10/04/2017
Ippho Santosa - ipphoright:
Hari ini, saya berada di Madinah.
Dulu, kalau nggak salah tahun 2009, ibu saya tanpa sengaja pernah bercerita tentang keinginannya untuk berumrah di bulan Ramadhan. Sebut saja, angan-angan. Tahu sendiri kan, umrah Ramadhan dua kali lipat lebih mahal daripada umrah biasa.
Saat itu saya nggak punya uang. Bener-bener nggak punya uang. Tapi alhamdulillah, saya masih punya keyakinan. Langsung saja saya sambar, "Insya Allah berangkat, Bu. Umrah Ramadhan." Ternyata, beneran. Dengan izin Allah, tahu-tahu uangnya ada dan ibu saya bisa berangkat. Surprise-nya lagi, saya pun ikut berangkat.
Jadilah kami berdua berangkat umrah Ramadhan. Benar-benar surprise. Setiba di airport, menjelang boarding ke Jeddah, saya cek rekening saya di ATM. Anda tahu, berapa uang saya yang tersisa? Tak sampai Rp100ribu. Anda nggak salah baca, tak sampai Rp100ribu. Tapi, saya nggak nyesel. Bersyukur malah, "Alhamdulillah, bisa berumrah. Ramadhan lagi."
Itulah umrah pertama saya, tahun 2009. Alhamdulillah sep**angnya, saya mengalami percepatan demi percepatan. Sebagian dari Anda mungkin tahu apa saja yang Allah titipkan kepada saya mulai tahun 2010 sampai sekarang, 2017. Btw, kapan-kapan kita akan bercerita soal keajaiban Multazam.
Dulu, saya pernah menunjukkan peta dunia di hadapan ibu saya (dari sebuah majalah). Saya bilang ke ibu saya, "Ibu tunjuk saja, mau ke negara mana. Insya Allah kita ke sana." Apakah saat itu saya punya uang? Siapa bilang! Yang ada cuma keyakinan. Tapi, jangan salah, yakin sama Allah, itu saja sudah lebih dari cukup. Ini iman namanya, bukan takabur.
Kebanyakan orang, ada uang, baru yakin. Nggak ada uang, nggak yakin. Harusnya? Ada uang atau nggak ada uang, yah tetap yakin. Jangan uang yang dijadikan Tuhan. Justru kalau yakin, uangnya akan dimudahkan untuk ada. Ini serius, nggak mengada-ngada.
Benar saja, akhirnya saya bisa mengajak ibu saya dan mertua saya bertandang ke berbagai belahan dunia. Mulai dari Brunei, Mesir, Arab Saudi, Turki, Jepang, sampai ke Derawan, Pulau Komodo, dan Raja Ampat. Pernah juga mereka jalan-jalan sendiri tanpa saya ke Spanyol, Tiongkok, Palestina, dan Jordan. Sebentar lagi keliling Eropa, insya Allah.
Kalau ke Hongkong, mereka sudah tiga kali. Misalnya lagi cekak, ya sudah, kami jalannya yang dekat-dekat saja, yang murah-murah saja. Toh, yang paling utama adalah jalan bareng siapa, bukan jalan ke mana. Right?
Apa nggak boros, jalan-jalan seperti itu? Kalau jalan-jalan sendiri, yah boros. Kalau bareng orangtua, nggak boros. Insya Allah ini bagian dari berbakti. Tahu sendiri kan, berbakti malah mengundang rezeki. Tak perlu diragukan lagi, itu pasti.
Tambahan p**a, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar saling mengenal. Ayat ini tidak bisa terlaksana dengan sempurna sekiranya tidak ada yang travelling.
Ada juga yang nyeletuk, "Jalan bareng orangtua terus, kasihan istrinya nggak diajak." Hehehe, masing-masing ada waktunya. Setahun menikah, alhamdulillah saya dan istri bisa berumrah. Tiga tahun menikah, alhamdulillah kami bisa berhaji. Sempat juga kami ke Amerika, Australia, dan Jepang. Masing-masing ada waktunya.
Alhamdulillah, hari ini saya berada di Madinah bersama istri. Hanya saja, saya jarang sekali upload foto istri di socmed.
Semoga teman-teman semua juga dimampukan untuk mengajak keluarganya jalan-jalan. Travelling. Yang dekat, boleh. Yang jauh, juga boleh. Terutama berumrah. Niatnya untuk beribadah dan menyenangkan keluarga karena Allah. Semoga dimudahkan ya. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.