Ibnu Abdil Baqi

Ibnu Abdil Baqi

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Ibnu Abdil Baqi, Education, Banjarmasin.

Photos 05/07/2020

Mengenal Kopi, Minuman Para Wali
Oleh: Abu Zein Fardany (Ustadz Khairullah Zain)

Istilah Kopi

Kata “kopi” berasal dari kata dalam bahasa arab “qahwah” yang memiliki arti “kekuatan”.

Kata qahwah ini kemudian berubah dalam berbagai bahasa menjadi “kahveh” (Turki) – “koffie” (Belanda) – “kopi” (Indonesia).

Dalam istilah masyarakat Hadrami atau Arab yaman disebut Qohwa, namun bila dilisankan mereka senang menyebutnya dengan nama Gahwa.

Sejarah Kopi

Bila membuka hikayat kopi dalam kebudayaan masyarakat Arab dalam hal ini orang Yaman (Hadrami), kita akan menemukan catatan sejarah yang menarik, konon walaupun biji kopi dikatakan ditemukan di Etiopia (Abnessyia), namun budi daya biji kopi dalam perkebunan luas ada di daerah Yaman setidaknya sejak abad ke-6 masehi.

Dalam tradisi lisan masyarakat Hadramaut kopi konon ditemukan oleh as-Syaikh Ali bin Umar Asy-Syazili atau yang lebih dikenal dengan Syekh Asy-Syazili saja, seorang wali yang makamnya dianggap keramat di Mokha, (Menurut as-Syaikh Najm al-Ghazy yang mula-mula menjadikan biji kopi sebagai bahan campuran minuman adalah asy-Syaikh Abu Bakr bin Abdillah as-Sadzily yang juga dikenal dengan julukan al-Aydarus), itulah sebabnya terkadang bila meminum kopi orang Arab di Hadramaut senang mengenangnya, karena sang Syaikh dianggap orang yang menemukan cita rasa kopi sebagai sebuah minuman.

Kopi kemudian menjadi minuman penting setelah orang Arab menemukan cara yang pas untuk menyajikannya, bisa dikatakan orang Arablah yang merevolusi cara menyajikan dan menikmati kopi, sebelumnya kopi dinikmati tidak dengan cara disedu untuk minuman, melainkan dimakan dengan cara dibungkus dengan lemak binatang.

Ada semacam tradisi unik dikalangan masyarakat Hadramaut tempo dulu, disana kopi biasanya dinikmati diantara dua waktu makan, biasanya bila seorang hendak berkunjung ke rumah salah seorang sahabat atau bila ada tamu yang datang, maka diadatkan untuk membawa beberapa biji kopi di dalam sorban atau dalam radi, sang tuan rumah akan mengumpulkan biji-biji kopi tersebut untuk dinikmati bersama.

Tak butuh waktu yang lama kopi menjadi semacam minuman kes**aan orang Islam, konon dimana ada agama Islam disebarkan baik di wilayah Turki, negara-negara Balkan, Spanyol, dan Afrika Utara kopi juga ikut tersebar, sehingga sempat timbul semacam pelabelan bahwa kopi itu minumannya orang muslim.

Menurut sejarahnya kedai kopi terkenal di zaman kesultanan Turki muncul di tahun 1453, kopi disana sebut dengan nama Qahveh, kedai kopinya adalah Kiva Han, konon itu kedai kopi pertama di dunia.

Kopi Menurut Ilmuan Muslim

Sejatinya, kopi sudah lama dikenal dalam literatur medis kaum muslim, ada beberapa ilmuan Islam menulis tentang minuman ini, sebut saja diantaranya Al-Razi di abad ke-9, menjadi orang pertama yang menyebut kopi dalam tulisannya dengan memasukkan kata bunn dan sebuah minuman bernama buncham, dalam ensiklopedi tentang zat-zat yang dipercaya menyembuhkan penyakit. Sayangnya, karya ini telah musnah.

Sementara pada abad ke-11, Ibnu Sina mengatakan bunchum dapat “membentengi tubuh, membersihkan kulit, dan mengeringkan kelembaban di bawahnya, serta memberikan bau yang enak untuk tubuh”.

Kopi Masuk Eropa

Berbeda dengan dunia muslim, bangsa Eropa baru merasakan harumnya kopi di abad ke -17, setidaknya seperti itulah yang disebutkan Claudia Rosen dalam bukunya Coffee, ia menceritakan bahwa baru pada 1615, saat para pedagang Venesia membawanya ke Eropa, kopi segera menggebrak seisi benua tersebut.

Konon di Italia gereja sempat menghawatirkan beredarnya minuman yang mereka sebut “temuan pahit setan” dan meminta Paus Clament VIII melarang peredarannya.

