24/06/2023
"Kurang dari sepertiga anak-anak SMA di Indonesia yang bisa menemukan kalimat inti dari sebuah paragraf". Itulah data yang disampaikan seorang guru yang dikenal dengan nama inisial Guru Gembul dalam sebuah acara seminar yang diadakan stasiun tv Berita Satu. Entah darimana ia mengambil datanya, tapi pernyataan ini perlu direnungkan bagi seluruh pakar dan praktisi pendidikan di Indonesia.
Siswa SMA/MA sudah harus diperlakukan selayaknya orang dewasa, karena mereka sudah baligh. Bukan lagi anak-anak kecil yang masih diajari perkara dasar dan ringan seperti anak-anak tingkat dasar dan menengah pertama. Orang yang sudah baligh tentu mendapatkan taklif (beban tanggungjawab) atas apa saja yang akan, sedang dan telah mereka lakukan. Konsepsi seperti ini berbeda dengan konsep remaja yang menempatkan siswa selevel SMA berada pada periode gamang dan mengambang antara anak-anak dan dewasa. Sehingga tidak keliru apabila konsepsi seperti ini bisa mengarahkan kepada pandangan jika mereka melakukan kejahatan, cukup dinasehati. Karena mereka dianggap masih remaja, dibawah umur, dan dalam fase pencarian jati diri.
Pondok Pesantren An-Nur Sungai Duri berusaha untuk memperbaiki kekeliruan teoritis dan praktis pola pendidikan selama ini. Pertama, Santri level MA/SMA sudah harus menyelesaikan ilmu-ilmu fardhu 'ain seperti adab kepada ilmu dan guru, membaca Al-Qur'an, ibadah keseharian dan pemahaman aqidah yang benar. Kedua, mereka dibekali ilmu fardhu kifayah sebagai persiapan mereka menghadapi tantangan kehidupan pada masa yang akan datang, sesuai dengan minat dan bakat mereka. Baik dalam bentuk soft ataupun hard skill.
Ketiga, adalah penanaman budaya ilmu. Salah satu indikator lembaga pendidikan yang baik menurut kami adalah apabila mampu melahirkan siswa yang selalu haus ilmu. Dirinya selalu memiliki semangat kepada apapun yang berkaitan dengan ilmu, baik dalam bentuk membaca, menulis, diskusi, hadir di majelis ilmu dan sebagainya. Diantara upaya yang dilakukan Pesantren An-Nur Sungai Duri untuk mewujudkan hal ketiga ini adalah dengan memberikan bimbingan bacaan dan kepenulisan kepada para santri. Buku yang sedang ada di hadapan anda, adalah hasil dari goresan tinta mereka selama belajar membaca dan menulis secara kritis dan analitis pada pelajaran bahasa Indonesia.
Muhammad Kholid, M.Pd
(Kepala MA Al-Ma'arif)