22/03/2026
[ Imam (Ulil Amri) adalah Orang yang Disepakati oleh Kaum Muslimin sebagai Imam ]
Berikut penafsiran para ulama’ salaf tentang kata “Ulil Amri” yang disebutkan dalam ayat berikut:
(يأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم ( النساء 59
“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah olehmu Allah dan ta’atilah Rasulullah, dan juga ulil amri diantara kalian.” (QS An Nisa’ 59)
Ulama’ ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari kata “ulil amri”, sebagaimana berikut:
Yang dimaksud dengan Ulil Amri ialah para ulama’ atau yang disebut dengan ahli fiqih. Pendapat ini merupakan pendapat yang disampaikan oleh Sahabat Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه , Mujahid, Atha’ bin Saib dll. Yang dimaksud dari Ulil Amri ialah para penguasa dari umat islam, atau kholifah atau umara’. Pendapat ini disampaikan oleh Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه , Maimun bin Mahran, Ibnu Zaid, As Suddy, dll. Pendapat kedua ini juga diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنه . (Tafsir At Thobary 5/147 dst, Tafsir Qurthuby 5/259, & Tafsir Ibnu Katsir 1/517-518)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
والظاهر والله أعلم أنها عامة في كل أولي الأمر من الأمراء والعلماء.
“Pendapat yang lebih kuat, -wallahu a’alam- yang kata “ulil amri” bersifat umum, mencakup ulil amri dari kalangan umara’ (pemimpin/penguasa) dan juga ulama’.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/518)
Oleh karena itu, sejatinya tidak perlu diperdebatkan lagi tentang bagaimana ketaatan kita kepada pemerintah jika kita paham apa makna dari “Ulil Amri” yang sebenarnya, karena memang para ‘Ulama Tafsir telah memasukkan para Pemimpin atau “Umaro” sebagai “Ulil Amri” yang wajib ditaati, ditegaskan dalam sebuah riwayat
حَدَّثَهُمْ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ سُئِلَ عَنْ حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ لَهُ إِمَامٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً» ، مَا مَعْنَاهُ؟ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: " تَدْرِي مَا الْإِمَامُ؟ الْإِمَامُ الَّذِي يُجْمِعُ الْمُسْلِمُونَ عَلَيْهِ، كُلُّهُمْ يَقُولُ: هَذَا إِمَامٌ، فَهَذَا مَعْنَاهُ "
Abu Abdillah (imam Ahmad) ditanya tentang hadits Nabi ﷺ: "barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak punya imam, ia mati sebagai bangkai jahiliyyah"
Wahai imam Ahmad, siapa imam yang dimaksud dalam hadits ini? Imam Ahmad menjawab: "Imam adalah orang yang disepakati oleh kaum muslimin sebagai imam. Setiap orang mengatakan bahwa dialah imam. Itulah maknanya"
[As Sunnah Lil Khallal, 1/80, Asy Syamilah]
Banyak para ulama ahlis sunnah wal jama'ah yang menjelaskan dengan terang siapa ulil amri di sebuah negeri. Baik secara global/garis besar maupun secara rinci dengan menta'yinnya. Diantara yang menyebut dengan global bahwa penguasa dalam sebuah negeri berbentuk republik adalah presidennya (terlepas dari hukum republik yang merupakan pembahasan lain), ialah Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah.
Beliau menyatakan :
والامامة نوعان: إمامة في الدين، وإمامة في التدبير والتنظيم فمن امامة الدين الامامة في الصلاة، فإن الامام في الصلاة امامته امامة دين ومع ذلك فله نوع من التدبير حيث ان النبي صلى الله عليه وسلم امر بمتابعته ونهى عن سبقه والتخلف عنه فهذا نوع تدبير، لانه مثلا اذا كبّر كبرنا واذا ركع ركعنا واذا سجد سجدنا وهكذا.
واما امامة التدبير فتشمل الامام الاعظم ومن دونه، والامام الاعظم هو الذي له الكلمة العليا في البلاد كالملوك ورؤساء الجمهوريات وما اشبه ذلك
"Ke-Imaman/kepemimpinan itu ada dua : Imam dalam agama dan imam dalam pengaturan dan sistem.
Diantara imam dalam agama adalah imam shalat. Imam shalat itu jenis keimamannya adalah imam dalam agama, bersamaan dengan itu ia memiliki unsur pengaturan juga, karena Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengikuti gerakannya, serta melarang dari mendahului atau terlalu terlambat darinya.
Ini merupakan unsur pengaturan karena jika ia bertakbir kita ikut takbir, jika ia rukuk kita ikut rukuk, dan jika ia sujud kita ikut sujud dan seterusnya.
Adapun imam dalam pengaturan dan sistem maka ia mencakup Imamul A'dzom (khalifah) dan jajarannya. Imamul A'dzom adalah yang memiliki kalimat tertinggi di suatu negeri, seperti para raja dan para presiden (pemimpin republik), atau yang semisal dengannya."(Syarah Aqidah As-Sifariniyah : 1/663).
Sebagian dari kaum muslimin mengganggap bahwasanya pemimpin yang wajib ditaati (Ulil Amri) adalah pemimpin seperti Khulafaur Rasyidin yang menegakkan syariat islam, akan tetapi klaim ini terbantahkan dengan hadits dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ، فَجَاءَ اللهُ بِخَيْرٍ، فَنَحْنُ فِيهِ، فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟
“Wahai Rasulullah, dulu kami berada di atas kejelekan (jahiliyyah), kemudian Allah Ta’ala mendatangkan kebaikan yang kami sekarang berada di atasnya (yaitu Islam). Maka apakah setelah kebaikan ini akan ada kejelekan?”
Rasulullah menjawab, “Iya.”
Hudzaifah berkata, “Apakah setelah kejelekan itu akan ada kebaikan lagi?”
Rasulullah menjawab, “Iya.”
Hudzaifah berkata, “Apakah setelah kebaikan itu akan ada kejelekan lagi?”
Rasulullah menjawab, “Iya.”
Hudzaifah berkata, “Bagaimanakah bentuk kejelekan tersebut?”
Rasulullah menjawab,
يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ
“Akan ada setelahku para pemimpin (penguasa) yang mereka tidak melaksanakan petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku (ajaranku). Akan ada di tengah-tengah mereka sejumlah penguasa yang berhati setan, raganya saja yang berwujud manusia.”
Hudzaifah kembali bertanya, “Apa yang harus kami perbuat jika kami menjumpai masa tersebut?”
Rasulullah ﷺ bersabda,
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
“Hendaklah Engkau mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun mereka memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim no. 1847)
Wallahu'alam
Yogyakarta, 3 Syawal 1447H
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
© Referensi :
1. fawaid_kangaswad
2. bimbinganislam.com