Pon Pes Hidayatul Mubtadi'ien

Pon Pes Hidayatul Mubtadi'ien

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pon Pes Hidayatul Mubtadi'ien, Baturaden, Banyumas.

16/03/2017

ﺇﻧﺎ ﻟﻠﻪ ﻭﺇﻧﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺭﺍﺟﻌﻮﻥ
Telah wafat Guru kita, Ulama kita tercinta Hadrotus Syech KH Hasyim Muzadi hari ini Kamis jam 06.25 di ndalem PP Alhikam, semoga khusnul khotimah ....
ﻟﻪ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ...
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﻭﺍﺭﺣﻤﻪ ﻭﻋﺎﻓﻪ ﻭﺍﻋﻒ ﻋﻨﻪ ﻭﺍﻛﺮﻡ ﻣﺜﻮﺍﻩ ﻭﺍﻛﺮﻣﻪ
ﺑﺸﻔﺎﻋﺔ ﻭﻣﺮﺍﻓﻘﺔ ﻭﺟﻮﺍﺭ ﺣﺒﻴﺒﻚ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺍﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ
Selamat jalan Kyai kita
Selamat jalan Ulama kita...

02/02/2017

Bagi alumni& santri pondpest hidayatul mubtadiin dimohon comment alamat dan no WA/BBM geh.....matursuwun....

28/09/2016

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.“.

Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa muharram lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ ، إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura, aku mengharapkan pahalanya di sisi Allah dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun sebelumnya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Secara umum, puasa yang dilaksanakan pada Muharram dapat dikerjakan dengan beberapa pilihan yang diantaranya adalah:
Pertama, berpuasa selama tiga hari berturut-turut, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11.
Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para shabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).
Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Selain itu, sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.

Sejarah puasa ‘Asyura
Hari ‘Asyura atau 10 Muharram adalah hari yang agung, pada hari tersebut Allah menyelamatkan nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam dan Bani Israil dari pengejaran Fir’aun dan bala tentaranya di Laut Merah. Untuk mensyukuri nikmat yang agung tersebut, kaum Yahudi diperintahkan untuk melaksanakan shaum ‘Asyura.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الله بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam tiba di Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari ‘Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: “Ada apa ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini.”

Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam bersabda, “Saya lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan kalian.” Maka beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa ‘Asura.”(HR. Bukhari no. 2204 dan Muslim no. 1130)

Kaum musyrik Quraisy sendiri juga telah melaksanakan shaum ‘Asyura pada zaman jahiliyah.

Mereka menganggap hari tersebut adalah hari yang agung sehingga mereka melakukan penggantian kain Ka’bah (kiswah) pada hari tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga telah melakukan puasa ‘Asyura sejak sebelum diangkat menjadi nabi sampai saat beliau berhijrah ke Madinah. Hal ini mengindikasikan, wallahu a’lam, puasa ‘Asyura diwarisi oleh kaum Quraisy dari ajaran nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الكَعْبَةُ، فَلَمَّا فَرَضَ الله رَمَضَانَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ»

Dari Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: “Mereka biasa melakukan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Pada hari tersebut Ka’bah diberi kain penutup (kiswah). Ketika Allah mewajibkan puasa Ramadhan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Baarangsiapa ingin berpuasa ‘Asyura, silahkan ia berpuasa. Dan barangsiapa ingin tidak berpuasa ‘Asyura, silahkan ia tidak berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1592)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا، قَالَتْ: «كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ»

Dari Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: “Kaum musyrik Quraisy mengerjakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) sejak zaman jahiliyah. Demikian p**a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengerjakan puasa ‘Asyura. Ketika beliau tiba di Madinah, maka beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Kemudian ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa hari ‘Asyura. Maka barangsiapa ingin, ia boleh berpuasa ‘Asyura. Dan barangsiapa ingin, ia boleh tidak berpuasa.” (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125, dengan lafal Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pada waktu di Madinah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan shaum ‘Asyura.

