Majlis Ta'lim " Langgar Ijo "

Majlis Ta'lim " Langgar Ijo " Majlis Ta'lim yang membahas tentang Kitab Kuning (Gundul), beserta cara membacanya di asuh oleh Ust. A.

Lutfian Antoni di Langgar Ijo "Rapak" Wonokromo, Pleret, Bantul Yogyakarta

Monggo Ngaji Malam Ramadhan Langgar Ijo dimulai malam ini di Rumah Ibu Ny. Uswatun Hasanah. Ngaji juga live via Facebook...
13/04/2021

Monggo Ngaji Malam Ramadhan Langgar Ijo dimulai malam ini di Rumah Ibu Ny. Uswatun Hasanah. Ngaji juga live via Facebook.

Nasehat imam Asy-Syafi'i rahimahullahu kepada para penuntut Ilmu itu secara garis besar ada enam (6). Nasehat-nasehat in...
09/09/2020

Nasehat imam Asy-Syafi'i rahimahullahu kepada para penuntut Ilmu itu secara garis besar ada enam (6). Nasehat-nasehat ini ditulis dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i. Beliau rahimahullahu berkata, "Saudaraku, tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya:
(1) kecerdasan,
(2) semangat,
(3) sungguh-sungguh,
(4) berkecukupan,
(5) bersahabat (belajar) dengan ustadz,
(6) membutuhkan waktu yang lama."

1. Kecerdasan

Kecerdasan merupakan potensi manusia sejak dilahirkan. Setiap orang telah diberikan kecerdasan oleh Allah, sehingga dengan kecerdasan itu manusia dapat dengan mudah menerima pengetahuan yang ada di alam semesta ini. Walau sudah merupakan bawaan lahir tetapi perlu juga untuk diolah agar dapat meningkat lebih dari yang telah ada. Kecerdasan yang dimaksud bukan saja tetang kecerdasan otak, tetapi juga kecerdasan sikap dan spiritual. Ketiga komponen ini harus berjalan beriringan, jika satu saja kurang maka akan menjadi cacat.

Apa yang harus diperbuat oleh penuntut ilmu dengan kecerdasannya? Yang perlu dilakukan adalah menggunakan kecerdasan itu sesuai dengan kadar yang telah ditentukan, jangan juga berlebihan. Maksudnya adalah bahwa menimba ilmu itu sebanyak-banyaknya dengan menyaring agar ilmu yang bermanfaat saja yang diterima, kemudian ilmu pengetahuan itu harus dikontrol dengan moral, sehingga tidak terjadi penyalahgunaan ilmu dan pengetahuan.

2. Semangat dalam Menuntut Ilmu

Semangat merupakan bekal bagi seorang dalam menuntut ilmu. Jika dia sudah tahu bahwa ilmu itu memiliki manfaat yang sangat besar, maka dia akan mengerahkan semua daya dan upaya untuk menuntut ilmu. Semangat memiliki fungsi untuk menggerak seseorang dalam bertindak, dalam hal ini bertindak untuk menuntuk ilmu sebanyak-banyaknya.

Dalam menuntut ilmu, semangat tidak boleh kendor. Seorang penuntut ilmu harus memiliki semngat yang keras untuk terus membaca, menelaah, meneliti, mempraktekkan, dan membangun forum-forum ilmiah dengan teman sejawat atau dengan para guru yang memiliki ilmu yang tinggi.

3. Bersungguh-sungguh dalam Menuntut Ilmu

Bersungguh-sungguh adalah berusaha dengan segenap jiwa dan raga, yaitu berusahan dengan sekuat-kuatnya sehingga apa yang diinginkan bisa tercapai. Ada sebuah syair arab yang mengatakan bahwa "siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia." Begitu p**a dengan menuntut ilmu, seorang penuntut ilmu jika dia bersungguh-sungguh dalam belajar maka dia akan menjadi orang yang cerdas.

