Menghidupkan hati para pelajar adalah langkah awal menumbuhkan pendidikan yang baik.
Menyenangkan perasaaan pelajar adalah kunci pembuka untuk menentukan potensi yang dimiliki oleh pelajar tersebut.
"Salam Pelajar Cerdas & Bertaqwa"
Eko pamiyanto ul haq
CONCERN TENTANG PENDIDIKAN DAN PEMIKIRAN ISLAM
game over
karena kita mahluk yang berawal dan berakhir, ada masanya suatu saat nanti kita game over di percaturan bahana kehidupan. selagi kita masih di atas tanah, gumulkan setinggi2nya akselerasi amal kita. selagi qt di bawah langit, barakan kemauan kita untuk hidup lebih baik lagi.
lanyaknya sebuah permainan, akan ada awal dan akhir. kehidupan kita kelak juga akan berakhir, game over. sebelum qt game over, ayo kualitaskan hidup dalam amal nyata!
27/09/2012
Persahabatan yang Harum dan Meranum
setiap kita pernah mendengar sebuah hadist Rasulullah yang berbunyi,''bertemanlah dengan penjual minyak wangi, dan janganlah berteman dengan tukang pandai besi".
kehidupan yang sekarang ini, putih sudah mulai memudar dan hitam semakin samar. hari ini kehidupan menjadi abu-abu, tidak putih juga tidak hitam. manusia pun tak jelas berpihak yang mana, sulit memilahnya.
pergaulan hidup antar manusia semakin rancu bahkan tak menentu, yang benar dikatakan salah, yang salah dikatakan benar. yang banyak manusia dikatakan yang paling benar, yang sedikit manusia dikatakan salah.
pesan nabi Muhammad di atas, layak dan selalu up to date untuk kita menata konsep tatanan kehidupan antar manusia. bukankah kisah telah tertulis bahwasannya sekuat apapun iman kita, kita tersungkur kalah karena salah pergaulan. apalagi kehidupan di kota-kota besar sekarang ini, semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah ini.
sejarah berkisah bahwa kebaikan harus membutuhkan teman, dan teman membutuhkan tempat yang benar. sehebat apapun kita, kita harus mempunyai teman yang baik dan tempat yang benar untuk kita melukis kisah hidup kita. tak ada waktu lagi untuk menunda!!!
Eko Pamiyanto ul Haq
(27/9/12)
ISLAM AND LOVE
islam mengajarkan salam, mendoakan yg terbaik untuk saudray. islam jg mengajarkan silahturohim, menghubungkn rahim sesama.
islam mengajarkan tentang bertautny cinta dua insan dalam pernikahan.
islam mengajarkan untuk berburu jannah dan menjauhi neraka.
begitulah cara islam mengajarkan tentang cinta, mencintai diri dgn mengamalkan amalan surga.
islam melarang membuka aurat krn ingin menyelamatkan dri neraka. is true of love...
itulh makna islam rahmatan lil alamin.
06/09/2012
Pendidikan Karakter yang Merusak Karakter
Buku yang penuh dengan muatan pluralisme dan liberalisme ini berbahaya jika diajarkan kepada siswa.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) liberal milik Syafii Maarif, Maarif Institute, menerbitkan dua buku materi pengayaan pendidikan karakter dengan semangat pengarusutamaan nilai-nilai toleransi, anti kekerasan dan inklusif. Keduanya berjudul Pendidikan Karakter Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk SMA dan Pendidikan Karakter Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SMA. Buku pertama setebal 148 halaman, sedangkan buku kedua setebal 93 halaman.
Penulis materi pengayaan untuk PAI adalah Dian Lestari, guru PAI di SMA Negeri 2 Pandegalang dan Hamid Supriyanto, guru PAI di SMA Negeri 3 Yogyakarta. Sedangkan materi pengayaan untuk PKn ditulis oleh Benny Ahmad Benyamin, seorang guru PKn di SMA Negeri 1 Cianjur dan Joko Budi Santoso, guru PKn di SMA Negeri 7 Surakarta.
Dua buku itu diterbitkan Maarif Institute pada April 2012 bekerjasama dengan lima instansi pemerintah. Diantaranya Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta,. Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang, dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur dan LKBN ANTARA.
Maarif Institute merasa perlu menerbitkan dua buku ini dengan alasan saat ini makin menguat gejala anti nasionalisme dan anti kebangsaan karena adanya penetrasi gerakan-gerakan radikal dari luar yang masuk ke kalangan pelajar. Tak tanggung-tanggung, Maarif Institute menuding organisasi ekstrakurikuler di sekolah, Kerohanian Islam (Rohis), sebagai biang menguatnya radikalisme di kalangan pelajar itu.
“Saya katakan ada semacam penetrasi suatu gerakan dengan arus yang cukup kuat yang masuk ke level ekstrakurikuler siswa. Ada yang masuk lewat Rohis atau mungkin di luar organisasi yang dilakukan di luar sekolah,” kata Direktur Program Pengembangan Kajian Islam Maarif Institute, M. Abdullah Darraz.
