Pesantren Persis Bangil

Call Directions Website Contact the school

Pesantren Persis Bangil PESANTREN PERSIS BANGIL

Santri mendapatkan bimbingan penulisan makalah dari para guru yang diatur secara berkelompok. Dalam rentang sekira 2-3 b...
26/09/2026

Santri mendapatkan bimbingan penulisan makalah dari para guru yang diatur secara berkelompok. Dalam rentang sekira 2-3 bulan, makalah hukum dijadwalkan tuntas. Dan nantinya pada akhir Desember 2026 akan dipresentasikan di depan para penguji Ujian Majelis Tahn Pelajaran 2026-2027. Semangat ya!.

25/09/2026

Salah satu kegiatan dalam Edukasi dan Kreasi Santri Pesantren PERSIS (EKSIS) adalah Lomba Debat. Mengasah nalar yang tepat, menjaga adab berdiskusi, dan menata diksi yang bernas.

TAKZIYAHKeluarga Besar Pesantren Persis Bangilإنا لله وإنا إليه راجعونوإنا إلى ربنا لمنقلبونعظم الله أجرنا وأحسن الله عز...
24/09/2026

TAKZIYAH
Keluarga Besar Pesantren Persis Bangil
إنا لله وإنا إليه راجعون
وإنا إلى ربنا لمنقلبون
عظم الله أجرنا وأحسن الله عزانا

Telah berp**ang ke rahmatullah, Bapak Harjono (Karyawan Pesantren PERSIS Bangil) Rabu, 02 Rabi’ al Akhir 1448 H/ 23 September 2026 M.
Alamat Rumah Duka:
Jl. Bader Kel. Kalirejo Kec. Bangil Kab. Pasuruan 67153
Segenap keluarga besar Pesantren Persis Bangil, menghaturkan takziyah turut berduka cita. Semoga Allah Tabaaraka wa Ta'ala menerima segenap amal ibadahnya dan mengampuni khilaf, kesalahan dan dosa-dosanya. Mohon segenap kaum muslimin mendoakannya.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسّع مُدخَله، واغسله بالماء والثّلج والبرد ونقِّه من الخطايا كما نقّيت الثّوب الأبيض من الدّنس، وأبدله داراً خيراً من داره، وأهلا خيراً من أهله، وزوجا خيراً من زوجه، وأدخله الجنّة، وأعذه من عذاب القب، ومن عذاب النّار، اللهمّ عامله بما أنت أهله، ولا تعامله بما هو أهله. اللهمّ اجزه عن الإحسان إحساناً، وعن الإساءة عفواً وغفراناً. اللهمّ إن كان محسناً فزد من حسناته، وإن كان مسيئاً فتجاوز عن سيّئاته. اللهم ادخله الجنة بلا حساب و لا سابقة عذاب، اللهم اجعل قبره روضة من رياض الجنة ولا تجعله حفرة من حفر النيران، اللهم تجاوز عن سيئاته وزد فى حسناته، اللهم أدخله الفردوس الأعلى من الجنة. اللهم آمين يارب العالمين....

Bangil, 06 September 2024
PESANTREN PERSIS BANGIL
Mudir,
HEFZI, Lc.

Beliau wafat Rabu, 23 September 2026 sekira pukul 13.00 WIB di RSUD Bangil, Pasuruan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afi...
23/09/2026

Beliau wafat Rabu, 23 September 2026 sekira pukul 13.00 WIB di RSUD Bangil, Pasuruan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu.

Pak Harjono
Bekerja dalam Diam, Memberi Arti

Tidak semua pengabdian di pesantren terlihat dari ruang kelas, mimbar, atau meja kantor. Ada pekerjaan yang dilakukan setiap hari, sering kali tanpa sorotan, tetapi keberadaannya sangat menentukan kenyamanan seluruh warga pesantren.

Salah satunya adalah Pak Harjono, yang bertugas menjaga kebersihan lingkungan Pesantren PERSIS Bangil.

Keseharian beliau mungkin sederhana. Namun dari pekerjaan itulah lingkungan pesantren tetap terawat, bersih, dan nyaman digunakan oleh santri, guru, serta seluruh warga pesantren.

Peran tenaga kebersihan tidak semestinya dipandang sebagai pekerjaan pelengkap. Kebersihan merupakan bagian dari budaya pendidikan. Lingkungan yang bersih membantu menciptakan suasana belajar yang sehat, tertib, dan nyaman.