Bukannya melarang, Paus justru tersedak dengan cita rasa kopi yang kuat, baginya kopi sayang sekali jika hanya menjadi minuman ekslusif orang muslim saja, sejak itu kopi tak terbendung lagi di Eropa bahkan dibelahan dunia manapun.

Kontroversi Hukum Minum Kopi

Bicara tentang hukum minum kopi, akan sangat panjang jika kita membahasnya dan tentunya perlu tulisan khusus tentang itu. Jadi disini saya hanya akan menulis sedikit, namun cukup sebagai landasan taklid bagi kita yang awam dan tidak sanggup untuk istidlal (menelusuri dalil) dan berijtihad.

Mulanya, terjadi silang pendapat antara ulama perihal minum kopi. Sebagian ulama menghalalkan dan sebagiannya lagi mengharamkan. Masing-masing memiliki dalil dan argumentasi.

As-Syaikh Ibn Hajar al- Haytami mengulas secara khusus perihal silang pendapat ini dalam al-I’ab Syarh al-‘Ubbaab dan beliau mengembalikan hukumnya kepada qaidah fiqhiyyah “Lil Wasail Hukmul Maqashid” (Hukum perantara sama dengan hukum tujuan).

Beberapa nama berikut ini adalah para ulama yang berpendapat bahwa minum kopi itu halal:

1. Syaikhul Islam Zakaria al-Anshary,
2. Syaikh Abdurrahman Bin Ziyad az-Zabidy,
3. Syaikh Zarouq al-Maliky al-Maghriby,
4. Abdullah bin Sahl Ba Qusyair,
5. Al-‘Allamah Muhammad bin Abdil Qadir al- Hibbany.

Berikut beberapa ulama Hadramaut yang bahkan tidak sekedar mengatakan halal, namun memuji minuman kopi, yaitu:

1. Al-Habib Abu Bakr al-‘Aydarus,
2. Al-Ustadz Abdurrahman bin Ali,
3. As-Sayyid Syaikh bin Ismail,
4. Al-Imam Ahmad bin Alawi Ba Juhdub,
5. As-Syaikh Abu Bakr bin Salim,
6. As-Syaikh Abdullah bin Ahmad al-‘Aydarus,
7. As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-‘Aydarus,
8. As-Sayyid Abdullah al-Haddad,
9. As-Sayyid Hatim al-Ahdal,
10. As-Syaikh Abu al-Hasan al-Bakri,
11. As-Syaikh Muhammad bin Abi al-Hasan,
12. As-Syaikh Abdul Wahhab as-Saudy,
13. Al-Faqih Umar bin Abdillah Ba Makhramah,
14. As-Syaikh Abdurrahman bin Umar al-‘Amudy.

Bahkan as-Syaikh as-Sayyid al-‘Arif Hatim al- Ahdal berkata, “Jika tidak ada kurma untuk berbuka puasa, maka berbukalah dengan kopi”.

Tradisi Ritual Minum Kopi

As-Syaikh Abdul Qadir menyebutkan dalam Risalah Shofwah as-Shofwah fi Bayaani Hukm al-Qahwah, juga al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-’Aydarus dalam Inaas as-Shofwah bahwa bagi mereka yang melaksanakan Majelis Kopi agar membaca zikir khusus yang telah disusun para ulama, yaitu:

1. Surah Al-Fatihah 1 x, kemudian;
2. Surah Yasin 4 x, kemudian;
3. Sholawat 100 x, kemudian;
4. Ya Qawiy 116 x. Jika masih ada waktu tersisa hendaknya dilanjutkan dengan mudzakarah (diskusi) tentang kebesaran Allah ataupun mudzakarah ilmu agama dan kalam-kalam para ulama/wali.
5. Semua bacaan al-Qur’an dan zikir tersebut pahalanya dihadiahkan ke Hadirat Rasulullah Shalallahu ‘alaih wa aalih wa sallam kemudian kepada al-Habib Ali bin Umar as- Syadzily (Syaikh al-Qahwah).

(Mohon maaf, yang s**a menuduh dan mencap bid'ah jangan banyak komentar!).

Kopi Menurut Ahli Kesehatan Modern

Berdasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Harvard Women’s Health, manfaat minum kopi beberapa cangkir setiap hari dapat menghindarkan kita dari penyakit diabetes tipe 2, kanker usus besar, Parkinson, batu ginjal, hingga sirosis alias rusaknya fungsi hati, serta menghindarkan kita dari menurunnya daya kognitif otak.

