23/03/2017
Pembuatan Majalah Sekolah
1. Latar belakang pembuatan
Hal pertama dalam membuat buletin atau majalah sekolah adalah menentukan latar belakang atau alasan pembuatan. Untuk mendeskripsikan latar belakang pembuatan BMS kita harus menjawab pertanyaan, “Kenapa hendak membuat BMS. Apa Alasannya?”. Deskripsikan pertanyaan tersebut dengan maksud dan tujuan pembuatan bulettin atau majalah sekolah.
2. Sumberdaya manusia
Sumberdaya Manusia perlu diperhitungkan karena SDM lah yang nantinya akan mengurus BMS dan menetukan eksistensinya di jagat jurnalistik sekolah. Bisa dicari dengan audisi atau penunjukkan siapa saja yang berkompeten dalam bidang jurnalistik. Jika memang ada ekskul jurnalistik, maka kita bisa memberdayakannya. SDM yang dibutuhkan akan menempati posisi-posisi tertentu. Posisi-posisi tersebut dikenal dengan istilah stuktur perencananan stuktur staf redaksi. Adapun susunan struktur dalam suatu redaksi majalah adalah
a) Pemimpin umum atau pelindung, yakni yang melindungi majalah sekolah kita. Biasanya ditempati oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
b) Penasihat, yakni yang membimbing dalam pembuatan majalah sekolah kita. Biasanya untuk bagian penasihat di duduki oleh beberapa gurun yang ada di sekolah kita.
c) Pembina, yakni yang membimbing dan dan yang mengarahkan dalam pembuatan majalah sekolah. Biasanya posisi ini di duduki oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia atau guru yang memiliki kemampuan dalam bidang jurnalistik.
d) Pemimpin redaksi, yakni orang yang sangat berperan dalam pembuatan majalah sekolah, atau bisa disebut ketua dari stuktur staf redaksi. Adapun salah satu kriteria seorang pemimpin redaksi adalah
- Memiliki kemampuan tentang jurnalistik dan kepemimpinan
- Bertanggungjawab terhadap aktivitas keredaksian
- Melakukan pengawasan terhadap seluruh isi atau rubric
- Mengkoordinasi seluruh staf
- Konsolidasi dengan pembina
e) Sekretaris. Ditempati oleh seseorang (anggota atau kader sekolah) yang berkapasitas dalam bidang kesekretariatan. Seperti surat-menyurat, dan lain-lain.
f) Bendahara, yakni yang mengurusi bagian peruangan di majalah sekolah kita. Diposisikan untuk kader yang memiliki kemampuan mengelola keuangan.
g) Dewan redaksi. Masyarakat banyak mengartikan dewan redaksi sebagai dengan staf redaksi atau wartawan pencari berita. Karena tugasnya mengurus semua naskah atau artikel yang akan dipublikasikan. Seperti ilustrator/seting/layout, yakni yang mengurus desain majalah yang akan kita buat. Dari mulai cover sampai isinya. Seorang dewan redaksi memiliki keahlian khusus dan mempunyai kriteria khusus, misalnya;
- Memiliki kemampuan korespondensi atau tulis-menulis sehingga mampu menuangkan ide ke dalam tulisan dengan bahasa yang baik dan benar
- Bertanggungjawab menyediakan naskah yang akan dimuat
- Peka terhadap situasi dan kondisi up to date
- Reporter dan Designer termasuk ke dalam dewan redaksi
h) Distributor, yakni yang mengurusi pendistribusian atau penjualan majalah yang telah kita buat. Tugasnya adalah mendistribusikan BMS yang sudah dicetak.
i) Additional crew atau kru tambahan bisa diposisikan di BMS (jika hal ini dipandang penting). Yang termasuk AC misalnya;
- Bagian iklan, yakni yang mengurusi bagian perikalanan.
- Bagian marketing, yakni orang yang mengurusi proses penjualan majalah.
- Bagian promosi, yakni bagian yang mempromosikan majalah sekolah yang telah kita buat.
3. Membuat nama majalah atau slogan, yaitu merencanakan nama majalah yang akan kita buat. Diusahakan untuk pembuatan nama itu semenarik mungkin. Nama dan slogan ini lebih baik berkaitan dengan latar belakang yang dibuat. Misalnya:
- Latar belakang : Ingin memajukan dan mengembangkan diri para anggota
dan kader organisasi sekolah.
- Nama : Let’s Go
- Slogan : Provokator kemajuan dan pengembangan diri.
Ketiga langkah tersebut, merupakan langkah awal dalam pembuatan majalah sekolah. Dan ketiga langkah tersebut dikatergorikan sebagai “tahap persiapan”. Didalam tahap persiapan ini yakni pembuatan proposal. Dalam pembuatan proposal baiknya dibahas oleh semua staf redaksi majalah yang telah kita buat dengan didampingi oleh Pembina. Mulai dari nama majalah, visi-misi, rencana pembuatan majalah, sampai dana yang akan kita keluarkan untuk pembuatan majalah kita.
