Majelis Dzikir Al Isbat Lintas Dakwah

Majelis Dzikir Al Isbat Lintas Dakwah Tujuan mewujudkan masyarakat yg tanggung jawab, peduli, kreatif & inovatif dalam beragama & bernegara

19/08/2026

☕ KOPI PAGI
Senin, 18 Agustus 2026 | 3 Rabiul Awal 1448 H

TERUSLAH MENCINTAI INDONESIA

Namanya Mbah Sadiman, seorang lelaki sederhana dari Wonogiri. Selama bertahun-tahun ia menanam ribuan pohon di perbukitan yang tandus. Ia bekerja bukan karena jabatan, bukan karena proyek, dan bukan p**a untuk mencari pop**aritas. Ia hanya punya satu keyakinan, kalau hutan kembali hijau, air akan kembali mengalir dan masyarakat akan mendapatkan manfaatnya.

Mbah Sadiman tidak banyak berbicara tentang nasionalisme. Ia tidak memasang slogan besar tentang cinta tanah air. Ia menunjukkannya melalui pekerjaan. Hari demi hari ia menanam, merawat dan menjaga pohon-pohon itu, bahkan ketika hasilnya belum terlihat. Bertahun-tahun kemudian, kawasan yang dahulu tandus menjadi lebih hijau dan sumber air kembali memberi kehidupan bagi masyarakat.

Dari sini kita belajar bahwa mencintai Indonesia tidak selalu harus dengan melakukan sesuatu yang besar. Seorang petani mencintai Indonesia ketika ia bekerja menyediakan pangan. Seorang guru mencintai Indonesia ketika ia mendidik anak-anak dengan sabar. Seorang pelajar mencintai Indonesia ketika ia belajar sungguh-sungguh. Seorang pedagang mencintai Indonesia ketika ia jujur. Seorang pemimpin mencintai Indonesia ketika ia amanah tidak korup dan tidak melakukan hal-hal tercela.

Belajar dari Mbah Sadiman, kita bisa belajar tentang kepedulian, kesabaran, konsisten dan kesediaan berkorban. Ia menanam hari ini untuk manfaat yang mungkin baru dirasakan bertahun-tahun kemudian. Ia tidak menunggu orang lain bergerak. Ia memulai dari apa yang bisa ia lakukan, dengan apa yang ia punya.

Kemerdekaan yang kita rayakan kemarin seharusnya tidak berhenti pada upacara, lomba dan kibaran Merah Putih. Kemerdekaan juga harus melahirkan kesadaran bahwa setiap orang punya bagian dalam menjaga dan membangun negeri ini. Tidak semua orang harus menjadi pahlawan. Tetapi setiap orang bisa berkontribusi di bidang apapun yang bermanfaat.

Yah kita tidak punya hutan untuk dihijaukan seperti Mbah Sadiman. Tetapi kita punya keluarga untuk dibina, anak-anak untuk dididik, pekerjaan untuk ditunaikan, lingkungan untuk dijaga, tetangga untuk dibantu dan amanah untuk diselesaikan. Itulah ladang pengabdian kita.

Teruslah mencintai Indonesia dengan menanam kebaikan apapun hari ini, di tempat kita berada, dengan apa yang kita punya......🙏

19/08/2026

☕ KOPI PAGI
Senin, 17 Agustus 2026 | 2 Rabiul Awal 1448 H

DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Hari ini Merah Putih kembali berkibar. Lagu Indonesia Raya kembali bergema. Upacara digelar, bendera dinaikkan, dan kita mengenang perjalanan panjang yang mengantarkan bangsa ini sampai pada usia 81 tahun. Tetapi kemerdekaan bukan sekadar peristiwa yang terjadi pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan adalah amanah yang setiap generasi harus menjaga dan mengisinya.

Dulu, para pejuang berhadapan dengan penjajahan. Mereka berjuang dengan keterbatasan, tetapi memiliki keyakinan bahwa bangsa ini berhak menentukan nasibnya sendiri. Hari ini bentuk perjuangan tentu berbeda. Kita tidak lagi mengangkat bambu runcing, tetapi berhadapan dengan kebodohan, kemiskinan, korupsi, perpecahan, ketidakadilan, lemahnya integritas, bahkan sikap tidak peduli. Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja, tetapi mampu memilih yang benar dan bertanggung jawab atas pilihan itu.