Sebagaimana telah diketahui, zat yang terkandung dalam kopi adalah kafein. Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid yang dikenal sebagai trimetilsantin dengan rumus molekul C8H10N4O2. Jumlah kandungan kafein dalam kopi adalah 1-1,5%, sedangkan pada teh 1-4,8%. Kafein bekerja dalam tubuh dengan mengambil alih reseptor adenosin dalam sel syaraf yang akan memacu produksi hormon adrenalin.

Minum kopi dalam jumlah yang cukup atau sedang tidak akan membahayakan, bahkan akan bermanfaat bagi kesehatan. Jumlah yang boleh dikonsumsi adalah 300 mg kafein atau setara dengan 3 cangkir kopi perhari.

Kecanduan terhadap kafein diperkirakan jika mengkonsumsi lebih dari 600 mg kafein atau setara dengan 5-6 cangkir kopi perhari selama 8-15 hari berturut-turut. Sedangkan dosis yang dapat berakibat fatal bagi manusia adalah sekitar 10 gram kafein atau 20-50 cangkir perhari.

Beberapa Manfaat Kopi

1. Mencegah penyakit saraf. Peminum kopi berkafein cenderung tidak akan mengembangkan penyakit Alzheimer dan Parkinson. Kandungan antioksidan di dalam kopi akan mencegah kerusakan sel yang dihubungkan dengan Parkinson. Sedangkan kafein akan menghambat peradangan di dalam otak, yang kerap dikaitkan dengan Alzheimer.

2. Melindungi gigi. Kopi yang mengandung kafein memiliki kemampuan antibakteri dan antilengket, sehingga dapat menjaga bakteri penyebab lubang menggerogoti lapisan gigi. Minum kopi secangkir setiap hari terbukti dapat mencegah risiko kanker mulut hingga separuhnya. Senyawa yang ditemukan di dalam kopi juga dapat membatasi pertumbuhan sel kanker dan kerusakan DNA.

3. Menurunkan risiko kanker payudara. Menjelang masa menopause, wanita yang mengonsumsi 4 cangkir kopi sehari mengalami penurunan risiko kanker payudara sebesar 38 persen, demikian menurut sebuah studi yang dipublikasikan di The Journal of Nutrition. Kopi melepaskan phytoestrogen dan flavonoid yang dapat menahan pertumbuhan tumor. Namun konsumsi kurang dari 4 cangkir tidak akan mendapatkan manfaat ini.

4. Mencegah batu empedu. Batu empedu tumbuh ketika lendir di dalam kantong empedu memerangkap kristal- kristal kolesterol. Xanthine, yang ditemukan di dalam kafein, akan mengurangi lendir dan risiko penyimpanannya. Dua cangkir kopi atau lebih setiap hari akan membantu proses ini.

5. Melindungi kulit. Konsumsi 2-5 cangkir kopi setiap hari dapat membantu menurunkan risiko kanker kulit nonmelanoma hingga 17 persen. Kafein dapat memacu kulit untuk membunuh sel-sel prakanker, dan juga menghentikan pertumbuhan tumor.

6. Mencegah diabetes. Orang yang mengonsumsi 3-4 cangkir kopi reguler atau kopi decaf (dengan kadar kafein yang dikurangi) akan menurunkan risiko mengembangkan diabetes tipe II hingga 30 persen. Asam klorogenik dapat membantu mencegah resistensi insulin, yang merupakan pertanda adanya penyakit ini.

Hikayat Keajaiban Kopi

1. Bayi Usia Tiga Hari Bisa Berdiri

Diceritakan bahwa suatu hari bertamu tiga orang sufi dan wali ke rumah al-Habib Ahmad bin Husein al-‘Aydarus, untuk mengucapkan selamat atas kelahiran anaknya yang kemudian dikenal dengan as- Sayyid al-‘Arif Billah Abdullah bin Ahmad Ibn Husein al-‘Aydarus.

Tepat di hari ketiga dari kelahiran anaknya tersebut. Mereka adalah as-Sayyid Ahmad bin Alawi Ba Juhdub, al-‘Arif Billah Husein Bal Hajj dan al-Habib Syeikh bin Abdillah al-‘Aydarus.

Setelah mereka duduk, atas permintaan mereka maka dihadapkanlah bayi kecil putra Habib Ahmad. Tidak lama berselang, disuguhkan minuman kopi kepada para sufi tersebut.

Lucunya, bayi kecil bernama Abdullah yang kelak menjadi seorang ulama besar memalingkan wajah ke arah kopi yang dihidangkan, hal ini membuat para sufi tertawa.

Melihat hal demikian, ayah sang bayi al-Habib Ahmad Bin Husein berkata, “Demi al-Fatihah dan Qahwah (Kopi) bangunlah hai Abdullah, ciumlah kaki orang-orang suci ini..!”. Ajaib, Abdullah kecil yang baru berumur 3 hari bangun dari tempatnya, menutup badannya dengan kain kemudian mencium kaki para wali tersebut, lalu berdiri dan oleh mereka diberi minum kopi kemudian disuruh kembali ke tempat baringnya.

