PannaFoto Institute

PannaFoto Institute

Share

Pendidikan Fotografi dan Visual Storytelling Berbasis Pemikiran Kritis.

The word Panna (pronounced as ‘Panya’) is derived from the Sanskrit word which means ‘Wisdom’. Simply because we believe that wisdom will lead us to have a better understanding on the hidden truth within our real life and become a guidance to balance between knowledge and expertise at photography techniques and other valuable cores as a well-being. Since its establishment, PannaFoto has been condu

Photos from PannaFoto Institute's post 07/06/2026

Karya-karya Obi merekam ruang rumah di Pugung, tempat ia tinggal, sebagai lanskap keseharian yang membentuk pengalaman dan cara pandangnya. Melalui potret Pugung yang kerap disebut sebagai “Labirin” oleh warga sekitar, Obi menghadirkan pembacaan atas ruang yang akrab sekaligus kompleks. Selain itu, ia juga mendokumentasikan momen-momen penting dari berbagai aksi yang berlangsung di Yogyakarta.

Ketertarikannya pada hal-hal yang dekat dengan dirinya turut mendorong Obi mengekspresikan perspektifnya tentang parkour, hobi yang telah lama ia tekuni, dan kini ia refleksikan sebagai praktik yang menurutnya telah bergeser dari marwah awalnya.

-

Muhammad Gorbie Triatman Turnip, akrab disapa Obi, pertama kali mencoba menggunakan kamera analog olympus pen milik ayahnya pada tahun 2011. Setelah itu ia mulai belajar membuat video parkour untuk pribadi dan juga untuk komunitas. Pada tahun 2023 Obi mendapat kesempatan untuk menjadi konten kreator di Maluku Utara selama hampir 2 tahun.

Kembali lagi ke Yogyakarta dan memutuskan untuk memperdalam ilmu fotografi dengan bergabung di Komunitas Kelas Pagi.



Photos from PannaFoto Institute's post 04/06/2026

Dalam fotografi, apa yang kamu tinggalkan di luar frame atau kamu biarkan kosong sering kali sama pentingnya dengan apa yang kamu potret.

Negative space bukan ruang kosong yang sia-sia atau tidak sengaja tersisa. Ia adalah keputusan sadar untuk menyingkirkan keriuhan visual di sekitar subjek, memberikan ruang bernapas bagi cerita, dan membimbing mata audiens ke tempat yang tepat tanpa distraksi.

Melalui kekosongan, kita bisa menyampaikan pesan dengan lebih kuat dan penuh intensi.

Bagaimana caramu memanfaatkan ruang kosong dalam fotomu? Apakah sebagai estetika semata, atau bagian dari strategi bercerita?

31/05/2026

Mari jadikan momen suci ini sebagai pengingat untuk terus melangkah dalam kebaikan, menjaga harmoni, dan menebar cinta kasih kepada semua.

Selamat Hari Raya Waisak 2026.

Foto: Hendra Eka

Photos from PannaFoto Institute's post 30/05/2026

Melalui rangkaian foto ini, Karin mengeksplorasi relasi antara individu dan kota, merekam pertemuan manusia, ruang, dan alam di sekitarnya. Ketertarikannya terhadap pada jatuhnya cahaya pada suatu objek hadir dengan kuat dalam foto-foto yang ia ambil di berbagai sudut Tokyo. Dalam kelap-kelip cahaya tersebut, Karin menemukan emosi dan mood yang personal. Fotografi, baginya, menjadi ruang untuk merawat ingatan, melakukan refleksi, dan memperlambat ritme kehidupan yang terus bergerak.

-

Berbasis di Tokyo sejak 2018, Karina Saputri memiliki latar belakang psikologi dan pengalaman dalam pemberdayaan sosial serta komunitas, yang membentuk sensitivitasnya terhadap manusia dan dinamika keseharian. Karina tertarik pada detail kecil dan momen singkat yang sering luput dipandang.
Baginya, fotografi bukan hanya cara merawat memori, melainkan juga ruang refleksi—cara untuk memahami hidup, relasi, dan perubahan melalui hal-hal sederhana di sekitarnya.



