14/02/2022
[ Mempermasalahkan mushthalah Syaikh Al-Albani –rahimahullah- dalam takhrij haditsnya ]
Bagi kalangan thalibul ilmi yang pernah membaca kitab Shahih Fiqh As-Sunnah karya Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, yang diterbitkan oleh Al-Maktabah At-Taufiqiyyah pasti pernah menemukan ungkapan yang popular dari Syaikh Al-Albani –rahimahullah-
صحيح، أخرجه البخاري ومسلم
Lalu timbul pertanyaan ;
“Bukankah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim sudah shahih? Lalu kenapa masih pakai embel-embel “shahih”?”
Ada juga yang menuduh beliau dengan tuduhan ;
“Kalau belum dishahihkan oleh Al-Albani maka belum shahih atau tidak afdhal”.
Sebenarnya tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada beliau itu sudah ada saat beliau masih hidup. Dan beliau sudah membantah tuduhan tersebut dengan data yang ilmiah. Silahkan baca taqdim beliau di awal-awal kitab Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Imam Ibnu Abi Al-‘Izz Al-Hanafi –rahimahullah-. Tentunya kitab ini bukanlah kitab asing lagi bagi mahasiswa LIPIA yang sudah memasuki semester lima, karena kitab ini menjadi muqarrar resmi di kampus.
Baik, kita kembali ke laptop, heheheh,,,,
Sebenarnya ungkapan Syaikh Al-Albani –rahimahullah- di atas bukanlah istilah baru yang beliau ada-adakan. Istilah itu juga dipakai oleh Imam Al-Baghawi –rahimahullah- dalam kitabnya “Syarh As-Sunnah”. Dan beliau berulangkali menggunakan istilah tersebut di banyak tempat dalam kitab itu. Contoh :
هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ، أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Bahkan ada istilah “hasan”, bukan hanya “shahih”
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ، أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Tapi anehnya, kok tidak ada yang mempermasalahkan istilah yang dipakai oleh Imam Al-Baghawi -rahimahullah-.
Memang, bukan suatu kewajiban menerima atau menolak hasil takhrijnya Syaikh Al-Albani –rahimahullah-.
Jika anda ingin membantah beliau, maka bantahlah dengan penuh adab dan disertai data yang ilmiah. Bukannya tuduhan, nyinyiran dan ungkapan yang tak pantas keluar dari lisan seorang yang mengaku beriman.
Jangan sampai di akhirat kelak menjadi orang bangkrut sebagaimana nasihat Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- ;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ n أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu?” Para Sahabat -radhiyallahu ‘anhum menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.” Beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala amalan) shalat, puasa dan zakat. Tetapi dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan padanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.” [HR. Muslim]
Bersikap inshaf dengan yang sepemahaman itu gampang, akan tetapi tidak semua orang bisa inshaf dengan yang tidak sepemahaman. Walaupun demikian, inshaf itu wajib bagi seorang thalibul ilmi. Cukuplah ayat ini sebagai pengingat buat kita ;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [ QS. Al-Ma’idah : 8 ]