02/08/2013
True Love Ali RA dan Fatimah Az zahra
bismillahirahmanirahim
sahabatku semua yang dirahmati Allah.
sudah banyak sekali artikel tentang cinta
dimuat seorang pecinta dimana-mana,
dikoran, di majalah, di fb, di dunia maya.
mungkin 1001 kata cinta pun tak akan
sanggup mendefinisikan arti cinta itu
sendiri. cinta dalam cinta, saya sendiripun
susah mendefisikan cinta itu sendiri, tapi
yang saya tekankan dalam hati dalam
dalam jika saya mencintai seseorang yg
karenaNya bertambah cinta saya kepada
yang maha pecinta (Allah swt) inilah yg
aku sebut namanya cinta. ya itulah
cinta..
sahabtaku yang aku sayangi, cinta
yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam
sikap, kata, maupun expresi. Hingga
akhirnya Allah menyatukan mereka dalam
sebuah ikatan suci pernikahan. sungguh
cinta semacam itu adalah cinta yang
sangat indah, Cukup cintai ia dalam diam
dari kejauhan dengan kesederhanaan dan
keikhlasan, karena tiada yang tahu
rencana Tuhan, mungkin saja rasa ini ujian
yang akan melapuk atau membeku dengan
perlahan karena hati ini begitu mudah
untuk dibolak-balikan, serahkankan rasa
yang tiada sanggup dijadikan halal itu
pada Yang Memberi dan Memilikinya biarkan
ia yang mengatur semuanya hingga
keindahan itu datang pada waktunya. cinta
dalam diam yang selalu mengharap ridho
Allah tak ada satupun yang bisa menyamai
keindahananya..
sebuah kisah abadi cinta terindah
sepanjang masa terbentuk beribu
tahun silam namun ceritanya abadi
sepanjang masa.
bacalah dengan seksama, moga bisa
memaknai arti cinta dalam hatimu,
Ini bukan dongeng. Bukan kisah Peter Pan
atau Cinderella to kisah romeo juliet yang
too good to be true. Mereka semua
sungguh wujud. Dan romantisme itu
sungguh terjadi. Yang paling penting,
kisah mereka ini Allah hadirkan tentu
bukan tanpa alasan.<
Ikhwan Langka Bernama Ali … Ikhwan itu
sama dengan laki-laki lainnya. Rutin
berinteraksi dengan akhwat ayu, daiyah
populer dari keluarga terpandang, dan
sekalipun tarbiyah bukan hanya sepekan
sekali menerpa, namun dia masih manusia
… Perasaan itupun muncul tanpa diminta.
Namun ia tahu posisi dirinya. Ia tahu mana
batasnya. Cintanya disimpan rapat-rapat.
Jangankan untuk ‘nembak si akhwat,
apalagi mengetikkan status di wall FB,
untuk mengekspresikanpun ia bertahan.
Bertahan. Tak sesiapapun tahu gelisah
hatinya. Menjaga kemuliaan diri … dan
juga kemuliaan si akhwat. Apalagi, mimpi
memperistri sang akhwat kian memudar
ketika tiba seseorang dengan segalanya:
kesolihan, kekayaan, kemasyhuran dengan
tujuan yang juga lama diidamkannya:
mengkhitbah akhwat pujaan.Seseorang itu
punya begitu banyak keutamaan. Tak
mungkin sang akhwat menolaknya.
Gundahnya kian membulat.
Namun tak diduga, langit hatinya kembali
cerah. Lamaran pria masyhur itu
ditolak.
Waktu merambat dengan keteguhan
menjaga kemuliaan diri. Namun seseorang
kembali datang, justru ketika ia tengah
mengumpulkan segenap alasan dan
keberanian untuk hadir menjumpai
orangtua si akhwat.
Pengkhitbah kali kedua ini pria gagah.
Disegani kawan maupun lawan atas
kiprahnya di medan dakwah.
Ali, ikhwan yang teguh menggenggam
marwah, kembali menunduk. Tak mungkin
sang akhwat pujaan kali ini menolak
pengkhitbah nan gagah. Cinta tak terucap
itu lagi-lagi harus dikubur dalam-dalam.
Namun berita yang sama kembali
bagai petir di siang bolong. Pria
kedua pun ditolak.
