tidak berubah. Jabatan tidak membuatnya merasa berhak mengambil lebih banyak. Justru semakin tinggi kedudukannya, semakin hati-hati beliau menjaga amanah.

Kisah hotel ini mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tidak ada pidato, tidak ada kamera, tidak ada panggung. Hanya seorang kiai yang mengeluarkan uang dari sakunya sendiri untuk membayar kebutuhan pribadinya. Tetapi dari peristiwa kecil itu kita bisa belajar sesuatu yang besar: Tidak semua yang boleh kita terima harus kita ambil.

Kadang-kadang ukuran amanah bukan ketika kita menolak sesuatu yang memang tidak boleh. Tetapi ketika kita mampu berkata: “Ini sebenarnya bisa saya terima, tetapi saya memilih tidak mengambilnya.

Mbah Sahal telah mengajarkan bahwa menjadi bagian dari organisasi bukan berarti mencari hidup dari organisasi. Justru sebaliknya: Bagaimana kita bisa ikut menghidupi perjuangan yang kita cintai.

Semoga Allah merahmati KH MA Sahal Mahfudh, menjaga keikhlasan beliau, dan menjadikan keteladanan hidupnya terus menginspirasi para pengurus, aktivis, dan pelayan umat.

Al-Fatihah.

Sorotan Meta

24/09/2026

Istri Kamu ga ngomel, segera cek... ada kelainan itu

MBAH BISRI SUDAH WAFAT. TAPI DALAM MIMPI, BELIAU MENYURUH CEK SATU HURUF DI AL-IBRIZAda sebuah kisah tentang Tafsir Al-I...
22/09/2026

MBAH BISRI SUDAH WAFAT. TAPI DALAM MIMPI, BELIAU MENYURUH CEK SATU HURUF DI AL-IBRIZ

Ada sebuah kisah tentang Tafsir Al-Ibriz yang sampai sekarang masih sering diceritakan di kalangan pesantren.

Kisahnya bukan tentang bagaimana kitab itu ditulis.

Bukan p**a tentang berapa lama KH Bisri Mustofa menyelesaikannya.

Tetapi tentang satu huruf yang salah cetak.

Dan anehnya, kesalahan itu diketahui melalui sebuah mimpi.

---

Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa adalah salah satu karya tafsir yang sangat dikenal di pesantren-pesantren Jawa. Ditulis dengan bahasa Jawa menggunakan huruf Pegon, kitab ini menjadi salah satu cara penting untuk menjelaskan kandungan Al-Qur'an kepada masyarakat Jawa.

Namun pernah terjadi sesuatu.

Menurut cerita yang disampaikan langsung oleh KH Sya'roni Ahmadi, salah satu cetakan Al-Ibriz yang sudah melalui proses tashih ternyata masih memiliki kekeliruan penulisan pada sebuah ayat Al-Qur'an.

Hanya satu huruf.

Tidak lebih.

Tetapi satu huruf dalam ayat Al-Qur'an tentu bukan perkara kecil.

Yang menarik, bagaimana kesalahan itu diketahui?

Di sinilah kisahnya menjadi tidak biasa.

---

Dikisahkan ada seorang santri asal Pekalongan yang mendapatkan sebuah mimpi.

Dalam mimpi itu, ia menemukan ada ayat Al-Qur'an dalam Tafsir Al-Ibriz yang salah satu hurufnya keliru.

Cerita ini tidak berhenti sebagai mimpi.

Santri tersebut kemudian datang dan menyampaikan hal itu kepada pihak percetakan Menara Kudus.

Ia menunjukkan bagian yang menurutnya bermasalah kepada KH Sya'roni Ahmadi.

Dan Mbah Sya'roni kemudian memeriksanya.

Ternyata benar.

Ada satu huruf yang keliru.