Karena itu melalui buku ini, Maarif Institute berharap pihaknya bisa membantu guru dan sekolah untuk menguatkan kembali ideologi Pancasila, kebangsaan dan nasionalisme yang makin pudar.
Sarat Muatan Liberal
Maarif Institute secara resmi meluncurkan dua buku ini di sebuah hotel di kawasan Cikini pada Jumat (27/4/2012) lalu. Peluncuran buku dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Bidang Pendidikan Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, M.S. Menurut Daraz, buku ini dicetak sebanyak empat ribu eksemplar dan akan dibagikan ke 50 sekolah di empat kabupaten, Cianjur, Pandeglang, Solo dan Yogyakarta. Sasaran penggunanya adalah para guru mata pelajaran PAI dan PKn di SMA tersebut.
Lantas, adakah yang perlu diwaspadai dari dua buku pengayaan ini?. Jawabnya adalah ada. Seperti tertulis dari judul, “Mengarusutamakan Nilai-nilai Toleransi, Anti Kekerasan dan Inklusif”, buku ini sudah bisa ditebak akan membawa guru dan siswa ke arah mana. Tiga isu tersebut adalah isu yang dilontarkan kelompok liberal untuk meliberalisasi umat Islam sekaligus membendung arus Islamisasi di masyarakat, termasuk di kalangan pelajar. Pihak yang paling berkepentingan dalam hal ini adalah musuh-musuh Islam.
Pada laporan ini akan dibedah buku pengayaan untuk mata pelajaran PAI saja. Ada tiga kelompok materi utama dalam dua buku ini, yakni Toleransi, Anti Kekerasan dan Inklusifitas. Kelompok materi Tolerasi dibagi menjadi 5 materi: Toleransi, Hak Beragama, Hak Menjalankan Praktik Keagamaan, Dakwah: Mengajak Tanpa Memaksa, dan Berlaku Adil terhadap Perbedaan. Kelompok Materi Anti Kekerasan dibagi menjadi lima materi: Anti Kekerasan, demokrasi, memehami dan Mengelola Konflik, mengakui Kesalahan, dan Memberi Maaf. Sedangkan kelompok materi Inklusifitas dibagi menjadi empat materi: Berlomba dalam Kebaikan, Menghargai Karya dan Budaya Bangsa Lain, Inklusif Sebagai Semangat Peradaban Islam, dan Karakter Inklusif Islam Nusantara.
Masalah Toleransi dan Pluralisme
Masalah toleransi menempati urutan pertama dalam pembahasan buku ini. Seolah-olah mereka ingin menyampaikan pesan bahwa umat Islam tidak mempunyai rasa toleransi terhadap penganut agama lain. Lihatlah bagaimana penyusun buku ini membuat cerita rekaan yang mengada-ada dengan judul “Bertamasya Jadi Gak Asyik” (hal. 2). Digambarkan di sana seolah-olah siswa-siswa SMA yang ingin bertamasya rebutan memutar musik di dalam bus: yang Muslim ingin nasyid, yang Kristen ingin lagu–lagu gereja, dan yang lain ingin lagu pop-rock. Karena mereka berebut, sang sopir akhirnya menyetel lagu Pancaran Sinar Pertamax (PSP). Tamasya menjadi tidak menyenangkan, kata penulis buku.
Karena materi pengayaan ini untuk PAI, untuk menjustifikasi apa yang mereka tulis dikutiplah ayat-ayat dalam Al-Quran yang mereka klaim sebagai ‘ayat toleransi’, diantaranya QS. Al Hujurat [49]: 12, 13, dan Al Maidah [5]: 8. Padahal kalau dibuka di dalam tafsir Al-Quran, misalnya kitab Shafwatut Tafaasir karya Ali Ash-Shabuni, tidak ada satu katapun yang menyinggung-nyinggung soal toleransi dengan makna yang dikehendaki dalam buku ini.
Parahnya lagi, buku ini mencoba mengenalkan istilah pluralisme kepada para siswa (hal. 6). Padahal sebagai sebuah paham, pluralisme telah diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwanya. Maarif Institute mencoba mencari-cari ayat untuk membenarkan adanya isyarat pluralisme agama di dalam Islam. QS Al Kafirun [109]: 6, QS. Al Maidah [5]: 48 dan QS Yunus [ 10]: 99 mereka jadikan sebagai dalil pluralisme agama. Padahal sekali lagi, tiga ayat itu tak ada sangkut pautnya dengan pluralisme.
“Itu ngga benar penggunaan Surat Al Kafirun untuk dalil pluralisme”, kata anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim, MA.
Jika dilihat asbabun nuzulnya, ayat itu terkait tawaran kaum Qurays kepada Rasululullah supaya sehari menyembah Allah dan sehari menyembah tuhan mereka. “Ini ditolak Rasululllah, beliau menolak sinkretisme,” kata alumni Pasca Sarjana Jurusan Tafsir dan Ilmu Al Qur’an Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir itu. Demikian p**a penggunaan Surat Al Maidah ayat 48, juga dinyatakan tidak tepat sebagai dalil pluralisme agama.
