SMP - SMA Islam Andalusia "Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy 2"

SMP - SMA Islam Andalusia "Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy 2"

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from SMP - SMA Islam Andalusia "Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy 2", Middle School, Jalan pondok leler Randegan, Banyumas.

19/01/2015

Oleh Ahmad Hadidul Fahmi &
Muhammad
Najihuddin
Tanah kelahiran Mbah
Hisyam disebut Leler.
Leler merupakan
sebuah dukuh kecil
yang terletak di Desa
Randegan. Randegan
sendiri adalah bagian
kecil dari luasnya Kabupaten Banyumas.
Kabupaten yang memiliki kawasan wisata
Baturaden ini, dalam sejarahnya telah
melahirkan
banyak tokoh penting. Di antaranya
adalah KH.
Saifuddin Zuhri (1919-1986 M), Ahmad
Tohari,
penyusun novel ternama, Ronggeng
Dukuh Paruk,
Soesilo Soedarman, mantan menteri di
era Orde
Baru, dan lain sebagainya. Dusun
Randegan, dari
pusat kota Banyumas, sekitar 20 km ke
arah
Utara. Ia diapit oleh Desa Karangsari dan
Kaliwedi. Sampai saat ini, data penduduk
Desa
Randegan tercatat mencapai 2000 orang.
Menurut cerita, dahulu Leler meliputi
kaliwedi dan
Randegan. Ini berarti Leler sudah berdiri
jauh
sebelum berdirinya desa Randegan
maupun
Kaliwedi. Secara historis, ada yang
mengaitkan
asal usul Leler dengan legenda Raden
Kamandaka, putra Sri Prabu Linggawestu
Jaya
Dewata (w.1513 M), Raja Pajajaran. Pada
saat
pelariannya dari Kadipaten Pasir Luhur
karena
dituduh mencuri, Kamandaka berjalan ke
arah
Timur sampai tiba di sebuah pulau
tanpa nama.
Ia membuka baju di sana sambil ‘ngeler
kelek’ (membuka ketek). Ia lantas
mengatakan,
“mbesuk iki dadi pangleleran
ngelmu” (tempat ini
kelak akan menjadi pusat ilmu). Dari
istilah
‘ngeler kelek’ dan ‘pangleleran ngelmu’,
tempat
tersebut dinamakan Leler.[1]
Jika benar legenda ini, maka penamaan
Leler
sudah ada semenjak sekitar abad ke XV
M.
Sebab, Prabu Linggawestu hidup di abad
ke XV.
[2] Kamandaka sendiri adalah putra dari
prabu
Linggawestu Jaya Dewata. Ia mempunyai
nama
asli Banyak Cotro. Yang menguatkan asal
usul
Leler versi ini bahwa legenda Goa
Jatijajar sering
dikaitkan dengan pengembaraan Raden
Kamandaka. Dalam arti, perjalanan
Kamandaka
dari Pajajaran (Bogor) sampai ke Jatijajar
(Banyumas) melewati desa Leler yang
oleh
Kamandaka memungkinkan dijadikan
sebagai
tempat istirahat. Benar atau tidaknya
legenda
tersebut, Leler kini memang telah
menjadi pusat
keilmuan tradisional, khususnya dalam
lingkup
Banyumas.
Dalam versi lainnya, penamaan Leler
adalah
karena seorang alim yang berkelana.
Konon, ia
berpakaian serba putih. Sebagian
menyebutnya
wali. Wali itu kehausan dalam
pengembaraanya.
Ia meminta air dari satu perkampungan
ke
perkampungan lainnya untuk membasahi
tenggorokan karena terik matahari. Tapi
tak ada
satupun yang memberi. Nah, di satu
kampung,
warga di sana menyambutnya dengan
baik dan
memberi air minum. Begitu senangnya
wali
tersebut, ia kemudian mengatakan,
“kelak, wilayah
ini akan menjadi lelering agama Islam”.
[3]
“Lelering agama Islam” dalam bahasa
Indonesia
berarti tempat persemaian agama Islam.
Varian penamaan Leler ini tak
menghilangkan
