YAYASAN ALIKHLAS CITRA UTAMA

YAYASAN ALIKHLAS CITRA UTAMA Pendidikan, Sosial dan Dakwah.

10/08/2026

Asa Enggan Berhenti - Pustaka Wa Uded

23/07/2026

🌿 HIZIB BAHR | Majlis Dzikir Ya_Wakiil
Wirid dan Doa Warisan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili رحمه الله

Bismillahirrahmanirrahim.

Video ini dibuat sebagai media untuk membantu murojaah, menemani dzikir, dan menambah semangat dalam mengamalkan Hizib Bahr di waktu-waktu yang dianjurkan.

Hizib Bahr merupakan salah satu wirid yang dinisbatkan kepada Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili رحمه الله, pendiri Tarekat Syadziliyah, yang telah diamalkan oleh banyak kaum muslimin sebagai doa memohon perlindungan, pertolongan, keberkahan, keteguhan iman, dan kemudahan rezeki atas izin Allah SWT.

Audio dalam video ini dibuat dengan bantuan teknologi AI sebagai media pembelajaran dan pendamping dzikir. Meskipun telah diperiksa dan disesuaikan dengan teks sebaik mungkin, masih mungkin terdapat kekurangan dalam pelafalan atau intonasi.

Kami memohon maaf apabila masih terdapat kekeliruan dalam pengucapan, pelafalan, maupun penyusunan audio. Semua kekurangan tersebut murni karena keterbatasan teknologi dan kemampuan kami. Mohon kiranya dapat dimaklumi serta diberikan masukan yang baik demi perbaikan di masa mendatang.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, menjaga hati kita dalam dzikir kepada-Nya, memberikan keberkahan dalam kehidupan, serta menjadikan Hizib Bahr sebagai wasilah untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

آمين يا رب العالمين

🎧 Dipersembahkan oleh:
Majlis Dzikir Ya_Wakiil

✨ Branding:
WA_Uded




https://www.youtube.com/

17/07/2026
RIDHA GURU, KUNCI BERKAHNYA ILMU (Wa_Uded)"Sesuatu yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati gurun...
16/07/2026

RIDHA GURU, KUNCI BERKAHNYA ILMU
(Wa_Uded)

"Sesuatu yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Sekiranya seluruh masyayikh dari Timur dan Barat berkumpul untuk memperbaiki keadaan murid tersebut, mereka tidak akan mampu kecuali apabila gurunya telah ridha kepadanya."
(Adab Suluk al-Murid, hlm. 54)

Ilmu Tidak Hanya Dipelajari, Tetapi Juga Diwariskan

Di zaman sekarang, mendapatkan ilmu terasa begitu mudah. Buku tersedia di mana-mana, video pembelajaran dapat diakses kapan saja, bahkan ribuan kitab dapat dibaca hanya melalui sebuah telepon genggam.

Namun para ulama terdahulu mengingatkan bahwa ilmu bukan sekadar informasi. Ilmu adalah cahaya yang Allah titipkan ke dalam hati seorang hamba. Cahaya itu memiliki adab.

Salah satu adab terbesar adalah menjaga hati guru.

Seorang guru bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga membimbing akhlak, mendoakan muridnya, menuntunnya ketika salah, bahkan sering kali bersabar atas kekurangan muridnya. Oleh karena itu, ketika hati seorang guru terluka karena sikap muridnya, para ulama memandang hal itu sebagai musibah yang besar.

Bukan karena guru memiliki kekuasaan mutlak atas ilmu, tetapi karena ridha guru merupakan salah satu sebab turunnya keberkahan dari Allah.

Mengapa Ridha Guru Begitu Penting?

Keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan atau tingginya nilai.

Yang lebih penting adalah:

apakah ilmunya membuat dirinya semakin dekat kepada Allah,
apakah ilmunya menjadi manfaat bagi orang lain,
apakah ilmunya melahirkan akhlak yang mulia.

Semua itu disebut barakah ilmu.

Sering kali kita melihat seseorang memiliki ilmu yang luas, tetapi hidupnya tidak tenang, lisannya menyakiti orang lain, ilmunya dipakai untuk kesombongan, atau ilmunya tidak memberi manfaat bagi masyarakat.

Sebaliknya, ada orang yang ilmunya sederhana, tetapi ucapannya menenangkan, nasihatnya diterima, amalnya membawa manfaat bagi banyak orang. Inilah salah satu bentuk keberkahan ilmu.