Masalah Kebebasan Beragama
Hal yang paling fatal dalam topik ini adalah ketika mereka mengartikan ayat “la ikraha fiddien” dengan arti “tidak ada paksaan dalam beragama” (hal 17). Padahal terjemahan resmi Kementerian Agama terhadap ayat 256 surat al Baqarah itu adalah, “tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”. Sangat berbeda, kalimat “tidak ada paksaan dalam beragama” dan “tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”. Tidak ada paksaan dalam beragama membawa konsekuensi orang boleh tidak beragama atau jika orang beragama dia tidak dipaksa untuk menjalankan syariat agama itu. Sedangkan kalimat kedua, artinya memang Islam tidak memaksa orang di luar Islam untuk memeluk agama Islam. Berbeda sekali bukan?.
Buku pengayaan ini juga mengajak siswa SMA ke isu-isu yang sangat sensitif bagi masyarakat Islam secara umum. Seperti soal Syiah dan pendirian rumah ibadah (hal. 26-31). Penulis buku mengutip berita soal pembakaran rumah milik seorang Syiah dan Sampang, Madura, beberapa waktu lalu. Digambarkan di sana bahwa tindakan kekerasan itu dengan alasan apapun tidaklah dapat dibenarkan. Selain Syiah mereka juga membela Ahmadiyah.
Padahal persoalan Syiah dan Ahmadiyah, bukanlah persoalan kekebasan menjalankan agama. Melainkan soal penodaan terhadap agama Islam. Kebebasan dengan penodaan tentu berbeda jauh.
Begitu p**a dengan pendirian rumah ibadah. Penulis seolah-olah ingin menyampaikan message bahwa umat Islam dimanapun tidak toleran dan menghambat pendirian rumah ibadah penganut agama lain. Isu ini diangkat karena memang ada persoalan pendirian gereja di sejumlah wilayah seperti di Bekasi dan Bogor, Jawa Barat. Padahal di lapangan, pendirian rumah ibadah penganut agama lain itu dilakukan tidak dengan prosedur yang benar. Pemalsuan KTP dan memberi uang suap kepada warga agar mereka membubuhkan tanda tangan persetujuan adalah dua modus yang nyaris sama terjadi dimana-mana.
Masalah Jihad dan Kekerasan
Hal lain yang perlu dikritisi dari buku ini adalah soal jihad dan kekerasan (hal. 22, 55-61). Pada halaman 56 penulis menampilkan data pengeboman sejak tahun 2000 hingga 2009. Mereka ingin menanamkan pada siswa bahwa tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan tindak kekerasan dan pengrusakan di muka bumi. Adapun jihad mereka maknai sebatas mengerahkan segala kemampuan yang ada atau sesuatu yang dimiliki untuk menegakkan kebenaran dan kebaikan serta menentang kebatilan dan keburukan dengan mangharap rida Allah.
Memang boleh saja definisi itu disematkan, sebagai makna bahasa (lughawi) dari kata Jihad. Tetapi menurut Doktor Muhammad Khoir Haikal dalam disertasinya, “Al Jihad wal Qital fi Siyasah Syar’iyah”, kata jihad sudah bukan lagi istilah bahasa, tetapi juga istilah syar’i yang harus dimaknai juga secara syar’i. Karena itu lebih tepat jika jihad dimaknai sebagai, “Mengerahkan seluruh kemampuan untuk berperang di jalan Allah, baik langsung, atau membantu dengan harta, pandangan, memperbanyak jumlah pasukan ataupun yang lain..”.
Isu jihad, terorisme, dan kekerasan agama bukanlah sebuah isu tanpa maksud. Ditambah lagi dengan program deradikalisasi. Semuanya ini adalah upaya untuk menyerang Islam dan menghancurkan umat Islam. Artinya, jika buku ini dimaksudkan untuk mendidik karakter sejatinya yang akan terjadi adalah perusakan karakter siswa Muslim. Mereka tidak akan lagi menjadi Muslim yang taat kepada Allah dan Rasul serta syariat-Nya, melainkan mereka akan menjadi Muslim Liberal. Atau dengan kata lain menjadi Muslim Inklusif atau Moderat. Padahal, politikus Belanda Geert Wilders mengaku tidak percaya adanya Muslim Moderat. Wilders baru percaya ada Muslim Moderat kalau muslim itu sudah tidak mencontoh Nabi Muhammad Saw dan tidak melaksanakan syariat Islam. "Itu baru moderat, dan saya akan menghormatinya," kata Wilders.
