23/12/2021
DEMI ANAK, MATI PUN BUKAN APA-APA BAGI IBU
**
Part I
**
Karya: X MIPA-I
**
"Pokoknya saya nggak mau tau, Ibu harus beliin saya hape baru. Ibu tau kan, kalau sekarang belajar harus serba internet?! Serba online. Hape jadul kayak gini mana bisa dipake belajar, Bu!"
Gadis tanggung yang baru menginjak usia enam belas tahun itu mengibas-kibaskan ponsel hitam sebesar kepalan tangan, lalu membuangnya ke lantai.
Ponsel itu terbanting jauh hingga pintu kayu rumah mereka, dalam kondisi sedikit retak di pinggirnya.
"Iya, iya, Ibu bakal beliin. Tapi nanti, uangnya belum cukup," sanggah perempuan paruh baya itu sambil mengelus dadanya yang terasa sakit. Alat komunikasi yang ia beli dengan susah payah tiga tahun lalu dilempar putri semata wayangnya.
"Nanti, nanti aja terus. Sudah satu bulan Ibu bilang nanti. Nantinya itu kapan?"
"Ya, nanti kalau Ibu sudah punya uang, Nak!"
"Ah, capek ngomong sama Ibu!"
Ibu parah baya itu, Sulastri namanya. Menatap nanar putrinya yang membalikan badan, keluar rumah dengan raut wajah kesal.
"Hah, kenapa sekarang sekolah harus pakai hape? Kita zaman dulu, punya buku untuk dibaca saja sudah senang. Bisa sekolah saja sudah bersyukur."
Ia menghela napas panjang, jemari kurusnya cekatan menata jualan di atas keranjang yang akan dibawanya berkeliling kampung. Menjadi orang tua tunggal memang sulit, semakin sulit setiap kali putrinya bertambah usia.
Kebutuhan anak gadisnya semakin lama semakin banyak, tapi keuntungan dari hasil jualan kue tetap tidak seberapa.
Pundaknya terasa berat, kepalanya pusing, tapi ia harus tetap keliling kampung siang ini. Kalau tidak, Laura--putrinya akan ketinggalan mata pelajaran.
Cukup dirinya saja yang tidak selesai sekolah, putrinya tidak boleh sama bodohnya dengan dirinya.
***
Siang yang begitu terik, matahari setelah hari hujan memang tidak main-main panasnya. Aspal hitam seperti bara api dengan asap mengepul.
Derit sepeda motor yang melaju kencang terdengar dekat di telinga, memecah hening saat perempuan paruh baya itu menyeberang jalan dengan keranjang kue di atas kepalanya.
Waktu sepersekian detik itu berlalu begitu cepat, Sulastri tidak sempat menghindar saat motor itu melaju tepat ke arahnya tanpa berbelok sedikit pun.
Pengendara itu tersadar saat merasakan siluit seseorang di depannya. Ia berusaha membelokkan motornya, meski tak sepenuhnya berhasil.
Sulastri terserempet motor, terpental setengah meter dari tempatnya berdiri. Keras sekali. Keranjang kuenya jatuh berhamburan. Motor dan pengendaranya jatuh terguling.
Siang yang terik, membakar darah kental yang menggenang di aspal, merembes perlahan di sekitar bungkusan kue-kue itu.
Jalanan sepi, tidak ada siapa-siapa. Pengendara motor itu bangkit pelan-pelan, bergegas menghidupkan mesin motornya setelah menoleh sebentar, menatap perempuan paruh baya itu yang tergeletak di pinggir aspal.
Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada siapa yang melihatnya menabrak perempuan itu.
*Bersambung*
***