Setelah kejadian, Abdullah bin Ahmad kembali ke keadaan semula, seperti normalnya bayi, tidak bisa bangun dan berdiri hingga sampai usianya.

2. Menarik Rejeki dan Mahabbah

Dalam Manaqib al-Habib Abi Bakr bin Salim, Al-Imam Muhammad bin Abdirrahman Ibn Siraj menceritakan, “Suatu hari, datang menghadap Syaikh al-Habib Abu Bakr seorang sayyid bernama Abdurrahim al- Bashri al-Makki untuk meminta syafaat keramat al-Habib dalam mendamaikan hubungannya dengan isterinya yang bernama Makiyyah.

Menurut Abdurrahim, isteri dan keluarganya telah mencelanya bahkan menuntut cerai darinya lantaran kemiskinannya.

Al-Habib menatap Abdurrahim dan bertanya, “Apakah kau mencintai Makiyyah?”. “Ya, saya mencintai dan menggila terhadapnya. Maksud kedatangan saya ini untuk meminta nazhar dan doa Anda agar kehidupanku menjadi lebih baik, karena kesabaranku telah habis”.

Saat itu tangan al-Habib sedang memegang cangkir besar berwarna hijau yang berisi kopi dan disamping beliau jendela terbuka. Tiba-tiba Al-Habib menyembunyikan cangkir sambil berseru, “Cepat..!”. Kemudian mengeluarkan tangannya dan terlihat cangkir kopi itu lenyap.

Al-Habib kemudian berkata, “Kami telah membantu memperbaiki keadaannmu dengan syafaat hai Abdurrahim”. “Kopi ini untuk apa saja yang kau niatkan.” Lanjut al-Habib sambil membekali Abdurrahim.

Sayyid Abdurrahim pun p**ang ke Makkah. Ajaib, manakala mengetahui kedatangan Abdurrahim bersama kafilah, keluarganya menyambutnya dengan gembira dan memberinya uang (dirham). Keluarganya juga mendatangkan Makkiyyah.

Ajaib, terlihat perubahan drastis pada isteri Abdurrahim. Dia nampak sangat mencintai dan menghormati suaminya. “Saat kepergianmu,” Cerita isteri Abdurrahim, “sangat mengherankan, pada suatu hari tiba-tiba ada seorang lelaki (sambil menjelaskan ciri-cirinya) memberiku cangkir yang berisi kopi, kemudian secara tiba-tiba p**a lelaki yang tidak kuketahui datangnya dari mana tersebut menghilang entah kemana. Akupun meminum kopi yang dia berikan dan setelah itu timbul rasa cinta dan sayang kepadamu”.

Ajaib, lelaki yang diceritakan isterinya tesebut persis al-Habib Abu Bakr bin Salim. Bahkan cangkir diberikan lelaki misterius itupun sama persis dengan cangkir yang dipegang al-Habib Abu Bakr saat Abdurrahim menghadap beliau. Tidak hanya itu, kejadiannya pun bertepatan saat Abdurrahim menghadap al-Habib.”

3. Menjaga Harta dan Menyembuhkan Sakit

Diceritakan bahwa salah seorang sufi merebus kopi dengan niat agar tidak ada seorangpun yang bisa mengambil kopi miliknya tanpa izin. Suatu hari, sang anak yang tidak tahu niat ayahnya mengambil kopi tersebut. Saat itu juga tangan sang anak keseleo. Sang sufi kembali merebus kopi dengan niat agar tangan anaknya sembuh. Ajaib, tangan anaknya sembuh dan kembali seperti semula.

4. Zikir Uap Kopi

Diriwayatkan dari beberapa orang shalih, bahwa manakala dibukakan kasyaf mendengar tahlil dari uap kopi (kita yakin bahwa semua makhluk ciptaan Allah bertasbih dan bertahlil) ingin agar orang lainpun diberi pendengaran seperti mereka.

Maka kemudian mereka merebus kopi bersama para jamaah di Masjid as-Syaikh Sa’d Taj al-‘Arifin. Ternyata semua yang berhadir mendengar dengan jelas suara zikir “La Ilaha Illallah Muhammadurrasulullah” dengan huruf yang jelas dan fasih sepanjang kopi masih mengepulkan uap. Suara yang mereka dengar lama-lama semakin tidak jelas seiring dengan hilangnya uap kopi.

