04/02/2018
Tidak Ada Anak yang Bodoh
Siapa yang tidak senang kalau keponakan atau anak kita memiliki kecerdasan diatas rata-rata, tentunya sangat bangga. Tapi apa jadinya kalau justru yang terjadi adalah sebaliknya?
Pada umumnya kita sebagai orang yang lebih dewasa akan 'menghukum'nya baik melalui pembully-an atau lebih parahnya menghukum secara fisik. Astagfirullah perilaku ini jangan sampai terjadi kepada kita dan keluarga kita ya. Ini saya ada tulisan yang menurut saya sangat inspiratif, membuka hati dan fikiran kita. Memahami apa dan bagaimana mengenal kecerdasan seorang anak dengan lebih baik.
Ayah bunda sudah tahu d**g banyak orang terkenal yang putus sekolah, atau
selama masa pendidikannya selalu mendapatkan nilai jelek, drop out, tapi dalam kehidupan nyata mereka justru malah sukses.
Albert Einstein, awalnya dikenal lamban dalam menyerap pelajaran disekolahnya, Thomas Alva Edison pernah di anggap bodoh karena selalu mempertanyakan jawaban gurunya. Ia pun di keluarkan dari sekolah tapi sukses juga terkenal sebagai penemu, contoh terakhir adalah Aristotles Onassis, selama disekolah dia selalu mendapatkan nilai yang buruk sampai-sampai guru kelasnya menyerah karena tidak bisa menaikkan nilai-nilainya. Namun Aristotles Onassis adalah seorang yang pantang menyerah, dia memiliki bakat dasar berdagang dan semangat yang luar biasa hingga akhirnya menjadi seorang milyuner, dan berhasil menikahi Jaqueline, janda mendiang Presiden Kennedy yang terkenal sangat cantik. Nah mereka adalah contoh bahwa mereka cerdas dengan caranya masing masing.
Makna Kecerdasan
Di sekolah, mindset kita adalah kalau anak sekolah jurus IPA dianggap lebih pintar dan favorite dibanding anak IPS. Apakah kenyataanya selalu demikian? Lalu dimana keadilan? Mari kita lanjutkan membacanya.
Ada sebuah cerita menarik. Saya saksikan sendiri
seorang Psikolog tengah mengajar dikelas saya. Psikolog itu berdiri didepan kelas, bercerita singkat dan menanyakan pendapat mereka, masing-masing murid diberikan kesempatan untuk menjawab dengan gayanya masing-masing.
Cerita tersebut adalah: "Di papan tulis, saya menggambar sebuah pohon kelapa di tepi pantai, lalu ada sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya". Kemudian, ada 4 anak yg mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Apa jawaban mereka?
Jawaban Murid 1
Murid ke 1 menjawab dengan cekatan, dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, dan dengan rumus matematikanya anak ini menjelaskan hasil perhitungan ketinggian pohon kelapa, dan energi potensial yang dihasilkan dari kelapa yang jatuh lengkap dengan persamaan matematika dan fisika.
Lalu psikolog tanya kepada siswa saya
"Apakah anak ini cerdas?"
Dijawab serentak sekelas ... "Iya, dia anak yang cerdas."
Jawaban murid ke 2
Murid ke 2 menjawab,
"Saya akan langsung memungut kelapa itu dan segera menjualnya kepasar,
lalu menawarkan ke pedagang dan dia bersorak.. yesss ... laku Rp 5.000!"
Kembali psikolog tersebut bertanya ke anak-anak dikelas ... "Apakah anak ini cerdas?"
Anak-anak menjawab iyaa ... "Dia anak yg cerdas." Lalu si psikolog melanjutkan pertanyaannya kembali.
Jawaban Murid ke 3
Murid ke 3 menjawab,
"Saya akan tanyakan kepada setiap rumah menanyakan siapa pemilik buah kelapa ini.
Akan saya serahkan ke pemiliknya."
"Apakah anak ini cerdas?"
Anak-anak dengan mantap menjawab ... "Iya ... dia anak yang cerdas, bu"
Jawaban murid ke 4
Murid ke 4 menjawab,
"Saya akan segera mengambil kelapanya, kemudian saya melihat seorang kakek yang tengah kepanasan dan berteduh dipinggir jalan. Lalu saya akan berikannya agar air kelapanya bisa diminum dan daging kelapanya bisa dimakan oleh si kakek"
"Apakah anak ini, anak yg cerdas?"
Anak-anak menjawab,
"Iya ... dia anak yang cerdas."
Kesimpulan
Anak-anak menyakini bahwa semua cerita diatas menunjukan mereka anak yang cerdas. Mereka jujur mengakui bahwa setiap anak memiliki *"Kecerdas-unikkan-nya".* Dan mereka ingin dihargai *"Kecerdas-unikkan-nya"* tersebut.
Namun yang sering terjadi di dunia kita,
dunia para orang tua dan pendidik, menilai kecerdasan anak hanya dari satu sisi, yakni ?
*"Kecerdasan Anak Pertama, adalah Kecerdasan Akademik"*
Lebih parahnya, kecerdasan yang dianggap oleh negara adalah kecerdasan anak pertama yang diukur dari nilai saat mengerjakan Ujian Negara.
Sedangkan. "Kecerdasan Finansial"* (anak no 2), *"Kecerdasan Karakter"* (anak no 3) dan *"Kecerdasan Sosial"* (anak no 4). Belum ada ruang yg diberikan oleh Negara untuk mengakui kecerdasan mereka.
Mari hargai kecerdasan anak kita masing-masing, dan siapkan mereka dengan *4 kecerdasan*
*( Akademik, Finansial, Karakter, dan Sosial )* sebagai pedoman dimana kelak mereka akan mengarungi lautan hidup agar lebih baik dari kita. Aamiin.
ALLAH itu Maha Adil setiap orang dilahirkan dengan kecerdasan dan keunikan masing masing.
Tulisan ini di adaptasi dari *KOMPPAK* *Komunitas Pecinta Pendidikan, Anak, dan Keluarga* dan kaskis. Pic. By google.