Di tengah kegembiraan HUT Kemerdekaan, hati kita juga tertuju kepada saudara-saudara di Flores, Nusa Tenggara Timur. Sehari sebelum peringatan kemerdekaan, gempa bumi dengan skala M7,7 mengguncang wilayah NTT, menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan, dan membuat ribuan warga harus mengungsi. Peringatan dini tsunami memang telah berakhir, tetapi duka dan perjuangan mereka belum selesai. Ada saudara sebangsa yang hari ini mungkin tidak mengikuti upacara dengan pakaian terbaik, melainkan bertahan di tenda pengungsian. Di sanalah kita diingatkan bahwa Indonesia bukan hanya tentang wilayah yang luas, tetapi tentang manusia yang saling menjaga.

Kemerdekaan juga bukan hanya tentang apa yang kita terima dari negeri ini, tetapi tentang apa yang kita berikan kepadanya. Guru yang mendidik dengan ikhlas sedang mengisi kemerdekaan. Orang tua yang membangun keluarga dengan baik sedang mengisi kemerdekaan. Anak muda yang belajar sungguh-sungguh sedang mengisi kemerdekaan. Pedagang yang jujur, pemimpin yang amanah, pekerja yang bertanggung jawab, dan siapa pun yang berbuat baik kepada sesama, semuanya sedang mengambil bagian dalam menjaga republik ini.

Al-Qur’an mengingatkan : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11).
Maka kemerdekaan hari ini seharusnya tidak hanya membuat kita bangga, tetapi juga bertanya: apa yang sudah kita lakukan untuk negeri ini? Tidak harus sesuatu yang besar. Menjaga kejujuran, mendidik anak, bekerja sungguh-sungguh, menjaga persatuan, membantu tetangga, merawat lingkungan, dan mendoakan saudara yang sedang tertimpa musibah pun adalah bentuk nyata mencintai Indonesia.

Lancang Kuning besar bernama Indonesia sudah berlayar selama 81 tahun. Lautnya tidak selalu tenang, anginnya tidak selalu bersahabat, dan badai kadang datang tanpa diduga. Namun kapal ini tetap berlayar karena setiap generasi ikut menjaga layar, kemudi, dan arah perjalanannya. Ketika sebagian saudara kita di Flores sedang menghadapi badai kehidupan akibat gempa, bagian Indonesia yang lain harus hadir dengan doa, kepedulian, dan bantuan. Sebab ketika satu bagian negeri terluka, sejatinya seluruh Indonesia ikut merasakannya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi bebas untuk berbuat benar, berkarya, peduli, dan memberi manfaat. Semoga Lancang Kuning Indonesia terus berlayar, kokoh dalam persatuan, teguh dalam prinsip, saling menjaga ketika badai datang, dan sampai kepada cita-cita yang diwariskan para pendahulu. Aamiin.

Merdeka ! 🇮🇩

19/08/2026

☕ KOPI PAGI
Ahad, 16 Agustus 2026 | 1 Rabiul Awal 1448 H

LANCANG KUNING, MEREDAH GELORA.

Lancang Kuning sudah berlayar. Layar terkembang, kemudi di tangan, tujuan telah ditetapkan. Tetapi laut tidak selalu teduh. Ada waktunya angin berubah, gelombang meninggi, langit menghitam, lalu badai datang tanpa memberi tanda. Begitulah kehidupan. Kita boleh menyusun rencana sebaik mungkin, tetapi selalu ada gelora yang datang di luar perkiraan. Persoalannya bukan bagaimana menghindari semua badai, tetapi bagaimana tetap berlayar tanpa kehilangan arah.

Dalam hidup, badai punya banyak rupa. Kegagalan, kehilangan, masalah keluarga, kesulitan ekonomi, konflik, kekecewaan, atau harapan yang tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bebas dari gelora kehidupan. Bahkan kadang badai datang justru ketika kita merasa semuanya sedang baik-baik saja. Karena itu, jangan ukur kekuatan sebuah Lancang Kuning dari tenangnya laut. Perahu yang tangguh justru terlihat ketika berhadapan dengan gelombang.

