Majelis Dzikir Al Isbat Lintas Dakwah

Majelis Dzikir Al Isbat Lintas Dakwah

Share

Tujuan mewujudkan masyarakat yg tanggung jawab, peduli, kreatif & inovatif dalam beragama & bernegara

13/06/2026
13/06/2026

𝐒𝐞𝐬𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐓𝐚'𝐚𝐥𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐮𝐦𝐚𝐭 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝 ﷺ 𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐤𝐞𝐦𝐮𝐥𝐢𝐚𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚𝐤𝐮.

(وَذُكِرَ) أَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَعْطَى أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ أَرْبَعَ كَرَامَاتٍ مَا أَعْطَانِيهَا.

(أَحَدُهَا) أَنَّ قَبُولَ تَوْبَتِيْ كَانَ بِمَكَّةَ، وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ ﷺ يَتُوبُونَ فِي كُلِّ مَكَانٍ فَيَقْبَلُ اللهُ تَوْبَتَهُمْ.

(وَالثَّانِي) أَنِّي كُنْتُ لَابسًا فَلَمَا عَصَيْتُ جَعَلَنِيْ عُرْيَانََا، وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ ﷺ يَعْصُونَ عُرَاةً فَيَلْبَسُهُمُ اللهُ.

(وَالثَّالِثُ) أَنِّي لَمَّا عَصَيْتُ فَرَّقَ بَيْنِي وَبَيْنَ امْرَأَتِي، وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ ﷺ يَعْصُونَ وَلَا يُفَرَّقُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَزْوَاجِهِمْ.

(وَالرَّابِعُ) أَنِّي عَصَيْتُ فِي الْجَنَّةِ فَأَخْرَجَنِي مِنْهَا، وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ ﷺ يَعْصُونَ خَارِجَ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُونَهَا بِالتَّوْبَةِ
﴿ تنبيه الغافلين ص ١٨٤ ﴾

Dan disebutkan bahwa Nabi Adam 'alaihis shalatu was salam berkata:
"'Sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan kepada umat Muhammad ﷺ empat kemuliaan yang tidak Allah berikan kepadaku.

1. Sesungguhnya diterimanya tobatku dahulu harus berada di kota Makkah, sedangkan umat Nabi Muhammad ﷺ mereka bertobat di tempat mana saja, lalu Allah tetap menerima tobat mereka.

2. Sesungguhnya dahulu aku memakai pakaian (surga), lalu ketika aku berbuat maksiat (melanggar perintah), Allah menjadikanku telanjang. Sementara umat Muhammad ﷺ, mereka bermaksiat dalam keadaan telanjang (tidak berpakaian surga di dunia), namun Allah justru memberi mereka pakaian.

3. Sesungguhnya ketika aku berbuat maksiat, Allah memisahkan antara aku dengan istriku (Hawa). Sementara umat Muhammad ﷺ, mereka berbuat maksiat namun tidak dipisahkan antara mereka dengan pasangan-pasangan mereka.

4. Sesungguhnya aku berbuat maksiat di dalam surga, lalu Allah mengeluarkanku darinya. Sementara umat Muhammad ﷺ, mereka berbuat maksiat di luar surga, namun mereka justru bisa memasukinya (surga) dengan jalan bertobat.'"

والله اعلم بالصواب

13/06/2026

𝐌𝐚𝐥𝐮, 𝐀𝐝𝐢𝐥, 𝐓𝐚𝐮𝐛𝐚𝐭, 𝐃𝐞𝐫𝐦𝐚𝐰𝐚𝐧

الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى (أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (حَسَنَةٌ) وَهُوَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْمَدْحُفِي الْعَاجِلِ وَالثَّوَابُ فِي الْآجِلِ (وَلَكِنَّ أَرْبَعَةً مِنْهَا أَحْسَنُ)

Arti: Makalah kedua (dari sebagian ahli hikmah) semoga Allah menaruh rahmat kepadanya

"(Ada empat) perkara/sifat yang (baik)" —yaitu sifat yang mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akhirat— "(namun ada empat perkara lain yang jauh lebih baik darinya)."

Sifat Pertama: Sifat Malu (Al-Haya')

(الْحَيَاءُ) وَهُوَ انْقِبَاضُ النَّفْسِ مِنْ شَيْءٍ حَذَرًا عَنِ اللَّوْمِ فِيهِ (مِنَ الرِّجَالِ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْمَرْأَةِ أَحْسَنُ)

Arti: (Rasa malu) —yaitu menahan diri dari sesuatu karena takut dicela— (pada laki-laki itu baik, namun jika ada pada wanita, maka itu jauh lebih baik).

