Nusantara Mengaji

Nusantara Mengaji berbagi faidah bermanfaat untuk bekal akhirat sesuai pemahaman salaful ummah

[ Obsesi Dunia Sebab Derita ]Ketahuilah bahwa hakikat rezeki itu adalah apa-apa dari perkara dunia ini yang kita nikmati...
27/05/2026

[ Obsesi Dunia Sebab Derita ]

Ketahuilah bahwa hakikat rezeki itu adalah apa-apa dari perkara dunia ini yang kita nikmati, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim no. 2959)

Perkara yang kita tumpuk-tumpuk dari dunia ini belum tentu menjadi rezeki kita, karena mati itu bisa kapan saja sehingga tinggal hisab yang menanti di akhirat. Muhammad bin al-Yaman mengatakan tentang dunia,

حَلَالُهَا حِسَابٌ وَحَرَامِهَا عَذَابٌ

“Harta dunia yang halal itu berbuah hisab. Sedangkan harta dunia yang haram itu berdampak adzab.” (Hilyah al-Auliya’ 8/157)

Bagi hamba yang obsesinya dunia memiliki ciri karakter istibtha’, obsesi untuk cepat kaya, cepat sukses, sebelum waktunya, dinyatakan oleh Nabi ﷺ dalam hadisnya,

أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian memiliki penyakit istibtha’ dalam masalah rizki. (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi).

Penyakit istibtha’, merasa rizki terlambat, kurang melimpah, ingin banyak punya aset, adalah pemicu terbesar untuk utang bahkan menerjang perkara yang dilarang. Padahal sehebat apapun usaha yang kita lakukan, tidak akan melampaui jatah rizki kita…

Bagi anda yang berkarir baik, penghasilan, perhatikan, dunia itu candu… waspadai obsesi memperbesar kran penghasilan, melalui tawaran utang atau praktek korupsi yang haram…naudzubillah min dzalik..

wallahu'alam

🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
© Referensi :
https://pengusahamuslim.com/5972-akhirnya-saya-tahu-riba-itu-zalim.html

[ Ikhlas Menuntut Ilmu dan Berdakwah ]Nikmat yang besar dari Allah adalah ketika kita diberi kesempatan untuk menuntut i...
24/05/2026

[ Ikhlas Menuntut Ilmu dan Berdakwah ]

Nikmat yang besar dari Allah adalah ketika kita diberi kesempatan untuk menuntut ilmu, karena tujuan kita adalah akhirat tidak mengharapkan apa pun dari dunia

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» يَعْنِي رِيحَهَا.
[صحيح] - [رواه أبو داود وابن ماجه وأحمد] - [سنن أبي داود: 3664]

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,"Siapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari Kiamat." Maksudnya: wanginya.[Sahih] - [HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad] - [Sunan Abī Dāwūd - 3664]

Ketika menuntut ilmu karena Allah maka menyampaikan dakwah juga karena Allah, dakwah harus tetap jalan walaupun tidak ada yang bantu, bukan mengharapkan sesuatu pada manusia, karena rezeki pasti dijamin oleh Allah, tidak ada para ulama salaf ketika berdakwah mati kelaparan. Mereka berdakwah dengan jiwa dan hartanya untuk mengharapkan surga, karena itulah yang diperintahkan Allah سبحانه و تعالى dalam Surat As-Shaff Ayat 10

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَٰرَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.[Surat As-Shaff Ayat 11]

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّٰتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

Artinya: Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.[Surat As-Shaff Ayat 12]

وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.[Surat As-Shaff Ayat 13]

Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ,

لَٰكِنِ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ جَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْخَيْرَٰتُ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya: Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.[Surat At-Taubah Ayat 88]

Jika kita diberi sesuatu ketika berdakwah yang tidak kita harapkan maka tidak mengapa, namun tidak boleh kita berharap. Namun wajib bagi kita untuk mencari maisyah dalam rangka menegakkan dakwah ini, harus meyakini bahwa dakwah ini pasti ditolong Allah ketika mendapati cobaan harus bersabar, & prioritas bagi keluarga kita wajib didakwahi secara terus menerus.

wallahu'alam

🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Referensi: https://www.youtube.com/watch?v=cPN4Gy5qSHQ

