DAYAH DARUL A'TIQ JEUNIEB

DAYAH DARUL A'TIQ JEUNIEB DARUL ATIQ,dayah yang berdiri pada tahun 1902 yang terletak di gampong Blang Raleu Jeunieb(diliket mesjid tuha),yang sekarang dipimpin oleh Aba Qasem

Wajah beliau masih ceria di detik terakhirnya. Tapi hati nya selalu berpesan “siapa yang akan melanjutkan perjuangan ini...
07/09/2024

Wajah beliau masih ceria di detik terakhirnya. Tapi hati nya selalu berpesan “siapa yang akan melanjutkan perjuangan ini?” dan “apakah generasi kedepan (termasuk anakku) bisa menjadi generasi yang membanggakan?”.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

Semoga Allah pertempatkan Ayahanda Rohani kita di tempat yang tinggi dan mulia disisiNYA...
Aaminnnn yaa Allah 🤲🤲🤲😭

12/07/2023
Ketika tiba saatnya kembali ke pesantren kau bilang tak ada uang, harta mendadak hilangKesehatan juga kau bilang berkura...
01/05/2023

Ketika tiba saatnya kembali ke pesantren kau bilang tak ada uang, harta mendadak hilang
Kesehatan juga kau bilang berkurang

Tanyakan pada hati nuranimu
Sesulit inikah aku mendapat ilmu?
Hingga beragam alasan ku ramu
Sejauh inikah jalan surga untukku
Hingga terseok-seok kudapati jalan buntu

Duhai.. Beruntungnya orang tua yang meski harta tak dipunya tapi anak sudi mencari ilmu untuk ditimba, di pesantren mendoakan orang tua, dibimbing supaya berakhlak mulia, tiap hari belajar tentang ilmu agama

Duhai...Malangnya orang tua yang anaknya hanya mencari kesenangan semata, mengejar kehidupan dunia, kembali ke pesantren seakan puncak derita, hanya karena tak lagi leluasa dan tak bebas pergaulannya.

Kemasi barang-barangmu, bulatkan tekadmu,
Niatkan semata karena menjalankan perintah Tuhanmu, bersiaplah para Malaikat menunggu untuk memelukmu, memeluk para pencari ilmu.

Back to pesantren 🙂

Source : nyai Wilda Wahab

Al-Qasash Dan Perempuan Ketika membaca kisah Nabi Musa as dalam Surat al-Qasash ayat 23-28, saya tidak mengerti apa yang...
05/10/2022

Al-Qasash Dan Perempuan

Ketika membaca kisah Nabi Musa as dalam Surat al-Qasash ayat 23-28, saya tidak mengerti apa yang dilihat oleh Nabiyullah Musa pada seorang gadis Madyan.

Apa yang menarik dari gadis itu sampai-sampai Nabiyullah Musa mau menghabiskan 10 tahun umurnya sebagai mahar untuk gadis itu?

Ketika saya mengulang-ulang ayat tsb, sembari merenung kisah itu. Saya menyimpulkan satu hal yang telah menambat hati Nabiyullah Musa, yaitu firman Allah dalam Surat Qasas ayat 25;
“tamsyi ‘ala istihyaa”

(Wanita itu berjalan dengan malu-malu….)

Hingga Nabiyullah Musa menerima tawaran itu dan berjanji kepada orang tua kedua gadis itu bahwa dia akan memenuhi syarat-syarat yang disepakati dan akan memenuhi salah satu dari dua masa yang ditawarkan, yaitu delapan atau sepuluh tahun.

Dalam ayat itu Allah tidak mendeskripsikan wanita yang menambat hati Nabi Musa as dengan tingginya, wajahnya, rambutnya, atau hidungnya yang mancung, tetapi dideskripsikan dengan sifat malu yang memenuhi tingkah lakunya

Qultu;
Malunya seorang muslimah merupakan mahkota bagi dirinya. Semakin ia malu semakin tinggilah kehormatannya.

Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhori Muslim, begitu p**a Adz-Dzahabi meriwayatkan bahwa Iman dan malu itu beriringan secara bersamaan.Jika salah satunya terangkat maka yang lain terangkat p**alah.

HR Al Hakim pada Mustadroknya 1/73.

Sumber : tweet Sayid Machmoed BSA

"Biografi Singkat Abu Tumin Blang Bladeh"Abu Tumin lahir dari keluarga ulama dan pemuka masyarakat. Ayahnya Teungku Tu M...
03/10/2022

"Biografi Singkat Abu Tumin Blang Bladeh"

Abu Tumin lahir dari keluarga ulama dan pemuka masyarakat. Ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah adalah ulama, tokoh masyarakat dan pendiri dayah. Semenjak kecil Abu Tumin telah dipersiapkan untuk menjadi seorang ulama yang paripurna. Mengawali pengembaraan ilmunya, Abu Tumin pernah mengecap pendidikan umum pada masa Belanda selama tiga tahun.

Setelah kemerdekaan, Abu Tumin dalam usianya 12 tahun dimasukkan ke Sekolah SRI, sekolah yang memiliki bahan ajaran yang memadai dalam bidang agama. Sambil bersekolah di SRI, Abu Tumin juga belajar langsung pada ayahnya ilmu-ilmu keislaman, terutama dasar-dasar kitab kuning dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf.

Selama lebih kurang tiga tahun Abu Tumin belajar dengan sungguh-sungguh kepada ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah yang juga ulama, telah memberikan bekal ilmu yang memadai untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Pada usianya 15 tahun, mulailah Abu Tumin belajar dari satu dayah ke dayah lainnya hingga berakhir di Labuhan Haji Darussalam dengan gurunya Syekh Muda Waly al-Khalidy.

Abu Tumin pernah belajar beberapa bulan di Dayah Darul Atiq Jeunieb yang dipimpin oleh Abu Muhammad Saleh yang merupakan ayah dari Abon Samalanga. Setelah beberapa bulan di Dayah Jeunieb, Abu Tumin kemudian melanjutkan pengajiannya ke Dayah Samalanga dalam beberapa bulan juga, kemudian beliau belajar di Dayah Meuluem Samalanga selama satu tahun, dan terakhir di Dayah Pulo Reudep yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Pulo Reudep selama tiga tahun sebelum ke Labuhan Haji.

Maka dengan bekal ilmu yang memadai dari guru-guru itulah yang mengantarkan Abu Tumin muda dalam usianya 20 tahun berangkat ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan pada tahun 1953. Selain Abu Tumin, di tahun 1953 beberapa ulama lainnya juga tiba di Labuhan Haji untuk belajar pada Abuya Syekh Muda Waly. Karena umumnya teungku-teungku yang belajar kepada Abuya, telah memiliki ilmu yang memadai sebelum belajar ke Abuya, sehingga bisa duduk di kelas khusus Bustanul Muhaqqiqin.

Di antara ulama-ulama yang datang pada tahun 1952 dan 1953 adalah Abu Abdullah Tanoh Mirah yang kemudian mendirikan Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah yang dikenal dengan kealimannya dalam bidang ushul fikih.
Ulama lainnya adalah Abon Abdul Aziz Samalanga yang melanjutkan kepemimpinan Dayah MUDI Samalanga setelah wafat mertuanya Abu Haji Hanafiyah Abbas yang dikenal dengan Teungku Abi.

Abon Abdul Aziz Samalanga dikenal ahli dalam ilmu mantik atau ilmu logika. Sedangkan Abu Keumala datang lebih awal ke Dayah Darussalam Labuhan Haji, dan Abu Keumala dikenal ahli dalam ilmu tauhid, mengabdikan ilmunya di Medan Sumatera Utara hingga wafatnya pada tahun 2004. Selain menjadi murid Abuya Syekh Haji Muda Waly di Darussalam, Abu Tumin juga telah dipercaya untuk mengajarkan para santri lain yang berada pada tingkatan tsanawiyah, karena beliau disebutkan mengajar santri di kelas 6 B, adapun di kelas 6 A diajarkan langsung oleh Abuya Muhibbudin Waly, sedangkan Syekh Muda Waly al-Khalidy mengajarkan kelas dewan guru.