Adab Lebih Dahulu Daripada Ilmu

Para ulama salaf mengatakan,

"Kami mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu."

Karena tanpa adab, ilmu dapat kehilangan keberkahannya.

Adab kepada guru di antaranya:

Menghormati dan memuliakan guru.
Tidak membantah dengan sikap yang kasar.
Menerima nasihat dengan lapang dada.
Mendoakan guru dalam setiap kesempatan.
Menjaga nama baik guru.
Meminta maaf apabila melakukan kesalahan.

Bisa jadi satu permintaan maaf yang tulus lebih berharga daripada seribu alasan pembenaran.

Ketika Terjadi Kesalahan

Setiap murid pasti pernah salah.

Guru yang baik pun memahami bahwa murid adalah manusia yang sedang belajar.

Namun seorang murid hendaknya tidak membiarkan kesalahan itu menjadi penghalang antara dirinya dengan guru.

Segeralah meminta maaf, memperbaiki adab, dan memohon doa.

Sebab tidak ada kerugian dalam merendahkan hati di hadapan guru.

Justru dari kerendahan hati itulah Allah sering membuka pintu-pintu keberkahan.

Penutup

Ilmu yang paling berharga bukanlah ilmu yang hanya memenuhi kepala, tetapi ilmu yang menerangi hati.

Dan salah satu jalan agar cahaya ilmu tetap menyala adalah dengan menjaga adab kepada guru.

Jagalah hati gurumu, karena boleh jadi doa beliau menjadi sebab Allah membuka pintu keberhasilanmu. Dan jangan sampai karena kelalaian dalam adab, keberkahan ilmu yang telah lama dicari menjadi terhalang.

"Ilmu tanpa adab akan kehilangan arah. Adab tanpa ilmu masih bisa belajar. Tetapi ilmu yang dihiasi adab akan melahirkan keberkahan yang terus mengalir hingga akhir hayat."

mtsalikhlasgunungputri
YAYASAN ALIKHLAS CITRA UTAMA


13/07/2026

Ada saatnya seseorang tidak lagi mencari tempat untuk mengadu kepada manusia.

Bukan karena ia merasa paling kuat.

Tetapi karena terlalu sering merasa tidak dipahami.

Ada lelah yang tidak terlihat.

Ada air mata yang tidak sempat jatuh.

Ada doa-doa yang hanya mampu diucapkan lirih di antara sepi.

Di saat itulah aku memahami bahwa kekuatan seorang hamba bukan terletak pada kemampuannya memikul semua beban sendirian.

Melainkan pada keberaniannya mengakui di hadapan Allah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُو إِلَيْكَ ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ

"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya dayaku, dan betapa hinanya diriku di hadapan manusia."

Aku percaya...

Tidak semua luka harus dipahami manusia.

Tidak semua air mata harus disaksikan manusia.

Karena ada Allah yang mengetahui setiap beban yang tidak pernah mampu kita ceritakan kepada siapa pun.

Maka jika hari ini langkah terasa berat...

Jika hati mulai lelah...

Jika dunia terasa sempit...

Jangan berhenti mengetuk pintu langit.

Sebab ketika semua pintu seolah tertutup,

Allah tetap membuka pintu rahmat-Nya bagi siapa saja yang datang dengan hati yang tulus.

Hasbunallahu wa ni'mal wakiil.
https://www.facebook.com/share/p/1CByemRVDu/

25/06/2026

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Bukankah mendidik anak adalah jalan untuk meraih dua di antaranya sekaligus?

Renungan untuk Para Orang Tua
Sebelum mengeluhkan biaya pendidikan anak, cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kita sudah menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama?
Apakah kita sudah lebih rela mengeluarkan uang untuk ilmu dibandingkan untuk kesenangan sesaat?

Apakah kita sudah mengajarkan kepada anak tentang pentingnya tanggung jawab dan menghormati proses pendidikan?

Karena sesungguhnya yang mahal bukanlah biaya pendidikan.
Yang mahal adalah ketika anak kehilangan kesempatan memperoleh ilmu dan keberkahan karena kelalaian orang tuanya.
_Wa_Uded_

mtsalikhlasgunungputri

22/06/2026

Pendidikan Anak: Antara Biaya, Prioritas, dan Keberkahan dalam Islam
(Wa_Uded).