Khatimah

Bagaimana kawan-kawan, udah siap untuk menikmati secangkir kopi..?? Ingat, daripada nge"wine" mending minum kopi. Halal, nikmat plus berkah. Dengan berkat Abah Guru Sekumpul dan Syaikhul Qahwah as- Syaikh Ali bin Umar as-Samillah...

Guntung Alaban (Sungai Susu) Martapura, 23/04/2012 00:07

Sumber Utama:
1. Tafrih al-Qulub wa Tafrij al-Kurub, al-Habib Umar bin Saqqaf as-Saqqaf.
2. Qam’ asy-Syahwah, al-Habib Alawi bin Ahmad as-Saqqaf.

Photos 05/07/2020

Mari Mengkaji Tentang Abah Guru Sekumpul
Oleh: Ustadz Khairullah Zain

Mengenali bangunan pemikiran seseorang secara utuh (minimal mendekati) tidak bisa tanpa melakukan kajian yang konprehensif dengan metode riset ilmiah.

Dari hasil telaah tersebut kita boleh mengajukan sebuah konklusi dari sebuah konstruksi pemikiran, berikut pandangan Kita berdasarkan sudut pandang dimana kita berdiri.

Saya sangat berharap mahasiswa-mahasiswa Islam di Kalimantan ini tertarik menjadikan apapun yang berkaitan dengan Sayyidi Abah Guru Sekumpul qoddasallah sirrah sebagai obyek penelitian ilmiah. Karena beliau seorang tokoh besar yang perlu digali dan dihidupkan ajaran, gagasan, pemikiran dan manhajnya.

Jangan sampai tokoh idola kita ini di kemudian hari hanya menjadi tokoh legenda penuh mitos akibat banyaknya beredar kabar-kabar palsu, asumsi-asumsi, dan isu-isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, yang diciptakan, dibangun, disebarluaskan orang-orang bodoh berdalihkan cinta kepada beliau.

Kita bisa menelaahnya dari kacamata ilmu ekonomi, sosiologi, politik, pendidikan, dakwah, dan ragam kacamata lainnya. Sebagai seorang ulama, kita bisa menelaah tafsiran-tafsiran beliau atas nash, ulasan/syarh beliau atas hadits, prinsip beliau atas fiqh, thoriqoh beliau dalam bertashawwuf. Sebagai seorang da'i, kita bisa mengkaji manhaj dakwah beliau. Sebagai seorang "Abah" (Buya/Bapak) kita bisa mengkaji bagaimana kemampuan beliau mengayomi semua orang, semua golongan, lintas parpol, ormas, bahkan lintas agama.

Dengan begitu, ketokohan beliau akan tegak berdiri diatas pondasi ilmiah yang bisa jadi teladan dan ikutan bagi generasi selanjutnya.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriiq.

Photos 05/07/2020

Belajar dari Suara Mic Ar-Raudhah Sekumpul
(Menyikapi Kontroversi Suara Mic Kegiatan Keagamaan)
Oleh: Abu Zein Fardany

Tahun 1994 saya memutuskan untuk tinggal berdekatan dengan Musholla ar-Raudhah Sekumpul, kala itu di tembusan gang Taufiq-Selamat, beberapa ratus meter dari Musholla ar-Raudhah.

Musholla Ar-Raudhah adalah pusat kegiatan keagamaan yang dipimpin Sayyidi Abah Guru Sekumpul Qoddasallah Sirrah, mulai dari sholat berjamaah, majlis ta'lim, hingga majlis wiridan dan sholawatan.

Menariknya, meski tidak sampai 500 meter, namun suara azan dari ar-Raudhah hanya terdengar sayup dari asrama pondokan kami. Padahal, sekitar Musholla berkilo-kilometer penduduknya muslim semua. Jadi tidak ada alasan kekhawatiran ada non muslim yang terganggu mendengar suara azan.

Dulu saya heran, kenapa di Sekumpul tidak membuat menara tinggi untuk menaruh mic agar suara azan dan kegiatan keagamaan terdengar nyaring hingga ke berbagai sudut sebagai bentuk syiar dakwah? Belakangan saya mulai paham, bahwa Sayyidi Abah Guru Sekumpul bukanlah tipe orang yang s**a "memaksa" orang lain untuk mendengarkan suara kegiatan keagamaan di musholla yang beliau dirikan. Walaupun orang itu sesama muslim. Suara hanya disalurkan secara terbatas, sesuai banyaknya jamaah. Malam Senin misalnya, yang kala itu hingga saat ini rutin acara pembacaan maulid Nabi, suara disalurkan melalui mic tambahan dari hari biasa yang ditaruh rendah hingga jangkauan suaranya masih sangat terbatas dan itupun sesuai permintaan para penduduk dimana mic itu dipasang, juga melalui siaran tv kabel di masing-masing rumah penduduk. Jadi orang-orang yang mendengar adalah orang-orang yang memang secara s**arela siap untuk "terganggu" dengan suara yang disiarkan. Bukan dengan mic yang ditaruh tinggi dengan volume nyaring yang membuat orang wajib mendengar selama indera pendengarannya baik dan berfungsi, s**a atau terpaksa, rela atau tidak rela.