[Apa Yang Kau Persiapkan Untuk Hari Esok -Akhirat-]Fenomena zaman sekarang dimana orang-orang terlalu fokus dengan dunia...
08/05/2026

[Apa Yang Kau Persiapkan Untuk Hari Esok -Akhirat-]

Fenomena zaman sekarang dimana orang-orang terlalu fokus dengan dunianya seolah-olah akan hidup selamanya di dunia, hingga lalai dari shalat, dzikrullah, belajar ilmu agama, & beramal shalih, padahal Allah telah berfirman dalam Surat Al-Hasyr Ayat 18
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);

Semua perbuatan hamba di dunia akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat, perkara halalnya dihisab, perkara haramnya akan diadzab, maka renungkan pesan Nabi ﷺ

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).

Dengan mengingat kematian seorang hamba merenungkan tentang ;
1. Tidak akan terlalu berambisi mengejar dunia namun merasa cukup [qona'ah] dengan karunia Allah yang telah dianugerahkan kepadanya
2. Memanfaatkan sisa usia dengan ketaatan-ketaatan
3. Menjauhi kemaksiatan

Hendaknya seorang mukmin benar-benar mempersiapkan bekal untuk akhiratnya diantara dengan memiliki sifat :

1. Amanah

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya hadits dari Abdullah bin Amr bahwasanya rasulullah-ﷺ bersabda:

أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا : حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيثٍ، وَحُسْنُ خَلِيقَةٍ، وَعِفَّةٌ فِي طُعْمَةٍ

”ada empat hal yang jika terdapat pada anda maka tidak membahayakan anda segala hal yang anda luput dari dunia: (1) menjaga amanah, (2) perkataan jujur, (3) akhlak yang baik, (4) menjaga iffah dalam hal makanan”.

2. Profesional

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، ».
[صحيح] - [رواه مسلم] - [صحيح مسلم: 2664]

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda,".....Maka gigihlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah!...."[Ṣaḥīḥ Muslim - 2664]

Maka betul-betul kita perhatian terhadap amal kita agar selamat di dunia maupun akhirat, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu selagi diberi sisa waktu usia maka perbaikilah diri dengan hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah & menghindari hal-hal yang mendatangkan murka Allah. Inilah tanda baiknya keislaman seseorang, diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu, Nabi ﷺ bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya” (Hadis Hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya seperti itu).

wallahu'alam
Materi Khutbah Jumat 8 Mei 2026, Masjid Al Ikhlas, Karangasem, Depok, Sleman

🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t

[ Tekun Ibadah Sebab Hidup Berkah ]Perkara pokok yang wajib diketahui setiap muslim adalah rukun islam, sebagaimana dise...
17/04/2026

[ Tekun Ibadah Sebab Hidup Berkah ]

Perkara pokok yang wajib diketahui setiap muslim adalah rukun islam, sebagaimana disebutkan dalam hadits ;

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ عُمَر رضي الله عنهما قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم:
«بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ».
[صحيح] - [متفق عليه] - [صحيح مسلم: 16]

Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat Lā ilāha illallāh-Muḥammad rasūlullāh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadan."
[Sahih] - [Muttafaq 'alaihi] - [Sahih Muslim - 16]

Syahadat sebagai pondasi utama yang diatasnya akan dibangun seluruh amal-amal hamba, jika syahadat ini rusak maka rusaklah & runtuhlah seluruh bangunan amal yang dibangun diatasnya, maka wajib kita jaga aqidah tauhid ini dari perkara yang dapat merusaknya yakni kesyirikan, diantara kesyirikan yang kita temui adalah :
1. Memakai jimat
2. Pergi ke dukun
3. Menyembelih untuk selain Allah
4. Meminta-minta kepada penghuni kubur
5. Larung sesaji dsb

Kemudian setelah syahadat, adalah shalat yang merupakan wujud & bukti paling utama ketika kita beriman & bersyahadat, dengan shalat seseorang akan dijauhkan dari keburukan, sebagaimana Allah سبحانه و تعالى berfirman

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-‘Ankabut Ayat 45)

Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain)) yaitu bahwa shalat itu mengandung dua hikmah, yaitu mencegah perbuatan keji dan perbuatan munkar. yaitu membuatnya gigih untuk menghindari hal itu. (Tafsir Ibnu Katsir)