Di tengah berbagai keluhan tentang biaya pendidikan yang semakin meningkat, ada satu hal yang terkadang terlupakan: pendidikan bukan sekadar pengeluaran, melainkan investasi dunia dan akhirat.

Tidak sedikit orang tua yang rela mengeluarkan uang setiap hari untuk kebutuhan yang sifatnya sementara, namun merasa sangat berat ketika harus mengeluarkan biaya untuk pendidikan anak. Padahal, dalam pandangan Islam, harta yang digunakan untuk mendidik anak agar menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak merupakan salah satu bentuk nafkah yang paling mulia.

Pendidikan Bukan Beban, Melainkan Amanah

Allah SWT telah menitipkan anak kepada orang tua sebagai amanah. Amanah tersebut bukan hanya memberi makan, pakaian, dan tempat tinggal, tetapi juga memberikan pendidikan yang baik.

Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. At-Tahrim: 6)

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu bentuk menjaga keluarga dari api neraka adalah dengan mendidik mereka dalam ilmu, akhlak, dan agama.

Karena itu, ketika orang tua mengeluarkan biaya untuk pendidikan anak, sejatinya mereka sedang menjalankan amanah yang Allah titipkan.

Keikhlasan Orang Tua Menjadi Sebab Keberkahan Ilmu

Banyak ulama mengingatkan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya bergantung pada kecerdasan anak, tetapi juga pada keikhlasan orang tua dalam mendukung proses pendidikan mereka.

Harta yang dikeluarkan untuk pendidikan bukanlah harta yang hilang. Ia berubah menjadi ilmu yang bermanfaat, akhlak yang baik, dan masa depan yang lebih baik bagi anak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim)

Ketika orang tua bersungguh-sungguh mendidik anaknya, mereka sedang menanam benih yang kelak dapat menjadi amal yang terus mengalir.

Ketika Hak dan Kewajiban Tidak Berjalan Seimbang

Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap hak selalu diiringi kewajiban.

Orang tua berhak mendapatkan layanan pendidikan yang baik bagi anaknya. Namun pada saat yang sama, ada kewajiban yang harus dipenuhi sesuai kesepakatan dengan lembaga pendidikan.

Jika mengalami kesulitan ekonomi, Islam mengajarkan musyawarah, kejujuran, dan komunikasi yang baik. Banyak masalah dapat diselesaikan dengan dialog yang santun.

Sebaliknya, kemarahan, caci maki, atau menyalahkan pihak lain sering kali justru memperkeruh keadaan dan tidak menyelesaikan persoalan.

Menghormati Ilmu dan Orang-Orang yang Mengajarkannya

Dalam tradisi Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Demikian p**a orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk mengajar dan mendidik.

Menghormati ilmu tidak cukup hanya dengan menyuruh anak rajin belajar. Menghormati ilmu juga berarti menghormati proses pendidikan, menjaga komitmen yang telah disepakati, dan menunjukkan adab yang baik kepada para pendidik.

Keberkahan ilmu sering kali lahir dari adab yang baik, bukan semata-mata dari kecerdasan.

Menata Ulang Prioritas

Sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri:

"Apakah pendidikan anak sudah menjadi prioritas utama dalam penggunaan harta yang Allah titipkan kepada kita?"

Uang yang digunakan untuk pendidikan mungkin terasa berat saat dikeluarkan. Namun manfaatnya dapat dirasakan bertahun-tahun bahkan hingga akhir hayat.

Sebaliknya, banyak pengeluaran yang terasa ringan dilakukan setiap hari, tetapi habis tanpa meninggalkan manfaat yang berarti.

Penutup

Pendidikan anak bukan sekadar biaya bulanan yang harus dibayar. Ia adalah bentuk tanggung jawab, amanah, dan investasi akhirat.

Semoga Allah memberikan kepada para orang tua hati yang lapang untuk berkorban demi pendidikan anak-anaknya, memberikan keberkahan pada harta yang dikeluarkan, serta menjadikan anak-anak mereka generasi yang berilmu, berakhlak, dan menjadi penyejuk mata bagi keluarga, agama, bangsa, dan umat.

"Janganlah melihat biaya pendidikan sebagai angka yang keluar dari dompet. Lihatlah ia sebagai benih keberkahan yang sedang ditanam untuk masa depan dunia dan akhirat."

