La-Tahzan

La-Tahzan

Share

PP LA-TAHZAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM MENCETAK KADER 'ALIMAN, 'AMILAN, WA MUKHLISAN BI 'AMALIHI

30/03/2024

Ghibah dalam Perspektif Fiqh
Oleh: Tim Turats MMI Miftahul Huda Al-Barkah
.....
Ghibah, atau menyebutkan aib seseorang tanpa hak, adalah haram menurut kesepakatan para ahli fikih. Beberapa di antara mereka bahkan menganggapnya sebagai dosa besar. Hal ini dapat ditemukan dalam referensi seperti Al-Zawajir (2/4), Tafsir al-Qurtubi (16/336-337), dan Tahdzibu-l-Furuq (4/229).

Namun demikian, terdapat pengecualian di mana para ahli fikih mengizinkan ghibah terhadap orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan atau bid'ah. Contohnya, mereka mengizinkan ghibah terhadap pemabuk, pencuri, orang yang memperoleh harta dengan cara zalim, atau mereka yang mendukung perkara-perkara yang batil. Namun, penting untuk dicatat bahwa mengungkapkan aib seseorang dengan apa yang dia lakukan secara terang-terangan diizinkan, sedangkan menyebutkan aibnya dengan hal lain diharamkan, kecuali jika ada alasan lain untuk mengizinkannya (Dalil al-Falihin 4/350-354).

Al-Khallal mencatat, "Harb memberitahu saya bahwa dia mendengar Ahmad berkata: ‘Jika seseorang secara terang-terangan mengumumkan kemaksiatannya, maka tidak ada ghibah baginya’" (Al-Adab al-Shar'iyyah 1/276).

Sementara itu, Ibnu Muflih merujuk pada sebuah hadis Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang disebutkan dalam kitab Bahjat al-Majalis (1/398) karya Ibnu Abdul Barr. Hadis tersebut menyatakan bahwa ada tiga orang yang tidak termasuk dalam ghibah: orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan, pemabuk, dan penguasa yang zalim.

Secara keseluruhan, pemahaman tentang ghibah dalam perspektif fikih menegaskan larangan mutlak terhadap menyebutkan aib seseorang tanpa hak. Meskipun demikian, terdapat pengecualian di mana ghibah diizinkan terhadap individu yang secara terang-terangan melakukan kemaksiatan atau bid'ah. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam penerapan aturan tersebut dalam konteks tertentu. Namun, penting bagi umat Islam untuk memahami batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh para ahli fikih dan mempraktikkan prinsip-prinsip tersebut dengan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penggunaan kebijaksanaan dan pemahaman yang mendalam terhadap ajaran Islam dapat membantu menjaga hubungan sosial.

30/08/2020

Kunci Ketenangan Hidup
..

من عاش بالمكر مات بالفقر ومن عاش بحسن النية أنقذه الله من كل بلية

“Barang siapa yang hidup penuh drama (tipu daya) dia akan mati dalam kefakiran dan barang siapa yang hidup dengan niat yang baik Allah akan menyelamatkannya dari setiap bala bencana”

Donasi ke:

Bank Mandiri Syari'ah
Rek: 7142258328
a/n Yayasan Syamsuri Center Indonesia

BJB Syariah
Rek: 5370206009722
a/n Yayasan Syamsuri C I

Atau donasi ke:
https://www.amalsholeh.com/pondokpesantrenlatahzan

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menguhubungi
087747371762 whatsapp
089901113532 whatsapp/sms







Photos 27/08/2020

Hebatnya Ketentuan Allah
..

‏موسى الرضيع عليه السلام "لم يغرق" وهو في قمة ضعفه و"غرق" فرعون وهو في قمة جبروته سلم أمرك للخالق واطمئن فلن يصيبك إلا ما كتبه الله لك .

Nabi Musa a.s. saat bayi tidak tenggelam padahal ia berada di puncak kelemahannya, sebaliknya Fir'aun tenggelam padahal ia berada di puncak kekuasaannya.

So serahkan saja urusanmu kepada Allah, dan tenangkan hatimu, karena tidak akan ada musibah yang menimpamu kecuali yang sudah ditentukan Allah untukmu.

Donasi ke:

Bank Mandiri Syari'ah
Rek: 7142258328
a/n Yayasan Syamsuri Center Indonesia

BJB Syariah
Rek: 5370206009722
a/n Yayasan Syamsuri C I

Atau donasi ke:
https://www.amalsholeh.com/pondokpesantrenlatahzan

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menguhubungi
087747371762 whatsapp
089901113532 whatsapp/sms







Photos 23/08/2020

Pentingnya Belajar Fiqh
..
Allah Swt berfirman dalam surat adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku”

Menurut Imam Nawawi dalam syarh al-mUhadzab ayat ini menjelaskan tiga tujuan berkaitan dengan penciptaan manusia itu sendiri. Adapun tiga tujuan tersebut adalah bahwa mereka diciptakan untuk beribadah kepada Allah, melakukan 'amalan akhirat, dan menghindari tipu daya dunia dengan zuhud.