Ketika di Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin sekelas dengan Abu Hanafi Matang Keh, Teungku Abu Bakar Sabil Meulaboh dan Abu Daud Zamzami Ateuk Anggok. Sedangkan Abu Abdullah Tanoh Mirah dan Abon Samalanga lebih tinggi satu tingkat di atasnya. Abu Tumin belajar dan mengajar di Labuhan Haji selama 6 tahun, beliau juga murid khusus di kelas Bustanul Muhaqqiqin belajar langsung kepada Abuya Haji Muda Waly.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Dayah Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin kemudian memohon izin kepada gurunya untuk p**ang kampung pada tahun 1959 untuk mengabdikan ilmunya. Sedangkan temannya seperti Abon Samalanga p**ang kampung setahun sebelumnya pada tahun 1958 dan Abu Tanoh Mirah p**ang di Tahun 1957. Umumnya murid-murid Abuya yang datang di atas tahun 1952 dan 1953 p**ang di akhir tahun1959. Sedangkan generasi sebelum Abu Tumin yang datang ke Darussalam pada tahun 1945 dan 1947, mereka umumnya p**ang di tahun 1956 seperti Abuya Aidarus dan Abu Syamsuddin Sangkalan.

Setibanya di Kampung halaman, setelah belajar di berbagai dayah terutama Dayah Darussalam Labuhan Haji telah mengantarkan Abu Tumin menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya. Abu Tumin memimpin dayah yang telah dibangun oleh kakek beliau yaitu Teungku Tu Hanafiyah yang kemudian dilanjutkan oleh Teungku Tu Mahmud Syah ayah Abu Tumin, selanjutnya estafet keilmuan dan kepemimpinan dayah dilanjutkan oleh Abu Tumin.

Pada era Abu Tumin mulailah pesat pembangunan Dayah tersebut. Dimana para santri datang dari berbagai tempat untuk belajar kepada Abu Tumin dan belajar dari sang ulama. Abu Tumin juga merupakan seorang ulama yang murabbi, sehingga banyak muridnya yang menjadi ulama terpandang sebut saja di antaranya adalah Abu Mustafa Paloh Gadeng yang belajar kepada Abu Tumin selama 19 tahun sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang ulama kharismatik Aceh yang diperhitungkan.

Ulama lainnya yang juga murid Abu Tumin adalah Abu Abdul Manan Blang Jruen yang dikenal sebagai ulama yang ahli dan lihai dalam bidang tauhid, serta moderator yang hebat dalam muzakarah para ulama Aceh, sehingga diskusi nampak ceria dan bersemangat. Dan banyak para ulama lainnya yang juga murid dari Abu Tumin, selain murid-muridnya di Dayah Darussalam dulu.

Dan di sebuah acara muzakarah, Abuya Mawardi Waly juga menyebutkan dirinya sebagai murid Abu Tumin. Intinya Abu Tumin juga ulama yang Syekhul Masyayikh. Bahkan Abu Daud Teupin Gajah atau Abu Daud al Yusufi yang merupakan ulama kharismatik Aceh Selatan juga termasuk murid yang lama belajar kepada Abu Tumin dimana sebelumnya beliau belajar kepada Abuya Haji Jailani Kota Fajar.

Selain itu, Abu Tumin juga dianggap sebagai ulama panutan oleh para ulama lainnya, dimana fatwa-fatwa hukumnya menjadi bahan kajian dan pegangan para ulama lainnya. Biasanya pada setiap muzakarah yang diadakan di berbagai tempat, Abu Tumin yang kemudian mengambil keputusan terakhir, setelah sebelumnya para ulama lain memberikan pandangan dan sanggahan atas setiap persoalan yang sedang dibahas forum.

Kehadiran Abu Tumin menambah acara muzakarah semakin bermakna, karena pandangan hukum beliau biasanya dari ingatan yang lama dan kajian yang mendalam. Sehingga tidak mengherankan bila ada yang menyebutkan bahwa "Abu Tumin tua umurnya dan tua p**a ilmunya".

Abu Tumin telah mempersembahkan segenap usianya untuk agama ini, dan telah p**a mencurahkan segenap ilmu dan pengabdiannya, mengayomi masyarakat Aceh secara tulus ikhlas. Dan hari ini beliau telah kembali kehadhirat Allah SWT.
Semoga Allah SWT menempatkan beliau di surga tertinggi bersama para Anbiya, Syuhada dan Shalihin.

Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un.
Selamat Jalan Guru Besar Yang Kami Muliakan Abu Tumin.
اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Di tulis oleh : Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary

Sumber foto : Syeh Kandang

Ibumu.. Ibumu.. Ibumu..Mayoritas orang menafsirkan bahwa pengulangan kata "Ibu" tiga kali oleh Rasulullah menunjukkan ba...
30/09/2022

Ibumu.. Ibumu.. Ibumu..

Mayoritas orang menafsirkan bahwa pengulangan kata "Ibu" tiga kali oleh Rasulullah menunjukkan bahwa Ibu lebih utama daripada Ayah, ternyata tidak demikian menurut Imam Ibnu Asyur.

Suatu hari seorang sahabat bertanya pada Rasulullah; "Apakah ada orang yang harus kubakti dalam hidupku ?" Beliau bersabda: "Ibumu" "Terus siapa lagi?"
"Ibumu"
"Terus?"
"Ibumu"
"Terus?"
"Ayahmu"
Pengulangan itu bermakna penekanan terhadap hak-hak ibu, karena ibu sering dipinggirkan dan dilupakan perannya di zaman Rasulullah, Rasulullah datang mengangkat derajat ibu dan semua wanita.
Jadi, sebagai anak kita punya kewajiban yang sama terhadap dua orangtua, tanpa melebihkan ibu atau ayah, keduanya memiliki hak yang sama untuk tidak didurhakai.
Begitu kata Imam Ibnu Asyur saat beliau menjelaskan makna hadis ini
Al-Qur,an menyebutkan perintah berbuat baik kepada orang tua setelah datangnya larangan Syirik (menyekutukan Allah), ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orang tua merupakan amalan yang amat ditekankan. Allah swt berfirman;
وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه و بالوالدين إحسانا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak" (Surah Isra', ayat 23)

Dalam kitab Tafsir Nur karya Syekh Muhsin Qira'ati dijelaskan; "Telah diwasiatkan dalam hadist-hadist yang mulia, tentang berbuat baik kepada kedua orang tua, juga dijelaskan celaan berbuat buruk kepada keduanya, dan termasuk dari pesan riwayat-riwayat tersebut sebagai berikut;
نظرة الرحمة إلى الوالدين ثوابها ثوب حجة مقبولة

"Pandangan rahmat (penuh kasih sayang) kepada kedua orang tua, pahalanya seperti pahala Haji yang diterima".
رضاهما من رضا الله و غضبهما من غضب الله

"Keridhoan keduanya seperti keridhoan Allah, dan murka keduanya bagaikan murka Allah".
إحساننا إلى الوالدين يطيل عمرنا و يورث إحسان أبنائنا إلينا أيضا

"Kebaikan yang kita lakukan kepada orang tua akan memanjangkan umur kita, dan mewariskan kebaikan anak-anak kepada kita kelak".
Tafsir Nur, Muhsin Qira'ati, Jld 5, Hal 31

Dari penjelasan di atas dapat difahami, bahwa kedudukan orang tua dalam Islam sangatlah tinggi, sehingga Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua setelah larangan mempersekutukan-Nya.

Semoga bermanfaat

Innalilahi wa innailaihi Raji'un, telah berp**ang ke Rahmatullah Tgk Muhammad Amin Mahmud (Abu Tumin Blang Blahdeh) pada...
27/09/2022

Innalilahi wa innailaihi Raji'un, telah berp**ang ke Rahmatullah Tgk Muhammad Amin Mahmud (Abu Tumin Blang Blahdeh) pada pukul 15:45 di RS Fauziah, Bireuen, semoga Husnul khatimah..

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ..

*له الفاتحة*
*_اعوذُ بِاللهِ منَ الشَّيطاَنِ الرّجيم_*
_بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْم ۞ أَلحَمدُ لِلّه رَبِّ العَالَمِين ۞ ألرَّحمَنِ الرَّحِِيم ۞ ملِكِ يَوْمِ الدِين ۞ إيّاكَ نَعبُدُ وَ إيّاكَ نَستعِين ۞ إهدِنَا الصِّرَاط المُستَقِيم ۞ صِرَاطَ الَذِينَ أنعَمتَ عَليْهِم، غَيْرِالمَغضُوبِ عَليْهِم وَلاَالضَّالِّين ۞_
أمِِين....

