21/04/2024
*Renungan 1 : SEMUA ORANG SEHARUSNYA KAYA !!*
Beberapa hari lalu sy ngobrol dg teman lama, namanya *pak Arif Widodo.* Beliau teman SD dan SMP di Probolinggo, dan setelah pensiun sebagai pejabat di Kementerian PUPR, beliau membangun rumah di Junggo Batu. Kami sering ngobrol berdua di teras, mengobrolkan masa lalu dan juga rencana ke depannya mengurusi pinisepuh di Batu. Kebetulan beliau adalah ketua *Yayasan Gerontologi Abiyasa* cabang Batu. Sangat cocok dg jiwa sosial beliau sbg orang berkepribadian melankoli.
Kemarin obrolan kami menyangkut pensiunan. Mengapa banyak pensiunan yg setelah pensiun, dengan cepat kesehatannya drop, sering disebut sebagai post power syndrome. Dan itu banyak terjadi di pensiunan pejabat. Saya dengan tertawa mengatakan bahwa penyebabnya bukan karena kehilangan kekuasaan, melainkan karena KEHILANGAN DAYA BELI. Pejabat yg saat aktif bisa mendapat penghasilan puluhan juta, bahkan seorang eselon 1 yg jujur bisa mendapat 40 - 50 juta sebulan, tiba tiba setelah pensiun hanya menerima kurang dari 5 juta. Bagaimana beliau sekeluarga bisa menutupi penghasilan yg tinggal 10% itu ??
Sy saat muda merasa bangga ketika teman teman pejabat di Kecamatan Kerek Tuban, tahun 1980 an itu mengatakan bahwa sy orang yg sangat beruntung krn sebagai dokter nggak ada pensiunnya. Kebanggaan itu mulai pupus tahun 1997, ketika hanya dalam 2 minggu, secara berturut turut sy mendapat kunjungan 3 janda dokter yg jualan door to door. Yg pertama jualan buku pengetahuan anak anak, ke dua jualan asuransi jiwa, dan ibu ketiga, usia diatas 70 an tahun jualan baju ke bidan bidan. Alasannya sama, mereka dulu isteri dokter yg berkecukupan. Setelah suami meninggal dan anak anak masih butuh biaya, mereka harus jualan door to door. Itu adalah cara termudah sekaligus terberat dalam mencari uang.
Kalau hanya 1 janda dokter, mungkin sy akan mengabaikan dan menganggap itu sebagai kejadian normal di dunia. Tetapi 3 janda dokter hanya dalam waktu singkat ?? Sayapun berpikir bahwa *"ada pesan dari atas"* untuk saya. Setelah merenung sebentar, benar sekali, saya baru sadar bahwa sebenarnya selama ini saya juga seperti mereka juga. *Tidak memiliki aset* sama sekali (aset adalah milik kita yg menghasilkan uang), *hanya menumpuk beban* seperti rumah, tanah dan mobil (beban adalah segala sesuatu milik kita yg membuat kita terus mengeluarkan uang utk perawatan, dan baru menghasilkan uang kalau dijual). Artinya, profesi saya hanya aman utk diri saya sendiri, tidak aman untuk keluarga saya. Jika terjadi sesuatu dg sy, maka *isteri saya akan seperti ibu ibu tadi, harus berjuang keras utk hidup.* Itulah yg mengawali perubahan pola pikir saya yg akhirnya membawa saya ke petualangan kehidupan yg baru.
Sebagai penutup sy akan mengutip pendapat Wallace D. Wattles, penulis buku The Science of Getting Rich yg diterbitkan pertama tahun 1910 di Amerika. Lucu ya, disaat Indonesia masih tahap menyiapkan kemerdekaan, di Amerika sdh terbit buku yg menuntun orang bagaimana cara kita menjadi kaya.
Wallace D Wattles menulis di bab 1 Yaitu Hak Menjadi Kaya _:"Apapun yang dikatakan orang untuk memuji kemiskinan, ada kenyataan yang bertahan, bahwa mustahil memiliki hidup yg utuh atau sukses kecuali jika Anda kaya. Tidak ada orang yg bisa mencapai potensi tertingginya dalam perkembangan bakat atau jiwanya kecuali ia memiliki banyak uang. Untuk membebaskan jiwa dan mengembangkan bakat, seseorang harus memiliki banyak benda yg bisa digunakannya, dan ia tidak dapat memiliki benda-benda ini kecuali jika ia memiliki uang untuk membelinya"._
Ini sudah banyak dibuktikan dg pembicaraan di awal tulisan, mengapa banyak pejabat yg down secara fisik dan jiwa setelah pensiun. Mereka kehilangan kekuatan terbesarnya, yaitu DAYA BELI. !!
Kemudian banyak yg menghibur diri dg mengatakan bahwa kehidupan di dunia ini bukan hanya untuk mencari kekayaan, melainkan untuk menyiapkan kehidupan selanjutnya. Tidak ada yg salah tentang ini, karena memang sangat penting kita memiliki "pintu lain", ketika semua pintu menuju kekayaan sdh mulai tertutup, atau, kita justru sdh memasuki pintu kekayaan itu dan perlu mencari "tantangan" selanjutnya.
Selamat Hari Kartini.
Batu, 21 April 2024.
*Sigit Setyawadi.*