Tentu bukan hanya shalat yang hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban akan tetapi betul-betul shalat yang berlandaskan ilmu, yakni ikhlas & ittiba kepada Nabi ﷺ

قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 628 dan Ahmad, 34:157-158]

Dengan berlandaskan ilmu shalat kita akan lebih berkualitas & khusyuk. Shalat yang berkualitas akan benar-benar mendatangkan keberkahan sebagaimana Allah سبحانه و تعالى berfirman

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Artinya: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.(Surat Thaha Ayat 132)

Firman Allah: (Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu) yaitu ketika kamu mengerjakan shalat, maka rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak kamu sangka. Sebagaimana Allah سبحانه و تعالى berfirman: (Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (2) Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka) (Surah Ath-Thalaq) dan ((56) (57) (58)) (Surah Adz-Dzariyat) Oleh karena itu Allah berfirman: (Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu)[Tafsir Ibnu Katsir]

Selagi ada waktu & usia maka marilah kita mengilmui agama ini, mengamalkan & berusaha istiqamah, dalam hadits Nabi ﷺ bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cintai maupun yang tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang dicintai oleh Allah.

Wallahu'alam
Materi Khutbah Jumat, 17 April 2026, Masjid Al Jihad Karangasem, Santren, Depok, Sleman

🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
@⁨all⁩

[ Hakikat Syukur Meninggalkan Maksiat ]Menurut para ulama, hakikat syukur akan terpenuhi dengan 3 hal : 1. Meyakini deng...
10/04/2026

[ Hakikat Syukur Meninggalkan Maksiat ]

Menurut para ulama, hakikat syukur akan terpenuhi dengan 3 hal :
1. Meyakini dengan hati bahwa nikmat itu semua dari Allah
2. Mengucapkan dengan lisan kita, alhamdulillah
3. Menggunakan nikmat dari Allah untuk ketaatan & menjauhi kemaksiatan

Perkara syukur ini merupakan wujud dari bukti keimanan, dimana makna Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Kemudian ahlussunnah wal jama’ah juga mengatakan

الإيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

"Iman itu bertambah dengan ketaatan & berkurang dengan kemaksiatan"

Hakikat syukur ditegaskan oleh Mukhollad bin Al Husain yang mengatakan,

الشكر ترك المعاصي

“Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.” (‘Iddatush Shobirin, hal. 49, Mawqi’ Al Waroq)

Untuk mewujudkan hakikat syukur seorang hamba harus mengetahui mana perkara maksiat & bukan maksiat, hal tersebut hanya dapat terpenuhi jika hamba mengilmui agama ini dengan pemahaman yang benar sehingga mampu membedakan :
1. Tauhid dengan syirik,
2. Sunnah dengan bid'ah, &
3. Taat dengan maksiat.

Dengan ilmu dalam diri hamba akan tumbuh keimanan yang mendorong untuk beramal shalih & ketaatan kepada Allah, sehingga terwujudlah hakikat syukur pada diri hamba. Namun demikian, Allah سبحانه و تعالى berfirman,

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13).

Perlu dipahami bahwa semakin berilmu akan semakin sempurna imannya akan semakin sempurna rasa syukurnya kepada Allah sehingga akan ditambah nikmat-nikmatnya oleh Allah. Mereka yang bersyukur senantiasa khusnudzon kepada Allah, dalam hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah سبحانه و تعالى mengatakan:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Aku akan mengikuti persangkaan hamba-hambaKu terhadap diriKu. Jika ia berprasangka baik terhadapKu, niscaya ia akan mendapatkan kebaikan (baginya kebaikan seperti yang dilakukan terhadap diriKu). Sebaliknya juga, apabila dia berprasangka buruk terhadapKu, niscaya dia akan mendapatkan keburukan itu.” (HR. Ahmad)

Maka jangan tinggalkan mengingat Allah dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, karena semakin mengenal Allah akan semakin khusnudzon kepada Allah, di antara nasihat indah yang Nabi ﷺ sampaikan,

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di saat senang (lapang), niscaya Allah akan mengenalmu di saat susah.” (HR. Tirmidzi no. 2516; Ahmad, 1: 293; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 14: 408. Syekh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq beliau terhadap Musnad Imam Ahmad menyatakan bahwa sanad hadis ini kuat)