Skenario Allah, SWT berlaku. Ya,
Allah takdirkan Ali berjodoh dengan
akhwat pujaan hatinya.
***
Happy ending. Pemuda bersahaja itu
menemukan jawaban doanya. Tapi cerita
belum selesai sampai di sini. Suatu malam,
istri cantik menyampaikan sebuah rahasia
yang mengejutkannya. “Maafkan aku,
karena sebelum menikah denganmu, aku
pernah satu kali jatuh cinta pada seorang
pemuda.”
Ali terkejut dan berkata, “Kalau begitu
mengapa engkau mau menikah denganku?
Dan siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum istrinya berkata,
“Ya, karena pemuda itu adalah
dirimu.”
Maha Suci Allah. Cinta platonis seorang
ikhwan dan seorang akhwat. Kedua cinta
tak terekspresikan. Tak terkatakan.
Padahal situasi dan tuntutan dakwah
membuat aktivitas mereka sering
bertumbukan. Peluang untuk memberi
sinyal ketertarikan atau sekedar
perhatian nan ‘wajar’ tumbuh di sini dan di
sana, bila mereka mau. Namun pilihan
menabrak mainstream-lah yang mereka
ambil.
Dan keduanya menyimpan perasaan itu
rapat-rapat hingga ijab qabul-lah yang
menjadi pembuka hijab.
sahabatku yang aku sayangi karena Allah,
tentunya engkau akan timbul banyak
pertanyaan :
bagaimana kisah selengkapnya ?
siapakah Ali ?
siapakah gadis itu ?
apakah ini nyata ?
ikhwan aktivis bernama itu adalah Ali bin
Abi Thalib karamallahu wajhah dan akhwat
daiyah itu bernama Fatimah Az-Zahra binti
Muhammad SAW ini bisa dibaca lengkapnya
di bawah ini. Pria pengkhitbah pertama
dalam true story itu adalah Abu Bakar
ash-Shiddiq. Sedangkan yang kedua –
yang juga ditolak – adalah Umar bin
Khattab. Fathimah menolak Abu Bakr dan
Umar, demi menanti pinangan Ali yang
miskin.
mari kita baca kisah selengkapnya :
Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak
dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari
Sang Nabi yang adalah sepupunya itu,
sungguh memesonanya. Kesantunannya,
ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.
Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika
ayahnya p**ang dengan luka memercik
darah dan kepala yang dilumur isi perut
unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka
dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia
tempelkan ke luka untuk menghentikan
darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan
mata gerimis dan hati menangis.
Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya
tak layak diperlakukan demikian oleh
kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana,
para pemuka Quraisy yang semula saling
tertawa membanggakan tindakannya pada
Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fatimah
menghardik mereka dan seolah waktu
berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang
itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!<
Dipendamkan di dalam hatinya, yang tidak
diceritakan kepada sesiapa tentang
perasaan hatinya. Tertarik dirinya
seorang gadis, yang punya peribadi
tinggi, paras yang cantik, kecekalan yang
kuat, apatah lagi ibadahnya, hasil didikan
ayahnya yang dicintai oleh umat manusia,
yakni Rasulullah S.A.W. Itulah Fatimah Az-
Zahrah, puteri kesayangan Nabi
Muhammad, serikandi berperibadi mulia. Dia
sedar, dirinya tidak punya apa-apa, untuk
meminang puteri Rasulullah. Hanya usaha
dengan bekerja supaya dapat
merealisasikan cintanya. Itulah Ali,
sepupu baginda sendiri. Sehingga beliau
tersentap, mendengar perkhabaran
bahawa sahabat mulia nabi, Abu Bakar As-
Siddiq, melamar Fatimah.”Allah mengujiku
rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji
kerana merasa apalah dia dibanding Abu
Bakar.