Sementara itu Maarif Institute mambantah jika dua produk bukunya ini bermuatan liberal dan bertentangan dengan fatwa MUI. “Saya justru bertanya mana letak faham itu adanya?. Saya heran kenapa bisa menjustification seperti itu kawan-kawan ini,” kata Daraz saat diwawancarai Suara Islam.
suara-islam.com
CARA PANDANG SEORANG MUSLIM
(Kritik atas masalah yang up too date)
akhir-akhir ini media masa lagi 'hot' memberitakan kasus-kasus yang terjadi di tubuh umat islam. mulai dari rohingnya, kasus sampang lalu kasus 'terorisme'.
yang menjadi akar di bawah akar masalah adalah, media masa (terkhusus tv) menyajikan sebuah dialog atas permasalahan tersebut. Allahu alam apakah niatnya benar mencari solusi ataukah ada 'nyamuk di siang hari'.
yang menjadi soal, pembicara dalam dialog itu orang-orangnya tidak menguasai di bidangnya masing-masing. seperti kasus sampang antara syiah dan sunni, narasumber yang di hadirkan dalam dialog itu seorang tokoh atau dosen yang metodologi pemikiranya plural. mana bisa ketemu solusi jika pencari solusinya berkeyakinan semua faham dan agama boleh.
yang terbaru adalah kasus terorisme, penuh tipu muslihat dan rekayasa tentunya. kita tidak mau memahami makna terorisme dan jihad yang sebenarnya.
atas kasus-kasus di atas, kita sebagai umat islam haruslah bertabayun terlebih dahulu. jika kita rancu atau gamang terhadap masalah di atas, kita bisa tanyakan kepada seseorang yang benar-benar ahli di bidangnya. jika masalah syiah dan sunni kita bisa bertanya kepada ulama yang ahli di bidang ini. begitu juga tentang terorisme.
hari ini justru ulama-ulama yang ahli di bidangnya di musuhi oleh negara dan media masa (tv). begitulah seharusnya kawan, cara pandang kita, jika kita tidak tahu maka cari tahulah atau lebih baik diam.
BAGAIMANA KITA MEMANDANG TENTANG SYI'AH (kritik atas masalah di sampang)
terkait insiden bentrokan Sunni-Syiah jilid 2 di Karang Gayam Omben, Kab. Sampang Madura, DPP ABI melalui Ketua Umum nya Hassan Dalil Alaydrus dinilai Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) bukannya melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap perilaku dan pola pendakwahan ajaran syiah yang dilakukan para pengikutnya, tapi justru melontarkan fitnah kepada MIUMI dan menebarkan pembohongan publik.
Pertama, ABI dinilai melakukan fitnah kepada MIUMI, dalam wawancara dengan voa-islam.com. MIUMI mengaku sejak awal berdirinya melakukan kajian intensif soal akidah Syiah dan perkembangannya di Indonesia, beberapa karya buku penelitian telah dihasilkan untuk hal ini," ujar Sekjen MIUMI ustadz Bachtiar Natsir dalam rilis yang dikirim ke arrahmah.com, Kamis, (30/8).
Selain dalam rilis ini, MIUMI juga mendukung dan menguatkan Keputusan Fatwa MUI Propinsi Jawa Timur perihal kesesatan ajaran Syiah Imamiyah sebagaimana telah diberitakan luas oleh media massa online.
Dalam pandangan MIUMI, fatwa sesat tidak otomatis kekafiran mutlak dari agama Islam. Sesat karena doktrin Syiah meski menyatakan bertauhid kepada Allah dan mengakui kenabian Muhammad shalallahu 'alahi Wassalam sebagai Nabi penutup risalah, yang dengannya tetap dalam koridor Islam, ajaran syiah menetapkan keimanan terhadap wilayah/imamah Ali b Abi Thalib sebagai rukun iman dan Islam sekaligus.
Mereka menetapkan hal itu sebagai ushulul Islam (prinsip dasar Islam) sehingga konsekuensinya Ahlus Sunnah dinilai kafir karena tidak meyakini hal tsb. Hal ini adalah bid'ah rekayasa dalam bidang akidah. Inilah letak kesesatannya.
Masalah ini, menurut MIUMI, sudah lama dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab muktabar.
"Jadi soal kesesatan Syiah Imamiyah ini sudah lama sekali divonis oleh para imam dan ulama Ahlus Sunnah." Ungkapnya.
Soal kekafiran, MIUMI tidak pernah menyinggungnya sama sekali dalam berbagai rilis maupun surat dukungan terhadap Fatwa MUI Jatim. Vonis kekafiran bagi sekte apapun termasuk Syiah tidak bisa digeneralisir atau pukul rata. Melainkan harus dilihat secara spesifik (ta'yin) dengan indikator yang pasti seperti meyakini Al-Quran tidak asli akibat tahrif (distorsi/interpolasi) yang dilakukan sahabat Nabi, termasuk pengkafiran Muhajirin dan Anshor atau orang yang ittiba' dengan mereka secara ihsan dll.
Menurut MIUMI, hal ini berlaku bagi siapapun tanpa memandang mazhab atau sekte tertentu. Kekafiran Syiah tidak disepakati oleh Ahlus Sunnah, tetapi Ahlus Sunnah bersepakat akan kesesatan ajaran Syiah Imamiyah karena jauh menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah nabi.
Rukun Iman Syiah denganRukun Iman Islam berbeda
Pembohongan kedua, Ketum ABI dinilai berulang kali berupaya menutupi hakikat ajaran Syiah dan dengan demikian membodohi masyarakat awam atau elit umat Islam yang masa bodoh dengan persoalan akidah yang fundamental.