Hamba yang bersyukur senantiasa beriman & bertakwa dengan sebenar-benarnya, Allah tidak menerima dari kita amalan kecuali kalau kita mewujudkan taqwa dalam amalan kita, sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّـهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sungguh Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa saja.” (QS. Al-Maidah[5]: 27)

Makna takwa dijelaskan oleh Thalq Bin Habib Al-’Anazi:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”

Muslim hidup di dunia hanya sementara jangan sampai di waktu yang singkat ini terbuang sia-sia, manfaatkan hari hari kita untuk perkara yang bermanfaat baik bagi kehidupan dunia maupun akhirat, karena ini merupakan tanda baiknya keislaman seseorang sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Wallahu'alam
Materi Khutbah Jumat 10 April 2026, Masjid Al Ikhlas Karangasem, Santren, Depok, Sleman

🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t

[ Jangan Mengkritik Pemerintah di Depan Publik ]Dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh Ibnu Sa’d dan al-Fasawi, disebutk...
08/04/2026

[ Jangan Mengkritik Pemerintah di Depan Publik ]

Dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh Ibnu Sa’d dan al-Fasawi, disebutkan bahwa Abdullah bin Ukaim rahimahullah mengatakan, “Aku tidak akan mau membantu untuk menumpahkan darah seorang khalifah pun setelah terbunuhnya Utsman.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Wahai Abu Ma’bad, apakah anda membantu menumpahkan darahnya?”. Beliau menjawab, “Aku menghitung perbuatan menyebutkan kejelekan-kejelekannya tergolong bantuan dalam menumpahkan darahnya.” (lihat Tanbih Dzawil Fithan, hlm. 100)

Apa yang disebutkan oleh Abdullah bin Ukaim ini -semoga Allah merahmati beliau- menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Malik hafizhahullah; bahwa menyebutkan aib-aib dan keburukan-keburukan penguasa adalah termasuk tindakan yang akan membuka gerbang untuk tertumpahnya darah mereka. Karena itulah, sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma telah memperingatkan kaum muslimin dari bahaya lisan. Beliau berkata, “Sesungguhnya fitnah/kekacauan itu muncul gara-gara lisan, bukan dengan ulah tangan.” (lihat Tanbih Dzawil Fithan, hlm. 99)

Mengkritik pemerintah di depan publik adalah metode Khawarij. Tidakkah kita ingat bagaimana lancangnya pendahulu mereka ketika mengkritik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat beliau membagikan ghanimah kepada beberapa kelompok orang, kemudian datanglah orang yang mengatakan kepada beliau, “Demi Allah, anda tidak berbuat adil.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Betapa celaka anda, siapakah yang berbuat adil jika aku sendiri tidak berbuat adil. Sesungguhnya aku sedang melunakkan hati mereka…” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim)

Wallahu'alam

🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
📚 Referensi ;
http://www.al-mubarok.com/2018/11/10/pelajaran-berharga-dari-abdullah-bin-ukaim/

[ Taat Syariat Sebab Bahagia Dunia & Akhirat ]Hidup di dunia tidak lepas dari aturan & ketentuan yang mengatur kehidupan...
28/03/2026

[ Taat Syariat Sebab Bahagia Dunia & Akhirat ]

Hidup di dunia tidak lepas dari aturan & ketentuan yang mengatur kehidupan agar tertib & rapi, kita bisa melihat semakin suatu perusahaan itu bonafid maka semakin ketat p**a aturan internalnya dalam rangka untuk menjaga nilai-nilai budaya perusahaan yang sudah berjalan puluhan tahun sebut saja semisal Yoyota, Unilever, Nestle, Danone, dst.