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ: أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ: ” أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ: أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ اليَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ “

Dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan seseorang dari suku Aslam: “Umumkanlah kepada masyarakat bahwa barangsiapa tadi pagi telah makan, maka hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Dan barangsiapa belum makan tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa. Karena hari ini adalah hari Asyura’.” (HR. Bukhari no. 2007 dan Muslim no. 1824)

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ، قَالَتْ: أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ: «مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا، فَليَصُمْ»، قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengirimkan seorang pemberi pengumuman pada pagi hari ‘Asyura ke kampung-kampung Anshar, untuk mengumumkan “Barangsiapa siapa tadi pagi telah makan, hendaklah ia menyempurnakannya sampai akhir hari ini (berpuasa) dan barangsiapa telah berpuasa sejak tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa.”

Sejak saat itu kami selalu berpuasa ‘Asyura dan kami jadikan anak-anak kecil kami berpuasa ‘Asyura. Kami membuatkan mainan boneka untuk mereka dari bulu domba. Jika salah seorang di antara mereka menangis karena lapar, maka kami berikan kepadanya mainana itu, begitulah sampai datangnya waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)

Dengan turunnya kewajiban puasa Ramadhan, maka status hukum puasa ‘Asyura berubah dari wajib menjadi “sekedar” sunah.

Sejarah puasa Tasu’a
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ» قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam melakukan puasa ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura, maka para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.”

Maka beliau bersabda, “Jika begitu, pada tahun mendatang kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan, insya Allah.”

Ternyata tahun berikutnya belum datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah wafat.” (HR. Muslim no. 1134)

Keutamaan Berpuasa di Hari ‘Asyura (10 Muharram)
Di bulan Muharram, berpuasa ‘Asyura tanggal 10 Muharram sangat ditekankan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((…وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ.))

“… Dan puasa di hari ‘Asyura’ saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.”

Ternyata puasa ‘Asyura’ adalah puasa yang telah dikenal oleh orang-orang Quraisy sebelum datangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga berpuasa pada hari tersebut. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

(كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَه.)
“Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silakan meninggalkannya.”

Keutamaan Berpuasa Sehari Sebelumnya
Selain berpuasa di hari ‘Asyura disukai untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkeinginan, jika seandainya tahun depan beliau hidup, beliau akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Tetapi ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat pada tahun tersebut.

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَقُولُ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ, قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ.)) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa dengan tanggal 9 (Muharram).’ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.”

Banyak ulama mengatakan bahwa disunnahkan juga berpuasa sesudahnya yaitu tanggal 11 Muharram. Di antara mereka ada yang berdalil dengan hadits Ibnu ‘Abbas berikut:

(( صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا.))

“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah setelahnya satu hari.”
Akan tetapi hadits ini lemah dari segi sanadnya (jalur periwayatan haditsnya).

Meskipun demikian, bukan berarti jika seseorang ingin berpuasa tanggal 11 Muharram hal tersebut terlarang. Tentu tidak, karena puasa tanggal 11 Muharram termasuk puasa di bulan Muharram dan hal tersebut disunnahkan.

Sebagian ulama juga memberikan alasan, jika berpuasa pada tanggal 11 Muharram dan 9 Muharram, maka hal tersebut dapat menghilangkan keraguan tentang bertepatan atau tidakkah hari ‘Asyura (10 Muharram) yang dia puasai tersebut, karena bisa saja penentuan masuk atau tidaknya bulan Muharram tidak tepat. Apalagi untuk saat sekarang, banyak manusia tergantung dengan ilmu astronomi dalam penentuan awal bulan, kecuali pada bulan Ramadhan, Syawal dan Dzul-Hijjah.

Photos 06/07/2016

assalamu'alaikum wr wb...
kami kluarga besar PPHM pamijen baturraden banyumas mengucapkan...

TAQOBBALALLOHU MINNA WA MINKUM MINAL 'ADZIN WAL FAIZIN...MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN....