Misalnya dengan mengulang pernyataan bahwa rukun iman dan Islam Syiah dengan Sunni sama tak ada yang berbeda.
"Perlu diketahui masyarakat Muslim secara umum bahwa rukun iman Syiah ada 5 perkara yaitu: At Tauhid, Al 'adl, An Nubuwwah, Al Imamah (keimaman Ali dan 11 keturunannya yang maksum versi Syiah) dan Al Ma'ad (dalam referensi Indonesia, 40 masalah Syiah, hal 122 karya Emilia Renata dan editor Jalaludin Rakhmat), artinya di situ minus keimanan terhadap Kitab suci yang Allah turunkan terutama Al–Qur'an dan keimanan Qadla dan Qadar dari Allah. Sedangkan rukun Islam Syiah ada 5 perkara: Sholat, Puasa Ramadhan, Zakat, Haji dan Al Wilayah (kekuasaan Ali dan 11 keturunannya yang wajib karena ada wasiat Rasul menurut Syiah)."
Menurut MIUMI, tidak ada yang lebih penting dari Al Wilayah begitu kata imam Al Baqir (lihat kitab Al-Ushul minal Kafi juz 2 hal 18). Karenanya, jelas bahwa dalam rukun tersebut Syiah menafikan 2 syahadat kepada Allah dan Rasul, dan malah menggantinya dengan rukun alwilayah.
Padahal soal rukun iman dan Islam ini dinilai sangat fundamental, sampai Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam harus dimentori oleh Malaikat Jibril AS dan disetujui dengan perkataan "shadaqta" (Anda telah benar) tanpa ada pengurangan atau penambahan.
Lanjut MIUMI, saat ini pembodohan publik terjadi secara massif dan dikembangkan sistematis oleh para pimpinan dan pengikut Syiah.
arrahmah.com
INILAH AJARAN SESAT TAJUL MULUK DI SAMPANG MADURA
pada tahun 2006 Tajul pernah dipanggil oleh para ulama, sanak kerabatnya dan pemerintah untuk mengklarifikasi ajarannya, pada saat itu Tajul membawa setumpuk literatur kitab-kitab Syiah. Seperti diketahui literatur Syiah yang terkenal di antaranya Al Kafi karya al-Kulani, Man La Yahdhuruhul Faqih karya Muhammad bin Bawaih al-Qummi, Tahdzibul Ahkam dan Al Istibshar karya Abu Ja'far Muhammad bin Hasan al-Thusi.
Berdasarkan dokumen-dokumen yang ada, ajaran Tajul Muluk yang mencolok di masyarakat mencakup rukun iman, rukun Islam, cara salat, nikah mut'ah, azhan, iaqamah, wudhu, salat jenazah, aurat dan pelaksanaan perayaan-perayaan.
Rukun Iman.Rukun iman yang diajarkan Tajul terdiri atas lima rukun: (1) Tauhidullah (pengesaan Allah), (2) An-Nubuwah (Kenabian), (3) Al-Imamah, yang terdiri dari 12 imam, (4) al-Adil dan (5) Al-Maad (Hari Kiamat/Pembalasan).
Rukun Islam.Rukun Islam menurut mereka ada delapan, di antaranya: (1) Salat (tidak menggunakan syahadat), (2) Puasa, (3) zakat, (4) Khumus (bagian 20% dari harta untuk jihad fi sabilillah), (5) Haji, tidak wajib ke Makkah, cukup ke Karbala, (6) Amar Ma'ruf Nahi Munkar, (7) Jihad fi Sabilillah (jihad jiwa raga), (8) Al-Wilayah (taat kepada Imam dan bara' terhadap musuh-musuh Imam).
Salat. Salat yang diajarkan Tajul muluk hanya dilakukan tiga waktu saja, yakni Zuhur digabung dengan Ashar (dilakukan 1 kali saja), Maghrib digabung dengan Isya' (dilakukan 1 kali saja) dan Subuh merupakan bonus (tidak perlu dilakukan). Menurut catatan laporan masyarakat yang diterima Kejaksaan Negeri Sampang per tanggal 21 Desember 2011, disebutkan bahwa pada saat salat tidak ada bacaan fardhu. Kemudian sesudah salam ada takbir tiga kali yang intinya melaknat sahabat Nabi, yakni Abu Bakar, Umar dan Utsman karena dianggap kafir.
Nikah Mut'ah (Kawin kontrak). Disebutkan pernikahan yang dilakukan tanpa wali dan saksi bisa dilakukan hingga 100 kali. semakin banyak mut'ah maka derajat imannya semakin tinggi. Menurut laporan, salah satu pengikut Tajul, Alimullah melakukan mut'ah dengan Ummul Qurro, yang masih muridnya sendiri. Karena tak disetujui kedua orang tua masing-masing, mereka akhirnya cerai.
Azhan. Azhan yang dipraktikkan ditambah dengan kalimat Asyhadu anna Aliyan wali Allah dan Asyhadu anna Aliyan hujjatullah.
Wudhu.Wudhu cukup menggunakan air sedikit, satu gelas saja cukup untuk mengusap. Menurut pengikut Tajul, wudhu hanya dilakukan dengan membasuh muka dan tangan saja. Sedangkan yang lainnya hanya diusap. Kalau tidak sama seperti itu, batal wudhunya.