Meredah gelora tidak cukup hanya dengan keberanian. Nakhoda membutuhkan ketenangan untuk membaca keadaan, keteguhan untuk tidak panik, dan kebijaksanaan untuk menentukan langkah. Ketika ombak meninggi, ia tidak membuang kemudi. Justru genggamannya semakin kuat. Begitu p**a kita. Ketika persoalan datang, jangan lepaskan iman, akal sehat dan prinsip hanya karena keadaan sedang tidak berpihak.

Menariknya, tidak semua badai datang untuk menghancurkan. Ada gelora yang justru memperkenalkan kita kepada kekuatan diri sendiri. Kegagalan mengajarkan kita untuk belajar. Kehilangan mengajarkan keikhlasan. Kesulitan mengajarkan kesabaran. Bahkan kekecewaan kadang membawa kita lebih dekat kepada Allah. Ada pelajaran yang hanya bisa kita temukan setelah melewati laut yang tidak tenang.

Namun meredah gelora bukan berarti keras kepala melawan semuanya. Ada waktunya layar dikurangi, arah disesuaikan, bahkan perjalanan diperlambat. Dalam kehidupan, ada saat untuk berjuang, ada saat untuk bersabar, ada saat untuk mengevaluasi dan ada saat untuk mengubah strategi. Tawakal bukan berhenti berusaha. Tawakal adalah terus berikhtiar sambil menyerahkan hasil terbaik kepada Allah.

Bangsa Indonesia pun pernah melewati gelora yang jauh lebih besar. Penjajahan, peperangan, krisis dan berbagai pergolakan telah menjadi bagian dari perjalanan panjang negeri ini. Para pendahulu tidak menunggu laut menjadi tenang untuk berlayar. Mereka tetap bergerak karena di hadapan mereka ada tanah air yang harus diperjuangkan dan masa depan yang harus diwariskan. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini lahir dari keberanian untuk meredah gelora.

Besok, 17 Agustus, kita memperingati 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Barangkali ini saat yang tepat untuk melihat kembali Lancang Kuning besar bernama Indonesia. Setiap zaman memiliki geloranya sendiri. Tugas kita bukan mengeluh mengapa badai datang, tetapi memastikan Lancang Kuning tetap kokoh, nakhoda tetap teguh, awak tetap kompak, dan arah perjalanan tidak kehilangan tujuan. Sebab perahu yang hebat bukanlah perahu yang tak pernah diterpa badai, melainkan perahu yang mampu meredah gelora dan tetap sampai ke tujuan.

19/08/2026

☕ KOPI PAGI
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 30 Safar 1448 H

LANCANG KUNING, NAKHODA BERJIWA LAKSAMANA.

Lancang Kuning sudah meninggalkan tepian pantai. Layar pun terkembang, angin mengisi layar, dan perahu mulai membawa penumpangnya menuju tujuan. Tetapi sebuah pelayaran tidak cukup hanya dengan perahu, layar dan tujuan. Di balik kemudi harus ada seseorang yang mampu membaca arah, memahami gelombang dan berani menentukan pilihan. Sebab ketika laut mulai bergelora, semua berharap pada satu sosok, dia lah nakhoda yang tahu ke mana harus membawa kapal.

Nakhoda bukan sekadar orang yang memegang kemudi. Ia adalah orang yang bersedia bertanggung jawab atas arah perjalanan. Ia tidak menyalahkan angin ketika perahu melenceng, tidak panik ketika ombak meninggi, dan tidak meninggalkan penumpang ketika perjalanan menjadi sulit. Karena itu, seorang nakhoda membutuhkan jiwa seorang laksamana. Dia berani, tenang, memiliki pandangan jauh dan mampu mengambil keputusan ketika keadaan tidak mudah.

Dalam kehidupan, setiap kita sebenarnya memiliki Lancang Kuning masing-masing. Ada perahu bernama keluarga, pekerjaan, organisasi, pendidikan, bahkan kehidupan pribadi. Kita boleh saja berharap ada orang lain yang menunjukkan arah, tetapi pada akhirnya kita tetap harus belajar memegang kemudi sendiri. Sebab hidup yang terus bergerak tanpa arah akan membawa kita ke mana saja, kecuali ke tempat yang kita inginkan.