0:0...njeh...

wassalamu'alaikum wr wb

Photos 30/06/2016

ingat njeh,,,,nanti malam low nki......colek mba Afidha Chafsh Arr Rochman Asfina Nurrohman AS Akang Zain Zainur Rochman Dermawan KhuryneInara Nuraini Ummusyifa Muh Hirin Jasmine Assyfa Ayif Assibly Simuzayin Inayaturrohmah Any Iskand Mahbub Umi Fahidatul UN Muchamm Al Baehaqih Isti Qomah Turhamun Ibnu Shodiq Ilham Kikink Park Munawi Khoiruz Zadit Taqwa Amin Yusuf Iping Syafii Eta Marfuah Nurthoiatul Fajriyah Fiikkrrii Pecinta Habib Syekh Fivian Ahzamy Ambar Mahfud Cahzhobo Rofiqoh Al-Baehaqi
Moeza Zayn

Shalat kifarat Jum’at Terakhir Ramadhan

Mengenai shalat kafarat (mengqodlo sholat lima waktu) adalah kebiasaan yang dilakukan oleh beberapa sahabat, diantaranya oleh Ali bin Abi Thalib kw, dan terdapat sanad yang muttashil dan tsiqah kepada Ali bin Abi Thalib kw bahwa beliau melakukannya di Kufah.
Dan yang memproklamirkan kembali hal ini adalah AL Imam Al Hafidh Al Musnid Abubakar bin Salim rahimahullah, yaitu dilakukan pada setelah shalat jumat, pada hari jumat terakhir di bulan ramadhan, meng Qadha shalat lima waktu,
Tujuannya adalah barangkali ada dalam hari hari kita shalat yang tertinggal, dan belum di Qadha, atau ada hal hal yang membuat batalnya shalat kita dan kita lupa akannya maka dilakukan shalat tersebut.

Mereka melakukan hal itu menilik keberkahan dan kemuliaan waktu hari jumat dan bulan Ramadhan. Adapun tatacaranya adalah sholat dengan niat qadha` . pertama sholat dhuhur, kemudian setelah salam langsung bangun sholat ashar qadha` dan begitu seterusnya sampai sholat subuh.

Tetapi jika tak dapat menghitung jumlahnya, dengan melakukan Shalat Sunnat kafarah.

Shalat kafarah Bersabda Rasulullah SAW : " Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum'at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja, tanpa tasyahud awal), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X .

Niatnya: ” Nawaitu Usholli arba’a raka’atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta’alaa”

Sayidina Abu Bakar ra. berkata
"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun. Maka bertanyalah sahabat : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?". Rasulullah SAW menjawab, "Untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya."

MengQadha shalat tentunya wajib hukumnya bagi mereka yang meninggalkan shalat, namun tidak ada larangannya melakukan shalat fardhu kembali karena hukum shalat I’adah adalah hal yang diperbolehkan.
Dan selama hal ini pernah dilakukan oleh para sahabat maka pastilah Rasul saw yang mengajarkannya, mengenai tak teriwayatkannya pada hadits shahih maka hal itu tak bisa menafikan hal ini selama terdapat sanad yang tsiqah dan muttashil pada sahabat atau tabiin. Sebab hadits yg ada kini tak sampai 1% dari hadits hadits Rasul saw yg ada dizaman sahabat,
Anda bisa bayangkan Jika Imam Ahmad bin Hanbal telah hafal 1 juta hadits dengan sanad dan hukum matannya, namun ia hanya mampu menulis sekitar 20 ribu hadits pada musnadnya, sisanya tak tertulis, lalu kemana 980 ribu hadits lainnya?, sirna dan tak tertuliskan,
demikian p**a Imam Bukhari yg hafal lebih dari 600 ribu hadit dg sanad dan hukum matannya namun beliau hanya mampu menuliskan sekitar 7000 hadits pada shahihnya dan beberapa hadits lagi pada buku2 beliau lainnya, lalu kemana 593 ribu hadits lainnya?. sirna dan tak sempat tertuliskan,
Namun ada tulisan tulisan dan riwayat sanad yang dihafal oleh murid-murid mereka, disampaikan p**a pada murid murid berikutnya, nah demikianlah sanad yang sampai saat ini tanpa teriwayatkan dalam hadits shahih.
Tentunya jalur mereka yang tak sempat terdata secara umum, namun masih tersimpan jalurnya dengan riwayat tsiqah dan muttashil kepada para sahabat.
Hal ini merupakan Ikhtilaf, boleh mengamalkannya dan boleh meninggalkannya.