kesepakatan masyarakat sekitar, bahwa
orang
pertama yang membuka—dalam arti
dakwah
Islam— di Leler adalah Mbah
Ditowongso. Selain
karena mayoritas—untuk tak
menyebutnya semua
—keturunan Leler bermuara pada
Ditowongso,
jejak rekamnya lebih bisa sesuai dengan
babad
alas[4] daerah lainnya di sekitar Leler,
ataupun
daerah lainnya.
Tentang dari mana Ditowongso,
masyarakat
berbeda pendapat. Akan tetapi dua versi
ini tak
berbeda mutlak sepenuhnya, dalam
artian, masih
bisa diharmoniskan. Versi pertama,
Ditowongso
merupakan pelarian dari Kerajaan
Mataram yang
kalah perang dengan Belanda.
Peperangan ini
terjadi jauh setelah terpecahnya
Mataram sebagai
satu kesatuan politik dan wilayah, atau
jauh
setelah Mataram terpecah menjadi
Kesultanan
Ngayogyakarta (Yogyakarta) dan
Kasunanan
Surakarta pada tahun 1755—walaupun
begitu,
sebagian masyarakat Jawa masih
beranggapan
bahwa Kesultanan Ngayogyakarta dan
Kasunanan
Surakarta sebagai “ahli waris” Mataram.
Maka itu
bisa dimaklumi ketika menyebut era
Diponegoro—
versi kedua yang akan penulis tuliskan
tentang
siapa Ditowongso—sebagai era
berakhirnya
wilayah mancanegara Mataram. Penyebab
kalahnya perang Kerajaan Mataram
adalah karena
gudang makanan dibakar oleh
pemberontak dari
Mataram sendiri. Jika Ditowongso di
kawasan
Banyumas, maka Raden Karsijem adalah
leluhur
untuk salah satu daerah di Cirebon, dan
Tubagus
Beo di Majalengka. Salah satu penanda
bahwa
orang-orang yang tersebar ini berasal
dari
Mataram, mereka menanam pohon sawo
di
daerah yang ditempati. Pohon sawo ini
sebagai
penanda agar sama-sama tahu bahwa
mereka ini
berasal dari Mataram sehingga tidak bisa
diadu
domba.[5]
Menurut cerita lain, Ditowongso
merupakan salah
satu pasukan Pangeran Diponegoro yang
kalah
perang dan lari ke daerah Banyumas.
Tampaknya,
bahwa Ditowongso merupakan salah satu
pasukan Diponegoro yang kalah perang,
merupakan versi yang paling valid di
antara
riwayat lainnya.[6] Akan tetapi versi ini
bisa
diharmoniskan dengan versi sebelumnya.
Bentuk
harmonisasinya, Ditowongso bukan cuma
pasukan Diponegoro yang tak punya
status sosial,
tetapi ia masih bagian dari Mataram
yang
mempunyai inisiatif membantu
perjuangan
Diponegoro. Hal itu karena salah satu
motif
perjuangan Diponegoro untuk
mempertahankan
daerah kekuasaan Kasultanan
Ngayogyakarta dan
Kasunanan Mataram—yang merupakan
‘ahli waris
Mataram, dalam hal ini Tegalrejo,
Magelang. Oleh
sebab itu, berakhirnya seluruh daerah
mancanegara Kesultanan Ngayogyakarta
dan
Kasunanan Mataram bersamaan dengan
berakhirnya kalahnya Diponegoro pada
tahun
1830.
Pangeran Diponegoro melakukan perang
sabil
antara tahun 1825-1830. Terdesaknya
Diponegoro dimulai sekitar tahun 1827,
yakni
ketika Belanda melakukan penyerangan
menggunakan sistem benteng yang
membuat
Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun
1829,
Kyai Maja, pemimpin spiritual
pemberontakan
yang juga tokoh agama dari Surakata
ditangkap.
Menyusul kemudian, Pangeran
Mangkubumi dan
panglima utamanya Sentot Alibasya
menyerah
kepada Belanda. Kyai Maja, Pangeran
Mangkubumi, dan panglima Sentot
adalah
pendukung sekaligus pembantu
perlawanan
pemberontakan. Hingga pada tanggal 28
Maret