Salat Jenazah. Salat jenazah menurut mereka hanya merupakan doa, tidak wajib dan tidak memakai wudhu dan salam.
Aurat. Aurat bagi mereka hanyalah pada alat vital saja. Memakai pakaian tidak suci tidak masalah asalkan yang dipakai alat vital suci.
Ajaran lainnya yang sampai kepada masyarakat adalah bahwa al-Quran yang ada saat ini sudah tidak orsinil lagi karena sudah diubah oleh sahabat Nabi, Utsman bin Affan. Mereka meyakini Al Quran yang asli tiga kali lebih banyak dari Al-Quran yang ada sekarang. Al Quran yang lengkap dan utuh itu diyakini sedang dibawa oleh Imam Mahdi yang ghaib.
Selain itu mereka juga mengharamkan salat tarawih, salah duha, puasa asy-Syura, makan jeroan dan ikan yang berisik. Buka puasa mereka lakukan pada waktu Isya.
Sementara BASSRA, berdasarkan hasil rapat pada Selasa 3 Januari 2012, menyimpulkan ada 10 poin kesesatan ajaran Tajul Muluk, antara lain:
Pertama, mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam.
Kedua, meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil al Quran dan Sunnah
Ketiga, meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Quran
Keempat, mengingkari otensitas dan kebenaran Al-Quran
Kelima, menafsirkan Al Quran tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir
Keenam, mengingkari kedudukan hadits Nabi sebagai ajaran Islam
Ketujuh, melecehkan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul
Kedelapan, mengingkari Nabi muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir
Kesembilan, menambah dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat
Kesepuluh, mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar'i.
Ajaran Tajul ini tidak serta merta diberikan langsung kepada semua pengikutnya. Bagi kalangan awam ajaran-ajaran ini disampaikan secara bertahap. Jadi bagi mereka yang awam dan baru bergabung dengan kelompok Tajul bisa saja mereka akan menganggap semua tudingan ini sebagai fitnah.
Berdasarkan wawancara dengan salah seorang warga yang pernah menjadi pengikutnya, M Nur, sejak 2008 Tajul mulai menyampaikan khutbah Jumat bahwa rukun Islam ada 8, rukun iman ada 5, khalifah Nabi Muhammad Sab bukan Abu Bakar, Abu Bakar dikatakan merampok dari Ali.
M Nur mengaku setelah kurang lebih dua tahun menjadi pengikut Tajul, ia baru tahu adanya pen*staan terhadap sahabat Nabi. Menurutnya ia pertama kali terkejut ketika ada perayaan Ghadir Khum di Pasean, Pamekasan, di rumah Habib Mustofa. saat itu dibahas ketentuan khalifah yang sudah ditentukan oleh Allah khusus kepada Ali, tetapi dirampok oleh Abu Bakar. Puncak dari acara peringatan Ghadir Khum adalah melaknat Abu Bakar dan Utsman. Ayat-ayat dalam Al-Quran yang menyebut kata thagut mereka maknai senagai Abu Bakar dan Umar.
(suara-islam.com/arrahmah.com)
Maaf : Jangan Menjadi Muslim-Mukmin Blo'on Alias O'oon
Jakarta (voa-islam.com) Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, mengingatkan agar tidak bangga dengan jumlah Muslim-Mukmin yang banyak. Banyak jumlah. Sedikit kualitas alias "blo'on" atau "o'oon".. Karena itu, jumlah yang banyak itu, tidak sebanding lurus dengan izzah atau kemuliaan.
Sekarang, banyaknya Muslim dan Mukmin, hanyalah menjadi percandaan, lecehan, dan hinaan oleh orang-orang kafir. Mengapa? Karena, orang-orang kafir sudah bisa menakar iman (aqidah), komitmen, dan orientasi (ittijah) Muslim dan Mukmin.
Banyaknya Muslim dan Mukmin, tetapi mereka sudah menjadi kump**an "mayat", bukan Muslim dan Mukmin yang masih memiliki ruh Islam. Sekalipun, mereka masih bisa berpuasa, melaksanakan shalat, berhaji, berumroh, berzakat, berinfak, tetapi mereka sudah tidak lagi memiliki ghiroh dan izzah. Ibadah yang mereka lakukan hanyalah sebatas ritual belaka. Tidak memiliki esensi yang berkaitan dengan iman (aqidah) mereka.
Bayangkan. Muslim dan Mukmin di Indonesia yang ingin menunaikan ibadah haji sampai harus ngantri. Menunggu 10 tahun. Uang yang mendem disetor di Kementerian Agama jumlahnya sudah lebih Rp 50 triliun. Saking banyaknya Muslim dan Mukmin, yang ingin pergi menunaikan ibadah haji. Umroh setiap bulan puluhan ribu orang. Apalagi menjelang sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.