Kedudukan di sisi Nabi Abu Bakr lebih
utama, mungkin dia bukan kerabat dekat
Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan
pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak
tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr
menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan
beliau untuk menanti maut di
ranjangnya.Lihatlah juga bagaimana Abu
Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak
tokoh bangsawan dan saudagar Makkah
yang masuk Islam karena sentuhan Abu
Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf,
Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash,
Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan
kanak-kanak kurang pergaulan seperti
’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim
yang dibebaskan dan para faqir yang
dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga
Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud. Dan siapa
budak yang dibebaskan ’Ali?Dari segi
kewangan, Abu Bakar sang saudagar,
insyaallah lebih bisa membahagiakan
Fathimah.’Ali hanya pemuda miskin dari
keluarga miskin.”Inilah persaudaraan dan
cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku,
aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah
atas cintaku.”Namun, sinar masih ada
buatnya. Perkhabaran diterima bahawa
pinangan Abu Bakar ditolah baik oleh Nabi.
Ini menaikkan semangat beliau untuk
berusaha mempersiapkan diri. Tapi, ujian
itu bukan setakat disitu, kali ini
perkhabaran lain diterima olehnya. Umar
Al-Khatab, seorang sahabat gagah
perkasa, menggerunkan musuh islam, dan
dia p**a cuba meminang Fatimah. Seorang
lelaki yang terang-terangan
mengisytiharkan keislamannya, yang
nyata membuatkan muslimin dan muslimat
ketika itu yang dilanda ketakutan oleh
tentangan kafir quraisy mula berani
mendongak muka, seorang lelaki yang
membuatkan syaitan berlari ketakutan.Ya,
Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan
kebathilan itu juga datang melamar
Fathimah. Ali mendengar sendiri betapa
seringnya Nabi berkata, ”Aku datang
bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar
bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk
bersama Abu Bakr dan ’Umar”. Betapa
tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi
ayah Fathimah. Ali redha kerana dia tahu
Umar lagi layak darinya. Tetapi, sekali lagi
peluang terbuka, tatkala perkhabaran
diterimanya, bahawa pinangan Umar juga
ditolak. Bagaimanakah sebenarnya
menantu pilihan nabi, sedangkan dua
sahabat baginda turut ditolak
peminangannya? Pada suatu hari Abu
Bakar As-Shiddiq r.a. Umar Ibnul
Khatab r.a. dan Sa’ad bin Mu’adz
bersama-sama Rasul Allah s.a.w.
duduk dalam masjid. Pada
kesempatan itu diperbincangkan
antara lain persoalan puteri Rasul
Allah s.a.w. Saat itu baginda
bertanya kepada Abu Bakar As-
Shiddiq r.a “Apakah engkau bersedia
menyampaikan persoalan Fatimah itu
kepada Ali bin Abi Thalib?”
Abu Bakar As-Shiddiq menyatakan
kesediaanya. Ia beranjak untuk
menghubungi Ali r.a. Sewaktu Ali r.a.
melihat datangnya Abu Bakar As-Shiddiq
r.a. dgn tergopoh-gopoh dan
terperanjat ia menyambutnya kemudian
bertanya: “Anda datang membawa berita
apa?”
Setelah duduk beristirahat sejenak Abu
Bakar As-Shiddiq r.a. segera
menjelaskan persoalannya: “Hai Ali engkau
adalah orang pertama yg beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai
keutamaan lebih dibanding dengan orang
lain. Semua sifat utama ada pada dirimu.
Demikian p**a engkau adalah kerabat Rasul
Allah s.a.w. Beberapa orang sahabat
terkemuka telah menyampaikan lamaran
kepada baginda untuk mempersunting
puteri beliau. Lamaran itu telah beliau
semua tolak. Beliau mengemukakan bahawa
persoalan puterinya diserahkan kepada
Allah s.w.t. Akan tetapi hai Ali apa sebab
hingga sekarang engkau belum pernah
menyebut-nyebut puteri beliau itu dan
mengapa engkau tidak melamar untuk
dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan
RasulNya akan menahan puteri itu
untukmu.”
Mendengar perkataan Abu Bakar r.a.
mata Saidina Ali r.a. berlinang air mata.
Menanggapi kata-kata itu, Ali r.a.
berkata: “Hai Abu Bakar, anda telah
membuatkan hatiku bergoncang yang
semulanya tenang. Anda telah
mengingatkan sesuatu yang sudah
kulupakan. Demi Allah aku memang
menghendaki Fatimah tetapi yang
menjadi penghalang satu-satunya
bagiku ialah kerana aku tidak
mempunyai apa-apa.”