Jika dalam tatakelola perusahaan yang fokusnya keuntungan duniawi saja harus ketat untuk mendapatkan "added value" maka terlebih lagi bagi kehidupan beragama yang seharusnya lebih diutamakan karena terkait kehidupan dunia & akhirat. Padahal semakin hamba taat maka akan semakin Allah tambah nikmat-nikmat-Nya, karena hakikatnya semua nikmat adalah dari Allah سبحانه و تعالى

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ

Artinya: Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.[An-Nahl Ayat 53]

Allah telah mengutus Rasulullah ﷺ sebagai rahmat bagi semesta alam, Allah سبحانه و تعالى berfirman

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(QS Al-Anbiya Ayat 107)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa orang-orang yang mengikutinya mendapatkan rahmat di dunia dan di akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir)

Ditegaskan dalam firman Allah سبحانه و تعالى lainnya

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ

Artinya: Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;[Surat Thaha Ayat 2]

ini merupakan wahyu dari al-Quran serta syariat yang disyariatkan oleh Dzat ar-Rahim ar-Rahman dan dijadikan sebagai jembatan pengantar menuju kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Dia benar-benar menyederhanakannya dan memudahkan setiap pintu dan jalan-jalan aksesnya. Dia menjadikannya sebagai nutrisi bagi hati, jiwa, dan pencipta ketenangan bagi badan. Fitrah-fitrah yang normal dan akal-akal yang lurus menyambutnya dengan tulus dan ketundukan. Karena ia mengetahui muatan kebaikan yang berada di dalamnya di dunia dan akhirat.[Tafsir as-Sa'di]

Oleh karena itu dengan iman & takwa seseorang akan mentaati syariat sehingga diperoleh kehidupan ruh yang bahagia & akan berdampak terhadap amal sehari-harinya. Maka kunci hidup bahagia ada 3 hal, sebagaimana hadits dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah ﷺ bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Wallahu'alam
Yogyakarta, 8 Syawal 1447

🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t

[ Imam (Ulil Amri) adalah Orang yang Disepakati oleh Kaum Muslimin sebagai Imam ]Berikut penafsiran para ulama’ salaf te...
22/03/2026

[ Imam (Ulil Amri) adalah Orang yang Disepakati oleh Kaum Muslimin sebagai Imam ]

Berikut penafsiran para ulama’ salaf tentang kata “Ulil Amri” yang disebutkan dalam ayat berikut:

(يأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم ( النساء 59

“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah olehmu Allah dan ta’atilah Rasulullah, dan juga ulil amri diantara kalian.” (QS An Nisa’ 59)

Ulama’ ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari kata “ulil amri”, sebagaimana berikut:
Yang dimaksud dengan Ulil Amri ialah para ulama’ atau yang disebut dengan ahli fiqih. Pendapat ini merupakan pendapat yang disampaikan oleh Sahabat Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه , Mujahid, Atha’ bin Saib dll. Yang dimaksud dari Ulil Amri ialah para penguasa dari umat islam, atau kholifah atau umara’. Pendapat ini disampaikan oleh Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه , Maimun bin Mahran, Ibnu Zaid, As Suddy, dll. Pendapat kedua ini juga diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنه . (Tafsir At Thobary 5/147 dst, Tafsir Qurthuby 5/259, & Tafsir Ibnu Katsir 1/517-518)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

والظاهر والله أعلم أنها عامة في كل أولي الأمر من الأمراء والعلماء.

“Pendapat yang lebih kuat, -wallahu a’alam- yang kata “ulil amri” bersifat umum, mencakup ulil amri dari kalangan umara’ (pemimpin/penguasa) dan juga ulama’.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/518)

Oleh karena itu, sejatinya tidak perlu diperdebatkan lagi tentang bagaimana ketaatan kita kepada pemerintah jika kita paham apa makna dari “Ulil Amri” yang sebenarnya, karena memang para ‘Ulama Tafsir telah memasukkan para Pemimpin atau “Umaro” sebagai “Ulil Amri” yang wajib ditaati, ditegaskan dalam sebuah riwayat

حَدَّثَهُمْ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ سُئِلَ عَنْ حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ لَهُ إِمَامٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً» ، مَا مَعْنَاهُ؟ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: " تَدْرِي مَا الْإِمَامُ؟ الْإِمَامُ الَّذِي يُجْمِعُ الْمُسْلِمُونَ عَلَيْهِ، كُلُّهُمْ يَقُولُ: هَذَا إِمَامٌ، فَهَذَا مَعْنَاهُ "

Abu Abdillah (imam Ahmad) ditanya tentang hadits Nabi ﷺ: "barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak punya imam, ia mati sebagai bangkai jahiliyyah"

Wahai imam Ahmad, siapa imam yang dimaksud dalam hadits ini? Imam Ahmad menjawab: "Imam adalah orang yang disepakati oleh kaum muslimin sebagai imam. Setiap orang mengatakan bahwa dialah imam. Itulah maknanya"
[As Sunnah Lil Khallal, 1/80, Asy Syamilah]

Banyak para ulama ahlis sunnah wal jama'ah yang menjelaskan dengan terang siapa ulil amri di sebuah negeri. Baik secara global/garis besar maupun secara rinci dengan menta'yinnya. Diantara yang menyebut dengan global bahwa penguasa dalam sebuah negeri berbentuk republik adalah presidennya (terlepas dari hukum republik yang merupakan pembahasan lain), ialah Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah.