1830, Jenderal De K**k berhasil menjepit
pasukan
Diponegoro di Magelang. Di sana,
Pangeran
Diponegoro bersedia menyerahkan diri
dengan
syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan.
Maka,
Pangeran Diponegoro ditangkap dan
diasingkan
ke Manado, kemudian dipindahkan ke
Makassar
hingga wafatnya di Benteng Rotterdam
tanggal 8
Januari 1855.[7]
Sedang pasukan dan pengikut
Diponegoro yang
kalah perang kemudian menyebar ke
berbagai
daerah. Penyebaran mereka ke berbagai
daerah
ini sekaligus membawa misi Islam yang
kuat dan
militan. Apabila kekalahan Diponegoro di
sekitar
tahun 1930, maka masuknya Ditowongso
ke
dusun Leler besar kemungkinan di
kisaran tahun
ini, atau bisa jadi lebih sedikit.
Termasuk teman seperjuangan
Ditowongso yang
lari dari peperangan adalah Kyai Umar,
ayah dari
Muhammad Soleh, atau yang lebih
dikenal dengan
sebutan Kyai Soleh Darat, Semarang.[8]
Selain
nama Kyai Umar, ada nama Mbah
Mahbub.
Ketika babad alas Leler, Ditowongso
mendapati
satu kawasan di sekitar dusun Leler yang
potensial untuk dimasuki agama Islam.
Pada
akhirnya ia memanggil kawannya dari
Alang-
Alang Amba, Purworejo, yakni Mbah
Mahbub,
untuk menghidupkan syiar agama Islam
di
kawasan tersebut. Daerah yang
didakwahi Mbah
Mahbub itu bernama Ngasinan, sebuah
dukuh di
dusun Kaliwedi, berjarak sekitar 500
meter dari
Leler. Berdasarkan silsilah yang penulis
dapatkan
tentang Mbah Mahbub, beliau
merupakan
keturunan ke-9 dari Sunan Ampel.[9]
Untuk Mbah Ditowongso sendiri, penulis
mendapatkan hanya untuk lima generasi
ke atas.
Selebihnya belum bisa dipertanggungja
wabkan
validitasnya. Silsilah yang penulis
dapatkan
adalah Ditowongso bin Raden Condropati
bin Aryo
Danurejo bin (Aryakertapada) bin
Tumenggung
Yudanegara II (Dita Merta) bin Aryo
Yudanegara
(Bendara Raden Mas Ronggo Setoto) bin
Prabu
Amangkurat Agung Ing Mataram
(Yogyakarta).
[10] Syahdan, Mustafidlurrohman, salah
satu
putra Leler, termasuk generasi ke 5 dari
Ditowongso, sedang menimba ilmu di
Yogyakarta,
tepatnya di Pondok Pesantren al-
Mujâhadah,
Lempuyangan. Suatu ketika ia hendak
menunaikan shalat Ashar di sebuah
mushala kecil
di jalan Malioboro. Pada saat
menyingsingkan
celana untuk mengambil air wudlu, tiba-
tiba ada
seorang nenek-nenek tinggi memakai
pakaian
adat Yogya sambil membawa gelas,
menegur,
“panjenengan putra wayaeh Mbah
Ditowongso,
njih?”[11] Mustafidl menjawab, “njih”.
Kaget
mendapati orang yang mengetahui asal-
usul
dirinya di negeri orang, ia mengejar si
nenek tadi.
Tetapi si nenek menghilang tanpa jejak
padahal ia
berjalan ke arah jalan buntu.[12]
Apabila diteruskan ke atas, konon,
silsilah
Ditowongso akan sampai pada Raden
Fatah dari
kesultanan Demak. Faktor dominan
terputusnya
silsilah Ditowongso adalah, mbah
Ditowongso
tidak menghendaki keturunan-ketur
unannya
mempunyai jiwa sombong. Sehingga
silsilah
Ditowongso sampai ke atas akhirnya
dibakar di
tangan Ditowongso sendiri. Alasan lain,
Ditowongso sebenarnya bukan nama asli.
Ia
datang ke Leler melalui penyamaran,
sebab diri
dan keluarganya terus menerus dikejar
oleh
Belanda. Konon, nama sebenarnya dari
Ditowongso adalah Dipowongso, sebab
“Dito”
dalam peristilahan masyarakat jaman
dahulu