Abu Bakar r.a. terharu mendengar
jawapan Ali itu. Untuk membesarkan dan
menguatkan hati Imam Ali r.a. Abu Bakar
r.a. berkata: “Hai Ali, janganlah engkau
berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-
Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat
debu bertaburan belaka!”
Setelah berlangsung dialog seperlunya
Abu Bakar r.a. berhasil mendorong
keberanian Imam Ali r.a. untuk melamar
puteri Rasul Allah s.a.w.
Beberapa waktu kemudian Saidina Ali r.a.
datang menghadap Rasul Allah s.a.w. yg
ketika itu sedang berada di tempat
kediaman Ummu Salmah. Mendengar pintu
diketuk orang, Ummu Salmah bertanya
kepada Rasulullah s.a.w.: “Siapakah yg
mengetuk pintu?” Rasul Allah s.a.w.
menjawab: “Bangunlah dan bukakan pintu
baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan
RasulNya dan ia pun mencintai Allah dan
Rasul-Nya!”
Jawapan Nabi Muhammad s.a.w. itu belum
memuaskan Ummu Salmah r.a. Ia bertanya
lagi: “Ya tetapi siapakah dia itu?”
“Dia saudaraku orang kesayanganku!”
jawab Nabi Muhammad s.a.w.
Tercantum dalam banyak riwayat bahawa
Ummu Salmah di kemudian hari
mengisahkan pengalamannya sendiri
mengenai kunjungan Saidina Ali r.a.
kepada Nabi Muhammad s.a.w. itu: “Aku
berdiri cepat-cepat menuju ke pintu
sampai kakiku terantuk-antuk. Setelah
pintu kubuka ternyata orang yang datang
itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali
ke tempat semula. Ia masuk kemudian
mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasul
Allah s.a.w. Ia dipersilakan duduk di depan
beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan
kepala seolah-olah mempunyai maksud
tetapi malu hendak mengutarakannya.
Rasul Allah mendahului berkata: “Hai
Ali nampaknya engkau mempunyai
suatu keperluan. Katakanlah apa
yang ada dalam fikiranmu. Apa saja
yang engkau perlukan akan kau
peroleh dariku!”
Mendengar kata-kata Rasul Allah s.a.w.
yang demikian itu lahirlah keberanian Ali
bin Abi Thalib untuk berkata: “Maafkanlah
ya Rasul Allah. Anda tentu ingat bahawa
anda telah mengambil aku dari pakcikmu
Abu Thalib dan makcikmu Fatimah binti
Asad di kala aku masih kanak-kanak dan
belum mengerti apa-apa.
Sesungguhnya Allah telah memberi
hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan
anda ya Rasul Allah adl tempat aku
bernaung dan anda jugalah yang menjadi
wasilahku di dunia dan akhirat. Setelah
Allah membesarkan diriku dan sekarang
menjadi dewasa aku ingin berumah tangga;
hidup bersama seorang isteri. Sekarang
aku datang menghadap untuk melamar
puteri anda Fatimah. Ya Rasul Allah apakah
anda berkenan menyetujui dan menikahkan
diriku dengan Fatimah?”
Ummu Salmah melanjutkan kisahnya: “Saat
itu kulihat wajah Rasul Allah nampak
berseri-seri. Sambil tersenyum beliau
berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali
apakah engkau mempunyai suatu bekal mas
kahwin?” .
“Demi Allah” jawab Ali bin Abi Thalib
dengan terus terang “Anda sendiri
mengetahui bagaimana keadaanku tak ada
sesuatu tentang diriku yg tidak anda
ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa
selain sebuah baju besi sebilah pedang dan
seekor unta.”
“Tentang pedangmu itu” kata Rasul Allah
s.a.w. menanggapi jawapan Ali bin Abi
Thalib “engkau tetap memerlukannya
untuk perjuangan di jalan Allah. Dan
untamu itu engkau juga perlu buat
keperluan mengambil air bagi keluargamu
dan juga engkau memerlukannya dalam
perjalanan jauh. Oleh kerana itu aku
hendak menikahkan engkau hanya atas
dasar mas kahwin sebuah baju besi saja.
