11/12/2019
Sekedar sharing cerita dan pengalaman.
Ipang Wahid
Repost by t.me/katalogue
Dulu, saat saya pertama belajar desain di IKJ tahun 1987, saat akan buat lay out, kami mesti ke tempat phototype setting. Pesan huruf manual, font dan size mesti presisi, tunggu 2 jam lalu lay out manually nempel di bromide hitam putih. Kalau copy, kerning, spacing, fontsize salah, mesti ulang lagi. Begitulh susahnya.
Nah, uniknya saat anak saya kuliah desain grafis di La Salle Singapura tahun 2014 lalu, mereka sudah tidak lagi pusing mengajarkan ttg TEKNIS mendesain, krn sudah dianggap BUKAN CORE mereka lagi.
Mereka fokus kepada DESIGN THINKING.
Karena mereka tahu bahwa teknis akan bisa digantikan komputer.
Tapi desain thinking tidak bisa.
t.me/katalogue
Inilah resiko dari DESRUPTION.
Zaman akan berubah cepat.
Kemampuan teknis akan tergantikan komputer.
Lihat saja betap mudahnya kita buat desain dengan app CANVA di hape.
Tapi yang tidak bisa tergantikan adalah kemampuan kreatifnya. Taste nya.
Kemampuan strategiknya.
Itulah kesempatan terbesar yang akan menentukan seberapa besar para desainer bisa survive kedepannya.
Salam
Ipang Wahid
Join sekarang.. klik aja t.me/katalogue