10/02/2025
Bersyukur mendapat kesempatan lagi mengikuti kelas wakaf SNC di Akademi Wakaf. Awalnya diniati sebagai charge otak, hati dan kaki bergerak dalam wakaf buku, malah menjadi tamparan.
Huh! Baru jalan santai kok sudah lelah. Baru gerak pelan kok berhenti lagi. Sementara langkah-langkah tegap mereka dihadang suudzon, penolakan bahkan fitnah. Bukannya surut, semakin lari melesat menjemput ridho Allah.
MasyaAllah pelajaran hari ini bersama Pak Bach tidak saja mengembalikan semangat tapi jauh kedalam memperbaiki niat. Sebab kata Pak Bach, ketika kita belum bisa beramal sholih berdinar-dinar, kita bisa menjadi jembatan kebaikan, jembatan amal sholih. Selayaknya jembatan, kata beliau lagi, dilewati oleh apapun dan siapapun dengan muatannya masing-masing. Dia harus tetap kokoh ketika dilewati truk kontainer, dia harus tetap menahan hati ketika dilalui truk sampah yang muatannya berceceran, dia juga harus tetap santun ketika mobil reyot peyot berjalan terseok, pun ketika sebuah Porche melaju keren.
Bahagianya ketika mereka melintasi jembatan untuk bergegas menanam benih kebaikan, insyaallah kelak sang jembatan ikut panen.
Akhirnya Pak Bach menutup materi dengan kalimat-kalimat tajam :
Umur kita terbatas
Waktu kita terbatas
Harta kita terbatas
Alhasil jembatan kebaikan akan menjadi kran pahala yang terus mengucur dengan berwakaf dan mengajak berwakaf.