21/09/2022

Amaliyah Hari " Rabu abeh"

Sudah menjadi tradisi umat Islam di berbagai daerah melakukan shalat sunat dan berDoa secara khusus pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar, bahkan banyak yang melakukannya secara berjama’ah.
Para ‘Ulama berbeda pandangan dalam menyikapi hal ini. Sebagian ‘Ulama menganggap bahwa hadits yang menjelaskan tentang hal ini tidak bisa dijadikan sebagai landasan kuat untuk meyakini turunnya bala pada hari tersebut, bahkan ada yang mengkategorikannya hanya sebagai kabar dari para ‘Ulama shalih, bukan bersumber dari hadits Nabi Muhammad Saw.

Namun, ada beberapa ‘Ulama dari kalangan shufi seperti Imam al-Dairabi dalam kitabnya Mujarrabat, Imam al-Buni dalam kitabnya al-Firdaus, Imam Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Nihayat al-Zain, Imam al-Kamil Farid al-Din dalam kitabnya Jawahir al-Khams, Imam Hamid al-Quds dalam kitabnya Kanz al-Najah wa al-Surur, dan beberapa ulama lain mengatakan bahwa pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, Allah Swt menurunkan bala. Karenanya, para ‘Ulama tersebut memberikan amaliyah khusus untuk menjaga diri atau menolak bala.

Tersebut dalam kitab Fawaid al-Ukhrawiyyah, Ta’liqah, Jami’ al-Fawaid, dan Tuhfat al-Mardhiyyah, bahwa pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar diturunkan 320.000 penyakit / bala ke dalam dunia ini. Maka pada hari Rabu itu terlebih payah dari sekian hari dalam setahun. Riwayat yang lain menyebutkan bahwa Allah Swt menurunkan bala` setiap tahunnya pada hari Rabu terakhir dalam bulan Shafar sebanyak 120.000. Menghadapi sunnatullah ini, disunatkan mandi dengan niat :

نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَنْ شَهْرِ صَفَرَ وَ أَنْ يَمْضِيَ عَنْ فِتْـنَةِ الدَّجَّالِ سُنَّةً ِللهِ تَعاَلىَ

“Sahaja saya mandi pada bulan Shafar agar dijauhkan dan dipelihara oleh Allah Swt daripada bala dan penyakit serta fitnah dajjal, sunnat karena Allah Swt.”

Adapun waktunya adalah mulai dari pagi hari Rabu terakhir bulan Shafar sampai dengan siang harinya. Kemudian disunatkan p**a melakukan shalat sunat 2 raka’at dalam waktu mulai pagi hari Rabu terakhir sampai sampai sebelum masuk waktu 'Ashar dengan niat:

أُصَلِّى سُنَّةً رَكْعَتَـيْنِ ِللهِ تَعاَلىَ

“Sahaja saya shalat sunnat dua raka’at menghadap qiblat karena Allah Swt”.

Shalat sunat ini dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan 2 kali salam. Pada 2 rakaat yang pertama setelah membaca surat al-Fatihah, disunatkan membaca surat al-Kautsar 17 kali pada rakaat pertama dan surat al-Ikhlash 5 kali pada rakaat kedua. Kemudian pada 2 rakaat yang kedua, dibaca surat al-Falaq 1 kali pada rakaat pertama dan surat al-Naas 1 kali pada rakaat kedua.

Ada juga yang berpendapat hendaklah melakukan shalat 6 rakaat dengan tiga kali salam. Pada rakaat pertama membaca surat al-Fatihah dan ayat Kursi, dan rakaat kedua membaca surat al-Ikhlas, demikian seterusnya. Setelah usai melakukan shalat, bershalawat kepada Nabi Saw kemudian membaca Doa akhir safar, yaitu :

