22/02/2026
Dalam upaya meredam kekuatan Islam, kaum kafir melakukan segala cara, termasuk menjatuhkan marwah Nabi saw di hadapan manusia. Peran yang paling besar dalam tujuan ini dilakukan oleh para penyair jahiliyah.
Mereka menghina Nabi saw, memelesetkan nama beliau, dari Muhammad yang berarti terpuji menjadi Muzammam yang berarti terhina. Para istri Nabi saw pun tak terhindar dari celaan rendahan mereka.
Kemudian berdirilah Hassan bin Tsabit. Ia meminta izin kepada Nabi saw untuk membalas syair-syair buruk mereka demi meninggikan kalimat Allah dan memuliakan NabiNya.
Rasulullah saw berkata padanya, "Balaslah celaan mereka, dan Jibril bersamamu."
Hassan bin Tsabit menghajar para penyair itu dengan syair gubahannya yang indah, jujur, dan berkelas. Para penyair jahiliyah pun bungkam. Mereka tahu bahwa syair Hassan bin Tsabit tak akan mampu mereka lampaui. Kejahiliyahan menenggelamkan mereka dalam motivasi dan diksi yang hina.
Kemampuan berbahasa adalah salah satu senjata seorang muslim. Agar ia menjadi sosok yang mampu menjelaskan keagungan kalimat Allah pada setiap manusia.
Kemampuan berbahasa inilah yang dimiliki Hassan bin Tsabit ra, yang membuatnya mulia di sisi Nabi saw.
Dan salah satu murid sekolah Zawiyyah Darussalami telah memulai langkahnya di jalan Hassan bin Tsabit ini.
Fahri Zhafran Khairy, ia memulai langkahnya dengan menciptakan karya yang mengasah kecakapan berbahasa. Melatih kemampuan menyampaikan maksud, dipertajam dengan ilustrasi. Untuk anak di usianya, ini adalah pencapaian. Yang patut dibanggakan, Islam menjadi nafas dari karya pertamanya ini.
Berbanggalah, wahai penerus Hassan. Bukan dengan kebanggaan yang semu, tapi kebanggaan yang mampu membuatmu bersyukur kepada Tuhanmu.
Kesyukuran bahwa Dia telah menitipkanmu pada kedua orang tua bijak, yang menjauhkanmu dari keburukan zaman melalui gadget.
Orang tua yang bersedia mendampingi tumbuh kembangmu, memastikan hanya hal-hal baik yang melingkupi kehidupanmu.
Barakallahu fiika, Fahri.