✍️Penjelasan: Rasa malu untuk berbuat maksiat atau hal yang tabu adalah hiasan bagi siapa saja. Namun bagi wanita, rasa malu adalah mahkota kemuliaan dan pelindung kehormatan yang paling utama.

Sifat Kedua: Keadilan (Al-'Adl)

(وَالْعَدْلُ) أَيِ التَّوَسُّطُ بَيْنَ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ (مِنْ كُلِّ أَحَدٍ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْأُمَرَاءِ) أَيْ ذَوِي الْوِلَايَةِ (أَحْسَنُ)

Arti: (Dan keadilan) —yaitu bersikap pertengahan (seimbang) antara berlebihan (israf/ifrath) dan bersikap masa bodoh (tafrith)— (dari setiap orang itu baik, namun jika datang dari para pemimpin) —yaitu mereka yang memegang kekuasaan— (maka itu jauh lebih baik).

✍️Penjelasan: Setiap orang wajib berlaku adil, minimal kepada dirinya sendiri dan keluarganya. Namun, keadilan seorang pemimpin (pejabat/penguasa) dampaknya jauh lebih luas karena menyangkut hajat hidup masyarakat banyak dan kestabilan sebuah negara.

Sifat Ketiga: Taubat (At-Taubah)

(وَالتَّوْبَةُ) أَيِ الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِحَلِّ عُقْدَةِ الْإِصْرَارِ عَنِ الْقَلْبِ ثُمَّ الْقِيَامِ بِكُلِّ حَقٍّ لِلَّهِ تَعَالَى (مِنَ الشَّيْخِ حَسَنَةٌ وَلَكِنَّهَا مِنَ الشَّابِّ أَحْسَنُ)
Arti: (Dan taubat) —yaitu kembali kepada Allah SWT dengan cara melepaskan keinginan untuk terus-menerus berbuat dosa dari dalam hati, kemudian menunaikan setiap hakAllah— (dari orang tua itu baik, namun jika dilakukan oleh seorang pemuda, maka itu jauh lebih baik).

✍️Penjelasan: Orang tua yang bertaubat adalah hal yang wajar karena fisik mulai melemah dan ajal mendekat. Namun, pemuda yang bertaubat dan memilih jalan takwa di saat fisik, syahwat, dan godaan dunia sedang kuat-kuatnya, memiliki nilai yang luar biasa di mata Allah.

Sifat Keempat: Kedermawanan (Al-Jud)

(وَالْجُودُ) أَيْ إِفَادَةُ مَا يَنْبَغِي لَا لِعِوَضٍ (مِنَ الْأَغْنِيَاءِ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْفُقَرَاءِ أَحْسَنُ)

Arti: (Dan kedermawanan) —yaitu memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada yang membutuhkan tanpa mengharapkan imbalan— (dari orang kaya itu baik, namun jika dilakukan oleh orang miskin, maka itu jauh lebih baik).

✍️Penjelasan: Orang kaya yang bersedekah adalah hal yang sudah semestinya karena mereka punya kelebihan harta. Tetapi, ketika orang miskin atau orang yang hidupnya pas-pasan mau berbagi dan mendahulukan orang lain (itsar), tingkat kedermawanan dan keikhlasannya jauh lebih tinggi.

والله اعلم

11/06/2026

📒 Hikmah Pagi
Kamis, 11 Juni 2026 M / 25 Dzulhijjah 1447 H

Kisah Bersejarah Bulan Muharram (1)
TAUBATNYA NABI ADAM AS.

Muharram menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Salah satunya adalah diterimanya taubat Nabi Adam As. setelah beliau dan Hawa tergelincir oleh godaan iblis sehingga memakan buah yang dilarang Allah SWT.

Akibat peristiwa itu, keduanya diturunkan ke bumi dan terpisah dalam waktu yang lama. Dalam masa perpisahan tersebut, Nabi Adam As. terus menangisi kesalahannya, memohon ampun, dan bermunajat kepada Allah tanpa henti. Beliau tidak menyalahkan siapa pun, tetapi mengakui kekhilafannya dengan penuh kerendahan hati.

