17/08/2026
STIGMA "LONDO IRENG" PADA PERS SEBAGAI FUNGSI WATCHDOG JURNALISM DALAM KACAMATA MARK TWAIN*
Oleh : Ulul Albab LM Putra*
Bayangkan sejenak Penulis sekaligus Jurnalis masyhur Amerika, Mark Twain, hidup kembali dan sedang duduk santai di beranda sambil mengisap cerutunya, lalu kita menyodorkan sebuah gawai kepadanya. Di layar gawai itu, terpampang sebuah berita utama yang sedang hangat diperbincangkan: seorang kepala negara alias presiden baru saja melontarkan kritik pedas kepada insan pers. Sang presiden, dengan nada kesal karena merasa program-program kebanggaannya dikuliti oleh media, menyebut para jurnalis yang kritis tersebut sebagai “Londo Ireng”.
Bagi kita di Indonesia, istilah Londo Ireng (Belanda Hitam) memiliki beban sejarah yang sangat berat. Julukan ini merujuk pada tentara pribumi atau antek-antek lokal yang berkhianat dengan membela penjajah Belanda demi keuntungan pribadi, dan tega menindas bangsa sendiri. Dengan menyematkan label ini pada pers, sang penguasa pada dasarnya sedang menuduh bahwa jurnalis yang gemar mengkritik adalah pengkhianat bangsa, anti-pembangunan, dan tidak memiliki jiwa patriotisme.
Mendengar hal itu, apa kira-kira reaksi Mark Twain? Kemungkinan besar, satiris ulung itu akan tertawa sinis, menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengeluarkan kalimat tajam yang menohok akal sehat. Melalui kacamata Twain, seorang jurnalis kawakan yang juga vokal menentang kebobrokan penguasa pada masanya, fenomena ini justru membuka kotak pandora mengenai betapa rentannya kekuasaan saat berhadapan dengan tugas kritis pers.
Ironi "Londo Ireng" dan Tafsir Ulang Patriotisme
Mark Twain pernah melontarkan sebuah pemikiran yang sangat relevan untuk membedah masalah ini. Ia pernah menulis prinsip dasar kewarganegaraan: "Patriotism is supporting your country all the time, and your government when it deserves it" (Patriotisme adalah mendukung negaramu setiap saat, dan mendukung pemerintahmu “hanya” ketika mereka pantas mendapatkannya).
Kutipan ini adalah pisau bedah yang paling pas untuk mengulas stigma Londo Ireng. Ketika penguasa menyamakan kritik pers dengan pengkhianatan terhadap negara, penguasa tersebut sedang melakukan sebuah kebohongan logis. Ia sengaja mengaburkan batas antara "negara" dan "pemerintah". Padahal, pemerintah hanyalah segelintir orang yang disewa (kalau tidak mau disebut dipilih) oleh rakyat, melalui pemilu, untuk mengurus negara dalam waktu yang terbatas.
Jika seorang jurnalis melakukan liputan investigasi dan membongkar bahwa sebuah proyek strategis nasional ternyata menggusur tanah adat, merusak lingkungan, atau sarat dengan korupsi, apakah jurnalis itu sedang berkhianat pada negara? Tentu saja tidak. Jurnalis itu justru sedang menyelamatkan negara dari ketamakan pemerintahnya sendiri.
Dalam kacamata Twain, sungguh sebuah ironi yang luar biasa lucu ketika pers dituduh sebagai Londo Ireng. Londo Ireng di masa lalu adalah mereka yang disuap oleh penguasa (kolonial) untuk membungkam suara rakyat. Jika di masa kini ada media atau wartawan yang hanya mau menulis pujian-pujian manis untuk pemerintah, menerima amplop untuk menutupi skandal pejabat, dan mengabaikan jeritan rakyat yang tertindas, bukankah justru mereka yang lebih pantas disebut Londo Ireng? Pers yang kritis justru sedang berdiri di barisan paling depan bersama rakyat, bukan menjadi jongos kekuasaan.
Mencari Fakta di Tengah Narasi "Asal Bapak Senang"
Salah satu tantangan terbesar pers di era modern adalah menghadapi mesin humas (hubungan masyarakat) pemerintah yang sangat masif. Di masa lalu, penguasa mungkin cukup memblokir mesin cetak untuk menghentikan berita miring. Hari ini, mereka menggunakan strategi yang lebih elegan namun mematikan: membanjiri ruang publik dengan informasi sepihak yang bisa jadi hanya ilusi.