Setelah membuat nama majalah dan slogannya, maka langkah selanjutnya adalah pembuatan isi majalah.
4. Rubrikasi.
Setelah membuat nama dan slogan, mulailah memikirkan rubrik apa yang akan dimuat dalam majalah. Rubrik-rubrik yang disajikan akan menentukan apakah BMS marketable atau tidak. Pada ujungnya kualitas rubrik yang baik akan membuat pembaca betah, karena banyak ide dan gagasan pengembangan diri yang dimuat. Untuk pembuatan rublik ini dibahas oleh semua stuktur staf redaksi dan Pembina dan disetujui oleh bagian penasihat dan pelindung. adapun contoh rubrikasi:
- Dalam bulettin BARU (Bacaan Religius Untukmu) yang didirikan oleh Forum Komunikasi Remaja Muslim (FKRM) Tasikmalaya disajikan rubrik-rubrik sebagai berikut:
a) Muqaddimah (semacam salam pembuka dari redaksi).
b) Maidah Ula (“Maidah” artinya hidangan, “Ula” artinya utama. Maksudnya semacam kajian utama sebagai penjabaran dari tema yang ditentukan).
c) Pena BARU (rubrik khusus yang diperuntukkan bagi kru BARU mengenai ide atau pengalaman dalam pemajuan dan pengembangan diri).
d) Atadaru? (diambil dari bahasa Arab yang berarti “Tahukah Kamu?”, rubrik untuk menampilkan informasi-informasi penting seputar peradaban).
e) Istinshah (diambil dari bahasa Arab yang berarti “Meminta Nasehat”, identik dengan rubruk konsultasi).
5. Membuat logo majalah
buatlah logo untuk majalah semenarik mungkin karena jika suatu saat majalah sekolah tersebut ber-partner dalam suatu event maka logo majalah tersebut akan dimuat di spanduk atau background event tersebut tapi jika memang sudah ada kesepakatan untuk itu.
6. Modal produksi
Inilah salah satu penyokong terbit atau tidaknya suatu majalah sekolah. Oleh karena itu perlu dipikirkan darimana pendapatan atau modal untuk produksi bulettin atau majalah sekolah. Ada empat opsi yang dapat perjuangkan, yaitu (1) Subsidi dari sekolah, (2) Iuran Anggota, (3) Donatur, dan atau (4) Iklan.
7. Distribusi, yakni orang yang mengursi penjualan majalah sekolah yang telah diterbitkan Jadi sebelum majalah sekolah diterbitkan, tentukan hal berikut ini:
- Apakah BMS yang dibuat akan dijual dengan harga tertentu?
- Ataukah diberikan secara cuma-cuma alias gratis?
- Jika dijual, perhatikan dan kembangkan management pemasaran.
- Jika digratiskan, jagalah sumber-sumber pendapatan keuangan agar selalu konsisten.
8. Suplemen, yakni urutan kerja kru:
a) Planning (menyusun rencana penerbitan: rapat redaksi)
b) Hunting (pengumpulan bahan-bahan tulisan
c) Writing (penulisan naskah)
d) Editing (proses penyuntingan, koreksi dan adaptasi naskah)
e) Designing (lay out, artistik)
f) Printing (penyetakan buletin/majalah)
Tahap terakhir inilah yang dikatakan tahap penulisan dan pengeditan. Yakni mengumpulkan naskah yang akan kita buat dalam majalah sekolah kita. Penulisan naskah bisa dari wawancara siswa, tulisan kiriman siswa, guru, maupun karyawan sekolah. Untuk memfokuskan isi, sebaiknya diadakan rapat redaksi terlebih dahulu. Dan tentukan tema apa yang akan dibuat dalam edisi majalah sekolah sekarang. Setelah semua naskah masuk ke meja redaksi, seleksi semua naskah yang telah masuk. Apakah naskah tersebut layak dimuat atau tidak.
Selanjutnya masuklah pada tahap setting. Yakni mensetting majalah yang akan kita buat. Untuk persettingan ini dilakukan di tempat percetakan. Setelah semua naskah telah di setting/di layout hasil layout lalu di print ulang sebelum di cetak. Tujuanya untuk mencari letak mana yang masih kurang, untuk meminimalisir kesalahan sebelum di cetak.
Dan yang paling akhir adalah tahap percetakan. Dalam tahap ini kita bisa memilih dua pilihan mejalah yang akan kita buat. Yakni untuk pembuatan majalah kita menggunakan kalkir atau film. Pilihan ini tergantung dari kemampuan pengelola majalah sekolah, terutama dalam pendanaan. Karena untuk pembuatan majalah dengan menggunakan kalkir dan film itu berbeda harganya. Dan selanjutnya majalah sekolah kita di cetak oleh bagian percetakan.