Meski kondisi kesehatan beliau kadang terganggu, Pak Harjono tetap berupaya menjalankan tugas sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dengan ketekunan dan kesungguhan, beliau terus mengambil bagian dalam menjaga kebersihan lingkungan pesantren.

Ia mungkin tidak selalu berada di tengah kegiatan belajar mengajar, tetapi hasil pekerjaannya dirasakan oleh semua orang yang datang dan beraktivitas di pesantren.

Ketika beliau benar-benar tidak bisa hadir karena sakit, barulah terasa betapa pentingnya peran dan jasa beliau.

Begitulah kira-kira posisi Pak Harjono.

Ketika halaman bersih, ruang-ruang nyaman, dan lingkungan pesantren terawat, mungkin tidak banyak yang bertanya siapa yang mengerjakannya.

Namun di balik semua itu ada tangan yang bekerja, ada ketekunan yang dijaga, dan ada amanah yang berusaha ditunaikan meski dalam keterbatasan.

Karena itu, pengabdian tidak selalu diukur dari seberapa besar pekerjaan terlihat, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.

Dan Pak Harjono adalah bagian dari mereka yang bekerja dalam diam, tetapi memberi arti penting bagi kehidupan Pesantren PERSIS Bangil.

Kentaro dan Rijal: Bersahabat, Berlatih, dan Menumbuhkan GagasanDi Pesantren PERSIS Bangil, persahabatan tidak selalu tu...
23/09/2026

Kentaro dan Rijal: Bersahabat, Berlatih, dan Menumbuhkan Gagasan

Di Pesantren PERSIS Bangil, persahabatan tidak selalu tumbuh dari kesamaan daerah asal. Kadang, ia lahir dari kesamaan minat, kesungguhan dalam belajar, dan kebersamaan dalam menjalani kehidupan sebagai santri. Begitulah kisah Kentaro Abi Praya, santri asal Bekasi, Jawa Barat, dan Syubbanul Yaum Rijalul Ghad, santri asal Pulau Masalembu, Sumenep.

Keduanya dipertemukan dalam kehidupan pesantren dan menemukan satu kesamaan yang membuat mereka semakin dekat: panahan.

Bagi Kentaro dan Rijal, panahan bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Mereka memang belum pernah menjuarai turnamen panahan. Namun, ukuran kecintaan terhadap sebuah kegiatan tidak selalu harus berupa piala dan medali. Ada ketekunan, perhatian, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus mengembangkan kegiatan yang mereka sukai.

Di tengah kesibukan belajar dan aktivitas kepesantrenan, keduanya termasuk santri yang cukup aktif memperhatikan perkembangan kegiatan panahan di Pesantren PERSIS Bangil. Mereka tidak hanya datang untuk berlatih, tetapi mulai memikirkan bagaimana kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lebih baik, terarah, dan berkelanjutan.

Dari sinilah muncul sebuah gagasan sederhana namun bernilai: membentuk sebuah klub panahan santri.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak hanya ingin menjadi peserta kegiatan, tetapi juga mulai belajar menjadi bagian dari orang-orang yang menggerakkan dan mengelola kegiatan. Sebuah klub dapat menjadi ruang untuk latihan yang lebih teratur, berbagi pengalaman, menyusun program, menjaga peralatan, membangun kebersamaan, hingga mempersiapkan santri yang kelak ingin mengikuti kompetisi.

Boleh jadi hari ini Kentaro dan Rijal belum berdiri di podium sebagai juara. Namun, perjalanan seorang pemanah tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak medali yang berhasil dikumpulkan. Ada proses panjang untuk belajar mengendalikan diri, menjaga fokus, mengulang latihan, menerima kegagalan, dan berusaha memperbaiki kemampuan.

Panahan mengajarkan bahwa sasaran tidak akan mendekat kepada kita. Kitalah yang harus belajar membidik, menenangkan diri, menarik busur dengan benar, lalu melepaskan anak panah dengan penuh perhitungan.

Nilai-nilai itu sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan seorang santri.

Kentaro dan Rijal mungkin belum tahu sejauh mana gagasan klub panahan yang mereka pikirkan akan berkembang. Namun, sebuah perubahan memang sering kali dimulai dari gagasan kecil yang disampaikan oleh orang-orang yang memiliki perhatian.

Dari dua orang sahabat, lahir sebuah gagasan.
Dari sebuah gagasan, mungkin tumbuh sebuah komunitas.
Dari sebuah komunitas, bisa lahir tradisi latihan.
Dan dari tradisi latihan yang istiqamah, bukan tidak mungkin kelak lahir para pemanah yang membawa nama baik Pesantren PERSIS Bangil.

