30/04/2026
Judul Buku:
Aku Wong Mbesuk!:
Politik Memori Masa Kecil Penyintas Lumpur Lapindo
Sinopsis:
Apa perlunya mengingat bencana? Dan apa yang didapat dari mengingatnya? Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat buku ini. Dua dekade telah berlalu sejak semburan lumpur Lapindo menghancurkan ruang hidup puluhan ribu warga dan menenggelamkan sedikitnya enam belas desa di tiga kecamatan—Porong, Tanggulangin, dan Jabon—di Kabupaten Sidoarjo. Sebuah bencana yang bukan hanya merenggut rumah dan tanah kelahiran, tetapi juga memutus keberlanjutan kehidupan sebuah masyarakat.
Buku ini berangkat dari pengalaman bersama warga penyintas lumpur Lapindo di Sanggar Alfaz, Desa Besuki Timur, Kecamatan Jabon. Di ruang komunitas ini, berbagai kisah tentang trauma, kehilangan, dan upaya bertahan hidup terus hidup dalam ingatan para penyintas. Terutama bagi arek-arek Sanggar Alfaz—anak-anak yang sejak kecil tumbuh di tengah bencana—ingatan tentang kampung halaman yang tenggelam menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup mereka.
Seiring berjalannya waktu, proses mengingat kembali masa kecil di Besuki Timur menjadi penting untuk menelusuri bagaimana relasi para penyintas muda dengan tanah kelahiran mereka yang telah hilang. Melalui ingatan-ingatan itu, terungkap bagaimana bencana dimaknai, bagaimana pengalaman kehilangan membentuk identitas, serta bagaimana memori masa kecil terus memengaruhi cara mereka menjalani kehidupan di masa kini.
Lebih dari sekadar kisah tentang kehilangan, buku ini menunjukkan bahwa mengingat bencana adalah cara merawat ingatan sosial—agar pengalaman, luka, dan sejarah sebuah komunitas tidak ikut tenggelam bersama lumpur yang menimbun kampung halaman mereka.