Penuntut Ilmu harus menghindari sifat malas, bosan dan cepat merasa lelah serta menghindari hawa nafsu setan yang senantiasa mengikuti dan menggoda dirinya untuk berhenti dalam menuntut ilmu. Banyak hal yang dapat menstimulus seseorang untuk giat dan tekun dalam belajar yaitu dengan membaca biorgrafi para ilmuan-ilmuan terdahulu yang dengan gigih dan tabah dalam menanggung segala penderitaan yang mereka alami serta kisah perjalanan mereka yang menuntut ilmu di berbagai tempat.

4. Memiliki Bekal Untuk Menuntut Ilmu

Pergi mengembara keluar dari kampung halaman untuk belajar merupakan jihad fi sabilillah, yaitu berada di jalan Allah. Dengan demikian maka mengorbankan harta untuk bekal menuntut ilmu merupakan salah satu amaliah di jalan Allah.

5. Bersahabat dengan Guru

Fenomena saat ini yang terjadi adalah telah lahir para ulama atau ilmuan-ilmuan model baru hasil didikan internet. Belajar dengan media internet itu sah-sah saja, tidak ada salahnya, tetapi yang patut diingat bahwa, informasi yang ada di dunia maya ini tidak semuanya benar, sehingga perlu penyaringan yang sangat ketat hingga bisa masuk ke dalam otak. Kalau tidak disaring, hal yang salah akan dianggap sebagai kebenaran.

Belajar yang baik adalah langsung dengan ahlinya, sehingga ilmu itu dapat dijelaskan dengan baik. Jadikan buku dan media lain seperti internet sebagai pendukung dalam menuntut ilmu. Selain itu belajar kepada orang alim itu bukan saja mendapatkan pembelajaran, tetapi juga mendapatkan pendidikan adab, akhlak dan wara'.

6. Membutuhkan Waktu yang Lama

Ada ungkapan (ada yang menyebutnya hadis) yang menyatakan bahwa "menuntut ilmu itu dari buayaan ibu sampai ke liang lahat."

Menuntut ilmu itu membutuhkan waktu yang lama, bukan satu atau dua hari saja seseorang sudah dapat menguasai suatu ilmu.

Ilmu tidak datang secepat kilatan cahaya yang langsung dipahami secara keseluruhan oleh seseorang, butuh kajian yang mendalam, bahkan semakin dikaji maka akan semakin dalam lagi ilmu tersebut. Lalu berapa lamakah kita akan belajar? Jawabannya adalah sepanjang hayat masih dikandung badan. Wallahu a'lam.

🙏🙏

23/08/2020

Bismillahirrahmanirrahim

Kitab : Almawa'idzu al-'ushfuriyyah
Hal 8
Alhaditsu attasi'
Pemateri:
Ustadz M.Shoodiq

5 Pesan Allah kepada kita
1- Agar kita malu pada Allah saat bermaksiat . Maka Allah juga akan malu saat Yaumul 'Ardh, dan tidak mengadzab kita

2- Agar bertaubat kepada Allah.
Maka kita bisa memperoleh kemulyaan para Nabi²

3- Agar hati kita setia kepada Allah. Tidak berpaling dari Allah. Maka kita bisa memperoleh pertolongan Allah

4- Agar kita membenarkan janji dan ancaman Allah. Dan Allah Maha Menepati janji

5- Agar kita percaya bahwa sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi Rizki dan rizki kita sudah ditetapkan, sehingga kita tidak meninggalkan taat kepada Allah hanya karena mencari rizki

🙏🙏
Majlis Ta'lim Langgar Ijo
23-08-2020

Monggo masih bisa pesan~
01/05/2020

Monggo masih bisa pesan~

24/04/2020

Ngaji Ramadhan 1441 H

Live di instagram dan Facebook Majlis Ta’lim “ Langgar Ijo “ pukul 20.00 WIB.