Beliau menyatakan :

والامامة نوعان: إمامة في الدين، وإمامة في التدبير والتنظيم فمن امامة الدين الامامة في الصلاة، فإن الامام في الصلاة امامته امامة دين ومع ذلك فله نوع من التدبير حيث ان النبي صلى الله عليه وسلم امر بمتابعته ونهى عن سبقه والتخلف عنه فهذا نوع تدبير، لانه مثلا اذا كبّر كبرنا واذا ركع ركعنا واذا سجد سجدنا وهكذا.

واما امامة التدبير فتشمل الامام الاعظم ومن دونه، والامام الاعظم هو الذي له الكلمة العليا في البلاد كالملوك ورؤساء الجمهوريات وما اشبه ذلك

"Ke-Imaman/kepemimpinan itu ada dua : Imam dalam agama dan imam dalam pengaturan dan sistem.

Diantara imam dalam agama adalah imam shalat. Imam shalat itu jenis keimamannya adalah imam dalam agama, bersamaan dengan itu ia memiliki unsur pengaturan juga, karena Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengikuti gerakannya, serta melarang dari mendahului atau terlalu terlambat darinya.

Ini merupakan unsur pengaturan karena jika ia bertakbir kita ikut takbir, jika ia rukuk kita ikut rukuk, dan jika ia sujud kita ikut sujud dan seterusnya.

Adapun imam dalam pengaturan dan sistem maka ia mencakup Imamul A'dzom (khalifah) dan jajarannya. Imamul A'dzom adalah yang memiliki kalimat tertinggi di suatu negeri, seperti para raja dan para presiden (pemimpin republik), atau yang semisal dengannya."(Syarah Aqidah As-Sifariniyah : 1/663).

Sebagian dari kaum muslimin mengganggap bahwasanya pemimpin yang wajib ditaati (Ulil Amri) adalah pemimpin seperti Khulafaur Rasyidin yang menegakkan syariat islam, akan tetapi klaim ini terbantahkan dengan hadits dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ، فَجَاءَ اللهُ بِخَيْرٍ، فَنَحْنُ فِيهِ، فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟

“Wahai Rasulullah, dulu kami berada di atas kejelekan (jahiliyyah), kemudian Allah Ta’ala mendatangkan kebaikan yang kami sekarang berada di atasnya (yaitu Islam). Maka apakah setelah kebaikan ini akan ada kejelekan?”

Rasulullah menjawab, “Iya.”

Hudzaifah berkata, “Apakah setelah kejelekan itu akan ada kebaikan lagi?”

Rasulullah menjawab, “Iya.”

Hudzaifah berkata, “Apakah setelah kebaikan itu akan ada kejelekan lagi?”

Rasulullah menjawab, “Iya.”

Hudzaifah berkata, “Bagaimanakah bentuk kejelekan tersebut?”

Rasulullah menjawab,

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ

“Akan ada setelahku para pemimpin (penguasa) yang mereka tidak melaksanakan petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku (ajaranku). Akan ada di tengah-tengah mereka sejumlah penguasa yang berhati setan, raganya saja yang berwujud manusia.”

Hudzaifah kembali bertanya, “Apa yang harus kami perbuat jika kami menjumpai masa tersebut?”

Rasulullah ﷺ bersabda,

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Hendaklah Engkau mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun mereka memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim no. 1847)

Wallahu'alam
Yogyakarta, 3 Syawal 1447H

🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
© Referensi :
1. fawaid_kangaswad
2. bimbinganislam.com

Address

Jeruk Legi Banguntapan Bantul
Bantul

Telephone

+6281904161956

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nusantara Mengaji posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Nusantara Mengaji:

Shortcuts

Share

Category