LPA Al-A'raf

LPA Al-A'raf Lembaga Pendidikan Al-Qur'an

14/04/2022
https://youtu.be/NYwNNMTLM5s
02/08/2020

https://youtu.be/NYwNNMTLM5s

Kunci Ketenangan & Ketentraman Hidup | Ustad Adi Hidayat, Lc, MA Iman adalah kunci keteangan dan ketentraman hidup di dunia dan akhirat. Inilah kajian Ustad ...

https://youtu.be/2agPzraAaE8
15/07/2020

https://youtu.be/2agPzraAaE8

Sebuah fakta bahwa banyak anak-anak di usia remaja belum tertib melaksanakan sholat fardlu 5 waktu. Sedangkan bagi kita umat muslim, tentunya ibadah ini adal...

12/04/2020

📣 Video Terbaru Ammar TV 📣 🎥 Best Voice || Surat Al Baqarah 1-76 || Ibrohim Elhaq 🎥 Video on Youtube https://youtu.be/VBGg7QkjQms SoundCloud Support by : Jag...

Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian ...
14/03/2020

Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.
”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa di atas ini, maka akan disampaikan kepadanya,
‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya dan kamu dilindungi.’
Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya,
’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi dan dilindungi."
(HR. Abu Daud & Tirmidzi)

Sahabat, mari kita hafalkan dan amalkan doa ini, semoga Alloh senantiasa memberi kita perlindungan-Nya saat dimanapun dan kapanpun.

14/08/2019

*Yang me-merdeka-kan

Tokoh ini bernama Siti Walidah, lahir 3 Januari 1872, putri dari seorang ulama, Kiyai Haji Muhammad Fadli. Dia bersekolah di rumah saja, belajar ilmu agama, bahasa, dan lain sebagainya. Dia tidak mengenyam pendidikan formal, tapi besok lusa, dia ‘mendirikan’ ribuan sekolah-sekolah, lembaga pendidikan formal lewat organisasi yang dibangunnya.

Tahun 1889, Siti Walidah menikah dengan sepupunya, Ahmad Dahlan, dan kemudian, dia akan lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan.

Jika kalian ingin mencari contoh tokoh pergerakan wanita yang benar-benar kongkrit, Nyai Ahmad Dahlan adalah pilihan terbaiknya. Dia tidak hanya bicara atau menulis soal ‘emansipasi’, dia juga melakukannya dengan tangan. Nyata. Tahun 1917, di usia 45 tahun, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Aisyiyah, yang kemudian menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Lewat organisasi Aisyiyah inilah kiprah Nyai Ahmad Dahlan terang-benderang menyinari sekitarnya. Organisasi ini mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama. Menjadi ujung tombak pendidikan bagi wanita. Karena jelas, jika kita bicara tentang mengubah sesuatu, pendidikan adalah kuncinya. Tahun-tahun itu, catat baik2, tahun 1920-an, Nyai Ahmad Dahlan telah berkeliling ke banyak tempat menyampaikan banyak hal prinsip mengagumkan. Dia menganjurkan perempuan belajar memakai sepeda. Itu sepele bukannya? Tidak. Di jaman itu, saat sepeda adalah simbol kendaraan, itu serius sekali. Arab Saudi bahkan baru beberapa tahun lalu mengijinkan perempuan mengemudi di negaranya. Nyai Ahmad Dahlan visioner, seratus tahun lebih maju.

Nyai Ahmad Dahlan menentang kawin paksa, dia datang dengan pemahaman bahwa istri adalah mitra setara bagi suami, penting sekali wanita mendapatkan pendidikan, dll, dsbgnya. Lagi2, catat tahun-tahun itu, saat Indonesia belum merdeka, Belanda masih menjajah, itu pemikiran yang sangat ‘radikal’ dan ‘berbahaya’. Tapi tidak bagi seorang Nyai Ahmad Dahlan yang kritis dan progresif.

Saya tidak akan membahas apa yang dilakukan oleh Nyai Ahmad Dahlan secara detail. Kalian bisa membacanya di buku, atau menonton filmnya (karena sudah ada film tentang Nyai Ahmad Dahlan). Tapi saya ingin membahas tentang sesuatu yang mungkin diabaikan oleh banyak orang saat membaca sejarahnya. Sebuah pertanyaan simpel: Kok bisa, ada wanita yang lahir tahun 1870-an, punya pemahaman seperti itu? Bukankah di jaman itu konon wanita katanya masih dipingit, hanya bisa memendam perasaan, hanya bisa diam di kamar? Hanya bisa menulis surat dan sebagainya?

Kok bisa Nyai Ahmad Dahlan malah aktif dalam pergerakan?