30/03/2020
04/07/2019

Perbedaan Khalaqa, Fathara dan Ja'ala:

Dalam tinjauan makna al Quran,
1- Khalaqa bermakna
"menciptakan sesuatu (yang belum ada sebelumnya) dari sesuatu", ini misalnya ditunjukkan oleh Ali Imron ayat 49:

ۖ أَنِّىٓ أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيْـَٔةِ ٱلطَّيْرِ
"yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung".

dan sesuatu yang tercipta ini belum pernah ada sebelumnya, bukankah "manusia" yang tercipta, belum pernah ada sebelumnya?
al Alaq ayat 2:
خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ
"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah"

2- Fathara bermakna menciptakan sesuatu dari tidak ada, atau menciptakan pertama kali,
ini bisa dilihat dalam surah Fathir ayat 1:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ
"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi".

3- Ja'ala bermakna mengubah kejadian sesuatu yang sudah ada ke kejadian lain, seperti dalam surah Yasin ayat 80:

ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلشَّجَرِ ٱلْأَخْضَرِ نَارًا
"yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau".

kayu diubah kejadiannya menjadi api.
atau dalam surah Yunus ayat 5:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمْسَ ضِيَآءً وَٱلْقَمَرَ نُورًا
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya".
matahari dijadikan bersinar, dan bulan dijadikan bercahaya.

Wallahu A"lam
K.H. M Afifudin Dimyathi

03/07/2019

AL HASUD LA YASUD

Tadi malam menjelang tidur, seseorang bertanya via inbox tentang Hasud. Aku mengatakan sambil mencari referensi :

Hasud adalah perasaan tidak s**a seseorang kepada orang lain, karena kenikmatan/kebahagiaan yang diperoleh orang lain itu. Kenikmatan itu bisa berupa kekayaan, jabatan, kehormatan, kecantikan, kehebatan, dll. Ia berharap kenikmatan itu hilang darinya dan berpindah kepada dirinya. Pada tingkat lebih lanjut dia akan berusaha merusak bahkan melenyapkan kenikmatan tersebut dari orang lain itu dengan segala cara.

"Mengapa orang bisa menjadi hasud"?.Imam al-Ghazali dalam bukunya "Ihya Ulum al-Din" menyebut ada tujuh faktor penyebab "hasud", dengki. Yaitu :
1.'al-'Adawah" (kebencian),
2. "Al-Kibr" (sombong),
3. "al-Ta'ajjub"(mengagumi diri),
4. "al-Khawf min Fawt al-Maqashid al-Mahbubah",(takut kehilangan keinginan/harapan yang dicintainya),
5. "Hubb al-Riyasah"(cinta/gila jabatan) 6. "Khubts al-Nafs"(jiwa buruk)
7. "Al-Bukhl al-Nafs"(jiwa pelit).

Hasud adalah karakter setan Iblis. Ia dengki kepada Adam karena Adam memeroleh kedudukan terhormat dan makhluk-Nya yang palibg dihormati-Nya. Saat Allah memerintahkan agar semua makhluk: Setan/Iblis dan Malaikat menghormatinya, Iblis menolak keputusan itu. Dan dia oleh Tuhan dianggap sebagai bagian dari "orang kafir", yakni orang yang menolak/melawan kebenaran dan keadilan.

Nabi mengatakan :

اياكم والحسد فان الحسد ياكل الحسنات كما تاكل النار الحطب.

"hasud itu membakar habis kebaikannya bagaikan api membakar kayu".

الحسود لا يسود
"Hasud itu tidak akan menjadi pemimpin".

فالمعنى الصحيح لهذه العبارة "الحسود لا يسود" هكذا: الحسود لا يصل إلى السيادة و لا يفوق الآخرين، أي أنه لا يصل عن طريق الحسد للآخرين إلى العظمة و السيادة و المقام الرفيع،

Arti kata-kata ini adalah : orang yang hasud tidak akan mencapai kedudukan pemimpin, dan tidak akan mengungguli orang lain yang dihasudi. Yakni orang hasud tidak akan memeroleh kedudukan terhormat dan tinggi.
Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan:

المؤمن يغبط والمنافق يحسد

“Orang mukmin hanya sebatas jengkel, sementara orang munafik sampai pada tingkat hasud.”