Allah SWT berfirman :

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 37)

Para mufassir menjelaskan bahwa kalimat yang diajarkan Allah kepada Nabi Adam As. adalah doa yang sangat terkenal:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.
(QS. Al-A'raf: 23)

Doa ini mengajarkan bahwa jalan keluar dari kesalahan bukanlah mencari alasan, melainkan mengakui dosa, menyesalinya, dan kembali kepada Allah dengan penuh harap.

Setelah Allah menerima taubat mereka, Nabi Adam dan Hawa dipertemukan kembali di Padang Arafah, di Jabal Rahmah. Pertemuan itu menjadi simbol bahwa rahmat Allah selalu lebih besar daripada kesalahan manusia.

Menyongsong bulan Muharram ini, mari menjadikan kisah Nabi Adam As. sebagai inspirasi hijrah diri kita. Sebab manusia terbaik bukanlah yang tidak pernah salah, tetapi yang segera kembali kepada Allah ketika berbuat salah....

11/06/2026

📒 Hikmah Pagi
Rabu, 10 Juni 2026 M / 24 Dzulhijjah 1447 H

HIJRAH RASUL : PERJALANAN YANG MENGUBAH SEJARAH DUNIA

Jika ada satu perjalanan yang layak dikenang sepanjang zaman, maka itulah hijrah Rasulullah Saw. dari Makkah ke Madinah. Sebuah perjalanan yang tampak sederhana melintasi gurun pasir, tetapi darinya lahir peradaban yang mengubah wajah dunia dan menerangi umat manusia selama berabad-abad.

Hijrah tidak lahir dari suasana kegembiraan. Setelah tiga belas tahun berdakwah, Rasulullah Saw. menghadapi penolakan, tekanan, dan permusuhan yang semakin keras dari kaum Quraisy. Mereka tidak hanya menolak ajaran Islam, tetapi juga berusaha menghentikan dakwah dengan segala cara.

Di tengah perjuangan itu, Rasulullah Saw. kehilangan dua penopang utama dakwahnya. Abu Thalib, sang paman yang selama ini melindunginya dari ancaman Quraisy, wafat. Tidak lama kemudian, Sayyidatuna Khadijah ra., istri tercinta yang mengorbankan seluruh jiwa dan hartanya untuk Islam, juga dipanggil menghadap Allah. Tahun itu dikenang sebagai Amul Huzn (Tahun Kesedihan).

Belum selesai kesedihan itu, Rasulullah Saw. mencari harapan baru ke *Thaif. Namun yang beliau terima justru hinaan dan lemparan batu hingga kedua kaki beliau berdarah. Bagi manusia biasa, ujian sebesar itu mungkin cukup untuk membuat putus asa. Namun bagi seorang Nabi, setiap kesulitan adalah bagian dari rencana Allah menuju kemenangan yang lebih besar.

Ketika para pemuka Quraisy menyadari bahwa dakwah Islam tidak dapat dihentikan, mereka sepakat membunuh Rasulullah Saw. Rumah beliau dikepung. Pedang-pedang telah siap dihunus. Mereka yakin fajar esok akan menjadi akhir dari perjuangan Islam.

Namun Allah memiliki rencana yang jauh lebih agung. Dengan keberanian yang luar biasa, Ali bin Abi Thalib ra. bersedia tidur di tempat Rasulullah Saw., sementara beliau keluar meninggalkan rumah yang telah dikepung untuk memulai perjalanan hijrah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Dalam persembunyian di Gua Tsur, ketika para pengejar telah berada sangat dekat, Rasulullah Saw. menenangkan sahabatnya dengan kalimat yang abadi,

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

"Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."
(QS. At-Taubah: 40)

Hijrah juga menunjukkan bahwa tawakal harus berjalan bersama ikhtiar. Rasulullah Saw. menyusun strategi yang matang, bahkan menggunakan jasa Abdullah bin Uraiqith sebagai pemandu perjalanan karena keahlian dan amanahnya. Keimanan yang kuat tidak menghalangi pentingnya perencanaan yang cermat.

Setelah perjalanan panjang yang penuh risiko, Rasulullah Saw. akhirnya tiba di Madinah. Kota itu telah lama menanti kedatangan beliau. Setiap hari penduduk Madinah keluar ke pinggir kota dengan penuh harap, menunggu kabar kedatangan Rasul yang mereka cintai.