Mengapa Kita Begitu Berat Mengeluarkan Biaya untuk Ilmu Pendidikan Anak! Oleh : Wa_Uded Belakangan ini kita sering menya...
22/06/2026

Mengapa Kita Begitu Berat Mengeluarkan Biaya untuk Ilmu Pendidikan Anak!

Oleh : Wa_Uded

Belakangan ini kita sering menyaksikan fenomena yang cukup memprihatinkan. Ada orang tua yang datang ke sekolah dengan penuh kemarahan ketika ditagih kewajiban administrasi pendidikan anaknya. Bahkan ada yang selama bertahun-tahun menunggak pembayaran hingga anak hampir lulus, lalu marah ketika muncul persoalan administrasi yang harus diselesaikan.

Ironisnya, kemarahan itu sering diarahkan kepada pihak sekolah, guru, atau bagian keuangan yang sebenarnya hanya menjalankan amanah dan tanggung jawabnya.

Padahal jika direnungkan, berapa banyak uang yang telah habis untuk kebutuhan lain yang tidak terlalu mendesak? Rokok, hiburan, gawai terbaru, kuota internet tanpa kontrol, nongkrong, dan berbagai pengeluaran konsumtif lainnya sering kali berjalan tanpa banyak perhitungan.

Namun ketika biaya pendidikan anak datang, sebagian orang justru merasa itu sebagai beban yang sangat berat.

Pendidikan Adalah Amanah

Dalam Islam, anak bukan sekadar keturunan yang harus dibesarkan, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. At-Tahrim: 6)

Para ulama menjelaskan bahwa menjaga keluarga tidak hanya dengan memberi makan dan pakaian, tetapi juga dengan memberikan pendidikan, akhlak, dan ilmu yang benar.

Maka ketika orang tua membayar biaya pendidikan anak, sejatinya mereka sedang menunaikan amanah yang Allah bebankan kepada mereka.

Ketika Ilmu Dianggap Mahal

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa sebagian orang merasa berat mengeluarkan uang untuk pendidikan, tetapi tidak merasa berat mengeluarkan uang untuk hal-hal yang manfaatnya jauh lebih sedikit?

Sebungkus rokok habis dalam hitungan jam.

Kuota internet habis dalam hitungan hari.

Hiburan habis dalam hitungan saat.

Namun ilmu yang diperoleh anak dapat menjadi bekal seumur hidup.

Lebih dari itu, ilmu yang bermanfaat dapat menjadi jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Sayangnya, tidak semua orang tua memandang pendidikan dari sudut ini.

Hak dan Kewajiban Harus Berjalan Bersama

Setiap orang tua tentu menginginkan sekolah yang baik, guru yang profesional, fasilitas yang layak, dan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Namun hak selalu berjalan bersama kewajiban.

Sekolah memiliki guru yang harus diberi nafkah.

Ada listrik yang harus dibayar.

Ada sarana yang harus dirawat.

Ada kegiatan pendidikan yang harus terus berjalan.

Karena itu, ketika sebuah lembaga pendidikan menagih kewajiban yang telah disepakati bersama, sejatinya mereka sedang menjaga amanah agar roda pendidikan tetap berjalan.

Jika ada kesulitan ekonomi, Islam mengajarkan musyawarah, keterbukaan, dan kejujuran. Banyak lembaga pendidikan yang justru bersedia membantu ketika orang tua datang dengan niat baik dan komunikasi yang santun.

Keberkahan Ilmu Berasal dari Keikhlasan

Para ulama sering mengingatkan bahwa keberkahan ilmu bukan hanya bergantung pada kecerdasan anak.

Keberkahan ilmu juga dipengaruhi oleh keikhlasan orang tua dalam berkorban demi pendidikan anaknya.

Harta yang dikeluarkan untuk ilmu tidak pernah sia-sia.

Ia berubah menjadi pahala.

Ia berubah menjadi akhlak yang baik.

Ia berubah menjadi masa depan yang lebih baik.

Dan yang paling penting, ia dapat menjadi sebab lahirnya anak saleh yang terus mendoakan kedua orang tuanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim)

Bukankah mendidik anak adalah jalan untuk meraih dua di antaranya sekaligus?

Renungan untuk Para Orang Tua

Sebelum mengeluhkan biaya pendidikan anak, cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kita sudah menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama?