Kisah tersebut disampaikan sendiri oleh KH Sya'roni Ahmadi dalam pengajian tafsirnya di Masjid Menara Kudus. Beliau mengatakan bahwa setelah kekeliruan itu ditemukan, kitab Al-Ibriz kemudian dicetak ulang.

---

Di beberapa sumber lain, kisah tersebut berkembang dengan versi yang lebih spesifik: santri itu disebut bermimpi bertemu KH Bisri Mustofa, pengarang Al-Ibriz, yang telah wafat.

Pesannya sederhana:

periksa Al-Ibriz.

Namun bagian ini perlu kita tempatkan sebagai riwayat atau kisah spiritual yang beredar, bukan sebagai fakta sejarah yang dapat diverifikasi seperti data tanggal, tempat, atau naskah.

Sementara itu, bagian yang lebih konkret adalah:

memang pernah ditemukan kekeliruan dalam cetakan Al-Ibriz dan kemudian dilakukan pemeriksaan serta pencetakan ulang.

---

Ada satu hal yang membuat kisah ini menarik.

Bukan soal mimpi.

Bukan p**a soal sesuatu yang dianggap luar biasa.

Tetapi tentang betapa telitinya para ulama dan ahli Al-Qur'an menjaga sebuah teks.

Karena kesalahan kecil dalam kitab yang memuat ayat Al-Qur'an tetap harus diperhatikan.

Satu huruf saja bisa mengubah bacaan.

Dan karena itu p**a, tradisi tashih, talaqqi, membaca langsung di hadapan guru, membandingkan naskah, dan memeriksa kembali menjadi sangat penting dalam tradisi keilmuan pesantren.

Mbah Sya'roni sendiri ketika menceritakan kisah tersebut mengaitkannya dengan keyakinannya bahwa Allah menjaga Al-Qur'an.

---

Saya justru membayangkan bagian yang paling menarik bukan ketika santri itu bermimpi.

Tetapi ketika ia datang membawa kitab.

Kemudian Mbah Sya'roni membuka halaman yang dimaksud.

Membaca.

Memeriksa.

Lalu ternyata...

memang ada yang keliru.

Satu huruf.

Satu huruf yang mungkin bagi sebagian orang terlihat sepele.

Tetapi bagi orang yang berhadapan dengan Al-Qur'an, satu huruf pun tidak boleh disepelekan.

---

Dan mungkin di situlah kita bisa mengambil pelajaran.

Ilmu itu bukan hanya tentang hafal banyak kitab.

Ilmu juga tentang ketelitian.

Tentang keberanian memeriksa.

Tentang tidak mudah mengatakan, “Ah, cuma satu huruf.”

Dan tentang tradisi ulama yang begitu hati-hati ketika berhadapan dengan kalam Allah.

KH Bisri Mustofa telah meninggalkan Al-Ibriz sebagai salah satu karya besarnya.

KH Sya'roni Ahmadi kemudian menjadi salah satu ulama yang menjaga tradisi Al-Qur'an dan qira'at di Kudus.

Dan di antara dua nama besar itu, terselip sebuah kisah kecil tentang satu huruf yang salah.

Kecil ukurannya.
Tetapi besar pelajarannya.

Karena dalam menjaga ilmu, sesuatu yang kecil pun tidak selalu boleh dianggap kecil.

اللهم انفعنا بالعلم، وعلمنا ما ينفعنا، وزدنا علماً نافعاً.

Semoga Allah memberi kita ilmu yang bermanfaat, ketelitian dalam menjaganya, dan keberkahan dari para ulama yang telah mengabdikan hidupnya untuk Al-Qur'an.

Al-Fatihah untuk KH Bisri Mustofa dan KH Sya'roni Ahmadi.

Sorotan Meta

21/09/2026

Buya Said Aqil Siraj menjelaskan macam-macam Ayat di depan Jamaah Ibu-ibu dengan penjelasan yang mudah difahami Sorotan Meta

Address

Jalan Jatigede
Bogor

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Intelektual Santri posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category