Saat ini, memang sudah lebih luas jangkauan suara kegiatan keagamaan di Musholla ar-Raudhah, namun dari rumah saya yang hanya berjarak 650 m menuju musholla, suara azan sehari-hari tidak terdengar, malah yang nyaring kedengaran suara azan dari langgar dan masjid yang jaraknya berkilo-kilo meter. Terkecuali malam Senin dimana dilaksanakan acara baca maulid. Itupun suara yang terdengar berasal dari pesawat tv penduduk yang merelay acara, bukan dari mic toa yang dipasang tinggi dengan volume nyaring.

Nah, kenapa kita tidak mencoba meneladani Sayyidi Abah Guru Sekumpul Qoddasallah Sirrah...?

Bila kita meyakini beliau seorang Wali Allah yang tidak berbuat atau memutuskan untuk berbuat kecuali berdasarkan alasan/dalil kuat dan bahkan ilham robbani, kayaknya tentang pemasangan dan suara mic ini juga patut kita ambil pelajaran.

Menurut Sampeyan...?

(Diposting pada September 2018)

📷 Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Tempo Doeloe

Photos 05/07/2020

Kalau kamu tidak s**a pada seseorang sesama muslim, janganlah mudah melabelinya dengan label kafir, musyrik atau munafiq. Nanti kamu akan menyesal.

Kalau kamu tidak s**a pada seseorang, tak perlu berlebihan, siapa tahu nanti kamu justru akan mencintainya dan mengidolakannya.

Kalau kamu cinta pada seseorang, jangan berlebihan, siapa tahu di belakang hari kamu akan kecewa padanya.

Kalau kamu cinta padaku, silahkan berlebihan dan tak perlu kuatir nanti akan kecewa atau nanti akan membenciku, karena aku bisa menyanyikan: "Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku.."

😍❤️

(By Kiai Umronuddin)

Photos from Ibnu Abdil Baqi's post 05/07/2020

Mengenal Sosok Habib Umar bin Hafidz

Perawakannya tak terlalu tinggi, sedang-sedang saja. Wajahnya yang dihiasi jambang yang rapih berwarna kemerahan dan hidung mancung dengan mata bulat tampak begitu meneduhkan. Dari itu semua, keindahan yang paling jelas terlihat adalah senyumnya yang selalu mengembang di wajahnya. Itulah perawakan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz.

Pekan lalu, dalam pidatonya di Jakarta di hadapan tokoh lintas agama, Habib Umar menyampaikan pandangan tentang pentingnya menjaga hubungan baik antar umat beragama. Pandangannya terasa begitu kokoh karena selalu ditopang oleh sederet ayat Al-Qur’an, Al-Hadist atau pendapat ulama terdahulu.

Di depan pendeta, romo, bikkhu dan tokoh agama lain, Habib Umar berhasil menemukan common ground di mana semua agama memiliki kesamaan pandangan, misalnya tentang pernghormatan pada kemanusiaan, larangan mengambil hak tetangga dan pentingnya menjaga kebaikan di antara umat beragama. Kesamaan ini yang diangkat dan di-
highlight berkali-kali dengan landasan ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Habib Umar yang menyadari bahwa dalam perbedaan masyarakat kerap terjadi perbedaan pendapat dan ‘gesekan’ di antara mereka meminta maaf jika itu terjadi di Indonesia. Kelompok umat Islam yang melakukan tindakan anarkis sehingga menyebabkan umat lain terganggu disebutnya sebagai umat yang belum paham tentang ajaran Islam. Kalaupun mereka adalah orang yang paham akan ajaran Islam, maka mereka adalah orang yang belum menjalankan ajaran Islam dengan baik.

“Kami meminta maaf apabila sampai ada orang non-muslim yang pernah mendapatkan gangguan dari oknum beragama Islam. Seandainya ada umat agama lain yang terganggu oleh oknum agama Islam, saya katakan bahwa mereka adalah orang yang tidak paham ajaran Islam, atau mereka tak menjalankan ajaran agama Islam dengan baik,” kata Habib Umar.

Sosok yang Bijaksana dan Penuh Perhatian

Selain berpemikiran luas, Habib Umar bin Hafidz merupakan sosok yang bijaksana. Habib Hamid Al-Qodri salah seorang murid Habib Umar yang berasal dari Indonesia mengatakan bahwa kebijaksanaan Habib Umar terlihat dari kebiasaannya yang tidak pernah menggeneralisir sebuah kesalahan dan menisbatkannya pada sebuah kelompok tertentu.