Jawabannya, kemungkinan ada dua. Yang pertama, karena suaminya adalah Ahmad Dahlan. Seorang ulama besar, yang memahami agama dengan baik. Bayangkan, di jaman itu, dia justeru mendukung istrinya untuk terlibat dalam organisasi. Ahmad Dahlan paham sekali, posisi wanita bukan hanya urusan dapur saja. Lebih dari itu, wanita punya posisi terhormat dalam agama, sejarah membuktikan, wanita bisa mengambil peran lebih. Ketika Ahmad Dahlan meninggal tahun 1923, ketika kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, Nyai Ahmad Dahlan yang memimpin kongres itu. Saat dunia separuh lebih masih ‘gelap-gulita’ soal emansipasi wanita, Nyai Ahmad Dahlan telah memberi contoh.

Yang kedua, kemungkinannya karena Nyai Ahmad Dahlan sendiri, yang memahami, bahwa wanita bisa mengambil peran lebih dalam kehidupan. Dia mempelajari agamanya dengan baik, lantas tiba di sebuah pemahaman: agama Islam adalah agama yang me-merdeka-kan. Apakah jilbab itu mengekang? Tidak. Itu simbol yang membebaskan. Dengan jilbab, wanita bisa berinteraksi lebih baik dengan sekitarnya tanpa batasan. Pun sama dengan laki-laki, karena memakai pakaianlah, laki-laki bisa berinteraksi, coba telanjang. Malah nggak bisa kemana2. Nyai Ahmad Dahlan memahami, jika Islam memuliakan wanita dalam artian sebenarnya.

Apakah pemahaman ini sesederhana yang dilihat. Saya tidak tahu. Tapi mana ada pemahaman yang datang gratisan, instan. Itu biasanya harus melewati fase-fase penting. Jelas Nyai Ahmad Dahlan telah melewati fase kehidupan yang panjang. Jika Nyai Ahmad Dahlan masih hidup, mungkin kita bisa mendengarkan penjelasannya. Kita bisa bertanya banyak. Karena dalam hidupnya, toh, Nyai Ahmad Dahlan dipoligami. Ahmad Dahlan memiliki istri2 lain. Tentu akan sangat menarik, menyimak pendapatnya tentang posisi wanita dalam agama Islam. Boleh jadi jawabannya akan membuat aktivis pergerakan wanita modern terdiam. Dia jelas sama hebatnya dengan daftar wanita berpengaruh hari ini--bahkan mungkin lebih hebat lagi.

Tapi baiklah, kita tidak harus berpanjang-lebar membahas itu lagi. Toh, sebenarnya lebih menarik menyimak warisan dari seorang Nyai Ahmad Dahlan. Tahun 1919, dua tahun Aisyiyah berdiri, lahirlah taman kanak-kanak yang kelak diberi nama TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal. Hari ini, 2019, alias seratus tahun berlalu, kalian tahu berapa jumlah cabang TK ini di seluruh Indonesia? 20.000 lebih. Seriusan, saya termangu membaca data ini, ini tidak salah tulis? Oh God, punya 10 TK saja sudah banyak, Organisasi Aisyiyah punya 20.000 lebih TK. Crazy. Belum lagi sekolah-sekolah hingga universitas.

Lihatlah warisan dari seorang Nyai Ahmad Dahlan.

Dia adalah contoh aktivis gerakan wanita yang kongkrit. ‘Demi’ 20.000 TK itu, semestinya , 3 Januari, tanggal kelahiran Nyai Ahmad Dahlan, kalaupun bukan dijadikan hari Emansipasi Wanita, pun juga bukan hari Pendidikan Nasional, bisakah kita sepakati dijadikan hari Taman Kanak-Kanak Nasional saja? Agar orang paham, bahwa pendidikan telah dimulai di usia yang sangat dini. Pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di tempat2 ibadah.

Nyai Ahmad Dahlan tidak hanya bisa bercita-cita; dia mengambil jalan kongkrit. Nyata.

*Tere Liye

08/07/2019

PASAR BEBAS PARA USTADZ

Di zaman old, orang yang mau ngaji harus mendatangi tempat pengajian. Para jamaah datang berbondong-bondong. Kiai ceramah. Hadirin duduk manis mendengarkan ceramah. Jamaah nggak bisa milih ustadz. Wong ustadznya sudah dipilih panitia. Ya sudah, para hadirin nurut saja panitia pengajian.

Zaman now beda. Orang nggak perlu datang ke tempat pengajian. Dengan HP ditangan, sampeyan bisa ngaji lewat Youtube. Ustadznya bisa milih. Mau pilih ustadz NU ada. Ustadz Muhammadiyah ada. Ustadz Muhammadinu ada (gabungan NU dan Muhammadiyah). Ustadz FPI, HTI dan "Wahabi" ada. Ustadz liberal yang bikin orang ragu-ragu terhadap ajaran agamanya juga ada. Pokoke segala macam ustadz dengan segala potongan dan gaya ada.