27/05/2026

Semoga hikmah Idul Adha membawa rasa syukur, kedamaian, sukacita, dan keberkahan yang melimpah bagi kita semua.

Foto: Aulia Rahman ( .aulia )

Photos from PannaFoto Institute's post 26/05/2026

Kita adalah bagian dari orang-orang yang kita temui. Saya adalah bagian dari orang-orang yang
hadir dalam hidup saya—dan orang tua adalah bagian terdekat dari itu semua. Namun, sejauh
mana saya benar-benar mengenal mereka? Bagaimana karakter mereka, cara berpikir mereka,

dan bagaimana keputusan-keputusan yang mereka ambil membentuk saya hari ini? Apa hal-
hal sederhana yang membuat mereka bahagia?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting karena, secara sadar atau tidak, pengalaman dan
pilihan hidup mereka ikut membentuk siapa saya sekarang. Angka 30 hadir sebagai momen
yang paralel: tiga puluh tahun usia pernikahan orang tua, dan tiga puluh tahun usia saya. Ia
menjadi ruang selebrasi sekaligus refleksi—ruang untuk menelusuri kembali, mengenal lebih
dalam, dan, pada akhirnya, memahami bagaimana identitas ini terbentuk.

30 tahun yang telah dijalani, 30 tahun yang akan datang.



Wayan Yana Pratama adalah


Photos from PannaFoto Institute's post 23/05/2026

“Nyusun foto itu mirip nyusun kalimat.”

Dalam MEMO ini, Reza Saifullah ( ) berbagi sudut pandang bahwa urutan foto bukan sekadar soal estetika visual, tapi soal rasa yang nyambung.

Dari proses mencari “benang merah” hingga pentingnya berdiskusi dengan orang-orang terdekat dan mentor untuk melihat apa yang luput dari mata sendiri. MEMO yang ditulis Reza mengingatkan kita bahwa fotografi adalah proses belajar yang terus berjalan.

Apakah kamu punya “teman diskusi” atau mentor saat sedang menyusun karya? Seberapa besar pengaruh sudut pandang mereka terhadap hasil akhirmu?

Photos from PannaFoto Institute's post 21/05/2026

Berasal dari stok foto yang Isma kumpulkan selama periode Imlek, rangkaian foto ini berupaya menampilkan gagasan mengenai identitas, berikut dengan praktik-praktik sosial dan kultur. Foto-foto seperti kalender tionghoa dan Indonesia menggambarkan perbedaan identitas yang ingin disampaikan oleh Isma lewat karyanya.

Bagi Isma, foto memiliki kekuatan daya untuk membangun sebuah ruang bagi minoritas yang tidak punya ruang untuk bersuara dengan vokal. Penggambaran fenomena emosi, perasaan, hingga identitas itu sendiri juga terekam pada karya-karyanya. Isma menggunakan pengalaman visual terhadap publik serta visual storytelling.

-

Ismayanti, atau Isma, saat ini bekerja sebagai Analis Media, namun memulai karirnya dari dunia jurnalisme. Pengalaman tersebut membentuk kepekaannya terhadap cara manusia memahami, menegosiasikan, dan memberi makna pada kehidupan sehari-hari, terutama melalui kisah dan kearifan masyarakat adat Indonesia. Kini, Isma menjelajahi fotografi sebagai ruang perenungan, sekaligus medium metode naratif visual untuk melanjutkan jejak tersebut dengan cara yang lebih personal dan reflektif.



Photos from PannaFoto Institute's post 19/05/2026

Setelah membongkar kerangka berpikir di Seri 1 dan mendekonstruksi kebiasaan di Seri 2, pertanyaan besarnya adalah: bagaimana kita membawa pulang semua refleksi tersebut ke dalam praktik nyata kita sehari-hari?