Apakah kita sudah lebih rela mengeluarkan uang untuk ilmu dibandingkan untuk kesenangan sesaat?

Apakah kita sudah mengajarkan kepada anak tentang pentingnya tanggung jawab dan menghormati proses pendidikan?

Karena sesungguhnya yang mahal bukanlah biaya pendidikan.

Yang mahal adalah ketika anak kehilangan kesempatan memperoleh ilmu dan keberkahan karena kelalaian orang tuanya.

Penutup

Mari kita ubah cara pandang.

Jangan melihat biaya pendidikan sebagai beban.

Lihatlah ia sebagai amanah.

Lihatlah ia sebagai investasi.

Lihatlah ia sebagai jalan menuju keberkahan.

Sebab uang yang habis untuk kesenangan akan berhenti pada hari itu juga.

Tetapi uang yang dikeluarkan dengan ikhlas untuk pendidikan anak, insya Allah akan terus hidup dalam bentuk ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan doa-doa anak saleh yang mengalir hingga akhir hayat.

"Banyak orang tua takut miskin karena biaya pendidikan. Padahal yang lebih patut ditakutkan adalah ketika anak tumbuh tanpa ilmu, tanpa adab, dan tanpa keberkahan yang seharusnya menjadi warisan terbesar dari kedua orang tuanya." YAYASAN ALIKHLAS CITRA UTAMA mtsalikhlasgunungputri

10/06/2026

ANTARA WARIS DAN WAKAF

Ketika Niat Baik Tidak Boleh Menghilangkan Hak

Sering kali kita mendengar ungkapan, "Daripada dibagi-bagi, lebih baik tanah atau harta peninggalan orang tua diwakafkan agar menjadi amal jariyah."

Sepintas, ungkapan tersebut terdengar sangat mulia. Wakaf memang merupakan salah satu amal yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Namun, dalam Islam terdapat satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu hak para ahli waris.

Ketika seseorang meninggal dunia, Allah SWT telah menetapkan aturan pembagian warisan secara jelas dalam Al-Qur'an. Harta peninggalan yang ditinggalkan bukan lagi menjadi milik satu orang atau milik keluarga secara umum, melainkan menjadi hak para ahli waris sesuai ketentuan syariat.

Allah SWT berfirman:

"Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu..."
(QS. An-Nisa: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa pembagian warisan bukan sekadar urusan adat atau kesepakatan keluarga, melainkan bagian dari syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Karena itu, wakaf tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan atau menghilangkan hak ahli waris yang lain. Apabila harta warisan belum dibagikan, maka langkah yang harus didahulukan adalah menyelesaikan pembagian waris sesuai ketentuan yang berlaku.

Setelah setiap ahli waris mengetahui dan menerima bagian yang menjadi haknya, maka masing-masing memiliki kebebasan untuk menggunakan, mengelola, menghibahkan, menjual, ataupun mewakafkan bagian tersebut sesuai kehendaknya.

Wakaf adalah amal yang sangat mulia. Namun menjaga dan menunaikan hak sesama juga merupakan kewajiban yang mulia. Jangan sampai semangat mencari pahala justru membuat hak orang lain terabaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tunaikanlah hak kepada yang berhak menerimanya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, sebelum berbicara tentang wakaf, pastikan terlebih dahulu bahwa hak-hak waris telah ditunaikan dengan adil. Sebab keadilan merupakan salah satu pondasi penting dalam syariat Islam dan menjadi kunci terjaganya persaudaraan di tengah keluarga.

Jangan menjadikan wakaf sebagai alasan untuk menunda pembagian waris, dan jangan p**a menjadikan waris sebagai alasan untuk menghalangi wakaf. Keduanya merupakan syariat Allah SWT yang memiliki kedudukan masing-masing dan harus ditempatkan secara adil, bijaksana, serta sesuai tuntunan agama.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber : **anFiqhwaris #

*Hikmah:*

"Kebaikan tidak hanya diukur dari besarnya amal yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuan kita menunaikan hak-hak yang telah Allah tetapkan."





Address

Jalan Raya Gunung Putri Selatan No 28 Ctr 16810 Telp : (021) 876 2579
Bogor
16961

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when YAYASAN ALIKHLAS CITRA UTAMA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to YAYASAN ALIKHLAS CITRA UTAMA:

Shortcuts

Share

Category