Biografi Majelis Rasulullah
Nama “Majelis Rasulullah.” dalam aktifitas dakwah ini berawal ketika Hb Munzir Almusawa lulus dari Study-nya di Darulmustafa pimpinan Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh Tarim Hadramaut, Yaman. Beliau kembali ke Jakarta dan memulai berdakwah pada tahun 1998 dengan mengajak orang bertobat dan mencintai nabi saw yang dengan itu ummat ini akan p**a mencintai sunnahnya, dan menjadikan Rasul saw sebagai Idola.
habib Munzir mulai berdakwah siang dan malam dari rumah kerumah di Jakarta, ia tidur dimana saja dirumah-rumah masyarakat, bahkan pernah ia tertidur di teras rumah orang karena penghuni rumah sudah tidur dan ia tak mau membangunkan mereka di larut malam. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan, Hb Munzir memulai membuka Majelis setiap malam selasa *(mengikuti jejak gurunya Al Habib Umar bin Hafidz yang membuka Majelis minggu-an setiap malam selasa), dan ia pun memimpin Ma’had Assa’adah, yang di wakafkan oleh Al Habib Umar bin Hud Alattas di Cipayung, setelah setahun, munzir tidak lagi meneruskan memimpin ma’had tersebut dan melanjutkan dakwahnya dengan menggalang majelis-majelis di seputar Jakarta.
Hb Munzir membuka majelis malam selasa dari rumah kerumah, mengajarkan Fiqh dasar, namun tampak ummat kurang bersemangat menerima bimbingannya, dan Hb munzir terus mencari sebab agar masyarakat ini asyik kepada kedamaian, meninggalkan kemungkaran dan mencintai sunnah sang Nabi saw, maka Hb Munzir merubah penyampaiannya, ia tidak lagi membahas permasalahan Fiqih dan kerumitannya, melainkan mewarnai bimbingannya dengan nasehat-nasehat mulia dari Hadits-hadits Rasul saw dan ayat Alqur’an dengan Amr Ma’ruf Nahi Munkar, dan lalu beliau memperlengkap penyampaiannya dengan bahasa Sastra yang dipadu dengan kelembutan ilahi dan tafakkur penciptaan alam semesta, yang kesemuanya di arahkan agar masyarakat menjadikan Rasul saw sebagai idola, maka pengunjung semakin padat hingga ia memindahkan Majelis dari Musholla ke musholla, lalu Musholla pun tak ma
Keluarga Besar Majelis Rasulullah Bantargebang
kelompok kecil yang rindu akan bertemu dengan Nabi MUHAMMAD SAW...
19/11/2018
Sedikit demo tentang tulisan Arab yang dilatinkan dari mt.syahida Bekasi
Anshuru أ : A
Bâroka ب : B
Taj'alu ت : T
Tsanawiyyah ث : Ts
Jaroba ج : J
Chirfah, Achmad ح : Ch
Khoroja خ : Kh
Dalla د : D
Dzikir ذ : Dz
Roja'a ر : R
Ziaroh ز : Z
Sayyaroh س : S
Syahida ش : Sy
Shoghir ص : Sh
Romadlon ض : Dl
Tholaba ط : Th
