28/01/2023
Posted • Buku pertama di tahun 2023, kumpulan cerita pendek Haruki Murakami, Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan.
Bisa dibilang ini buku karya Murakami pertama yang selesai Naya baca. Naya memilihnya acak dari rak buku (sebelah kanan, bukan kiri tempat buku-buku Naya disimpan) setelah gagal meneruskan baca novel Belantara karya Liu Cixin (Naya harus membaca kembali Trisurya sebelum melanjutkan Belantara)
Temuan pertama, seperti yang selalu dibilang Mimo karya-karya Murakami terlalu banyak adegan untuk usia dewasa 🤦♀️
Tapi tidak usah khawatir karena Naya yakin buku ini memang ditujukan untuk usia dewasa dan disimpan di rak sebelah kanan 🤭
Kedua, seperti protes Kawakami Meiko, di buku ini Murakami masih melakukan hal yang sama. Perempuan-perempuan dalam buku ini menurut Naya bukan main character. Seperti judulnya, Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan, tokoh utamanya adalah laki-laki yang dideskrpisikan memilih hidup sendiri, tanpa pendamping. Tapi persoalannya, mengapa kehadiran perempuan cenderung sebagai orang yang gemar atau s**a berselingkuh? Perempuan-perempuan dalam buku ini umumnya sudah memiliki suami dan masih saja berselingkuh atau menyelingkuhi tokoh utama? Apakah kehadiran perempuan di mata Murakami memang sekadar hiburan?
Ketiga, Murakami dengan sangat jelas menggambarkan kehidupan laki-laki yang memilih sendiri: monoton dan cenderung aneh secara sosial. Mereka seperti orang-orang yang antisosial, terpencil, atau s**a mengucilkan diri. Naya rasa, tanpa disadari Murakami menyampaikan pesan jika perempuan pemberi warna bagi kehidupan dan orang yang menarik laki-laki dari hidupnya yang jenuh, membosankan karena terlalu mengutamakan logika.
Sebenarnya laki-laki dalam cerita-cerita ini tidak ada yang benar-benar hidup tanpa perempuan. Mereka selalu digambarkan membutuhkan perempuan untuk banyak hal meski dengan arogan Murakami mengatakan jika laki-laki dalam cerita ini ‘tanpa perempuan’.
Keempat, tujuh cerita yang ada dalam buku ini cenderung tipikal, hampir bicara mengenai hal yang sama.
Tapi buku ini menarik, meski Naya cukup terganggu dengan ‘ciri Murakami’nya. Mungkin itu alasan kenapa Naya belum dibolehkan membaca buku-buk