Setelah selesai Sholat membaca Istigfar 10 x :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعِظِيْمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أتُبُوْا إِلَيْكَ

Kemudian baca sholawat 100 x :

اللَّهُمَّ صَلِّّ عَلَى سَيِّدِنَا محمّد

Kemudian menbaca basmalah, hamdalah dan syahadat
Kemudian membaca Doa kafaroh 3 x:

Photos 22/06/2016

seluruh keluarga besar PPHM PAMIJEN BTR BMS mengucapkan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA....smoga amal ibadah kita diterima....taqobbalallohu minna waminkum...taqobbal ya karim...

25/04/2016

1. Amalan untuk orang yang sering pelupa.

Bacalah dua ayat ini sebanyak seratus kali dalam sehari.

وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ (الحاقة 12)

Telinga yang peka akan mendengar peringatan Tuhan

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى (الأعلى 6)

Akan kami bacakan (Al-Quran) padamu maka kamu tidak akan lupa



2. Do’a sebelum menghafal al-Qur’an.
Imam as-Syadzily menuturkan ”Di antara sebab yang dapat memudahkan dalam menghafal al-Qur’an adalah membaca bait syair dibawah ini:

كَلاَمٌ قَدِيْمٌ لا يُمَلُّ سَمَاعُهُ )*( تَنَزَّهَ عَنْ قَوْلٍ وَفِعْلٍ وَنِيَّةٍ

Al-Quran adalah firman abadi yang tak membosankan untuk didengarkan, ia suci dari segala ucapan, perbuatan, dan niat yang tidak baik

بِهِ أشْتَفيْ مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَنُوْرُهُ )*( دَلِيْلٌ لِقَلْبِيْ عِنْدَ جَهْليْ وَحَيْرَتِيْ

Berkat al-Quran lah, saya disembuhkan dari semua penyakit, dan cahaya al-Quran menjadi lentera penerang hatiku dikala aku bodoh dan bingung

فَياَ رَبِّ مَتِّعْنِيْ بِسِرِّ حُرُوْفِهِ )*( وَنَوِّرْ بِهِ قَلْبِيْ وَسَمْعِيْ وَمُقْلَتِيْ

Maka dari itu, ya Allah hiburlah aku dengan rahasia huruf-hurufnya dan terangilah hati, pendengaran, dan mataku dengan cahaya al-Quran

وَيا رَبِّ يا فَتَّاحُ اِفْتَحْ قُلُوْبَنَا )*( وَفَهِّمْ بِهِ قَلْبِيْ عُلُوْمَ الشَّرِيْعَةِ

Wahai tuhanku yang maha pembuka, bukalah hati kami dan berikan kami pemahaman ilmu-ilmu syariat (agama)

وَصَلِّ وَسَلِّمْ يا إلَهِيْ لِمُنْذِرِ )*( عَدَدَ حُرُوْفٍ بالْقُرْآنِ والسُّوْرَةِ

Wahai tuhanku sampaikan shalawat serta salam kepada nabi pemberi peringatan sejumlah huruf dalam al-Quran dan surat al-Quran

3. Bacaan ayat-ayat al-Qur’an untuk mempermudah menghafal.
Bacalah ayat ini sebanyak sepuluh kali dalam sehari, yaitu:

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ (الأنبياء آية 79)
Maka kami telah memberikan pengertian kepada Nabi Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Nabi Daud. Dan kamilah yang melakukannya.

Setelah membaca ayat tersebut bacalah do’a ini:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا رَبَّ مُوْسَى وَهَارُوْنَ وَرَبَّ إبْرَاهِيْمَ، وَيَا رَبَّ مُحَمَّدٍ -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِمْ أجْمَعِيْنَ- ارْزُقْنِي الْفَهْمَ وَارْزُقْنِي الْعِلْمَ وَالْحِكْمَةَ وَالْعَقْلَ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Wahai tuhan yang maha hidup dan kekal, wahai tuhan Musa, Harun dan Ibrahim, Wahai Tuhan Muhammad saw berikanlah aku pemahaman, ilmu, hikmah, akal cerdas berkat rahmat-Mu wahai tuhan yang maha pengasih dari orang-orang yang pengasih

