03/03/2016
"The climax of God’s happiness is the delight He takes in the echoes of His excellence in the praises of His people." - John Piper
Tuhan dipermuliakan disaat matamu melihat keindahan-Nya, hatimu menjadi jatuh cinta dengan pribadi-Nya, dan mulutmu menyuarakan isi hatimu dengan mengangkat puji-pujian bagi-Nya.
Dan jika manusia diciptakan untuk memuliakan Allah, maka setiap keputusan yang engkau ambil, apa yang akan engkau lakukan, apa yang akan engkau makan dan minum, dengan siapa engkau akan menikah, pekerjaan apa yang akan engkau ambil, harus mengarah kepada satu tujuan, yaitu kemuliaan Allah.
Saya hendak berbicara khususnya dalam konteks pertemanan-hidup atau yang sering kita sebut dengan ‘pacaran’. Teman hidup (TH) adalah perkara kedua terpenting dalam hidupmu. Perkara pertama yang terpenting adalah imanmu pada Kristus karena itu akan menentukan dimana engkau akan menghabiskan kekekalan. Perkara TH menjadi kedua yang terpenting karena dimana engkau akan menghabiskan sisa hidupmu sangat ditentukan olehnya.
Namun di kalangan anak muda, TH tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang serius dan membutuhkan banyak persiapan. Banyak dari mereka yang menerjunkan diri sendiri ke dalam perkara ini tanpa persiapan yang matang karena ingin ‘mencicipi’ kenikmatan yang terkandung di dalamnya.
Dan pada akhirnya harga yang harus dibayar menjadi sangat mahal. Hati yang harus patah berkali-kali, kejatuhan dalam dosa-dosa perzinahan, dan yang paling menyakitkan, engkau harus naik ke altar pernikahan suatu hari nanti bukan lagi sebagai seseorang yang masih murni. Dan ingatan akan kekasihmu di masa lalu harus menghantui kehidupan pernikahanmu.
Allah menciptakan pernikahan untuk mendatangkan berkat bagi anak-anak-Nya. Ia mau supaya seorang pria menjadi satu daging dengan wanitanya dan merasakan indahnya keintiman yang dirasakan antara Kristus dengan gereja-Nya (Efesus 5:22-33). Ia rindu supaya sang pria dan wanita begitu dipuaskan dalam penikahannya sehingga keduanya mengangkat puji-pujian bagi Dia yang telah mempertemukan dan mempersatukan mereka. Dan untuk sampai kesana, sang pria dan wanita harus mengikuti bimbingan Tuhan dalam ketaatan.
Hubungan TH yang benar akan membawa kedua pihak, pria dan wanita, semakin mengasihi Allah. Dalam hati sang pria, kasih kepada Allah tidak perlu bersaing dengan kasih kepada wanitanya karena keduanya tidak berbenturan. Di saat sang pria mengasihi Allah, kasih yang sama tertuang kepada sang wanita sebagai wujud cintanya pada Allah. Begitu juga yang terjadi di dalam hati sang wanita.
Kedua pihak akan berjalan berdampingan untuk mengikuti rencana Allah yang telah ditentukan bagi mereka. Mereka tidak menarik satu sama lain keluar dari rencana-Nya.
Lakukan evaluasi dalam hatimu, terutama engkau yang telah memiliki pasangan. Sebelum masuk ke dalam pernikahan, tanyakan pada dirimu beberapa pertanyaan ini:
1. Apakah aku mengalami pertumbuhan rohani yang lebih pesat semenjak dia (sang pasangan) ada dalam hidupku?
2. Apakah aku semakin mengerti visi dan panggilan Allah dalam hidupku?
3. Apakah dia memiliki kedewasaan rohani yang setara denganku?
4. Apakah hubungan ini adalah hubungan yang serius untuk sampai kepada status pernikahan?
Banyak anak Tuhan yang berkompromi dengan kebenaran firman saat memasuki perkara TH. Mereka mengikat hubungan dalam keadaan belum siap secara rohani, atau bahkan mengikat hubungan dengan orang tidak percaya. Pada akhirnya hubungan mereka menjadi seperti kisah tarik-menarik antara gelap dan terang. Satu pihak ingin semakin dekat dengan Tuhan namun pihak lainnya hanya tertarik untuk hal-hal duniawi. Satu pihak rindu terjun ke dalam pelayanan, namun pihak lainnya memilih untuk pasif atau bahkan menentang. Sehingga pada akhirnya hatinya harus memilih, “Tuhan atau pasangan saya?” karena kasihnya kepada Tuhan dan pasangannya menjadi bertentangan.
Janganlah jatuh ke dalam lubang yang sama dengan Esau yang menukarkan hak kesulungannya dengan sepiring masakan kacang merah (Kejadian 25:33). Allah memiliki rancangan yang indah dan bukan rancangan kecelakaan bagimu (Yeremia 29:11), jangan tukarkan itu untuk suatu hubungan yang akan merusak masa depanmu. Jika hatimu menjawab ‘tidak’ kepada salah satu pertanyaan diatas, adalah baik bagimu untuk kembali sendiri dan menanti Dia.
“dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30:15b)
“Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (matius 6:33)
Ingat kembali untuk apa engkau diciptakan.
- Jimmy Petra Sanjaya (Sion 2009)