Di Seri 3: “Artikulasi, Reflektif, dan Spesifikasi Praktik”, fokus kita adalah proses integrasi. Sesi ini dirancang untuk membantu kita tidak sekadar “menjelaskan” apa yang kita buat, melainkan “mengartikulasikannya” secara langsung melalui proses menciptakan. Kita diajak untuk mengartikulasikan posisi dan pengalaman, menemukan spesifikasi metode, serta merumuskan praktik secara sadar.

Ini adalah muara dari rangkaian perjalanan kita bersama KUNCI Study Forum & Collective. Sebuah ruang untuk merayakan proses berpikir yang tidak pernah berhenti bergerak.

Mari hadir dan rumuskan kembali jalan berkaryamu secara lebih sadar.

Jadwal Sesi:
🗓️ Rabu, 20 Mei 2026
🕖 19:00 - 21:00 WIB
📍 Zoom Meeting

Narasumber:
Gatari Surya Kusuma, Nuraini Juliastuti, dan Rifki Akbar Pratama (KUNCI Study Forum & Collective)

Daftar sekarang melalui:
bit.ly/WebinarbersamaKunci

Photos from PannaFoto Institute's post 17/05/2026

Grief is a never-ending reunion

Proyek ini bermula sebagai sebuah “hutang batin” kepada papa, yang diam-diam selalu ingin aku menjadi seorang penulis sama seperti dia. Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya memberanikan diri untuk melunasi hutang tersebut melalui keterampilan yang telah aku asah sebagai desainer grafis dan fotografer.

Dengan menggunakan genre elevated horror, aku menciptakan homage ini untuk papa, seorang mantan penulis kreatif yang dulu menggarap naskah film horor. Terinspirasi oleh film-film horor era 80-an dan 90-an, proyek ini menjadi refleksi bagi kita untuk melihat ke dalam diri sendiri; bertemu dengan “setan” dan masalah-masalah yang belum terselesaikan yang seringkali kita sisihkan.

Saat kita kehilangan orang yang kita cintai namun tidak mampu berduka dengan cukup dalam untuk melepaskannya, kita cenderung hanyut menjauh dari rasa sakit itu—mengambang di sekitarnya, berputar-putar, dan menghindarinya sama sekali.

Proyek ini mendewasakan aku sebagai seorang seniman dengan cara mempertanyakan hal-hal sulit pada diriku sendiri. Membangun kembali koneksi yang telah lama hilang, sembari memupuk hubungan yang masih ada dengan penuh cinta dan kesabaran.

Melalui berbagai teknik yang lazim digunakan dalam film horor, karya ini merefleksikan metode kerjaku sebagai homage terhadap film-film terbaik yang memengaruhi aku saat kecil dan membentuk pertumbuhanku sebagai seorang kreatif.

Banyak cinta, darah (hampir semuanya palsu), air mata, dan keringat telah dicurahkan untuk membuat proyek ini sebagus sesuai kemampuanku.
Aku berharap karya-karya ini dapat mendorongmu untuk mulai mendekati kembali perasaan-perasaan yang mungkin selama ini kalian hindari.



Fauzul Lail Akbar adalah adalah seorang kreator multidisiplin yang berbasis di Indonesia, dengan praktik yang mencakup desain grafis, fotografi, seni visual, dan karya editorial. Dengan semangat yang mendalam terhadap kreativitas dan inovasi, ia mengeksplorasi bahasa visual kontemporer melalui branding, konseptualisasi, dan penceritaan.


Want your school to be the top-listed School/college in Bekasi?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Taman Villa Baru A26
Bekasi
17148

Opening Hours

Tuesday 11:00 - 19:00
Wednesday 11:00 - 20:00
Thursday 11:00 - 20:00
Saturday 11:00 - 20:00
Sunday 11:00 - 20:15