4. Faidah supaya kuat hafalan al-Qur’an dan pelajaran.
Dari Ibnu Mas’ud ra. Rasulullah saw. bersabda “Barangsiapa yang takut hilang hafalan al-Qur’annya setelah menghafal dan ilmu pengetahuan setelah belajar maka hendaklah membaca “:

اللّهُمَّ نَوِّرْ بِالْكِتَابِ بَصَرِيْ وَاشْرَحْ بِهِ صَدْرِيْ وَاسْتَعْمِلْ بِهِ بَدَنِيْ واطْلِقْ بِهِ لِسَانِيْ وَقَوِّ بِهِ جِنَانِيْ وَاشْرَحْ بِهِ فَهْمِيْ وَقَوِّ بِهِ عَزْمِيْ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ فَإنّهُ لاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah terangilah mata hatiku untuk al-Quran dan luaskan dadaku untuk al-Quran dan fungsikan tubuhku untuk al-Quran dan lancarkan lidahku untuk al-Quran dan kuatkan hatiku untuk al-Quran dan luaskan pemahamanku untuk al-Quran dan kuatkan tekadku untuk al-Quran berkat rekayasa dan kekuatanmu, karena tidak ada rekayasa dan kekuatan kecuali dari-Mu wahai tuhan yang maha pengasih dari orang-orang yang pengasih

Dan untuk menguatkan hafalan bacalah ayat ini, setelah selesai salat lima waktu:

{سنقرئك فلا تنسي} sebanyak 7 kali, dengan meletakan tangan kanan di kepala.

5. Do’a supaya jangan pelupa apa yang telah dihafal.
Sering-seringlah baca do’a ini, terutama ketika selesai salat:

اللّهُمَّ افْتَحْ عَلَيَّ فُتُوْحَ الْعَارِفِيْنَ بِحِكْمَتِكَ وَانْشُرْعَلَيَّ رَحْمَتَكَ وَذَكِّرْنِيْ مَا نَسِيْتُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

Ya Allah bukakanlah (hatiku untuk ilmu) sebagaimana terbukanya hati orang-orang yang makrifat melalui kebijaksanaanmu dan tebarkan untuk ku rahamat-Mu dan ingatkan aku atas ilmu yang aku lupa wahai tuhan yang memiliki keagungan dan kemuliaan



Dan bacalah do’a ini sebelum belajar:

اللَّهُمَّ إنِّيْ أَسْتَوْدِعُكَ مَاعَلَّمْتَنِيْهِ فَارْدُدْهُ إلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ إلَيْهِ وَلاَ تَنْسَنِيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اللّهُمَّ أَخْرِجْنِيْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ وَأَكْرِمْنِيْ بِنُوْرِ الْفَهْمِ وَافْتَحْ عَلَيَّ بِمَعْرِفَةِ الْعِلْمِ وَحَسِّنْ أَخْلاَقِيْ بِالْحِلْمِ وَسَهِّلْ لِيْ أَبْوَابَ فَضْلِكَ وَانْشُرْعَلَيَّ مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah aku titipkan ilmu yang telah engkau ajarkan padaku, maka kembalikan ilmu itu padaku ketika aku membutuhkannya dan jangan engkau melupakan ilmu itu pada diriku. Ya Allah keluarkan aku dari gelapnya prasangka dan muliakan aku dengan cahaya pemahaman dan bukakan pengetahuan untuk ku dan perbaiki akhlakku dengan kesabaran dan mudahkan aku untuk membuka pintu-pintu keutamaanmu dan tebarkan untuk ku gudang rahmatmu wahai tuhan yang maha pengasih dari orang-orang yang pengasih

6. Amalan dari Imam Nawawi.
Imam Nawawi menuturkan ”Barangsiapa yang sering lupa apa yang dipelajarinya, maka hendaklah ia memperbanyak: يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ

7. Amalan untuk mudah menghafal al-Qur’an.
Para ulama salaf menganjurkan supaya membaca ayat ini ketika mau tidur. Ayatnya yaitu, firman Allah swt:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ (البقرة : 164)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia

8. Amalan Salawat untuk menguatkan hafalan
Bacalah Salawat ini setiap hari, yaitu:

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمِّدِنِ النُّوْرِ الْمُذْهِبِ لِلنِّسْيَانِ لِنُوْرِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسَعَهُ عِلْمُ اللهِ

Ya Allah berilah rahmat, keselamatan dan keberkahan kepada baginda Nabi Muhammad sebagai cahaya yang menghilangkan lupa berkat cahayanya pada setiap kedip mata dan desah nafas sebanyak yang dijangkau oleh ilmu Allah.