Sekarang, Umroh malah menjadi wisata. Bukan dalam rangka meningkatkan kecintaan dan ketaatan kepada Rabbul Alamin. Sekadar melepaskan kelelahan rohani. Sekadar mencari suasana baru bagi kehidupan mereka, yang letih, akibat menghadapi rutinitas.
Ramadhan disambut dengan sangat antusias. Di mana-mana nampak suasana Ramadhan. Muslim dan Mukmin melaksanakan perintah Rabbul Alamin, melaksanakan ibadah yang diwajibkan dalam satu tahun sekali. Begitu luar biasa Muslim dan Mukmin menyambutnya. Di awal Ramadhan masjid-mushola begitu penuh sesak melaksanakan shalat tarawih.
Orang berzakat, berinfak, bersedekah, serta berbagai bentuk ibadah lainnya, begitu luar biasa. Apalagi, yang bekaitan dengan kegiatan menyantuni anak yatim, berlangsung sangat luar biasa. Anak yatim bahkan menjadi barang "dagangan", di sejumlah yayasan, dan akhirnya dimanfaatkan para pengurus yayasan, terkadang ada yang memperkaya diri mereka.
Begitu organisasi dan gerakan Islam, berkembang dan tumbuh seperti jamur di musim hujan. Mulai yang lunak sampai yang keras, dan selalu mengumandangkan jihad, tetapi tak ada "atsyarnya" (pengaruhnya) bagi kehidupan Muslim dan Mukmin. Tetap saja Mukmin dan Muslim menjadi bahan ketawaan para kafirin, musyrikin, dan munafikin. Mereka tak takut dengan Muslim dan Mukmin, karena mereka sudah tahu "isi perut" nya.
Mengapa sejak sebelum merdeka sampai hari ini, Muslim dan Mukmin di Indonesia, hanya menjadi objek, dan bukan subjek? Mengapa Muslim dan Mukmin di Indonesia hanya menjadi komplemen belaka? Mengapa Muslim dan Mukmin di Indonesia hanya menjadi tukang dorong mobil mogok?
Di zaman Soekarno-Hatta dikibuli oleh Soekarno dan Hatta. Mau dipencundangi. Mau dibikin "blo'on". Muslim dan Mukmin disuruh makan, makanan haram berupa ideologi "sekuler dan nasionalis". Muslim dan Mukmin disuruh menjadi pelengkap penderita hanya bisa bilang "ho'ooh" (ok), tak mampu dan berani mengatakan "laa" (tidak). Soekarno bilang "Nasakom" itu barang bagus, maka Muslim dan Mukmin, berkata, baguus ..
Kecuali para pemimpin Masyumi, yang memang para pemimpinnya, orang-orang zuhud dan wara', tidak doyan duwit, dan mata duitan. Karena itu, generasinya Natsir itu, dicatat sebagai sebaik-baik generasi yang berani memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Sesudah itu, yang lahir hanyalah generasi loyo, dan blo'on. Sekalipun, akhirnya dipenjara oleh Soekarno, itu masalah biasa saja.
Di zaman Soeharto, lebih sedih lagi, Muslim dan Mukmin dipreteli iman dan aqidahnya. Soeharto menyuruh kepada Muslim dan Mukmin beriman kepada "burung gepeng" alias "Pancasila", yang menurut Mohammad Natsir, sebuah ideologi "la diniyah" (ideologi sekuler), tetapi Muslim dan Mukmin, hanya bisa mengatakan, "ho'ooh", tak berani mengatakan "laa". Semua organisasi dan gerakan menjadi penyembah "burung gepeng", sebagai azas dan landasan gerakan mereka. Mereka menjadikan diennunnas menjadi sesembahan mereka yang baru.
Di zaman reformasi sama saja. Ketika Abdurrahman Wahid yang menjadi pemimpin, Muslim dan Mukmin disuruh melahap ajaran pluralisme. Semua agama sama. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hochu, dan Yahudi. Semua sama. Semua benar. Tidak ada yang berhak mengklaim agamanya sebagai yang paling benar, dan memiliki kebenaran secara mutlak. Maka, Muslim dan Mukmin, semuanya mengatakan "ho'ooh". Tidak ada yang mengatakan "laa". Abdurrahman menambahkan agama Kong Huchu masuk dalam agama resmi di Indonesia. Karena itu, ketika Abdurrahman Wahid mati, banyak orang Cina yang menangisinya.
Presiden SBY memberikan gelar Abdurrahman Wahid sebagai, "Bapak Pluralisme", bahkan para tokoh Yahudi dunia, yang berkumpul di sebuah hotel mewah di California, memberikan gelar "Medal of Velor" (Medali Keberanian) kepada Abdurrahman Wahid atas jasa-jasanya membangun peradaban pluralisme di Indonesia. Abdurrahman Wahid, Nurcholis Majid, dan Muslim Abdurrahman, sebagai "Bapak Pluralisme", dan Muslim dan Mukmin semuanya mengatakan "Amiin". Begitulah adanya.