Ketika beliau akhirnya tiba, seluruh Madinah bergemuruh oleh kegembiraan. Anak-anak berlari menyambut, para wanita keluar dari rumah-rumah mereka, dan orang-orang tua meneteskan air mata haru. Lisan mereka melantunkan syair yang kemudian masyhur sepanjang zaman,

"Telah terbit bulan purnama menyinari kami dari celah-celah bukit Wada'. Wajiblah kami bersyukur selama masih ada yang menyeru kepada Allah."

Hari itu bukan sekadar kedatangan seorang musafir dari Makkah. Hari itu adalah awal lahirnya masyarakat yang dibangun di atas fondasi tauhid, ilmu, persaudaraan, keadilan, dan akhlak mulia. Dari Madinah, cahaya Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia dan mengubah perjalanan sejarah manusia.

Karena itulah para sahabat menjadikan hijrah sebagai awal kalender Islam. Mereka ingin umat ini selalu mengingat bahwa kejayaan tidak lahir dari kenyamanan, kemuliaan tidak lahir dari kemudahan, dan perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk berkorban, berikhtiar, dan bertawakal kepada Allah.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

11/06/2026

📒 Hikmah Pagi
Selasa, 9 Juni 2026 M / 23 Dzulhijjah 1447H

ANTARA KALENDER GREGORIAN (MASEHI) DAN KALENDER HIJRIAH

Setiap hari kita melihat tanggal. Di telepon genggam, kalender dinding, surat resmi, tiket perjalanan, hingga berbagai dokumen administrasi. Namun pernahkah kita bertanya, dari mana asal-usul kalender yang kita gunakan? Mengapa umat Islam memiliki kalender sendiri? Dan apa perbedaan mendasar antara kalender Masehi dan kalender Hijriah?

Kalender yang saat ini digunakan secara internasional dikenal sebagai Kalender Gregorian atau Kalender Masehi. Kalender ini merupakan hasil penyempurnaan dari Kalender Julian yang diberlakukan oleh bangsa Romawi pada masa Julius Caesar pada tahun 45 SM. Pada tahun 1582 M, kalender tersebut diperbaiki oleh Pope Gregory XIII sehingga kemudian dikenal sebagai Kalender Gregorian dan digunakan hampir di seluruh dunia hingga hari ini.

Nama-nama bulan dalam kalender Masehi pun banyak berasal dari sejarah dan mitologi Romawi kuno. Januari berasal dari Janus, dewa gerbang dan permulaan yang digambarkan memiliki dua wajah; satu melihat masa lalu dan satu melihat masa depan. Maret berasal dari Mars, dewa perang. Juni berasal dari Juno, dewi pelindung keluarga. Dengan kata lain, kalender Masehi tumbuh dari perkembangan sejarah, budaya, dan peradaban manusia.

Sementara itu, kalender Hijriah memiliki latar belakang yang berbeda. Ia lahir dari kebutuhan umat Islam untuk memiliki sistem penanggalan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan peristiwa besar yang menjadi titik balik sejarah umat, yaitu hijrahnya Rasulullah Saw. dari Makkah ke Madinah.

Lebih dari itu, perbedaan keduanya juga terletak pada cara perhitungannya. Kalender Masehi menggunakan peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calendar), sehingga satu tahun berjumlah sekitar 365 hari. Adapun kalender Hijriah menggunakan peredaran bulan mengelilingi bumi (lunar calendar), sehingga satu tahun berjumlah sekitar 354 hari.

Allah Swt. berfirman :

﴿ هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, serta menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu." (QS. Yunus: 5)

Di sinilah terdapat pelajaran yang sangat menarik. Ketika para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. menetapkan kalender Hijriah, sesungguhnya mereka sedang menunjukkan kematangan sebuah peradaban. Mereka tidak sekadar meniru sistem yang telah digunakan bangsa lain, padahal saat itu Islam telah berinteraksi dengan Romawi dan Persia yang memiliki tradisi penanggalan masing-masing. Para sahabat memilih membangun sistem sendiri berdasarkan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah. Pilihan menggunakan peredaran bulan menunjukkan kedalaman ilmu mereka dalam memahami wahyu sekaligus kepercayaan diri mereka sebagai umat yang memiliki identitas dan peradaban sendiri.

Mereka memahami firman Allah:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji." (QS. Al-Baqarah: 189)

Karena itu, kalender Hijriah bukan sekadar alat menghitung hari dan tahun. Ia merupakan bagian dari sistem kehidupan Islam yang dibangun di atas pondasi wahyu.