9. Supaya cepat faham dan mudah hafal.
– Bacalah surah al-Fatihah sebanyak 41 kali pada waktu sahur (waktu sebelum salat Subuh).
– Bacalah Asma al-Husna ini setiap hari sebanyak seratus kali: ((يا مبديء يا خالق))

10. Supaya dimudahkan dalam setiap perkara.
bacalah ((يا لطيف)) pada Pagi dan Sore sebanyak 129 kali.

11. Amalan supaya dikabulkan do’anya.
Bacalah ((يا سميع يا بصير )) sebanyak seratus kali dalam sehari.

12. Agar dimudahkan menghafal.

Imam Sayyidina Hasan mengatakan ”Barangsiapa banyak membaca salawat ini, maka insyallah diberi kemudahan dalam menghafal:

صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِفْتَاحِ الْمَعَارِفِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ حَسَنَاتِ كُلِّ عَارِفٍ وَغَارِفٍ

Semoga rahmat dari Allah tercurahkan kepada nabi Muhammad sebagai kunci pengetahuan beserta keluarga dan sahabatnya sebanyak kebaikan setiap orang yang tahu dan orang yang mengambilnya.

13. Pesan-pesan Imam al-Ghazali, bagi siapa saja yang menginginkan kemudahan dalam menghafal, pesan beliau adalah:
1. Selalu melazimi ketaatan.
2. Meninggalkan maksiat.
3. Membaca al-Qur’an dengan melihat Mashaf.
4. Minum madu.
5. Makan buah kandar dicampur dengan gula.
6. Makan anggur kering yang berwarna merah sebanyak 21 biji pada Pagi hari sebelum makan yang lain.

Do’a Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad ketika memulai pelajaran:

نَوَيْتُ التَعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ وَالتَّذْكِرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ وَالنَّفْعَ وَالاِنْتِفَاعِ وَالإفَادَةِ وَالاِسْتِفَادَةِ وَالحَثِّ عَلَى التَّمَسُّكِ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ وَالدَّعْوَةِ إلَى الْهُدَى وَالدَّلاَلَةِ عَلَى الْخَيْرِ اِبْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ بِسْمِ اللهِ

Disebutkan di kitab Hishnul Hashin pada hamisy kitab Khazinatul Asrar hal 105, juga di kitab Khashaishul Ummah Al-Muhammadiyah karya Sayyid Alwi al-Maliki, menjelaskan bahwa barang siapa yang ingin hafal alQur’an maka hendaknya melakukan sholat sunah empat raka’at di pertengahan malam(jam 12 mlm) jum’at atau sepertiga yang akhir, rakaat pertama setelah baca fatihah membaca surat Yasin, raka’at kedua setelah fatihah membaca surat ad-Dukhon, rakaat ke tiga setelah fatihah membaca surat as-Sajdah dan rakaat ke empat setelah fatihah baca surat al-Mulk, selesai sholat baca hamdalah dan bersholawat pada nabi serta membaca istighfar untuk mukminin mukminat lalu baca do’a”

اللّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَاأَبْقَيْتَنِي وَ ارْحَمْنِي مِنْ أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لآ يَعْنِيْنِي وَارْزُقْنِي حُسْنُ النَّظْرِ فِيْمَا يُرْضِيْكَ عَنِّي اَللّهُمَّ بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ ذَاالْجَلآلِ وَالإِكْرَامِ وَ الْعِزَّةِ الَّتِي لآ تَرَامَ أَسْأَلُكَ يَاأَللهُ يَا رَحْمَانُ بِجَلآلِكَ وَنُوْرِ وَاجْهِكَ أَنْ تَلْزِمَ قَلْبِي حَفَظَ كِتَابَكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوْهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيْكَ عَنِّي وَ أَسْأَلُكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِالْكِتَابِ بَصِرِي وَتَطَاقَ بِهِ لِسَانِي وَتُفَرِّجَ بِهِ كَرْبِي وَتَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَتَسْتَعْمِلَ بِهِ بَدَنِي وَتَقْوِيْنِي عَلَى ذَالِكَ وَتَعِيْنَنِي عَلَيْهِ فَإِنَّه‘ لآ يَعِيْنَنِي عَلَى الْخَيْرِ غَيْرُكَ وَلآ يُوَافِقُ لَه إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah rahmatilah aku agar mampu meninggalkan maksiyat selamanya, selama Kau kekalkan atasku, dan rahmatilah dari beban yang tidak berguna bagiku, dan berilah aku penglihatan yang baik terhadap apa yang Kau ridhai dariku. Ya Allah pencipta langit dan bumi yang memiliki keagungan dan kemulyaan, keperkasaan yang tidak berkurang. Saya mohon kepada Mu Ya Allah yang Maha Murah dengan ke Agungan Mu cahaya wajah Mu agar Kau tetapkan hatiku hafal Kitab Mu sebagaimana Kau ajarkan kepada ku, dan berilah kemampuan untuk membacanya sebagaimana yang Kau ridhai dariku, dan saya mohon kepada Mu agar Engkau memancarkan cahaya dengan Kitab Mu pada penlihatanku, dan berbicara dengannya lidahku, dan mengatasi dengannya kesulitan hidupku, dan melapangkan dengannya dadaku dan beramal dengannya badanku, dan menjaga diriku dengan semua itu, dan tolonglah atasnya karena sesungguhnya tidak ada yang menolong dalam kebaikan selain Mu dan tidak ada yang dapat menepati kecuali Engkau. colek mbak Afidha Chafsh Arr Rochman.....

21/04/2016

Pondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama (baca; Islam), semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam (Ulama) yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum tradisionalis.

Seiring berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu umum.

Keberadaan itu ternyata tidak membuat pesantren aman dalam memuluskan ajarannya. Munculnya pesantren-pesantren baru yang sebenarnya berada dalam naungan aliran Islam transnasional menjadi tantangan pesantren yang sudah lama ada. Pesantren baru muncul dengan mengedapankan ilmu umum semata, pengetahuan bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi tawaran untuk menarik animo para orang tua agar memondokkan anaknya di pesantrennya.

Gerakan "Ayo Mondok" yang dipelopori oleh Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU menjadi signal bahwa lembaga pendidikan pesantren bukan lembaga alternatif. Akan tetapi, pesantren dengan segala bentuknya merupakan lembaga unggulan. Memang, jika dilihat dari redaksi bahasa, gerakan tersebut seakan-akan hanya ajakan untuk orang tua agar memondokkan anaknya di pesantren. Ajakan tersebut diperuntukkan agar orang tua tidak memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Karena, meskipun menempuh pendidikan di pesantren bukan jaminan mereka sudah berada di tempat yang benar. Jika pesantren yang ditempati berideologi Islam garis keras, maka sejatinya mereka tidak nyantri. Akan tetapi, mereka dididik untuk menjadi para "teroris" dengan alasan "jihad". Setelah keluar sebagai alumni mereka malah mencoreng nama Islam itu sendiri. Untuk itulah, gerakan "Ayo Mondok" menjadi sebuah kampanye penting agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya untuk belajar di pesantren.

Pentingnya Mondok

Banyak hal kenapa orang tua penting memondokkan anaknya di pesantren yang benar. Menurut pengalaman penulis sendiri, ada beberapa hal kenapa penting menempuh pendidikan di pesantren, tentunya pesantren yang berada di bawah asuhan kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU). Di antaranya pertama, pesantren NU memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari di pesantren NU bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang dipelajari di pesantren NU. Karena itu sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang besok bertanggung jawab dihadapan Allah Yang Maha Esa.