Muslim dan Mukmin di Indonesia secara phisik jumlahnya semakin bertambah banyak. Jumlah mereka di Indonesia 90 persen dari 240 juta. Muslim terbesar di dunia. Tetapi, banyaknya jumlah itu, tidak signifan bagi kehidupan. Secara politik, ekonomi, budaya, dan sosial. Hanya jumlah "doang" yang banyak. Tetapi, tidak sebanding dengan kehidupan yang nyata. Jumlah mereka sangat banyak. Tetapi, hanyalah kump**an orang-orang yang tanpa "ruh Islam", sehingga menjadi Muslim dan Mukmin yang "o'oon".
Saudaranya dibantai, agamanya dihina, keyakinannya diselewengkan, mereka hanya sebatas membuat pernyataan. Habis itu tidur. Paling banter mengirim delegasi atau mengumpulkan dana. Dengan cara seperti itu merasa sudah berbuat. Mereka merasa sudah melakukan sesuatu yang dipandang sangat penting. Mengapa? Mereka itu, tak lain, kump**an orang-orang yang loyo. Karena, aqidah dan imannya sudah dipreteli, sejak zaman penjajah, sampai di zamannya Abdurrahman Wahid.
Berapa banyak Muslim dan Mukmin yang dimurtadkan setiap hari oleh Salibis dengan sepotong roti dan segelas indomie? Tetapi, mereka tak tergerak sedikitpun. Apalagi, saudaranya dibantai di mana-mana, paling-paling hanya bisa menyampaikan kepritahinan belaka. Itulah Muslim dan Mukmin yang sudah kehilangan ruh Islamnya.
Akibat blo'on alias o'oon itu, membuat para musuh Allah Rabbul Alamin, semakin berani melecehkan dan menghina mereka. Mereka sudah tidak lagi memiliki aqidah dan iman. Muslim dan Mukmin yang telanjang. Telanjang bulat. Karena itu, mereka tidak memiliki furgon, tidak memiliki baro', serta tidak jelas loyalitasnya. Mereka dibantai juga diam saja. Ghirohnya sudah hilang.
Pemimpin yang jelas-jelas kafir, memusuhi Allah Rasul, dan orang-orang Mukmin, tetapi dijadikan pemimpin dan penolong. Pemimpin yang terang-terangan menolak syariah, diagungkan-agungkan sebagai negarawan. Padahal, mereka itu adalah para penjahat. Mereka yang selalu meneriakkan nasionalisme, sejatinya mereka itulah para pengkhianat bangsa. Mereka yang mengaku paling nasionalis itu, tak lain, para kaki tangan penjajah, dan ikut menindas rakyat sendiri.
Lihat. Mulai dari Soekarno yang menjadi kaki tangan Soviet dan Cina yang menganut komunisme itu, dan menjadikan sesembahannya. Berkomplot dan bersekongkol dengan musuh rakyat dan bangsa Indonesia. Tetapi, karena Muslim dan Mukmin Indonesia itu, kump**an orang-orang "o'oon", Soekarno diberi gelar sebagai "Waliul Amri". Ikut mengagung-angungkan Soekarno yang sudah menjadi kacungnya Soviet dan Cina.
Begitu p**a, Soeharto yang sudah menjadi kaki tangan Amerika Serikat, dan penjaga kepentingan kapitalisme, serta menjadikan "burung gepeng", sebagai agama baru di Indonesia, dan menjadikan "burung gepeng" alat pemukul bagi Muslim dan Mukmin, tetapi kenyataannya ada partai yang lahir di era reformasi memberikan gelar pahlawan dan menjadikan Soeharto, sebagai guru bangsa. Sungguh, nasib Muslim dan Mukmin Indonesia, sangat "o'oon".
Tak heran Indonesia menjadi tanpa harapan. Bahkan disebutkan oleh sebuah lembaga di Amerika sebagai "Failed State" (negara gagal). Karena, pemimpinnya hanyalah kump**an "sampah", jago korup, menipu dan mendustai rakyat. Sementara rakyatnya, yang mayoritas Muslim dan Mukmin, hanyalah kump**an orang-orantg "o'oon". Sehingga, kehilangan alternatif masa depan.
Makanya, yang berani muncul di tahun 2014, tokoh-tokoh yang mestinya sudah masuk kotak, tetapi kondisinya seperti itu, dan para Muslim-Mukminnya "o'oon", tak mampu menciptakan alternatif, yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, terutama dalam perjuangan dan pergerakan mereka, wajar yang muncul tokoh-tokoh yang sudah basi. Hal ini, disebabkan tokoh-tokoh dari kalangan Muslim dan Mukmin, berlaku pragmatis, dan mudah diduitin. Semuanya juga sudah tahu.
Tak heran sekarangpun, ibaratnya Muslim dan Mukmin disuruh makan "anjing dan babi", maka mereka akan mengatakan "ho'ooh". Tak berani mengatakan, "laa". Mendukung pemimpin kafir, musyrik, dan munafik, sama halnya dengan memakan "anjing dan babi".
Sejatinya, Muslim dan Mukmin sudah menjadi korban media yang pandai membuat pencitraan terhadap tokoh pilihan mereka yang nggak mutu itu. Seakan-akah menjadi pembela rakyat. Percaya atau tidak? Silakan. Wallahu'alam.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Blora