19/03/2026
Assalamu'alaikum wr.wb.
Allahumma Sholli'ala Sayyidina Muhammad Wa'ala ali Sayyidina Muhammad
Ada dua jenis puasa yang bisa kita analogikan: seperti ular dan ulat.
Ular “puasa” ketika ganti kulit—cuma berubah di luar aja.
Sedangkan ulat “puasa” ketika menjadi kepompong—berubah total sampai jadi kupu-kupu yang indah.
Begitu juga seorang hamba. Ketika berpuasa hanya menahan rasa lapar dan haus, tanpa memaksimalkan dengan ibadah itu seperti ular. Tapi kalau puasa dengan penuh rasa sabar, syukur, dan ikhlas karna Allah. Semakin dekat dengan Allah, itu seperti ulat yang berubah jadi lebih baik dan kembali ke fitrah.
Sebagaimana Allah Subhanahu Wata'ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Kembali kepada fitrah (suci/bersih dari dosa) di akhir Ramadhan identik dengan konsep taubat, ketakwaan, dan penyucian jiwa setelah sebulan penuh berpuasa. Berikut adalah beberapa ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan momen tersebut:
Ayat ini menegaskan tujuan puasa adalah menjadi bertakwa, yang mana taqwa adalah kondisi puncak kesucian diri (kembali ke fitrah) setelah berpuasa.
Wallahu a’lam bish-shawab...
Wassalamu'alaikum wr.wb.