Dalam hal ini, Imam Nawawi memuji apa yang telah dilakukan para ulama yang telah menghabiskan waktu mereka, mengeluarkan tenaga mereka, dan berusaha menggali dan mencari kesimpulan hukum yang kemudian berguna bagi umatnya Sayidina Muhammad Saw dalam beribadah dengan benar. Dan semuanya itu sudah termaktub dalam kitab-kitab fiqh.

Ini menjadi alasan akan pentingnya belajar fiqh, sesuai dengan dhabith dari Imam Nawawi:

لَيْسَ يَكْفِي فِي الْعِبَادَاتِ صُوَرُ الطَّاعَاتِ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ كَوْنِهَا عَلَى وَفْقِ الْقَوَاعِدِ الشَّرْعِيَّاتِ

“Ketaatan saja tidak cukup untuk disebut sebagai ibadah, namun yang lebih penting dari itu adalah eksistensi dari ibadah itu sendiri yang sesuai dengan kaidah-kaidah syari'at”.

Pernyataan ini menegaskan kepada kita bahwa label, style, ataupun semangat dalam ke-Islaman saja tidak cukup untuk memenuhi unsur ibadah, namun mengetahui dan memahami kaidah syari'at itu amat sangat lebih penting dan ini adalah pembahasan dalam ilmu fiqh. Mengingat ilmu ini membahas tentang hukum taklifi kaitannya dengan halal-haram ataupun hukum wadh'i kaitannya dengan sah-batal.

Oleh karenanya ilmu fiqh merupakan anak tangga untuk menggali ilmu-ilmu lainnya bahkan untuk membuka pintu ma'rifatullah.
..............
Donasi ke:

Bank Mandiri Syari'ah
Rek: 7142258328
a/n Yayasan Syamsuri Center Indonesia

BJB Syariah
Rek: 5370206009722
a/n Yayasan Syamsuri C I

Atau donasi ke:
https://www.amalsholeh.com/pondokpesantrenlatahzan

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menguhubungi
087747371762 whatsapp
089901113532 whatsapp/sms







Photos 14/08/2020

Scouting Day from Latahzan Islamic Boarding School

Photos 11/08/2020

Macam – Macam Hati (Nasehat Habib Abdullah bin Alwi Al-haddad)

Sebaik-baiknya hati adalah yang bersih suci dari keburukan, yang tunduk kepada yang haaq (kebenaran) dan petunjuk yang diliputi kebaikan. Di dalam Hadits dikatakan,

Hati itu ada 4 macam :

1. Hati yang tidak berselaput, di dalamnya terdapat pelita yang menerangi. Ini hati orang mukmin.
2. Hati yang hitam tak tentu tempatnya. Ini hati orang kafir.
3. Hati yang terbelenggu diatas kulitnya. Ini hati orang munafik.
4. Hati yang mendatar, padanya terdapat iman dan nifaq (kemunafikan).

Perumpamaan iman yang meliputinya seperti batang tumbuhan yang disirami air tawar. Sedangkan perumpamaan nifaq seperti setumpuk kudis yang diselaputi nanah dan darah busuk. Maka yang mana di antara keduanya berkuasa, kesitulah hati tertarik.

Hati yang ke-4 inilah yang terdapat pada kebanyakan kaum muslimin. Amalnya bercampur aduk sehingga keburukannya lebih banyak daripada kesempurnaannya. Dalam Hadits lain dikatakan,

“Sesungguhnya iman itu bermula muncul di dalam hati sebagai sinar putih, lalu membesar, hingga seluruh hati menjadi putih. Sedangkan nifaq itu bermula muncul di dalam hati seperti noda-noda hitam, lalu menyebar, hingga seluruh hati menjadi hitam.”

Sesungguhnya iman akan bertambah dengan cara menambah amal saleh disertai keikhlasan. Sedangkan nifaq akan bertambah dengan cara mengerjakan amal buruk, seperti meninggalkan perkara wajib dan melakukan larangan agama. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

“Barangsiapa melakukan dosa, maka akan tumbuh dalam hatinya setitik hitam. Jika ia bertobat, maka terkikislah titik hitam itu dari hatinya. Jika ia tidak bertobat, maka menyebarlah titik hitam itu sehingga seluruh hatinya menjadi hitam.”

Hal ini sesuai dengan firman Allah,

“Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang mereka selalu kerjakan itu menutupi hati mereka.” (QS. 83:14)

Seorang manusia tidak akan ditimpa suatu musibah, kecuali karena dosanya sendiri. Sebagaimana dikatakan di dalam Al-Qur’an,

“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatanmu sendiri.” (QS. 42:30)

Maka dari itu, hendaklah kita berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam dosa.