Pelajaran berikutnya yang sangat penting adalah bahwa kalender Hijriah menjadi rujukan utama berbagai ibadah besar dalam Islam. Awal dan akhir Ramadhan ditentukan berdasarkan kalender Hijriah. Hari Raya Idul Fitri ditentukan berdasarkan kalender Hijriah. Wukuf di Arafah sebagai puncak ibadah haji ditentukan berdasarkan kalender Hijriah. Demikian p**a Idul Adha, ibadah kurban, masa iddah, zakat tertentu, hingga berbagai ketentuan syariat lainnya.

Artinya, kalender Hijriah bukan hanya milik para ahli falak atau para ulama. Kalender Hijriah adalah bagian dari kehidupan setiap muslim. Ia mengatur hubungan kita dengan Allah dalam berbagai ibadah yang paling agung.

Sayangnya, tidak sedikit di antara kita yang hafal seluruh bulan Masehi dari Januari hingga Desember, tetapi kesulitan menyebutkan dua belas bulan Hijriah secara berurutan. Kita sangat memperhatikan pergantian tahun Masehi, tetapi sering terlambat menyadari datangnya Muharram, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, dan Dzulhijjah.

Muharram yang sebentar lagi akan datang hendaknya menjadi momentum untuk kembali mengenal kalender umat ini. Bukan untuk menolak kalender Masehi yang memang diperlukan dalam urusan administrasi dan kehidupan global, tetapi agar kita tidak kehilangan identitas dan kesadaran sejarah sebagai bagian dari umat Islam....

11/06/2026

📒 Hikmah Pagi
Senin, 8 Juni 2026 M / 22 Dzulhijjah 1447 H

MUHARRAM DAN LAHIRNYA KALENDER PERADABAN ISLAM

Muharram tinggal menghitung hari. Sebentar lagi umat Islam di seluruh dunia akan memasuki tahun baru Hijriyah. Namun pernahkah kita bertanya, mengapa umat Islam memiliki kalender sendiri? Mengapa bukan kalender Masehi yang dijadikan penanda perjalanan umat? Dan mengapa perhitungan tahun Islam dimulai dari hijrah, bukan dari kelahiran atau wafat Rasulullah?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengantarkan kita kepada sebuah pelajaran besar bahwa Islam bukan sekadar agama yang mengatur ibadah, tetapi juga membangun peradaban. Sebuah peradaban yang memiliki identitas, sejarah, dan sistem kehidupan yang khas.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra, wilayah Islam berkembang sangat luas. Surat-surat resmi dikirim ke berbagai daerah, namun sering menimbulkan kebingungan karena tidak mencantumkan tahun secara baku. Para sahabat kemudian bermusyawarah untuk menetapkan sistem penanggalan resmi bagi umat Islam.

Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad Saw. sebagai awal kalender. Ada p**a yang mengusulkan tahun turunnya wahyu pertama, bahkan ada yang mengusulkan tahun wafatnya Rasulullah Saw. Namun para sahabat akhirnya sepakat memilih peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal kalender Islam.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Kelahiran adalah anugerah, tetapi hijrah adalah perjuangan. Turunnya wahyu adalah petunjuk, tetapi hijrah adalah bukti pengorbanan dalam menegakkan petunjuk tersebut. Hijrah menjadi titik balik yang mengubah kaum muslimin dari kelompok tertindas menjadi masyarakat yang berdaulat, berperadaban, dan mampu menebarkan rahmat bagi dunia.

Menariknya, hijrah Nabi Saw. sendiri terjadi pada bulan Rabiul Awal, bukan Muharram. Namun Muharram dipilih sebagai awal tahun karena pada bulan itulah kaum muslimin mulai menata tekad dan mempersiapkan langkah menuju hijrah. Setelah musim haji berakhir, terbentang lembaran baru perjuangan yang kemudian mengubah sejarah dunia.

Di sinilah letak keindahan kalender Hijriyah. Ia tidak dimulai dengan perayaan, pesta kembang api, atau hitung mundur pergantian tahun. Kalender Islam dimulai dengan mengenang perjuangan, pengorbanan, dan keberanian meninggalkan sesuatu yang dicintai demi meraih ridha Allah.

Sesungguhnya setiap pergantian tahun Hijriyah mengajarkan kepada kita bahwa hidup tidak cukup hanya berjalan mengikuti waktu. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, hijrah apa yang sudah kita lakukan tahun ini? Apakah ilmu bertambah? Apakah ibadah meningkat? Apakah akhlak semakin baik? Ataukah umur hanya bertambah sementara kualitas diri tetap sama?

