22/06/2026
Pendidikan Anak: Antara Biaya, Prioritas, dan Keberkahan dalam Islam
(Wa_Uded).
Di tengah berbagai keluhan tentang biaya pendidikan yang semakin meningkat, ada satu hal yang terkadang terlupakan: pendidikan bukan sekadar pengeluaran, melainkan investasi dunia dan akhirat.
Tidak sedikit orang tua yang rela mengeluarkan uang setiap hari untuk kebutuhan yang sifatnya sementara, namun merasa sangat berat ketika harus mengeluarkan biaya untuk pendidikan anak. Padahal, dalam pandangan Islam, harta yang digunakan untuk mendidik anak agar menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak merupakan salah satu bentuk nafkah yang paling mulia.
Pendidikan Bukan Beban, Melainkan Amanah
Allah SWT telah menitipkan anak kepada orang tua sebagai amanah. Amanah tersebut bukan hanya memberi makan, pakaian, dan tempat tinggal, tetapi juga memberikan pendidikan yang baik.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. At-Tahrim: 6)
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu bentuk menjaga keluarga dari api neraka adalah dengan mendidik mereka dalam ilmu, akhlak, dan agama.
Karena itu, ketika orang tua mengeluarkan biaya untuk pendidikan anak, sejatinya mereka sedang menjalankan amanah yang Allah titipkan.
Keikhlasan Orang Tua Menjadi Sebab Keberkahan Ilmu
Banyak ulama mengingatkan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya bergantung pada kecerdasan anak, tetapi juga pada keikhlasan orang tua dalam mendukung proses pendidikan mereka.
Harta yang dikeluarkan untuk pendidikan bukanlah harta yang hilang. Ia berubah menjadi ilmu yang bermanfaat, akhlak yang baik, dan masa depan yang lebih baik bagi anak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim)
Ketika orang tua bersungguh-sungguh mendidik anaknya, mereka sedang menanam benih yang kelak dapat menjadi amal yang terus mengalir.
Ketika Hak dan Kewajiban Tidak Berjalan Seimbang
Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap hak selalu diiringi kewajiban.
Orang tua berhak mendapatkan layanan pendidikan yang baik bagi anaknya. Namun pada saat yang sama, ada kewajiban yang harus dipenuhi sesuai kesepakatan dengan lembaga pendidikan.
Jika mengalami kesulitan ekonomi, Islam mengajarkan musyawarah, kejujuran, dan komunikasi yang baik. Banyak masalah dapat diselesaikan dengan dialog yang santun.
Sebaliknya, kemarahan, caci maki, atau menyalahkan pihak lain sering kali justru memperkeruh keadaan dan tidak menyelesaikan persoalan.
Menghormati Ilmu dan Orang-Orang yang Mengajarkannya
Dalam tradisi Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Demikian p**a orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk mengajar dan mendidik.
Menghormati ilmu tidak cukup hanya dengan menyuruh anak rajin belajar. Menghormati ilmu juga berarti menghormati proses pendidikan, menjaga komitmen yang telah disepakati, dan menunjukkan adab yang baik kepada para pendidik.
Keberkahan ilmu sering kali lahir dari adab yang baik, bukan semata-mata dari kecerdasan.
Menata Ulang Prioritas
Sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri:
"Apakah pendidikan anak sudah menjadi prioritas utama dalam penggunaan harta yang Allah titipkan kepada kita?"
Uang yang digunakan untuk pendidikan mungkin terasa berat saat dikeluarkan. Namun manfaatnya dapat dirasakan bertahun-tahun bahkan hingga akhir hayat.
Sebaliknya, banyak pengeluaran yang terasa ringan dilakukan setiap hari, tetapi habis tanpa meninggalkan manfaat yang berarti.
Penutup
Pendidikan anak bukan sekadar biaya bulanan yang harus dibayar. Ia adalah bentuk tanggung jawab, amanah, dan investasi akhirat.
Semoga Allah memberikan kepada para orang tua hati yang lapang untuk berkorban demi pendidikan anak-anaknya, memberikan keberkahan pada harta yang dikeluarkan, serta menjadikan anak-anak mereka generasi yang berilmu, berakhlak, dan menjadi penyejuk mata bagi keluarga, agama, bangsa, dan umat.
"Janganlah melihat biaya pendidikan sebagai angka yang keluar dari dompet. Lihatlah ia sebagai benih keberkahan yang sedang ditanam untuk masa depan dunia dan akhirat."