Photos 10/08/2020

مِنِّيْ لِطَلَبَتِيْ
Dariku untuk Santri-Santriku
...
يَا بُنَيَّ أَيْنَ العُظْمَةُ؟
عِنْدَمَا تَكُوْنُ مُجْتَهِدًا فِي وُصُوْلِ أَهْدَافِكَ
Wahai anakku, dimanakah letak kehebatan?
Saat engkau tekun menggapai cita-cita.

يَا بُنَيَّ أَيْنَ القُوَّة؟
عِنْدَمَا تَعْمَلُ وَتَتَوَكَّلُ
Wahai anakku, manakah letak kekuatan?
Saat engkau bekerja dan bertawakal.

يَا بُنَيَّ لَا تَكُنْ مُهمِلًا أَوْ خَائِفًا أَوْ ضَعِيْفًا
Wahai anakku, kau tak boleh lengah, tak boleh takut, ataupun lemah.

لِأَنَّ هَذِهِ الحَيَاةَ قَادِمَةٌ وَتُقَدِّمُ لَكَ آلَافَ الفُرَصِ
Karena kehidupan ini akan datang, Menawarkan beribu kesempatan.

خُذْ كْلَّهَا
Ambillah.

حَتَّى لَوْ كُنْتَ فِي المُصَابَ أَوِ الدُّمُعَةِ اِسْتَمِرْ فِي الكِفَاحِ
Biarpun luka, Biarpun menetes air mata, Tetaplah berjuang.

حَتَّى لَوْ كُنْتَ سَاقِطًا أَوْ حَزِيْنًا فَقُمْ مَرَةً أُخْرَى
Biarpun terjatuh, Biarpun berduka, Bangkitlah kembali.

عِنْدَمَا يَكُوْنُ قَلْبُكَ مُخْلِصًا لِله
Saat hatimu tulus karena-Nya,

هُوَ الَّذِيْ يَمْسَحُ دُمُوعَكَ وَيُنْهِضُكِ بَعْدَ السُّقُوطِ
Maka Dialah yang menyeka air mata, membangkitkan setelah terjatuh, dan yang menyembuhkan segala luka.

اِصْبِرْ حَتَّى تُقَابِلَ النَّبِيَّ فِي حَوْضِهِ
Bersabarlah, hingga kau bertemu Nabi Kelak di telaganya.

Photos 31/07/2020

Dalam Kitab Sunan Tirmidzi juz III halaman 26, cetakan ke II tahun 1403 H – 1983 M Daar al Fikr, nomor hadits 1526 / juz IV halaman 83, nomor hadits 1493, maktabah syamilah

حَدَّثَنَا أَبُوْ عَمْرٍو مُسْلِمُ بْنُ عَمْرٍو الْحَذَّاءُ الْمَدَنِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ نَافِعٍ الصَّابِغُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي الْمُثَنَّى عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ اَبِيْه عَنْ عَائِشَةَ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ اَحَبَّ اِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمٍ اِنَّهَا لَتَأْتِيْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِقُرُوْنِهَا وأَشْعَارِهَا وَاَظْلاَفِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ قَبْلَ اَنْ يَقَعَ مِنَ اْلاَرْضِ فَطِيْبُوْا بِهَا نَفْسًا

Telah menceritakan kepada kami Abu Amr Muslim bin Amr Al Hadzdza` Al Madani, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Nafi’ Ashshabigh Abu Muhammad, dari Abul Mutsanna, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak beramal anak Adam pada hari Nahr ('Iedul Adha) yang paling disukai Allah selain daripada mengalirkan darah (menyembelih qurban). Qurban itu akan datang kepada orang-orang yang melakukannya pada hari qiyamat dengan tanduk, rambut dan kukunya. Darah qurban itu lebih dahulu jatuh ke Allah sebelum jatuh ke atas tanah. Oleh sebab itu, berqurbanlah dengan senang hati.”
-----------
Yuk sedekah!!!

Bank Mandiri Syari'ah
Rek: 7142258328
a/n Yayasan Syamsuri Center Indonesia

BJB Syariah
Rek: 5370206009722
a/n Yayasan Syamsuri C I

Atau donasi ke:
https://www.amalsholeh.com/pondokpesantrenlatahzan

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menguhubungi
087747371762 whatsapp
089901113532 whatsapp/sms

Photos from La-Tahzan's post 31/07/2020

Galeri Pemotongan Hewan Qurban

31/07/2020

Kami Keluarga Besar Pesantren La-Tahzan Mengucapkan Selamat Idul Adha 1441 H

Photos 30/07/2020

Terima Kasih Kepada Pondok Pesantren Rumah Harapan Depok

Want your school to be the top-listed School/college in Bogor?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Sukawangi, Sukamakmur
Bogor
16830