بسم لله الرحمن الرحيم

اللّهُمَّ يَا شَدِيْدَ القُوَى وَيَا شَدِيْدَ المِحَالِ يَا عَزِيْزُ يَا مَنْ زَالَتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِىْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُتَكَرِّمُ يَا مَنْ لاَاِلهَ اِلاَّ اَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللّهُمَّ بِحَقِّ الحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنِىْ شَرَّ هذَا اليَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِى فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ ولاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللّهُمَّ اِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الحُسْنَى بِكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِى وَأَنْ تُعَافِيَنِى مِنْ بَلاَئِكَ يَا دَافِعَ البَلاَءِ يَا مُفَرِّجَ الهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الغَمِّ اِكْشِفْ عَنِّى مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِى هذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الاَهْوَالِ وَالآفَاتِ وَتَقْضِى لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا مِنْ أَقْصَى الغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الخَيْرَاتِ فِى الحَيَاتِ وَبَعْدَ المَمَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ اللّهُمَّ اِصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الأَرْضِ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

سَــــــــلاَمٌ قَـــــــوْلاَ مِنْ رَبِّ الرَّحِــــــــــــــــــــيْمِ * سَـــــــــــــــــلاَمٌ عَلَـــــــــــــى نُوْحٍ فِى العَالَمِـــــــــــــــــــــــيْنَ
سَـــــــــــــــــــــــــلاَمٌ عَلَـــــــــــــــــــى اِبْراهِـــــــــــــــــــــــــــيْمَ * سَـــــــــــــــــلاَمُ عَلَـــــــــــــــــــى مُــــــــــــــوْسَى وَهَـــــــــرُوْنَ
سَـــــــــــــــــــــــلاَمٌ عَلَـــــــــــــــــى اِلْيَـــــــــــــــــــــــــــاسَ * سَــــــــــــــــــــلاَمٌ عَلَــــــــــــــــــــى المـــــــــــــــــــــرْسَـــــلــــــــــــــــــــــــــــــــِيْنَ
سَـــــــلاَمٌ عَلَــيْكُمْ طِبْــتــُمْ فَادْخُــلُوْهَا خَـالِدِيْنَ * سَـــــــلاَمٌ هِىَ حَــــــتَّى مَطْلَعِ الفَجــــــــــــــــــــــــــــــــــــــرِ

وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلِ وَلا حَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ العَلِىِّ العَظِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Setelah melakukan semuanya, bacalah surat Yasin (kalau sanggup bacalah Yasin Fadhilah). Seorang ulama shalihin menyebutkan bahwa hari Rabu terakhir bulan Shafar merupakan hari yang penuh dengan bala, maka disunnahkan pada hari itu membaca surah Yasin, dan ketika sampai pada bacaan “سلام قولا من رب الرحيم” hendaklah mengulangnya sebanyak 313 kali. Setelah selesai membaca surah Yasin, hendaklah membaca Shalawat Munjiyat sebanyak 11 kali, yaitu :

أَللَّهُمَّ صَلِّى عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْناَ بِهاَ مِنْ جَمِيْعِ اْلأَهْوَالِ وَ اْلآفاَتِ وَ تُقْضِي لَناَ بِهاَ مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ وَ تُطَهِّرُناَ بِهاَ مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئاَتِ وَ تَرْفَعُناَ بِهاَ عِنْدَكَ أَعْلىَ الدَّرَجاَتِ وَ تُبَلِّغُناَ بِهَا أَقْصَى اْلغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ اْلخَيْرَاتِ فىِ الْحَياَتِ وَ بَعْدَ اْلمَمَاتِ إِنَّكَ عَلىَ كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Dan berdo’alah : “Ya Rahman... Ya Rahim... Berilah kepada kami kebaikan dunia dan akhirat.
Ya Allah... Jauhkan dan peliharalah kami dari berbagai macam bala dan marabahaya serta bencana dan penyakit .
Ya Allah... Peliharalah kami daripada fitnah pada saat kami hidup dan setelah kami mati dan peliharalah kami dari pada fitnah Dajjal serta selamatkan iman kami Ya Allah...”.