Dhuhur ظ : Dh
'Ashar ع : 'A
Ghoroba, Maghrib غ : Gh
Fajar, Faroja ف : F
Qoro,a ق : Q
Kalama ك : K
Labba ل : L
Miftahun م : M
Nashoro ن : N
Wahaba و : W
Hadiyah ه : H
Bari,a ء : A
Yasssaro ي : Y
Jadi kalau رمضان ditulis latin Ramadhan itu tdk tepat yg tepat adalah Ramadlon atau Romadlon
Kalu Ramadhan ketika di Arabkan menjadi رمظان dan itu sudah keluar dari maksud dan tujuan
Begitupun dengan tulisa Al-Qur'an itu kalau diArabkan menjadi القرعان yg benar adalah Al-Qur,an pakai koma tanpa spasi menunjukkan Hamzah dan masih banyak lagi contoh2 yg lain yang dianggap benar oleh orang banyak tp tdk tepat..,
Silahkan di share
Sebanyak-banyaknya biar tidak merubah arti sesungguhnya
والله أعلم
I.1.2. Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
ﻥﺁْﺮﹹﻘْﺍ َ ُﻪُﻌَﻤْﺟﹶﺃ
ﺎَﻤﹹﻬﹿﻨَﻋ
َ ﻪَﻟﺍ
َ ﻲِﺿَﺭ
ﻱِﺬِﻟ ﺡَﺮﹷﺷ َ ﻪَ ُ َﺭْﺪَﺻ
ﻰﳲﺘَﺣ
ﺮﹿﻜَﺑ ٍ ﻲِﻨُﻌﹻﺟﺍَﺮُﻳ
َﺡَﺭَ
ﺮْﻴﹷﺧ ٌ ﻢَﹷﻓ ْ ْﻝَﺰَﻳ
َ ﻲََﻋ َّ ﺎﻤِﻣ ﺃَ ﻪْﻴََﻋ ِ َﻢَﺳَﻭ
ﻪﹻﺑ ِ ﻦِﻣ ْ ﻊْﻤَﺟ ِ ﺎَﻣ َﻥﺎﹷﻛ
ﻪَﻟﺍ
ﻰَﺻ
ُ ﻪَﻟﺍ
ْﻢَ
َ ﻥﻮَُﻌﹿﻔﹷﺗ َ ﺎﹱﺌْﻴﹷﺷ
ﻞﹿﻘﹷﻧ َ ﻞَﺒَﺟ ٍ ﻦِﻣ ْ ﻝﺎَﺒﹻﺠْﺍ ِ ِﻥﺁْﺮﹹﻘْﺍ
ﻮَ ْ ﻲِﻧﻮﹹﻔﹷﻛ
َ ﻊﺒﹷﺘﹷﺘﹷﻓ ْ َﻥﺁْﺮﹹﻘْﺍ
ﻪَﻟﺍ
ﻰَﺻ
ِ ﻪَﻟﺍ
َ ﺪﹷﻗَﻭ ْ ﺖﹿﻨﹹﻛ َ ُﺐﹹﺘﹿﻜﹷﺗ
َ ﻞُﺟَﺭ ٌ ﺏﺎﹷﺷ ٌّ ٌﻞِﻗﺎَﻋ
ﺮَﻤُﻋ ُ ﻝﺎﹷﻗ َ ﺪْﻳَﺯ ٌ َﻝﺎﹷﻗ
َ ﺖْﻳﹶﺃَﺭَﻭ ُ ﻲِﻓ َﻚِﻟﹶﺫ
ﻰﳲﺘَﺣ ﺡَﺮﹷﺷ َ ﻪَﻟﺍ
ﺮْﻴﹷﺧ ٌ ﻢَﹷﻓ ْ ْﻝَﺰَﻳ
ﻪْﻴََﻋ ِ ﻢَﺳَﻭ َ َﻝﺎﹷﻗ
ﻢَ ْ ﻪَْﻌﹿﻔَﻳ ُ ُﻝﻮُﺳَﺭ
ُ ﺮَﻤُﻌِﻟ َ َﻒْﻴﹷﻛ
ﻥﹶﺃ ْ ﺮُﻣﹾﺄﹷﺗ َ ﹺﻊْﻤَﺠﹻﺑ
ٌ ﻦِﻣ ْ ِﻥﺁْﺮﹹﻘْﺍ
ِ ِﻦِﻃﺍَﻮَﻤْﺎﹻﺑ
ﻰﹷﺸﹿﺧﹶﺃ ﻥﹶﺃ ْ ﺮِﺤﹷﺘْﺴَﻳ
َّ ﻡْﻮَﻳ َ ﺔَﻣﺎَﻤَﻴْﺍ ِ ِءﺍﺮﹹﻘﹻﺑ
َ ﻥِﺇ َّ ﻞﹿﺘﹷﻘْﺍ َ ْﺪﹷﻗ
ﻪﹿﻨَﻋ ُ ﻥِﺇ َّ َﺮَﻤُﻋ
ِ ﻩَﺪﹿﻨِﻋ ُ ﻝﺎﹷﻗ َ ﻮُﺑﹶﺃ
ُﺮَﻤُﻋ
ِ ﺍﹶﺫِﺈﹷﻓ
ِ ﺔَﻣﺎَﻤَﻴْﺍ
ٍﺮﹿﻜَﺑ
ﻪﹿﻨَﻋ ُ ﻝﺎﹷﻗ َ ﻞَﺳْﺭﹶﺃ َ ﻲَِﺇ َّ ﻮُﺑﹶﺃ
ﻥﹶﺃ َّ ﺪْﻳَﺯ َ ﻦْﺑ َ ﺖﹻﺑﺎﹷﺛ ٍ ﻲِﺿَﺭ َ ﻪَﻟﺍ ُ
“Bahwa Sungguh Zeyd bin Tsabit ra berkata : Abubakar ra mengutusku ketika terjadi pembunuhan besar - besaran atas para sahabat (Ahlul Yamaamah), dan bersamanya Umar bin Khattab ra, berkata Abubakar : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : “Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa “Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung - gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga ia pun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits No.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar Asshiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya Alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah - pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll. Ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.
Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah Hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan. Diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan.., maka beri wasiatlah kami..” maka Rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak Afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf (perbedaan pendapat), maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat – kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati - hatilah dengan hal - hal yang baru, sungguh semua yang Bid’ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits No.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar Asshiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu p**a selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat Radhiyallahu’anhum.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar Asshiddiq ra di masa kekhalifahannya memerintahkan pengump**an Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra p**a dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik - baik Bid’ah!” (Shahih Bukhari hadits No.1906) lalu p**a selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama “Mushaf Utsmaniy”, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu dan seluruh sahabat Radhiyallahu’anhum.
Demikian p**a hal yang dibuat - buat tanpa perintah Rasul saw adalah 2X adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan di masa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, tidak p**a di masa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan di masa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bukhari hadits No.873). Seluruh madzhab mengikutinya.
Lalu siapakah yang salah dan tertuduh? Siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?
Adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
TAMBAHAN DALAM HAL BID’AH HASANAH
Mengenai ucapan Al Hafidh Al Imam Assyaukaniy, beliau tidak melarang hal yang baru,namun harus ada sandaran dalil secara logika atau naqli-nya, maka bila orang yang bicarahal baru itu punya sandaran logika atau sandaran naqli-nya, maka terimalah, sebagaimana ucapan beliau :
ﺍﺮﺠﺣ ﺖﺣﺮﺘﺳﺍﻭ
ﻪﺑ ﻪﺘﻠﺒﻗ ﻥﺇﻭ ﻉﺎﻛ
ﺔﻋﺪﺑ
ﺎﻬﻧﺃ
ﻰﻠﻋ
ﻕﺎﻔﺗﻻﺍ
ﻊﻗﻭ ﻉﺍﺰﻨﻟﺍ ﻲﻓ
ﻞﻴﻟﺪﻟ ﺺﻴﺼﺨﺗ
ﻢﻠﺳﻭ ﻞﻛ ﺔﻋﺪﺑ
ﻰﻠﺻ
ﻪﻟﻮﻗ
ﻦﻣ ﻮﺤﻧ
ﺍﺪﻨﺴﻣ ﻪﻟ ﻩﺬﻬﺑ ﺔﻴﻠﻜﻟﺍ
ﺔﻨﺴﺣ ﻡﺎﻴﻘﻟﺎﺑ ﻲﻓ
ﺖﻌﻤﺳ ﻦﻣ ﻝﻮﻘﻳ
ﻻﻭ ﻞﻘﻧ
ﻦﻣ ﻞﻘﻋ
ﺎﻬﻀﻌﺒﺑﺩﺮﻟﺍ ﻼﺑ
ﻰﻟﺇ ﻡﺎﺴﻗﺃ
ﻝﺎﻄﺑﺇ ﺎﻣ ﻪﻠﻌﻓ ءﺎﻬﻘﻔﻟﺍ
ﺮﺼﺤﻟﺍ ﺎﻣﻭ ﻪﺣﺮﺼﻣ
ﺎﻣ
ﻦﻣ ﻡﺎﻜﺣﻷﺍ
ﻦﻣ ﺪﻋﺍﻮﻗ ﻦﻳﺪﻟﺍ