Yang sering membuat kapal kehilangan arah bukan karena tidak memiliki peta, tetapi karena terlalu sering mengikuti angin. Dalam kehidupan, angin itu bisa berupa pujian, tekanan, pop**aritas, gengsi, kepentingan, atau keinginan sesaat. Kita tetap bergerak, tetapi tanpa sadar arah perjalanan bukan lagi ditentukan oleh prinsip. Karena itu, nakhoda yang baik tidak sekadar pandai membaca angin, tetapi tahu kapan harus memanfaatkannya dan kapan harus melawannya.

Seorang nakhoda juga tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. Di belakang kemudi ada banyak penumpang yang mempercayakan keselamatan mereka kepadanya. Begitu p**a seorang pemimpin. Keputusan yang dibuat bukan hanya tentang apa yang nyaman bagi dirinya, tetapi apa yang baik bagi mereka yang dipimpinnya. Di situlah kepemimpinan berubah menjadi amanah. Semakin besar kemudi yang kita pegang, semakin besar p**a tanggung jawab yang harus kita pikul.

Mungkin kita sering sibuk mencari siapa yang pantas menjadi nakhoda, siapa yang layak menjadi pemimpin, siapa yang mampu membawa perubahan. Tetapi sebelum menunjuk orang lain, ada pertanyaan yang harus menjadi renungan: sudahkah kita menjadi nakhoda yang baik bagi perahu yang dipercayakan kepada kita? Sebab keluarga, lembaga, organisasi dan masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai memberi arah, tetapi orang yang bersedia menjadi teladan dalam perjalanan.

Menjelang 17 Agustus, Lancang Kuning terasa seperti metafora yang indah untuk negeri ini. Indonesia adalah kapal besar yang membawa ratusan juta manusia dengan latar, harapan dan kepentingan yang berbeda. Kita mungkin tidak duduk di kursi yang sama, tetapi berada di kapal yang sama. Karena itu, kita membutuhkan nakhoda yang bukan hanya pandai mengemudi, tetapi berjiwa laksamana: teguh memegang prinsip, berani menghadapi gelombang, dan tidak lupa bahwa keselamatan seluruh penumpang jauh lebih penting daripada kepentingan dirinya sendiri.

Lancang Kuning boleh terus berlayar, layar boleh terus terkembang, tetapi arah perjalanan harus dijaga bersama....

19/08/2026

☕ KOPI PAGI
Jumat, 14 Agustus 2026 | 29 Safar 1448 H

LANCANG KUNING, KE MANA ARAH LAYAR ?

Lancang Kuning bukan sekadar nama sebuah perahu. Dalam khazanah budaya Melayu, Lancang Kuning dikenal sebagai simbol kebesaran, marwah dan perjalanan masyarakat Melayu yang sejak dahulu begitu dekat dengan laut. Ia membawa cerita tentang kerajaan, perdagangan, perantauan dan kehidupan masyarakat pesisir. Bagi orang Melayu, laut bukan hanya ruang yang memisahkan p**au, tetapi juga jalan yang menghubungkan kehidupan dan membuka cakrawala. Maka ketika membayangkan Lancang Kuning berlayar-layar terkembang, angin bertiup, ombak menghadang muncul satu pertanyaan sederhana : Lancang Kuning, ke mana arah layar berkembang ?

Begitu p**a kehidupan kita. Kita semua sedang berlayar. Ada yang mengejar cita-cita, membangun keluarga, mengembangkan usaha, mengabdi dalam organisasi atau menata masa depan. Kita terus bergerak, tetapi apakah sudah tahu ke mana hendak menuju? Sebab perahu yang bergerak cepat tanpa arah bisa saja hanya menghabiskan tenaga di tengah lautan. Begitu juga hidup: sibuk belum tentu sampai, bergerak belum tentu maju.

Lancang Kuning tidak akan sampai ke tujuan hanya karena memiliki layar yang besar. Ia membutuhkan arah. Dalam kehidupan, pendidikan, pekerjaan, jabatan, harta dan berbagai pencapaian hanyalah sarana. Pertanyaan terpentingnya: semua itu membawa kita ke mana? Sebab tidak sedikit orang yang berhasil mencapai banyak hal, tetapi kemudian bertanya dalam hati, “Mengapa semua ini belum membuatku merasa sampai?”

Arah membuat kita tahu mana yang harus dikejar dan mana yang harus ditinggalkan. Tidak semua peluang harus diambil, tidak semua keinginan harus diwujudkan, dan tidak semua jalan harus ditempuh. Kadang kemampuan mengatakan “tidak” justru menunjukkan bahwa kita tahu ke mana sedang menuju. Sebab tanpa arah, kita mudah mengikuti ke mana angin bertiup.