“Beliau (Habib Umar) tidak akan menyebut sebuah kesalahan sebagai kesalahan sebuah kelompok. Sebab bisa jadi kesalahan itu tidak dilakukan oleh semuanya,” kata Habib Hamid Al-Qodri kepada NU Online.

Dalam pandangan Habib Umar, katanya, akan selalu ada anggota kelompok yang berperilaku tidak sesuai dengan ajaran baik di dalam kelompoknya. Maka dari itu, penyamarataan atau melakukan generalisasi sama dengan menyebut bahwa semua orang di dalam kelompok melakukan hal buruk itu yang hanya dilakukan satu atau dua orang itu. Jika sikap itu diambil, maka akan menghalangi silaturrahmi antara kelompok.

Selain itu, Habib Umar merupakan sosok yang memiliki perhatian yang tinggi pada muridnya-muridnya. Habib Hamid Al-Qodri mengisahkan, pada sebuah malam di musim dingin di mana suhu di Pondok Darul Mustofa, Tarim, Hadramaut, Yaman mencapai 4 derajat celcius, beberapa murid asal Indonesia kedinginan. Mereka adalah murid yang baru beberapa saat tiba di Yaman dan baru pertama kali merasakan musim dingin.

Pada waktu itu, terdapat empat murid asal Indonesia yang tak kebagian selimut tebal. Akhirnya Habib Umar mendatanginya sambil membawa dua lembar selimut. Lalu Habib Umar bertanya, ‘apakah selimutnya masih kurang?’. Para muridnya menjawab, ‘Iya masih kurang, Habib’.

Selang beberapa waktu Habib Umar datang dengan selembar selimut di tangannya. Setelah menyerahkan, Habib Umar bertanya lagi, ‘apakah masih kurang?’. Lalu muridnya menjawab ‘Iya, kurang satu lagi Habib’. Tak lama, Habib Umar datang lagi membawa dan menyerahkan selembar selimut lainnya yang agak bau ‘pesing’. Walhasil murid yang menerima selimut terakhir ini sedikit menggerutu.

Keesokan harinya ia mengeluh pada temannya yang lebih senior tentang selimut yang diterimanya. Rekannya lalu berkata, “Sesungguhnya dua selimut yang diberikan pertama kali oleh Habib Umar adalah milik Habib Umar sendiri dan istrinya. Sedangkan dua yang terakhir adalah milik anak-anaknya yang masih kecil,” kata rekannya seperti ditirukan Habib Hamid Al-Qodri.

“Jadi Habib Umar sampai rela dia dan keluarganya serta anak-anaknya tidur kedingingan karena rasa perhatian yang tinggi pada muridnya yang datang dari jauh,” ujarnya.

Habib Umar bin Hafidz dan Perjalanan Hidupnya

Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan di Tarim pada Senin, 4 Muharram 1383 H atau 27 Mei 1963 M. Sejak belia, beliau telah mempelajari sejumlah ilmu agama seperti Al-Hadist, Fiqih, Tauhid dan Ushul Fiqih dari lingkungan keluarganya sendiri, terutama dari ayahnya, Muhammad bin Salim yang merupakan seorang M***i di Tarim.

Selain dari Ayahnya, pada masa itu ia juga belajar dari tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Habib Muhammad bin Alawi bin Shihab al-Din, Al-Habib Ahmad bin Ali Ibn al-Shaykh Abu Bakr, Al-Habib Abdullah bin Shaykh Al-Aidarus, Al-Habib Abdullah bin Hasan Bil-Faqih, Al-Habib Umar bin Alawi al-Kaf, al-Habib Ahmad bin Hasan al-Haddad, dan ulama lain di Tarim.

Habib Umar sendiri mulai mengajar dan berdakwah sejak dia berusia 15 tahun sambil melanjutkan belajar pada para ulama kala itu. Di saat situasi sosial-politik di Tarim sedang kacau atas penguasaan Rezim Komunis pada tahun 1981, Habib Umar pindah ke Kota Al-Bayda di sebelah utara Yaman. Di sana Habib Umar kembali mempelajari ilmu agama kepada al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar, Al-Habib Zain bin Ibrahim Bin Sumayt dan Al-Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil. Sambil belajar, ia juga mengajar dan membuat forum kajian baik di kota Al-Bayda, di Al-Hudaydah dan juga di Kota Ta`izz.