Di sinilah tugas kritis pers kembali diuji. Mark Twain terkenal dengan kutipannya: "Dapatkan fakta-faktanya terlebih dahulu, baru setelah itu Anda bisa memelintirnya sesuka hati." Meski ini adalah sebuah satire terhadap jurnalisme kuning (sensasional) di zamannya, pesan intinya sangat jelas: jurnalisme harus bermula dari fakta di lapangan, bukan dari teks pidato kenegaraan.
Ketika presiden berpidato bahwa ekonomi sedang meroket dan kemiskinan telah diberantas, tugas pers bukanlah menjadi stenografer yang hanya mengetik ulang ucapan itu lalu menjadikannya tajuk rencana. Tugas kritis pers adalah keluar dari ruangan ber-AC, pergi ke pasar tradisional, melihat apakah daya beli masyarakat benar-benar naik, atau justru banyak ibu rumah tangga yang menjerit karena harga beras melambung.
Pers sering kali dibenci dan dicap Londo Ireng semata-mata karena mereka merusak pesta ilusi yang sedang dibangun oleh para elite politik. Penguasa sering kali mengidap sindrom "Asal Bapak Senang", di mana mereka hanya ingin mendengar laporan yang baik-baik saja dari bawahannya. Ketika pers menyodorkan realitas yang berbau amis dan tidak nyaman, reaksi pertama kekuasaan biasanya adalah menyangkal, lalu menyerang sang pembawa pesan. Dalam konteks ini, tugas pers bukan untuk membuat presiden tersenyum, melainkan memastikan bahwa publik tidak dibius oleh dongeng pembangunan yang fiktif.
Menjadikan Stigma Sebagai Bukti Watchdog Journalism
Pada akhirnya, pers sama sekali tidak perlu merasa keder, apalagi mundur teratur ketika dituduh sebagai Londo Ireng oleh seorang presiden. Dalam ekosistem demokrasi yang waras, gesekan antara pers yang independen dan penguasa bukanlah sebuah bentuk makar, melainkan dinamika yang sangat wajar dan justru menyehatkan. Sebaliknya, jika pers dan penguasa terlalu sering berangkulan mesra, tertawa bersama di depan kamera, dan tidak pernah bergesekan sama sekali, justru di titik itulah masyarakat harus mulai curiga. Jangan-jangan, sang anjing penjaga (watchdog) sudah jinak karena terlalu asyik mengunyah tulang dari penguasa.
Tugas kritis jurnalis hari ini adalah memastikan fungsi watchdog journalism tetap menggonggong nyaring. Pers harus menciptakan ruang publik yang sehat, di mana warga negara tidak hanya pasrah dicekoki oleh propaganda yang serba manis. Publik berhak mendapatkan informasi alternatif, analisis tajam mengenai dampak kebijakan, dan tentu saja, laporan investigasi yang gigih mengendus setiap potensi penyalahgunaan kekuasaan.
Kembali meminjam kacamata Mark Twain, jurnalisme sejatinya bukanlah profesi yang dirancang untuk mencari banyak kawan minum teh di istana negara. Jurnalisme adalah profesi untuk merawat kebenaran, betapa pun pahitnya kebenaran itu dan betapa pun ia merusak mood para pejabat. Oleh karena itu, jika di masa kini atau di masa depan, seorang jurnalis atau sebuah media kembali dicap sebagai Londo Ireng pengkhianat bangsa hanya karena berani menelanjangi fakta kelam dari sebuah kebijakan pemerintah, maka terimalah julukan itu dengan dada membusung dan senyum yang paling lebar.
Mengapa harus tersenyum? Tentu bukan karena pers bangga menjadi pengkhianat. Namun, dalam kamus kekuasaan yang sedang terganggu kenyamanannya oleh kebenaran, stigma murka semacam itu justru menjelma menjadi lencana kehormatan. Tuduhan tersebut merupakan bukti paling sahih bahwa pers sedang bekerja menunaikan fungsi watchdog-nya dengan sangat baik, "menggigit" di titik yang benar, dan sukses menjalankan tugas kritisnya secara paripurna. Melihat sang anjing penjaga yang tetap setia pada kebenaran meski dihardik penguasa, Mark Twain dari alam sana pasti akan bangga dan bertepuk tangan kepada jurnalis di Indonesia.
*Diterbitkan di Jawa Pos Radar Madura Rubrik Taneyan pada Minggu, 16 Agustus 2026
*Pengurus PC ISNU Bangkalan, Wartawan Magang JPRM 2014