Dalam keluarga dan masyarakat, arah juga penting. Anak-anak bukan sekadar harus menjadi pintar, tetapi perlu tahu untuk apa kepintaran itu digunakan. Organisasi bukan sekadar membutuhkan banyak program, tetapi membutuhkan tujuan yang jelas. Begitu p**a bangsa: kemerdekaan bukan akhir perjalanan, melainkan kesempatan untuk menentukan ke mana kita akan berlayar. Kita tidak sekadar membesarkan generasi, tetapi sedang menyiapkan mereka untuk menentukan masa depan Lancang Kuning bernama Indonesia.

Karena itu, sebelum menambah kecepatan, mungkin kita perlu memeriksa arah kompas. Sebelum mengembangkan layar, pastikan arah pelayaran sudah benar. Kompas kehidupan adalah nilai, prinsip dan tujuan yang kita yakini. Tanpanya, angin yang kuat bukan membantu kita sampai, tetapi justru bisa membawa kita semakin jauh. Aktivitas membuat kita sibuk, tetapi arah yang benar membuat kita maju.

Dan menjelang 17 Agustus tahun ini, pertanyaan ini layak kita renungkan: Lancang Kuning Indonesia, akan ke mana? Dan Lancang Kuning kehidupan kita, akan ke mana? Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, kita tidak hanya perlu menghitung seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuh, tetapi juga memastikan arah berikutnya. Sebab umur terus bertambah, waktu terus berjalan, dan layar kehidupan terus terkembang. Jangan sampai kita begitu sibuk mengembangkan layar, tetapi lupa memeriksa arah. Karena hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita telah berlayar, tetapi apakah tujuan yang kita tuju memang layak untuk diperjuangkan.

18/08/2026

☕ KOPI PAGI
Kamis, 13 Agustus 2026 | 28 Safar 1448 H

KEMERDEKAAN, DARI SUDUT MAQASHID SYARIAH

Kemerdekaan sering kita pahami sebagai terbebas dari penjajahan dan memiliki hak untuk menentukan pilihan. Tetapi dari sudut pandang Islam, kemerdekaan tidak berhenti pada kebebasan. Sebab seseorang bisa saja hidup di negeri yang merdeka, tetapi hatinya masih terjajah oleh hawa nafsu, gengsi, harta, pop**aritas dan penilaian manusia. Karena itu, kemerdekaan harus menghadirkan kehidupan yang baik, bermartabat dan membawa kemaslahatan. Di sinilah maqashid syariah memberi perspektif yang menarik tentang makna kemerdekaan.

Imam Abu Hamid al-Ghazali
(w. 505 H), dalam Al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul menjelaskan bahwa tujuan syariat adalah menjaga kemaslahatan manusia melalui lima perkara pokok yang termasuk al-dharuriyyat : Agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Lima perkara ini kemudian dikenal sebagai Al-Dharuriyyat al-khams. Jika kelimanya terjaga, kehidupan manusia akan lebih utuh dan maslahat. Dari sinilah kita dapat melihat kemerdekaan bukan sekadar sebagai kebebasan, tetapi sebagai keadaan ketika manusia mampu menjaga lima amanah pokok tersebut.

Pertama, hifzh al-din menjaga agama. Inilah kemerdekaan paling mendasar: merdeka dalam tauhid (iman) dan penghambaan. Manusia yang merdeka bukan yang bebas melakukan apa saja, tetapi yang tidak rela dirinya diperbudak selain Allah. Ia tidak menjual prinsip demi pujian, jabatan atau kepentingan. Iyyaka na‘budu hanya kepada-Mu kami menyembah menjadi fondasi kemerdekaan hati.

Kedua, hifzh al-nafs menjaga jiwa. Kemerdekaan berarti hadirnya kehidupan yang aman, sehat dan bermartabat. Jiwa adalah amanah Allah, sehingga harus dijaga dari kekerasan, penghinaan, kebencian dan segala sesuatu yang merusaknya. Dalam keluarga, ia berarti menghadirkan rumah yang aman; dalam masyarakat, membangun kepedulian; dan bagi diri sendiri, tidak lupa merawat tubuh, kesehatan dan ketenangan jiwa sebagai amanah Allah.