Pada tahun 1992, Habib Umar pindah dari Al-Bayda ke kota Al-Shihr, Ibu Kota Provinsi Hadramaut untuk mengajar di sana setelah Rezim Komunis yang menguasai kota itu takluk. Setelah beberapa tahun tinggal di sana, Habib Umar kembali ke kota asalnya, Tarim pada tahun 1994. Pada tahun itu juga, Habib Umar mulai merintis berdirinya pondok pesantren Darul Mustofa dan mulai menerima murid dari berbagai tempat. Walau demikian, pembukaan resmi Darul Mustofa baru diresmikan pada tahun 1997. Dan sejak saat itu, murid-murid berdatangan dari berbagai negara berdatangan untuk belajar di Darul Mustofa.

Kiprah dakwahnya tak hanya melalui mendirikan pesantren. Habib Umar juga menginisiasi sejumlah forum kajian keagamaan di kota Tarim. Salah satu forum yang rutin dia hadiri adalah pertemuan mingguan dengan warga Tarim yang digelar di pusat kota Tarim dan selalu dihadiri oleh ratusan penduduk kota setempat. Selain pertemuan formal, ia juga melakukan silaturrahmi ke berbagai tempat di Yaman untuk mengunjungu kampus-kampus dan sejumlah organisasi.

Saat ini, Habib Umar telah melakukan dakwahnya secara global. Sejumlah negara yang kerap dia hadiri adalah Syiria, Lebanon, Jordania, Mesir, Aljazair, Sudan, Mali, Kenya, Tanzania, Afrika Selatan, India, Pakistan, Sri lanka, Malaysia, Singapura, Australia dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Habib Umar, Indonesia dan NU

Di Indonesia sendiri, Habib Umar telah melakukan dakwah rutin sejak tahun 1994. Awal kedatangan Habib Umar ke Indonesia adalah pada tahun 1994 saat diutus oleh Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf yang berada di Jeddah untuk mengingatkan dan menggugah ghirah (semangat atau rasa kepedulian) para Alawiyyin Indonesia. Perintah itu disebabkan sebelumnya ada keluhan dari Habib Anis bin Alwi al-Habsyi seorang ulama dan tokoh asal Kota Solo, Jawa Tengah tentang keadaan para Alawiyyin di Indonesia yang mulai jauh dan lupa akan nilai-nilai ajaran para leluhurnya.

Intensitas kedatangan yang semakin sering ke Indonesia membuat Habib Umar menginisiasi lahirnya organisasi bernama Majelis Al-Muwasholah Bayna Ulama Al Muslimin atau Forum Silaturrahmi Antar Ulama. Sejak itu, Habib Umar menjadi semakin sering datang ke Indonesia untuk menyampaikan dakwah dan ajarannya.

Pekan lalu, Habib Umar mengunjungi Indonesia selama 10 hari. Selama itu Habib Umar bin Hafiz mengunjungi sejumlah tempat mulai di Jakarta, Bandung, Cirebon, hingga Kalimantan. Setiap bulannya, secara rutin, Habib Umar juga megajar di sejumlah pondok pesantren Nahdlatul Ulama melalui siaran teleconference.

Habib Umar sendiri menempati tempat yang khusus di hati Nahdlatu Ulama. Penghormatan pada keturunan Nabi Muhammad Saw telah ditanamkan jauh-jauh hari di dalam lingkungan pesantren. Di dalam struktur pengurus NU, selalu ada sosok habaib yang duduk di dalam kepengurusan NU baik di tingkat cabang hingga di tingkat pusat.

Kedekatan NU dengan para habaib diakui kalangan habib sendiri, misalnya oleh Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus Bandung yang tercatat pada pengantar buku ‘Panggilan Selamat’ yang menyatakan bahwa NU memiliki watak yang sangat menghormati dzuriyah (keturunan) Rasulullah atau para habib.
Habib Umar sendiri juga sangat menghormati para ulama di Indonesia. Dalam pengajian rutinnya, Habib Umar mengkaji kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Penghormatan Habib Umar pada ulama diakui oleh pengurus PBNU.

“Penghormatan beliau (Habib Umar) terhadap ulama Indonesia dibuktikan dengan komitmen beliau secara terus-menerus untuk mengkaji kitab karya Hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari setiap bulan,” ungkap Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Hery Haryanto Azumi, beberapa waktu lalu.

Hal itu adalah suatu bukti nyata bahwa Indonesia menempati posisi yang sangat spesial di hati Habib Umar bin Hafidz. Lebih dari itu, kata Hery, Habib Umar meyakini bahwa kebangkitan Islam di masa depan akan datang dari Indonesia. (Ahmad Rozali)

NU Online, Jumat 19 Oktober 2018

📷 Silaturrahim Habib Umar di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Senin 23-09-2019.

Want your school to be the top-listed School/college in Banjarmasin?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Banjarmasin