“Hadits – hadits ini merupakan kaidah -kaidah dasar agama karena mencakup hukum - hukum yang tak terbatas, betapa jelas dan terangnya dalil ini dalam menjatuhkan perbuatan para fuqaha dalam pembagian Bid’ah kepada berbagai bagian dan mengkhususkan penolakan pada sebagiannya (penolakan terhadap Bid’ah yang baik) dengan tanpa mengkhususkan (menunjukkan) hujjah dari dalil akal ataupun dalil tulisan (Alqur’an / hadits), Maka bila kau dengar orang berkata : “ini adalah bid’ah hasanah”, dengan kau pada posisi ingin melarangnya, dengan bertopang pada dalil bahwa keseluruhan Bid’ah adalah sesat dan yang semacamnya sebagaimana sabda Nabi saw “semua Bid’ah adalah sesat” dan (kau) meminta alasan pengkhususan (secara aqli dan naqli) mengenai hal Bid’ah yang menjadi pertentangan dalam penentuannya (apakah itu bid’ah yang baik atau bid’ah yang sesat) setelah ada kesepakatan bahwa hal itu Bid’ah (hal baru), maka bila ia membawa dalilnya (tentang Bid’ah hasanah) yang dikenalkannya maka terimalah, bila ia tak bisa membawakan dalilnya (secara logika atau ayat dan hadits) maka sungguh kau telah menaruh batu dimulutnya dan kau selesai dari perdebatan” (Naylul Awthaar Juz 2 hal 69-70).
Jelaslah bahwa ucapan Imam Assyaukaniy menerima Bid’ah hasanah yang disertai dalil Aqli (Aqliy = logika) atau Naqli (Naqli = dalil Alqur’an atau hadits). Bila orang yang mengucapkan pada sesuatu itu Bid’ah hasanah namun ia TIDAK bisa mengemukakan alasan secara logika (bahwa itu baik dan tidak melanggar syariah), atau tak ada sandaran naqli-nya (sandaran dalil hadits atau ayat yang bisa jadi penguat) maka pernyataan tertolak. Bila ia mampu mengemukakan dalil logikanya, atau dalil Naqli-nya maka terimalah. Jelas - jelas beliau mengakui Bid’ah hasanah.
Berkata Imam Ibn Rajab :
ﻰﻠﺻ ﷲ ﻪﻴﻠﻋ
ﺩﻮﺟﻮﻣ ﻲﻓ ﻦﻨﺴﻟﺍ
ﻢﻠﺳﻭ
ﷲ ﻪﻴﻠﻋ
ﻪﻨﻋ ﻲﻧﺎﺜﻟﺍﻭ ﺎﻣ ﻮﻫ
ﻻﺇ ﺕﺮﻣﺃ ﻪﺑ ﻻﻭ
ﻦﺴﺤﻟﺍ ﻢﻟ ﻙﺮﺘﺗ
ﻦﻋ ءﺎﺸﺤﻔﻟﺍ ﺮﻜﻨﻤﻟﺍﻭ
ﻰﺑﺮﻘﻟﺍ
ﻱﺫ
ﷲ ﺮﻣﺄﻳ ﻝﺪﻌﻟﺎﺑ
ﺎﻣ ﻮﻫ ﻲﻓ ﻥﺍﺮﻘﻟﺍ ﻪﻟﻮﻘﻛ
ﻢﻠﺳﻭ ﻥﺎﻋﻮﻧ ،
ﺎﻬﺑ ﻲﺒﻨﻟﺍ
ﺺﺧ
ﻲﺘﻟﺍ
“Seluruh kalimat yang dikhususkan pada Nabi saw ada 2 macam, yang pertama adalah Alqur’an sebagaimana firman-Nya swt : “Sungguh Allah telah memerintahkan kalian berbuat adil dan kebaikan, dan menyambung hubungan dengan kaum kerabat, dan melarang kepada keburukan dan kemungkaran dan kejahatan” berkata Alhasan bahwa ayat ini tidak menyisakan satu kebaikan pun kecuali sudah diperintahkan melakukannya, dan tiada suatu keburukan pun kecuali sudah dilarang melakukannya. Maka yang kedua adalah hadits beliau saw yang tersebar dalam semua riwayat yang teriwayatkan dari beliau saw. (Jaamiul uluum walhikam Imam Ibn Rajab juz 2 hal 4), dan kalimat ini dijelaskan dan dicantumkan p**a pada Tuhfatul ahwadziy).