Aku puas menerima barang itu dari
tanganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira
sebab Allah ‘Azza wa*jalla sebenarnya
sudah lebih dahulu menikahkan engkau di
langit sebelum aku menikahkan engkau di
bumi!” Demikian riwayat yang diceritakan
Ummu Salmah r.a.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu
meruyak. Lamaran abu bakar dan
’Umar juga ditolak. Menantu macam
apa kiranya yang dikehendaki Nabi Ah,
dua menantu Rasulullah itu sungguh
membuatnya hilang kepercayaan diri.
”Mengapa bukan engkau yang mencoba
kawan?”, kalimat teman-teman
Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba
melamar Fathimah? Aku punya firasat,
engkaulah yang ditunggu-tunggu
Baginda Nabi.. ”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang
bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga
Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka
dengan memberanikan diri,
disampaikannya keinginannya untuk
menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia
tahu, secara ekonomi tak ada yang
menjanjikan pada dirinya. Hanya ada
satu set baju besi di sana ditambah
persediaan tepung kasar untuk
makannya. Tapi meminta waktu dua
atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah
menantikannya di batas waktu hingga
ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya
telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”,
begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab
atas cintanya. Pemuda yang siap
memikul resiko atas pilihan- pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha
Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan
wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang
bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk
bisa dikatakan sebagai isyarat
penerimaan atau penolakan. Ah,
mungkin Nabi pun bingung untuk
menjawab. Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan
kejelasan jauh lebih ringan daripada
menanggung beban tanya yang tak
kunjung berjawab. Apalagi
menyimpannya dalam hati sebagai
bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu
menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan?
Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa
Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu
saja sudah cukup dan kau
mendapatkan dua! Ahlan saja sudah
berarti ya. Sahlan juga. Dan kau
mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan!
Dua-duanya berarti ya !”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan
menggadaikan baju besinya. Dengan
rumah yang semula ingin disumbangkan
ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras
agar ia membayar cicilannya. Itu
hutang.
Dengan keberanian untuk
mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr,
’Umar, dan Fathimah. Dengan
keberanian untuk menikah. Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
Setelah segala-galanya siap dengan
perasaan puas dan hati gembira dgn
disaksikan oleh para sahabat Rasul Allah
s.a.w. mengucapkan kata-kata ijab kabul
pernikahan puterinya: “Bahwasanya Allah
s.w.t. memerintahkan aku supaya
menikahkan engkau Fatimah atas dasar
mas kahwin 400 dirham. Mudah-mudahan
engkau dapat menerima hal itu.”
“Ya Rasul Allah, itu kuterima dgn
baik” jawab Ali bin Abi Thalib r.a.
dalam pernikahan itu.
Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran
kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa
fatan illa ‘Aliyyan” Tak ada pemuda
kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para
pejuang. Jalan yang mempertemukan
cinta dan semua perasaan dengan
tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak
pernah meminta untuk menanti. Seperti
’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil
kesempatan. Yang pertama adalah
pengorbanan. Yang kedua adalah
keberanian. Inilah jalan cinta para
pejuang. Jalan yang mempertemukan
cinta dan semua perasaan dengan
tanggungjawab. Cinta tak pernah meminta
untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang
dilakukan oleh Puteri Sang Nabi, dalam
suatu riwayat dikisahkan, bahwa suatu
hari, Fathimah berkata kepada
‘Ali :“Maafkan aku, karena sebelum menikah
denganmu. Aku pernah satu kali
merasakan jatuh cinta pada seorang
pemuda”‘Ali terkejut dan berkata, “Jikalau
begitu, mengapakah engkau mahu menikah
denganku? Dan Siapakah pemuda itu”Sambil
tersenyum Fathimah berkata, “Ya,
kerana pemuda itu adalah Dirimu”
Ternyata memang dari dulu Fatimah
sudah mempunyai perasaan dengan Ali dan
menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu
juga dengan Ali, dari dulu dia juga sudah
mempunyai perasaan dengan Fatimah. Tapi
mereka berdua sabar menyembunyikan
perasaan itu sampai saat nya tiba, sampai
saatnya ijab Kabul disahkan. Walaupun Ali
sudah merasakan kekecewaan 2 kali
keduluan orang lain, akhirnya kekecewaan
itu terbayar juga.
Subhanallah....