17/08/2025
hukum perlombaan secara umum dalam Islam adalah dibolehkan. Bahkan jika di dalamnya tidak ada hadiah yang diperebutkan, maka hukumnya boleh secara mutlak. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qudamah:
وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى جَوَازِ الْمُسَابَقَةِ فِي الْجُمْلَةِ. وَالْمُسَابَقَةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ مُسَابَقَةٌ بِغَيْرِ عِوَضٍ وَمُسَابَقَةٌ بِعِوَضٍ. فَأَمَّا الْمُسَابَقَةُ بِغَيْرِ عِوَضٍ فَتَجُوزُ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ تَقْيِيدٍ بِشَيْءٍ مُعَيَّنٍ كَالْمُسَابَقَةِ عَلَى الْأَقْدَامِ وَالسُّفُنِ وَالطُّيُورِ وَالْبِغَالِ وَالْحَمِيرِ وَالْفِيَلَةِ وَالْمَزَارِيقِ وَتَجُوزُ الْمُصَارَعَةُ، وَرَفْعُ الْحَجَرِ لِيُعْرَفَ الْأَشَدُّ
Artinya: “Ulama Islam ijma’ atas kebolehan perlombaan secara umum. Perlombaan ada dua macam, yaitu perlombaan tanpa ada hadiah dan perlombaan dengan hadiah. Perlombaan tanpa hadiah yang diperebutkan hukumnya boleh secara mutlak tanpa ada ketentuan mengikat, seperti lomba lari, perahu, burung, bighal, keledai, gajah, dan lembing. Begitu p**a boleh lomba gulat dan lomba angkat batu untuk mengetahui siapa yang paling kuat.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, [Kairo, Maktabah Al-Qahirah: 1968], jilid IX, halaman 240).
Bahkan jika perlombaan tersebut berkaitan dengan ketangkasan seperti dalam konteks untuk keperluan jihad bela negara, maka hukumnya disunnahkan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh As-Syirbini:
والمسابقة الشاملة للمناضلة سنة للرِّجَال الْمُسلمين بِقصد الْجِهَاد بِالْإِجْمَاع وَلقَوْله تَعَالَى: وَأَعدُّوا لَهُم مَا اسْتَطَعْتُم من قُوَّة. وَفسّر النَّبِي صلى الله عليه وسلم الْقُوَّة بِالرَّمْي
Artinya: “Perlombaan yang mencakup juga lomba memanah hukumnya sunnah bagi laki-laki Muslim dengan tujuan jihad bela negara secara ijma’. Juga berdasarkan firman Allah: ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi’ (QS Al-Anfal: 60). Rasulullah saw menafsirkan kata 'kekuatan' dalam ayat makna dengan memanah.” (Al-Khatib As-Syirbini, Al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi Syuja’, [Beirut, Darul Fikr: 1431 H), jilid II, halaman 596).
Kedua, hukum perlombaan dengan adanya hadiah yang diperebutkan ada tiga, yaitu:
1. Jika hadiah tersebut dari pihak ketiga dan tidak diambilkan dari para peserta, maka hukumnya boleh. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam An-Nawawi:
فَأَمَّا الْمُسَابَقَةُ بِعِوَضٍ فَجَائِزَةٌ بِالْإِجْمَاعِ لَكِنْ يُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ الْعِوَضُ مِنْ غَيْرِ الْمُتَسَابِقَيْنِ
Artinya: “Perlombaan dengan hadiah hukumnya boleh secara ijma’ akan tetapi dengan syarat hadiah tidak berasal dari para peserta lomba.” (An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Muslim, [Beirut, Dar Ihyait Turats: 1392 H], jilid XIII, halaman 14).
2. Jika hadiah berasal dari salah satu peserta, maka hal seperti ini juga dibolehkan. Dalam Kitab Nihayatul Muhtaj disebutkan:
وَ يَجُوزُ شَرْطُهُ (مِنْ أَحَدِهِمَا فَيَقُولُ إنْ سَبَقْتَنِي فَلَكَ عَلَيَّ كَذَا وَإِنْ سَبَقْتُكَ فَلَا شَيْءَ) لِي (عَلَيْك) إذْ لَا قِمَارَ
Artinya: “Boleh mensyaratkan hadiah dari salah satu peserta seperti seseorang berkata: "Jika kamu mengalahkan aku, maka kamu akan mendapatkan hadiah sekian dariku. Namun jika aku mengalahkanmu, maka tidak ada tanggungan apa pun atasmu untukku. Lomba semacam ini dibolehkan karena di dalamnya tidak ada unsun judi (qimar).” (Syamsuddin Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj, [Beirut, Darul Fikr: 1984], jilid VIII, halaman 168).
3. Jika hadiah berasal dari masing-masing peserta, maka ulama sepakat atas keharamannya, karena termasuk kategori judi (qimar). Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani sebagai berikut:
وَجَوَّزَ اَلْجُمْهُور أَنْ يَكُونَ مِنْ أَحَدِ اَلْجَانِبَيْنِ مِنْ اَلْمُتَسَابِقَيْن وَكَذَا إِذَا كَانَ مَعَهُمَا ثَالِثٌ مُحَلِّلٍ بِشَرْطِ أَنْ لَا يُخْرِجَ مِنْ عِنْدِهِ شَيْئًا لِيُخْرِجَ الْعَقْدَ عَنْ صُورَةِ الْقِمَارِ وَهُوَ أَنْ يُخْرِجَ كُلٌّ مِنْهُمَا سَبَقًا فَمَنْ غَلَبَ أَخَذَ اَلسَّبَقَيْنِ فَاتَّفَقُوا عَلَى مَنْعِهِ
Artinya: “Mayoritas ulama membolehkan adanya hadiah dari salah satu peserta lomba. Begitu p**a hadiah boleh dari kedua peserta jika melibatkan orang ketiga yang menjadi muhallil, dengan syarat orang ketiga tersebut tidak mengeluarkan apa pun dari dari dirinya (untuk dijadikan hadiah) agar akad perlombaan tidak menjadi judi (qimar). Yang dimaksud judi (qimar) adalah masing-masing dari peserta mengeluarkan kontribusi atau harta dengan kesepakatan siapa saja yang menang, maka ia berhak mendapatkan harta yang terkumpul tersebut. Dalam hal ini ulama sepakat melarang praktik judi tersebut.” (Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fathul Bari, [Mesir, Al-Maktabah As-Salafiyah: 1390 H), jilid IV, halaman 73).