25/12/2017
:: Katanya Hujan Membawa Berkah? Kok Malah Banjir? ::
“Ayah, kenapa orang-orang di berita itu ninggalin rumahnya? Katanya namanya mengungsi ya, Yah?” tanya Alif saat menonton televisi bersama ayahnya.
“Iya Lif, rumahnya kebanjiran, jadinya nggak bisa tinggal di rumah sampai banjirnya reda. Kita bersyukur hujan besar begini, rumah kita nggak kebanjiran,” jawab ayahnya.
“Yah, hujan itu kan membawa berkah, kok hujan malah bikin banjir sih, Yah?”
“Iya Lif, Allah menurunkan hujan bersama keberkahan untuk kita. Saat akhirnya menjadi musibah, Allah sedang mengingatkan kita agar kita semakin dekat dengan Allah.”
“Semakin dekat ya Yah? Berarti kita harus banyak-banyak berdoa ya supaya nggak banjir lagi?”
“Benar Lif. Berdoa membuat kita lebih dekat kepada Allah. Tapi bukan cuma itu aja, Allah sudah memberikan sunatullah, aturan alam. Sunatullah ini yang harus kita pelajari. Banjir itu ada penyebabnya, kira-kira apa saja Lif?”
“Oh iya, Alif pernah belajar di sekolah. Banjir itu karena kita sering buang sampah sembarangan, karena pohon-pohon banyak yang ditebang.”
“Iya itu beberapa penyebabnya Lif. Dengan mempelajari Sunatullah ini, kita jadi lebih dekat sama Allah. Allah menyuruh kita memikirkan yang terjadi di alam ini. Semakin kita mempelajarinya, kita akan semakin mengenal yang menciptakan semuanya. Siapa yang menciptakan semua ini, Lif?”
“Allah, Yah.”
“Iya, nah Allah juga meminta kita untuk jadi pemakmur bumi. Kita perlu berusaha supaya mencegah terjadinya musibah, seperti banjir ini. Kira-kira, apa saja ya yang bisa kita lakukan buat mencegah banjir?”
“Hmmm, buang sampah tidak sembarangan, menanam pohon. Apa lagi ya, Yah?”
“Iya, betul. Yuk kita cari tahu apa saja yang bisa kita lakukan buat mencegah banjir. Kita cari bukunya yuk di toko buku.”
“Asyik! Kita beli buku lagi, Yah?”
“Iya, kita pelajari ya gimana cara mencegah banjir. Tapi sebelum itu, kita berdoa yuk supaya banjir di sana segera reda.”
“Siap, Yah.”
Ayah pun mengajarkan doa mengatasi banjir kepada Alif.
Ayah Bunda,
Apapun musibah yang terjadi semuanya berasal dari Allah SWT. Adapun sebab turunnya bisa bervariasi dan sangat tergantung bagaimana melihatnya. Bagi orang yang beriman tentu semua musibah bukan semata-mata peristiwa alam, akan tetapi sebuah peringatan agar kita semakin dekat dengan Allah SWT, dengan berusaha melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi yang dilarang-Nya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid [57] ayat 22 dan 23:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak p**a) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Hujan merupakan rahmat dari Allah. Hujan datang membawa keberkahan untuk kita semua. Dalam surat Al-A’raf ayat 57, Allah berfirman yang artinya,
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
Saat hujan justru menjadi musibah, kita bisa menjadikan ini momen untuk mengajarkan anak kita tentang hal-hal yang menjadi penyebabnya dan juga cara mengatasinya. Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Fenomena alam bisa menjadi momen untuk mengajaknya belajar lebih banyak.
Ada berbagai solusi mencegah banjir. Sebagai orang yang beriman, kita perlu juga perlu banyak berdoa untuk mengatasi banjir ini, tentunya dibarengi melakukan ikhtiar lainnya. Rasulullah mengajarkan doa untuk mengatasi banjir.
Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, bahwa pernah terjadi musim kering selama setahun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. sampai akhirnya datang suatu hari jumat, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat jumatan. Anas mengatakan,
“Ada seseorang yang masuk masjid dari pintu tepat depan mimbar pada hari jum’at. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu sedang berdiri berkhutbah. Kemudian dia menghadap ke arah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berdiri dan mengatakan,
‘Ya Rasulullah, ternak pada mati, tanah becah tidak bisa dilewati, karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia menurukan hujan untuk kami.’
Spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan beliau, dan membaca doa:
“Ya Allah, berilah kami hujan…, Ya Allah, berilah kami hujan.., Ya Allah, berilah kami hujan.”
Anas melanjutkan kisahnya,
Demi Allah, sebelumnya kami tidak melihat ada mendung di atas, tidak p**a awan tipis, langit sangat cerah. Tidak ada penghalang antara kami dengan bukit Sal’. Namun tiba-tiba muncul dari belakangnya awan mendung seperti perisai. Ketika mendung sudah persis di atas kita, turun hujan.
Anas menegaskan, “Demi Allah, kami tidak melihat matahari selama 6 hari.” Kemudian pada hari jumatnya, datang seseorang dari pintu yang sama, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri menyampaikan khutbah.
Dia menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri. Dia mengatakan, ‘Ya Rasulullah, banyak ternak yang mati, dan jalan terputus. Karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia menahan hujan.’
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, dan berdoa,
ALLAHUMMA HAWAALAINA WA LAA ’ALAINA. ALLAHUMMA ’ALAL AAKAMI WAL JIBAALI, WAZH ZHIROOBI, WA BUTHUNIL AWDIYATI, WA MANAABITISY SYAJARI
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami. Ya Allah turunkan hujan di bukit-bukit, pegunungan, dataran tinggi, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” Tiba-tiba hujan langsung berhenti. Kami keluar masjid di bawah terik matahari. (HR. Bukhari – Muslim)
Semoga hujan yang turun di negeri ini tidak menyebabkan musibah. Aamiin Yaa Rabb.