Muharram yang akan datang bukan sekadar pergantian angka dari 1447 menjadi 1448 Hijriyah. Ia adalah tonggak untuk memulai perjalanan baru. Sebagaimana para sahabat menjadikan hijrah sebagai simbol perubahan, maka setiap muslim pun hendaknya menjadikan tahun baru Hijriyah sebagai momentum perubahan memperbaiki diri, keluarga, dan umat.

Sebab peradaban besar tidak lahir dari orang-orang yang nyaman dengan keadaan. Peradaban besar lahir dari mereka yang berani berhijrah menuju keadaan yang lebih baik....

11/06/2026

📒 Hikmah Pagi
Sabtu, 6 Juni 2026 | 20 Dzulhijjah 1447 H

BAHAGIANYA ORANG TUA

Ketika kita masih kecil, sering kali kita tidak menyadari betapa besar pengorbanan orang tua. Kita hanya tahu bahwa makanan selalu tersedia di meja, pakaian selalu bersih, dan kebutuhan kita selalu diusahakan terpenuhi. Baru ketika dewasa, kita mulai memahami bahwa di balik semua itu ada lelah yang disimpan, ada air mata yang ditahan, dan ada banyak keinginan pribadi yang mereka korbankan demi anak-anaknya.

Ayah berangkat pagi dan p**ang petang, bahkan ada yang harus bekerja hingga larut malam. Hujan, panas, sakit, dan lelah sering kali tidak menjadi alasan untuk berhenti mencari nafkah. Sementara ibu mengurus rumah tanpa mengenal jam kerja. Sejak membuka mata hingga menjelang tidur, waktunya habis untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, merawat anak, dan memastikan semua anggota keluarga baik-baik saja. Banyak orang tua yang lebih memikirkan kebutuhan anak-anaknya daripada kebutuhan dirinya sendiri.

Betapa sering mereka menunda membeli pakaian baru karena harus membayar uang sekolah anak. Betapa sering mereka menahan keinginan pribadi agar anak-anaknya dapat makan lebih baik, belajar lebih tinggi, dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Bahkan tidak sedikit orang tua yang rela bekerja keras puluhan tahun tanpa pernah menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.

Namun menariknya, kebahagiaan orang tua sering kali sangat sederhana. Mereka tidak selalu menunggu kiriman uang yang besar. Mereka tidak selalu berharap hadiah yang mahal. Yang paling membahagiakan mereka sering kali adalah melihat anak-anaknya p**ang ke rumah, duduk bersama di meja makan, bercanda seperti dulu, atau mendengar suara anaknya melalui telepon yang sekadar bertanya, "Ayah, Ibu, bagaimana kabarnya hari ini ?"

Ada orang tua yang berkali-kali membuka ponselnya hanya untuk melihat apakah ada pesan dari anaknya. Ada yang menunggu hari libur karena berharap rumah kembali ramai oleh kehadiran anak dan cucu. Ada kerinduan yang disembunyikan karena tidak ingin dianggap merepotkan. Padahal di dalam hatinya, mereka hanya ingin merasa bahwa dirinya masih dibutuhkan dan masih diingat.

Allah berfirman :

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika kecil."
(QS. Al-Isrā': 24)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa dahulu orang tua membesarkan kita dalam keadaan lemah, sementara hari ini bisa jadi merekalah yang mulai menua dan membutuhkan perhatian. Jika dulu mereka begadang ketika kita sakit, maka jangan sampai hari ini kita terlalu sibuk untuk sekadar menghubungi mereka. Jika dulu mereka selalu memikirkan kita, maka jangan sampai kita jarang memikirkan mereka.

Di akhir hidupnya, orang tua tidak menghitung berapa banyak harta yang dimiliki anak-anaknya. Mereka lebih bahagia melihat anak-anaknya hidup tetap rukun, dan tidak melupakan mereka. Maka jika orang tua masih ada, luangkan waktu untuk menghubungi mereka hari ini. Jika dekat, datanglah berkunjung. Jika jauh, kirimkan kabar dan doa. Sebab mungkin yang kita anggap hal biasa, bagi mereka adalah kebahagiaan yang luar biasa.

Yaa Rabb, ampuni kedua Ibu Bapak kami, sayangi mereka berdua dan angkat kedudukannya di maqom terbaik di sisiMu...

Want your school to be the top-listed School/college in Batam?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Trans Barelang
Batam