Jelas sudah segala hal yang baik apakah sudah ada dimasa Rasul saw ataupun belum, sudah diperintahkan dan dibolehkan oleh Allah swt, apakah itu berupa penjilidan Alqur’an, ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu mustalahul hadits, maulid, Alqur’an digital, dlsb. Dan semua hal buruk walau belum ada dimasa Nabi saw sudah dilarang Allah swt, seperti narkotika, g***a, dlsb.
03/03/2014
BAB I - DEFINISI BID’AH, HADITS DHO’IF DAN SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN
I.1. DEFINISI BID’AH
I.1.1. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw :
ﻥﹶﺃ ْ ﺺﹹﻘﹿﻨَﻳ َ ﻦِﻣ ْ ﻢِﻫِﺭﺍَﺯْﻭﹶﺃ ْ ٌءْﻲﹷﺷ ﻦَﻣ ْ ﻞِﻤَﻋ َ ﺎﹷﻬﹻﺑ ﻦِﻣ ْ ﻩِﺪْﻌَﺑ ِ ﻦِﻣ ْ ِﺮْﻴﹷﻏ ﺔﹷﺌﻴَﺳ ً ﻥﺎﹷﻛ َ ﻪْﻴََﻋ ِ ﺎﹷﻫُﺭْﺯِﻭ ُﺭْﺯِﻭَﻭ ﻦَﻣَﻭ ْ ﻦَﺳ َّ ﻲِﻓ ﻡَْﺳِْﺍ ِ ﹰﺔﳲﻨُﺳ ﺺﹹﻘﹿﻨَﻳ َ ﻦِﻣ ْ ﻢِﻫِﺭﻮُﺟﹸﺃ ْ ٌءْﻲﹷﺷ ﻞِﻤَﻋ َ ﺎﹷﻬﹻﺑ ﻩَﺪْﻌَﺑ ُ ﻦِﻣ ْ ﺮْﻴﹷﻏ ِ ْﻥﹶﺃ ﺔﹷﻨَﺴَﺣ ً ﻪَﹷﻓ ُ ﺎﹷﻫُﺮْﺟﹶﺃ ﺮْﺟﹶﺃَﻭ ُ ْﻦَﻣ ﻦَﻣ ْ ﻦَﺳ َّ ﻲِﻓ ﻡَْﺳِْﺍ ِ ﹰﺔﳲﻨُﺳ
“Barangsiapa membuat - buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits No.1017. Demikian p**a diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas Islam, maka perbuatlah. Alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal - hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan. Demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman.
Dan inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM.. (dst)” “hari ini Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, Ku-sempurnakan p**a kenikmatan bagi kalian, dan Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian”. (QS. Al-Maidah : 3). Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan Rasul-Nya, alangkah sempurnanya Islam.
Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat – ayat lain turun, masalah hutang dll. Berkata Para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini, maka Musyrikin tidak lagi masuk Masjidil Haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh - boleh saja.
Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa - apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya. Inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yang membuat – buat hal baru yang berupa keburukan...(dst)”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.
Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada di zaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah p**a mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah Dhalalah).
Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas – jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
Sumber : kenali aqidahmu 2
Keluarga Besar Majelis Rasulullah SAW Bekasi
Keluarga Besar Majelis Rasulullah Saw Bekasi Cab.Rawa Lele - Jatimakmur
Majelis ikatan pemuda pemudi istiqomah ( ippi )
Ketahuilah bahwa cinta Allah , Allah titipkan kepada Sesosok Manusia yang bernama Sayyidina Muhammad Saw
"Habib Munzir bin Fuad Al-musawa"
Walaupun di Dunia tidak berjumpa dengan Rasulullah Saw, barangkali orang yang sangat rindu kepada Rasulullah sebelum ia ditanya oleh Malaikat, maka Rasulullah SAW akan berkata "dia ummatku, dia ummatku, dia ummatku", karena apa? karena Rasulullah telah merindukannya, Rasulullah SAW telah bersabda riwayat Sahih Muslim bahwa beliau SAW rindu dengan saduara-saudara beliau, yaitu mereka yang hidup setelah beliau wafat, tetapi mereka sangat ingin berjumpa dengan beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam, dan mencintai beliau lebih dari harta dan keluarganya
"Alhabib Munzir Bin Fuad Almusawa"
"Tiadalah yang lebih ditakuti Syaiton , para Jin, dan Iblis melebihi hati yang berdzikir. Ketika hati sedang ingat Allah , itulah yang paling ditakuti oleh Syaithon"
(Al-Habib Munzir Bin Fuad Al-Musawa)
Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Semakin tinggi kepahaman seseorang tentang Allah SWT , maka semakin tinggi derajatnya, semakin mulia sujudnya semakin mulia satu huruf yang keluar dari lidahnya didalam berdzikir, semakin termuliakan shalatnya , semakin termuliakan ibadahnya."
Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Satu hembusan nafasmu , ialah selangkah menuju ajal"
Al'Arifbillah Alallamah Almusnid Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz berkata. "Sesungguhnya hati yg tidak merasakan rintihan kerinduan utk bertemu dgn Sayyiduna Muhammad SAW dan jg tdk tergerak utk bersholawat dan bersalam kpd Arrasul SAW itulah Hati yg terputus dgn hakikat Keimanan dgn Sang Nabiy SAW dan jg terputus dgn Allah 'Azza wa Jalla pemilik Sayyiduna Muhammad SAW
Meredam Murka Allah Dengan Sedekah SIRR
Hendaklah anda bersedekah secara rahasia, karena ada sebuah riwayat yg mengatakan, bahwa pahalanya melebihi pahala sedekah secara terang²an sebanyak 70 kali lipat.
Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, "Sedekah secara sembunyi² (rahasia) memadamkan kemurkaan Tuhan" (HR. Ath-Thabrani)
Adakah perkara lain yg lebih besar dari kemurkaan اَللّهُ سبحانه وتعالى ???
Kemurkaan Allah itu dapat dipadamkan oleh Sedekah Rahasia (Sirr), karena Sedekah Rahasia dipandang sangat besar nilainya di sisi اَللّهُ سبحانه وتعالى...
مـاشــاءاللـــــه لاقـــــوةالابااللــــــــه
("An-Nashaaih Ad-Diniyah Wal-Washaaya Al-Imaaniyah", Sayyidinal Imam Al-'Allamah Al-Quthb, Sayyid Abdullah bin Alwy Al-Haddad رضي الله عنـه)
Ada beberapa riwayat yg menyebutkan bahwa ; Pada Bulan Safar ini diturunkannya Bala', Azab, Penyakit² dan Musibah oleh اَللّهُ سبحانه وتعالى di muka Bumi ini..
Maka, Redamlah Murka اَللّهُ سبحانه وتعالى dan tolaklah itu semua (Bala', Adzab, Penyakit², Musibah) dengan banyak² mengeluarkan Infaq maupun Sedekah di Bulan Safar ini..
~ Bagi yg Ingin Berinfaq Untuk Mendapat Pahala serta Kemuliaan Dakwah dan Perjuangan ~
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Website
Address
Bantargebang
Bekasi
17151