Pilihan ustadznya banyak. Youtube menawarkan fenomena baru dunia pengajian: "pasar bebas ustadz". Benar-benar free market. Sampeyan bisa milih sesuai dengan selera Anda.

Dalam soal pengajian, saya tidak " Ormas minded". Lha wong saya itu orang Muhammadiyah. Tapi kalau ngaji Youtube ustadz pilihan saya lintas ormas. Saya hobi ngaji Gus Baha yg orang NU di Youtube. Orangnya sangat cerdas. Referensinya luas. Fikih menguasai. Tasawuf paham.

Kalau lagi stres saya ngaji Kiai Anwar Zahid. NU juga. Geeeeer. Lucu. Strespun minggat.

Kalau ingin memahami isi Quran, saya nonton Ustadz Adi Hidayat. Otaknya encer sekali. Mirip google. Penjelasan runtut. Jelas. Sistematis. Kalau ingin bener-bener tadzabur kitab suci ya cocoknya ustadz Muhammadiyah ini.

Ustadz Felix Siauw cocok untuk mereka yg semangatnya lagi letoy. Sistematis. Ideologis. Motivasi dosis tinggi.

Kalau ingin pendekatan "nyunnah", simak ustadz Firanda Andirja, Khalid Basalamah, Syafieq Reza dkk. " Wahabi yoben!

Kalau ingin ustadz yang retorikanya mantap, humoris sekaligus isinya bernas, ya Ustadz Abdul Shomad lah.

Saya juga hobi ngaji Youtube dari ustadz Amerika: Nouman Ali Khan. Isu-isu kontemporer dikaitkan dg pesan-pesan Quran. Luar biasa. Bahasa Inggrisnya juga enak. Mudah dipahami. " Ledis and jentelmen, I'm veri veri hepi, plis inves tu mai kantri".

Jangan lupa, favorit saya Cak Nun. Nggak tau, menurut saya, dia itu legenda. Jenius. Original. Genuine. Idealis dan....nggak bisa diiming-imingi kekuasaan.

Youtube bikin " disruptive" dunia dakwah. Para jamaah sekarang lebih milih ngaji lewat youtube. Kiai dan ustadz "konventional" berkurang jamaahnya. Berkurang pengaruhnya.

Lucunya, di era dakwah virtual, masih ada orang yg hobinya membubarkan pengajian. Mungkin orang-orang itu masih hidup di zaman Purba "Megalodon Dobolobos" (Pak Ndul, 2019). Pengajian konvensional mungkin bisa dibubarkan. Namun si ustadz bisa ceramah lewat youtube. Jangkauannya lebih masif. Mau mbubarin Youtube? Owalah dobolobos-dobolobos (Ibid, 2019).

Tak usah heran, karena era disrupsi yang dibawa Youtube dalam dunia dakwah, Ustadz Felix Siauw lebih banyak disimak oleh kalangan mahasiswa daripada Pak Quraish Shihab dan Gus Mus. Bukan karena keilmuan Felix lebih otoritatif. Ada banyak faktor yg bikin jamaah s**a pd ustadz tertentu.

Saya pernah bikin "penelitian kecil-kecilan" pada anak-anak muda milenial tetangga desa dan mahasiswa kos-kosan. Teknik pengambilan data: obrolan angkringan sego kucing. Ternyata, mereka s**a ustadz yang merdeka dalam berpikir. Mandiri. Tak bisa "dibeli" kekuasaan. Kritis pada kondisi status quo yg nggak adil. Berani menyuarakan kebenaran. Mereka menyebutnya ulama organik. Bukan "ulama istana".

Ustadz yg celupan (sibghah) keislamannya jelas juga dis**ai. Nggak kecampuran micin. Micin liberal 😀. PD bicara tentang nilai agama. Jelas. Tegas.

Responden angkringan saya juga bilang mereka s**a ustadz yg "walk the talk". Satunya kata dalam perbuatan. Uswatun hasanah. Memberi contoh kebaikan. Contoh, Ustadz Adi Hidayat, di sela-sela ceramah memberi hadiah. Hadiah ini tidak diberikan pada jamaah yg bisa menyebutkan 3 nama ikan. Tapi diberikan pada yg sudah hafal Quran. Dan hadiahnya bukan hanya sepeda, tapi beasiswa melanjutkan kuliah dan biaya berangkat umroh.

Wis ngene wae.

https://www.facebook.com/endro.hatmanto/posts/10157389257436369

Address

Turi, Sumberagung, Jetis
Bantoel
55781

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when LPA Al-A'raf posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category