Kedua, pesantren mengajarkan kita untuk tidak berpikir oposisi-binner. Sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan. Tak heran, jika gerakan feminisme menjadi kekuatan matriarki yang menindas kaum lelaki, semisal. Atau sosialisme menentang otoriterianisme, lalu menjadi otoriterianisme dengan bentuk baru. Nah, di pesantren kita diajarkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif agar bisa berjalan beriringan.

Pelajaran sejarah yang bisa kita petik adalah saat terjadi perang sesama sahabat Rasulullah. Ketika beberapa kelompok memberi dukungan kepada salah satu sahabat, bahkan ada yang memilih menyalahkan keduanya. Ulama Ahlussunnah memilih tidak berkomentar. Diamnya Ahlussunnah bukan tanpa alasan, sikap diam tanpa komentar merupakan pernyataan tersirat bahwa keduanya sama-sama mempunyai dasar alasan atas perang yang mereka kobarkan. Keduanya sama-sama sahabat Rasulullah dan perbedaan pandangan itu hal yang biasa terjadi, tak terkecuali sahabat Nabi sendiri.

Ketiga, kita dikenalkan tentang konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, barokah menjadi hal penting yang dijadikan pegangan santri. Sering kali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barokah merupakan sebuah kekuatan rasa yang dimiliki oleh Kiai dan dipercaya mampu melegitimasi ilmu yang diperoleh santri, manfaat atau tidak. Barokah tidak semata-mata bisa hadir dari seorang Kiai. Artinya, untuk mendapatkan titel bahwa seorang Kiai memiliki kekuatan barokah biasanya terletak pada sejauhmana Kiai tersebut memilki karomah.

Karomah sendiri merupakan sebuah pengetahuan yang telah mengkristal pada diri seorang Kiai. Tentunya, ilmu yang pernah dipelajarinya telah menyatu dengan dirinya. Nah, Kiai seperti ini akan terlihat begitu karismatik di depan santri-santrinya dan masyarakat pada umumnya. Ternyata, hal semacam ini tidak hanya diakui oleh kalangan pesantren. Seorang tokoh sosiologi, Max Weber juga mengakui akan kebenaran ini. Dalam menjelaskan rasionalisasi, Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal. Alasannya, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Nah, yang semacam ini dalam pesantren biasa disebut dengan barokah dan karomah. Sesuatu yang selama ini kita anggap mistis, ternyata hanya persoalan rasio akal belum mampu menjangkaunya. Sebenarnya ini adalah hal yang rasional, suatu saat bisa dibuktikan.

Keempat, dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosial. Tanpa disadari, dalam kehidupan santri menyimpan segudang pelajaran hidup. Hal sederhana, semisal bagaimana santri makan bersama dengan menggunakan talam. Dari situ kita bisa lihat, bahwa kebersamaan dalam pesantren itu sangat diutamakan. Tanpa melihat dari mana asalnya, miskin, kaya bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, santri.

Kelima, selain persoalan di atas, hal paling penting yang bisa didapat dari pesantren adalah "Akhlak". Akhlak yang dimaksud di sini bukan sekedar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Semisal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak. Karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kebenaran hatinya.

Akan tetapi, akhlak jauh melampaui itu. Seseorang yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan. Contoh yang bisa kita ambil, ketika Nabi Muhammad SAW mengutuk seseorang yang munafik. Seperti kita mafhum, munafik adalah seorang yang ucapan dan tindakan, pikiran serta hatinya tidak sesuai. Dari contoh itu bisa kita petik, bahwa akhlak meliputi persoalan pola sikap, pola ucap, pola pikir dan pola rasa (hati). Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, tak lain dan tak bukan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu'itstu liutammima makarimal akhlaq.

Ini hanya sekelumit pengalaman dari penulis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu masih banyak hal lain yang bisa dijadikan alasan kenapa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. Untuk itu, Ayo Mondok.

*) Abdul Rahman Wahid, Kader PMII Ashram Bangsa Yogyakarta, penulis juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran Gondanglegi Malang, Yayasan KH. Yahya Syabrowi.

Want your school to be the top-listed School/college in Banyumas?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Baturaden
Banyumas
53151