Hasud merupakan sifat yang paling sulit disembuhkan. Imam al-Ghazali dalam "Faishal al-Tafriqah" mengutip sebuah syair Imam Syafi'i:
كل العداوات قد ترجى سلامتها
الا عداوة من عاداك عن حسد

Semua kebencian bisa diatasi kecuali hasud. Ia sangat sulit.

Nabi berpesan :

لا تحاسدوا ولا تباغضوا وكونوا عباد الله اخوانا

"Kalian jangan saling hasud dan saling membenci. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara".

03.07.19
K. H. Husein Muhammad

Tafsir yang tak pernah selesaiMemulai menulis Tafsir adalah bagaikan memenuhi jamuan ilahi. Begitu nikmatnya hingga ada ...
02/07/2019

Tafsir yang tak pernah selesai

Memulai menulis Tafsir adalah bagaikan memenuhi jamuan ilahi. Begitu nikmatnya hingga ada sejumlah ulama yang tak sempat menyelesaikannya. Mereka keburu dipanggil oleh Allah Swt.

Kisah pertama

Kita mulai kisah pertama dengan seorang ulama besar bermazhab Syafi’i. Namanya Jalaluddin Mahalli. Ahli fiqh dan ushul al-Fiqh dari Mesir ini memulai menulis tafsirnya dari pertengahan al-Qur’an, yaitu surat al-Kahfi sampai surat an-Nas. Lalu beliau menulis tafsir surat al-Fatihah. Beliau wafat tahun 1459, tanpa sempat menyelesaikan dari surat al-Baqarah sampai al-Isra.

Enam tahun kemudian, seorang muridnya yang bernama Jalaluddin al-Suyuthi, melanjutkan penulisan tafsir sang guru. Dengan mengikuti corak dan pendekatan yang sama, beliau menulis tafsir surat al-baqarah hingga surat al-Isra. Kerja lanjutan ini diselesaikan dalam 40 hari. Sejak itu dunia Islam mengenal kitab tafsir dua Jalal, yaitu tafsir jalalain. Ini kitab tafsir yang sangat populer di dunia pesantren.

Kisah kedua

Syekh Muhammad Abduh memberikan kuliah Tafsirnya di Mesir. Muridnya yang bernama Syekh Rasyid Ridha mengumpulkan catatan tersebut dan mengusulkan untuk menerbitkannya dalam surat kabar. Semula sang guru menolak, namun akhirnya menyetujui. Abduh sempat menyampaikan kuliah-kuliah tafsirnya dari surah al-Fatihah sampai surah an-Nisa ayat 125 kemudian beliau wafat, dan Rasyid Ridha selanjutnya menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an sendirian sampai dengan ayat 51 surah Yusuf. Rasyid Ridha meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil pada tahun 1935. Tafsir al-Manar yang merupakan kolaborasi guru dan murid ini terhenti pada jilid 12. Dan tidak ada yang menyelesaikannya sampai sekarang.

Kisah ketiga

Muhammad Abu Zahrah seorang ulama terkemuka dari Mesir. Banyak sekali menulis berbagai kitab yang dijadikan rujukan para pelajar dan mahasiswa. Beliau menulis kitab Ushul al-Fiqh, sejarah mazhab dan biografi sejumlah imam mazhab. Yang tidak banyak dibahas adalah beliau juga menulis kitab Tafsir. Sayang sebelum sempat menyelesaikannya beliau keburu wafat. Beliau wafat saat memegang pena tengah menulis tafsir surat al-Naml ayat 19. Tafsirnya kemudian diterbitkan dengan judul Zahrat at-Tafasir sebanyak 10 jilid. Belum ada yang meneruskan beliau menyelesaikan kitab tafsir ini.