Ketiga, hifzh al-‘aql menjaga akal. Di tengah banjir informasi, kita membutuhkan kemerdekaan berpikir. Jangan sampai kita merdeka sebagai bangsa, tetapi menjadi budak hoaks, provokasi, fanatisme, budaya ikut-ikutan atau kecanduan media sosial. Menjaga akal berarti mencintai ilmu, melakukan tabayyun dan berpikir jernih. Jangan biarkan gawai menjadi tuan, sementara akal hanya menjadi pengikut.

Keempat, hifzh al-nasl menjaga keturunan. Kemerdekaan bangsa akan kehilangan makna jika generasinya justru terjajah oleh kebodohan, hedonisme, kerusakan akhlak, kekerasan dan kecanduan teknologi. Menjaga keturunan bukan sekadar memastikan anak tumbuh dan bersekolah, tetapi memastikan mereka tumbuh dengan iman, ilmu dan karakter. Di sinilah keluarga, terutama orang tua, sedang menjalankan proyek besar membangun generasi yang mampu mengisi kemerdekaan dengan kebaikan.

Kelima, hifzh al-mal menjaga harta. Kemerdekaan juga membutuhkan kemandirian dalam mengelola harta. Jangan sampai kita bekerja keras, tetapi justru diperbudak gaya hidup dan keinginan. Harta harus diperoleh secara halal, dikelola dengan bijak dan digunakan untuk kemaslahatan. Zakat, infak, sedekah dan wakaf menjadi jalan agar harta tidak hanya berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi mengalir menjadi manfaat bagi sesama.

Dari lima perkara tersebut kita menemukan makna kemerdekaan yang lebih luas : Agama yang terjaga memerdekakan hati, jiwa yang terlindungi menghadirkan martabat, akal yang tercerahkan membebaskan dari kebodohan, keturunan yang terdidik menjaga masa depan, dan harta yang amanah membebaskan manusia dari perbudakan materi. Inilah kemerdekaan yang tidak liar, tetapi menghadirkan kemaslahatan.

18/08/2026
18/08/2026

☕ KOPI PAGI
Rabu, 12 Agustus 2026 | 27 Safar 1448 H

SIBUK YAH !

Pagi biasanya dimulai dengan banyak rencana. Pesan masuk, telepon berdering, agenda menunggu, rapat mulai berdatangan, dan berbagai urusan minta segera diselesaikan. Kita pun bergerak dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Sampai kadang, ketika hari sudah selesai dan badan mulai lelah, kita baru sadar… seharian rasanya sibuk, tapi sebenarnya sibuk apa, sok sibuk ? 😄

Ada orang yang memang sibuk karena banyak yang harus diselesaikan. Ada juga yang sibuk karena terlalu banyak hal dikerjakan sekaligus. Bedanya tipis. Yang satu menghasilkan kemajuan, yang lain hanya menghasilkan kelelahan. Jangan-jangan kita pernah berada di kedua posisi itu: sibuk sekali, tetapi hasilnya belum tentu ke mana-mana.

Kita kadang terlalu bangga mengatakan, “Wah, saya sekarang sibuk sekali.” Padahal pertanyaan yang lebih penting bukan seberapa sibuk kita, tetapi seberapa berarti yang kita kerjakan. Rapat boleh banyak, asal ada keputusan. Aktivitas boleh padat, asal ada hasil. Target boleh tinggi, asal ada langkah nyata. Sebab kesibukan tanpa arah hanya membuat kita bergerak tanpa benar-benar sampai.

Kadang kita juga sibuk mengurus hal-hal kecil karena merasa semuanya penting. Akhirnya yang penting justru tertunda. Sibuk membalas semua pesan, tetapi lupa menyelesaikan pekerjaan utama. Sibuk menghadiri banyak pertemuan, tetapi lupa mengambil keputusan. Sibuk membuka banyak pekerjaan, tetapi tidak satu pun benar-benar tuntas. Capeknya dapat, beresnya belum tentu. Nah, di sinilah kita perlu menertawai diri sendiri.

Al-Qur’an mengingatkan :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ

Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu...
(QS. At-Taubah: 105)

Yang penting bukan sekadar terlihat bekerja, tetapi benar-benar ada amal dan pekerjaan yang kita lakukan. Bukan ramai aktivitasnya, tetapi ada nilai dan hasil yang lahir darinya.