Adapun terkait dengan sikap sebagian ‘Ulama yang menyatakan bahwa amalan ini hanya bersumber dari ilhamnya para ‘Ulama shalih dan bukan dari hadits Nabi Muhammad Saw, hal tersebut bukanlah suatu hal yang perlu dipermasalahkan karena berita tentang turunnya bala bencana bisa saja diucapkan oleh seorang ‘Ulama shalih dari ilhamnya dan hal ini tidak bertentangan dengan syari’at Nabi Muhammad Saw, bahkan telah disepakati keberadaannya seperti disebutkan dalam al-Qur`an.

Tidak ada paksaan untuk melakukan amaliyah sunat khusus ini. Dengan kata lain, bagi yang ingin melakukannya, silakan lakukan. Dan bagi yang tidak melakukannya, juga tidak apa-apa. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah jangan memprovokasi masyarakat dengan klaim sepihak bahwa amaliyah ini hanyalah mitos belaka dan menyesatkan umat Islam. Pernyataan ini adalah salah satu sikap yang sangat tidak etis, kurang ajar dan tidak beradab terhadap para ‘Ulama shalih terlebih lagi amaliyah ini adalah kebiasaan masyarakat yang tidak diharamkan dalam syari'at.

Sepantasnya bagi kita umat Islam untuk berhati-hati dari prasangka buruk kepada Allah dengan turunnya bala bencana tersebut dan marilah kita senantiasa berprasangka baik kepada-Nya dengan meningkatkan amal ibadah dan menjauhi maksiat agar Allah Swt menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Wallahua’lam bish-shawab.

Referensi:
1. Imam al-Dairabi dalam kitabnya, Mujarrabat.
2. Imam al-Buni dalam kitabnya, al-Firdaus.
3. Imam Nawawi al-Bantani dalam kitabnya, Nihayat al-Zain.
4. Imam al-Kamil Farid al-Din dalam kitabnya, Jawahir al-Khams.
5. Imam Hamid al-Quds dalam kitabnya, Kanz al-Najah wa al-Surur.
6. Kitab Fawaid al-Ukhrawiyyah, Ta’liqah, Jami’ al-Fawaid, dan Tuhfat al-Mardhiyyah.

Sumber :lbm.mudimesra.com

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H.
29/07/2022

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H.

⚠️⚠️PERHATIKAN⚠️⚠️HUKUM MEMBACA BISMILLAH 1. Wajib, membaca bismillah diawal surat al-Fatihah dalam shalat menurut madzh...
20/07/2022

⚠️⚠️PERHATIKAN⚠️⚠️
HUKUM MEMBACA BISMILLAH

1. Wajib, membaca bismillah diawal surat al-Fatihah dalam shalat menurut madzhab Syafi'i.

2. Sunah Individu, seperti membaca bismillah saat wadhu atau mandi.

3. Sunah kifayah (yg lain melakukan sdh mencukupi), seperti makan bersama-sama atau hendak berhubungan suami-istri, maka salah satunya yg membaca bismillah sudah mencukupi. Jomblo pasti gk faham 😁.

4. Makruh, seperti membaca bismillah saat melihat kemaluan istrinya.

5. Haram, seperti hendak melakukan pencurian atau perzinaan.

6. Mubah, seperti hendak memindah suatu barang dari satu tempat ke tempat yg lain.

~ Sumber; Muqaddimah Kitab Ianatut Thalibin.

PENOLAK GALAU & KESEDIHAN Diantara yang dapat menolak perasaan bingung & sedih adalah:👉🏻 Bersihnya pakaian.👉🏻 Bersihnya ...
19/07/2022

PENOLAK GALAU & KESEDIHAN

Diantara yang dapat menolak perasaan bingung & sedih adalah:
👉🏻 Bersihnya pakaian.
👉🏻 Bersihnya tempat tinggal.
👉🏻 Memakai cincin batu aqiq.
👉🏻 Memakai sandal warna kuning.
👉🏻 Olah raga memanah.
👉🏻 Berenang di air.
👉🏻 Memandang perkebunan/ taman.
👉🏻 Memandang air yang mengalir.
👉🏻 Memandang Mushaf Al Qur'an.
👉🏻 Memandang wajah-wajah orang-orang shaleh.

Sumber: Kitab Annuroin fi islahi daroin, karya Al Imam Al Hubaisyi, 782 H.
******

Address

Bireuen
24263

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when DAYAH DARUL A'TIQ JEUNIEB posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category