berasal dari “Dipo”, persis seperti nama
“Dipo”
Negoro (Diponegoro).
Menurut salah seorang kasepuhan Leler,
ketika
merenovasi makam Ditowongso, terdapat
sebuah
papan tua yang bertuliskan “Haji
Husein”.
Berdasar papan ini, masyarakat sekitar
meyakini
bahwa nama asli Ditowongso adalah Haji
Husein.
Kesimpulan ini semakin menguat tatkala
muncul
asumsi Ditowongso masuk ke Leler bukan
dengan
nama asli karena pengejaran yang
dilakukan oleh
Belanda seperti tersebut di atas.
Kalaupun
Ditowongso adalah nama asli, tak
tertutup
kemungkinan ia mempunyai nama lain,
mengingat
lazimnya masyarakat jaman dahulu yang
bisa
dikenal dengan banyak nama.
Mbah Ditowongso sendiri merupakan
seorang
yang agamis. Bentuk ketaatan
Ditowongso dalam
agama karena dua alasan: Pertama, nama
aslinya
adalah Haji Husein. Seseorang yang
sudah Naik
haji dalam tradisi masyarakat zaman
dulu
menyiratkan ketinggian kesadaran
beragama yang
bersangkutan. Kedua, informasi dari
canggah
(cicit) beliau, KH. Zabidi Zuhdie, mbah
Ditowongso merupakan pengikut tarekat
tertentu.
[13] Tak diketahui secara pasti tarekat
apa yang
dianut oleh beliau. Tapi paling tidak,
penganut
tarekat menunjukkan bentuk ketaatan
yang
bersangkutan terhadap agama.
Menurut cerita masyhur silsilah
masyarakat Leler,
Ditowongso datang ke Leler membawa
seorang
putra yang bernama Mertabudong atau
Madnawi.
[14] Itu artinya, di Magelang, Ditowongso
sudah
beristri. Tentu saja selain Madnawi, atau
dari istri
pertamanya, Ditowongso mungkin saja
mempunyai keturunan lain. Akan tetapi
mereka,
baik nama maupun keberadaannya, sama
sekali
tak bisa dilacak. Sedang dari istri kedua
-–
istrinya ketika sudah berada di Leler—
Ditowongso mempunyai 8 keturunan.
Mereka
adalah Mertawijaya, Karyasemita, Abdul
Manan,
Untung, Abdul Qodir, Mentadikrama, Mad
Kalil,
dan Kaswadi.[15] Dari Mertawijaya inilah
muara
silsilah masyarakat Kaliwedi, sebuah
dusun di
sebelah Barat Leler. Sedang penduduk
dukuh Leler
sekarang hampir bisa dipastikan
merupakan garis
keturunan dari putra-putri Ditowongso
yang lain.
Bahkan keturunannya tak hanya di Leler
saja,
akan tetapi merambah ke berbagai
daerah, yakni
Majenang (keturunan Untung) dan
Lampung
(salah satu keturunan Abdul Manan).

Photos from SMP - SMA Islam Andalusia "Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy 2"'s post 08/12/2014

pembangunan gedung SMP ISLAM ANDALUSIA

Photos 29/11/2014
Photos from SMP - SMA Islam Andalusia "Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy 2"'s post 26/07/2014

MARHABAN YA RAMADHAN

(insya allah)
Esok adalah puasa terakhir
dan esoknya adalah hari mulia
semua orang mengumandangkan takbir
dan bersorak gembira ria

minal aidzin wal faidzin
mohon maaf lahir batin

allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar
laailahailalloh huallahhuakbar
allahuakbar walillahhilham

Photos from SMP - SMA Islam Andalusia "Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy 2"'s post 21/06/2014

pengajian harlah ke -1 smp islam andalusia oleh KH MAIMOEN ZUBAIR

Want your school to be the top-listed School/college in Banyumas?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Jalan Pondok Leler Randegan
Banyumas
53172