Maka sesekali, tidak ada salahnya berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri : Ini benar-benar pekerjaan, atau cuma kesibukan ? Ini sedang maju, atau hanya bergerak ? Ini menghasilkan sesuatu, atau sekadar membuat kita terlihat sibuk ? Barangkali kita memang perlu sesekali mengosongkan meja, merapikan pikiran, lalu memilih mana yang benar-benar penting untuk dikerjakan.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling sibuk, tetapi tentang seberapa berarti apa yang kita kerjakan. Sibuk boleh. Capek wajar. Agenda padat tidak masalah. Tapi jangan sampai kita sibuk ke mana-mana, sementara tujuan tidak pernah ke mana-mana. Kalau ternyata pernah begitu, ya sudah… kita tertawakan saja diri sendiri, lalu kembali bekerja.

18/08/2026

☕ KOPI PAGI
Rabu, 12 Agustus 2026 | 27 Safar 1448 H

SIBUK YAH !

Pagi biasanya dimulai dengan banyak rencana. Pesan masuk, telepon berdering, agenda menunggu, rapat mulai berdatangan, dan berbagai urusan minta segera diselesaikan. Kita pun bergerak dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Sampai kadang, ketika hari sudah selesai dan badan mulai lelah, kita baru sadar… seharian rasanya sibuk, tapi sebenarnya sibuk apa, sok sibuk ? 😄

Ada orang yang memang sibuk karena banyak yang harus diselesaikan. Ada juga yang sibuk karena terlalu banyak hal dikerjakan sekaligus. Bedanya tipis. Yang satu menghasilkan kemajuan, yang lain hanya menghasilkan kelelahan. Jangan-jangan kita pernah berada di kedua posisi itu: sibuk sekali, tetapi hasilnya belum tentu ke mana-mana.

Kita kadang terlalu bangga mengatakan, “Wah, saya sekarang sibuk sekali.” Padahal pertanyaan yang lebih penting bukan seberapa sibuk kita, tetapi seberapa berarti yang kita kerjakan. Rapat boleh banyak, asal ada keputusan. Aktivitas boleh padat, asal ada hasil. Target boleh tinggi, asal ada langkah nyata. Sebab kesibukan tanpa arah hanya membuat kita bergerak tanpa benar-benar sampai.

Kadang kita juga sibuk mengurus hal-hal kecil karena merasa semuanya penting. Akhirnya yang penting justru tertunda. Sibuk membalas semua pesan, tetapi lupa menyelesaikan pekerjaan utama. Sibuk menghadiri banyak pertemuan, tetapi lupa mengambil keputusan. Sibuk membuka banyak pekerjaan, tetapi tidak satu pun benar-benar tuntas. Capeknya dapat, beresnya belum tentu. Nah, di sinilah kita perlu menertawai diri sendiri.

Al-Qur’an mengingatkan :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ

Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu...
(QS. At-Taubah: 105)

Yang penting bukan sekadar terlihat bekerja, tetapi benar-benar ada amal dan pekerjaan yang kita lakukan. Bukan ramai aktivitasnya, tetapi ada nilai dan hasil yang lahir darinya.

Maka sesekali, tidak ada salahnya berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri : Ini benar-benar pekerjaan, atau cuma kesibukan ? Ini sedang maju, atau hanya bergerak ? Ini menghasilkan sesuatu, atau sekadar membuat kita terlihat sibuk ? Barangkali kita memang perlu sesekali mengosongkan meja, merapikan pikiran, lalu memilih mana yang benar-benar penting untuk dikerjakan.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling sibuk, tetapi tentang seberapa berarti apa yang kita kerjakan. Sibuk boleh. Capek wajar. Agenda padat tidak masalah. Tapi jangan sampai kita sibuk ke mana-mana, sementara tujuan tidak pernah ke mana-mana. Kalau ternyata pernah begitu, ya sudah… kita tertawakan saja diri sendiri, lalu kembali bekerja. 😄

Address

Trans Barelang
Batam

Telephone

+6281365078572

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majelis Dzikir Al Isbat Lintas Dakwah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Majelis Dzikir Al Isbat Lintas Dakwah:

Shortcuts

Share

Category