17/07/2015
:)
IDUL FITRI 1436
Seorang pemuda bangun pukul empat lalu cepat-cepat makan sahur yang disiapkan ibunya dua jam yang lalu. Ia habiskan lalu cepat-cepat berganti pakaian dilanjutkan memakai sarung tak lupa peci dibalut jaket kulit tertebalnya. Ia buka pintu dengan tangan sembari merasakkan dinginnya udara fajar. Ia merasa kulitnya kurang tebal untuk melewati dingin tersebut sehingga ia memutuskan untuk beribadah sendiri di ruang privasinya. Dalam ibadahnya bukan Sang Pencipta yang ia rasakan tapi kenyamanan kasur di sampingnya. Cukuplah baginya dua maksimal tiga menit untuk mencantumkan namanya dalam daftar orang-orang yang melakukan shalat. Setelah itu, cukuplah ia dzikir barang setengah menit sembari tubuhnya lama-kelamaan tertarik oleh magnet yang tertancap dalam kasurnya. Ia pun terbaring.
Pemuda lain bangun pukul satu atau dua lalu cepat-cepat mengambil air wudhu', sedikit ia menggerakkan tubuhnya untuk berdzikir, terkadang membaca qur'an, atau qiyamulail. Selesai, ia bantu ibunya menyiapkan sahur lalu dengan damainya ia melalapnya bersama senyuman keluarga. Segera ia menyiapkan jiwa untuk berjalan menuju Rumah Allah di ujung jalan sana. Mode pakaian terindahlah yang ia pilih. ia buka pintu dengan tangan sembari menikmati udara yang sangat khusyu' berdzikir pada Allah sehingga menyebabkan suhu sedikit lebih dingin. Ia merasa raganya terlalu sombong jika tidak ia gerakkan menuju Rumah Allah karena sesungguhnya raganya bukan milinya, tapi milik Sang Tuan Rumah. Ia pun melangkah menembus tasbih-tasbih angin fajar. Ia BANGKIT dari dari kesengsaran sebentar menuju kenikmatan abadi yakni dekat dengan Sang Penciptanya dalam Rumah-Nya.
Indonesia tidak membutuhkan jiwa pemuda pertama. Jiwa-jiwa terlena yang takut akan sedikit kesengsaraan dunia. Jika pemuda-pemuda 70 tahun yang lalu seperti ia, maka tak akan berani B**g Karno memekikkan kata 'Merdeka' di tanah air ini.
Indonesia butuh jiwa pemuda kedua. Jiwa berani menantang bahaya, rintangan, halangan, dan apapun penghalangnya menuju kedekatan pada Sang Penciptanya. Sama saja sia-sia hidupnya jika kasur melalaikannya, dunia telah menidurkannya dari langkah kaki menuju Rumah Allah. Inilah pemuda-pemuda yang rela jiwanya tersiksa, sengsara, bercucuran darah hanya untuk meneriakkan kata 'Merdeka' di tanah air ini. Tak ada kata lain bagi pemuda ini untuk BANGKIT dan terus melangkah menuju kedekatan diri pada Sang Pencipta walau banyak zat terus menekannya untuk mundur.
RAMADHAN telah pergi. Ia telah pergi bukan diam saja, ia pergi meninggalkan bingkisan yang berisi pesan. Yakni, pesan SAATNYA UNTUK BANGKIT. Pesan ini terkhusus untuk pemuda. Dimana pemuda tonggak kejayaan suatu bangsa. Bukan saatnya pemuda dekat dengan kasur-kasurnya tapi saatnya pemuda BANGKIT melangkahkan kaki menuju Rumah-Rumah Allah untuk mencari Rahmat Allllah. Karena Kemerdekaan ini adalah 'Atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa'