12/03/2024
Jalan setapak meliuk di tengah himpitan pohon-pohon hijau yang tumbuh bertebaran, rumput-rumput liar dan semak-semak juga semakin menambah suasana hijau di bukit Pangilia. Meski penduduk setempat lebih sering menyebut ini sebagai gunung, nyatanya bentang alam paling tinggi di pulau Talaga kecil ini tidaklah memadai untuk disebut gunung. Sangat jauh dibandingkan dengan gunung Mekongga yang ada di kolaka sana. Apalagi dibandingkan dengan gunung Semeru yang tertinggi di pulau Jawa.
"Pangilia memang kerdil sekali, Anak, tapi gunung ini sudah bertahun-tahun menjadi salah satu tumpuan hidup warga kita," ucap La Kalangka pada anaknya La Katambu.
Ayah dan anak itu berjalan dengan tenang melwwati jajaran pagar bambu yang mejadi pembatas kebun para warga. Meski La Katambu yang masih berusia sepuluh tahun belum mengerti tentang ucapan ayahnya yang menceritakan tentang gunung-gunung, tapi wajah polosnya tampak antusias.
"Terus gunung tertinggi di dunia itu apa e?" tanya anak itu.
"Gunung Himalaya, mungkin seratus kali lebih besar dia dari pada Pangilia ini," jawab La Kalangka dengan lagaknya yang sangat kebapakan. Satu tangannya memegang parang, sedangkan tangan satu lagi memegang karung.
"Bhelee, kabalaga sekali itu di? Baru di mana tempatnya gunung Himalaya itu, Bapa?"
"Kalau yang pernah Bapak baca di google toh, gunung Himalaya itu saking kabhalaga-nya gunung sampai ada di wilayah lima negara. Kalau tidak salah itu ada di negara Afganistan, Pakistan, India, Tiongkok, Bhutan, Nepal dan Myanmar."
Semua nama-nama itu tentu saja masih asing bagi La Katamu, karena di sekolah dia belum mendapatkan pelajaran tentang negara. Namun dalam kepala kecilnya sudah terbayang itu adalah daratan-daratan yang sangat besar. Mungkin seratus kali lebih besar dari pulau Talaga Kecil yang dia tinggali ini.
Ayah dan anak itu terus berjalan dengan tenang, ditemani oleh udara pagi yang sejuk di hari minggu. Saat ini masih jam tujuh, di tengah suasana hijau udara terasa begitu sejuk. La Kalangka dengan sebar menjawab tiap pertanyaan La Katambu, seperti saat melewati kebun orang-orang anak itu akan bertanya siapa pemiliknya, saat mendengar suara burung dari jauh dia akan bertanya burung apa itu. Hingga mata anak itu menangkap adanya jejak-jekak kaki hewan di jalan setapak bertanah liat.
Dan seperti sebelumnya La Katambu akan bertanya lagi, "Bapae, kakinya apa ini?"
Pria tua itu sesaat mengamati jejak kaki yang mereka lewati lalu dengan tenang dia menjawab, *mungkin kaknyai kombo'u."
"Saya belum pernah lihat ee, kira-kira di mana dia di? Saya penasaran," La Katambu melihat sekeliling, barangkali saja hewan yang dimaksud tiba-tiba muncul.
Melihat tingkah anaknya La Kalangka hanya tertawa, "kalau ko pikir-pikir Anak, jejak kaki hewan tadi muncul sendiri tidak?"
"Tidak toh, pasti ada hewan yang lewat di situ," jawab La Katambu dengan yakin.
"Kalau pagar-pagar kebun ini, sama tanaman-tanaman di dalamnya, itu tumbuh sendiri tidak?"
"Tidaklah, pasti ada yang buat pagarnya dan tanam tanamannya, iya toh Bapak?"
La Kalangka tersenyum bijak, "kalau begitu, barang kecil seperti jejak kaki, pagar bambu, tumbuhan di kebun, sudah jelas toh ada yang bikin. Kalau gunung Pangilia ini dan pulau Talaga kita, kira-kira ada dengan sendirinya tidak?"
Mendengar pertanyaan ayahnya, La Katambu jadi terdiam dan berpikir serius.
"Kalau jejak kaki tadi ada karena hewan lewat di jalan, berarti sudah jelas toh kalau gunung Pangilia ini ada juga pasti karena ada yang buat," tanya La Kalangka lagi.
Kepala kecil La Katambu jelas belum bisa mencerna dengan baik semua informasi yang diterimanya saat ini. Tapi anak kecil sepertinya bisa memikirkan dengan baik, segala sesuatu itu pasti ada yang mengadakan, "iya juga ee, kalau begitu siapa yang buat gunung Pangilia ini, Bapa?"
"Yang bikin semua ini ada di dunia itu Allah, Anak. Tuhan kita. Dia ciptakan gunung, laut, pulau-pulau, semuanya," La Kalangka mengusap rambut anaknya yang kemerahan karena sering mandi laut.
Sepasang mata di wajah polos itu mengerjakan beberapa kali, memikirkan bagaimana Allah itu?
"Nanti saya kasih ko penjelasan lagi, sekarang kita tone jagung dulu ee," tak terasa mereka sudah tiba di kebun yang dituju.
Dengan penuh semangat ayah dan itu mulai memetik jagung dan memasukkannya satu persatu dalam karung.
Ditulis oleh: โ๏ธ
Sumber foto:
https://pin.it/6re7qOAuN