Para ulama di atas telah berupaya mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran mereka untuk menjelaskan kandungan ayat al-Qur’an. Kita sekarang memiliki banyak sekali menu hidangan ayat ilahi dari berbagai kitab tafsir yang ditulis oleh para ulama.

Keragaman penafsiran menjadi sebuah keniscayaan. Semakin banyak kitab tafsir yang kita baca akan semakin dalam kita memahami ayat ilahi. Semakin luas kajian kita, semakin kita tak mudah terpuaskan hanya dengan membaca satu kitab tafsir. Sayang saat ini banyak kalangan yang hanya mau mengikuti satu penafsiran saja dan dengan enteng menyalahkan penafsiran ulama lainnya.

Tafsir memang tidak akan pernah selesai. Akan selalu muncul penafsiran baru, dari kitab tafsir baru yang ditulis oleh para mufassir generasi berikutnya. Bismillah…

Tabik,

Nadirsyah Hosen

(Diambil dari https://nadirhosen.net/tsaqofah/tarikh/141-tafsir-yang-tak-pernah-selesai)

Memulai menulis Tafsir adalah bagaikan memenuhi jamuan ilahi. Begitu nikmatnya hingga ada sejumlah ulama yang tak sempat menyelesaikannya. Mereka keburu

01/07/2019

TANAMLAH

Gus Dur, adalah nama yang menyimpan kekayaan spritual yang sepertinya tak pernah habis. Meski telah p**ang, ia masih terus disebut dan kata-katanya terus dikutip orang. "Apakah rahasianya", tanya seorang teman.
Aku tak bisa menjawab. Tetapi aku ingat Gus Dur acap menyenandungkan kata-kata Ibn Athaillah al-Sakandari, sufi maestro dari Iskandariah, Mesir. Ia menuliskannya dalam bukunya yang terkenal "Al-Hikam":

إِدْفِنْ وُجُودَكَ فِى اَرْضِ الْخُمُولِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ
Tanamlah eksistensimu
pada tanah yang tak dikenal
Sebab sesuatu yang tumbuh
dari biji yang tak ditanam
tak berbuah matang

Dr. Zaki Mubarak (w. 1952), sarjana Tasawuf, terkemuka dari Mesir memberikan komentar atasnya:

“Syair Idfin itu amat memukau. Ia begitu indah. Aku tak pernah menemukan yang sepertinya di tempat lain. Di dalamnya tersimpan gejolak spiritualisme yang amat kuat. Sang penulis, agaknya, menemukan maknanya ketika ia melakukan permenungan dalam sunyi, bening dan dalam situasi ekstasi, lalu merasuki jiwanya, maka ia menjadi kata-kata indah nan abadi, sepanjang zaman”.(Zaki Mubarak, Al-Tashawwuf al-Islamy, Dar al-Jil, Beirut, Lebanon, hlm. 109).

"Apakah maknanya", tanyanya lagi.
Aku mengira-ngira saja. Puisi tersebut bicara soal perlunya menjauhkan hasrat dan ambisi akan pop**aritas, kemasyhuran diri dan politik pencitraan. Arti puisi itu kira-kira begini : “Simpanlah hasratmu akan pop**aritas, karena hasrat yang demikian tak akan membuat dirimu tumbuh dan berkembang sempurna”.

Hasrat akan kemasyhuran akan menyibukkan diri pada urusan-urusan yang tak berguna dan mengabaikan kerja-kerja yang bermanfaat bagi manusia. Cinta pada kemasyhuran mendorong orang untuk mengurusi dirinya sendiri dan tak peduli pada orang lain.

01.07.19
K. H. Husein Muhammad

Address

Bantul
55791

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majlis Ta'lim " Langgar Ijo " posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category