Karena itu, kisah Kentaro dan Rijal bukan semata-mata tentang panahan. Ini adalah cerita tentang persahabatan, keberanian memiliki gagasan, dan kemauan untuk ikut membangun lingkungan tempat mereka belajar.

Hari ini mereka mungkin sedang belajar membidik sasaran.

Semoga kelak mereka juga menjadi dua santri yang mampu membidik masa depan dengan visi yang jauh, langkah yang terarah, dan semangat untuk memberi manfaat bagi umat.

Dari Bangka Belitung ke Bangil:Belajar Memimpin, Menghidupkan OrganisasiAda santri yang datang ke pesantren untuk menunt...
22/09/2026

Dari Bangka Belitung ke Bangil:
Belajar Memimpin, Menghidupkan Organisasi

Ada santri yang datang ke pesantren untuk menuntut ilmu. Ada p**a yang kemudian belajar bagaimana ilmu itu dijalankan dalam kehidupan bersama. Abang Muhammad Ridho datang dari Bangka Belitung ke Bangil, dan di antara perjalanan panjangnya sebagai santri, ia menemukan satu ruang belajar yang tidak kalah penting dari ruang kelas: organisasi.

Bangka Belitung adalah wilayah kep**auan. Provinsi ini terdiri atas dua p**au utama, Bangka dan Belitung, serta p**au-p**au kecil di sekitarnya. Letaknya di antara Selat Bangka, Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut Jawa, dengan wilayah laut yang jauh lebih luas dibandingkan daratannya.

Karakter geografis itu membuat perjalanan dari Bangka menuju Jawa bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain. Ada laut yang harus diseberangi dan ada rangkaian perjalanan yang harus ditempuh sebelum akhirnya sampai di Bangil, Jawa Timur.

Jika menggunakan jalur udara, perjalanan dapat dimulai dari Pangkalpinang dan dilanjutkan menuju Pulau Jawa, kemudian diteruskan melalui perjalanan darat menuju Bangil. Jika melalui jalur laut, perjalanan menjadi lebih panjang karena membutuhkan perpindahan antarp**au sebelum dilanjutkan melalui jalur darat. Bagi seorang santri, perjalanan semacam itu tentu bukan hanya soal jarak. Ada biaya, waktu, tenaga, dan kesiapan keluarga yang menyertainya.

Namun, setelah sampai di Bangil, perjalanan Ridho memasuki babak yang berbeda.

Ia bukan lagi sekadar seseorang yang datang dari sebuah p**au di barat Indonesia untuk belajar. Ia kemudian dipercaya memikul tanggung jawab dalam Persatuan Pelajar Pesantren PERSIS (P3P), organisasi santri intra Pesantren PERSIS Bangil yang memiliki posisi strategis dalam kehidupan santri.

Ketika Organisasi Menjadi Ruang Belajar
Menjadi pemimpin organisasi santri bukanlah sekadar memiliki jabatan. Ada agenda yang harus dipikirkan, program yang harus dijalankan, anggota yang harus dirangkul, persoalan yang harus diselesaikan, dan keteladanan yang harus dijaga.

Di sinilah responsibilitas menjadi penting.

Abang Muhammad Ridho dikenal memiliki tanggung jawab yang baik dalam menjalankan kepemimpinannya di P3P. Tanggung jawab itu bukan hanya tentang memastikan sebuah kegiatan terlaksana, tetapi bagaimana organisasi dapat benar-benar menjadi bagian dari proses pendidikan pesantren.

Sebab P3P berada di ruang yang sangat strategis.

Ia bersentuhan langsung dengan kehidupan santri. Apa yang dilakukan organisasi akan berpengaruh terhadap bagaimana santri belajar mengatur waktu, bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan menjalankan tanggung jawab.

Dengan kata lain, P3P bukan sekadar organisasi kegiatan. Ia adalah laboratorium kepemimpinan santri.

Di sana seorang santri belajar bahwa menjadi pemimpin bukan berarti selalu berada di depan. Kadang ia harus mendengarkan. Kadang harus mengalah. Kadang harus mengambil keputusan. Dan pada kesempatan lain, ia harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk tumbuh.

Sembilan Misi, Satu Gerak Bersama
Pada 26 Juni 2026, bersama Ketua Yayasan Pesantren PERSIS Bangil, Ustadz Imam Mudzakir, telah ditetapkan sembilan misi yang menjadi bagian dari arah pengembangan pesantren.

Misi itu mencakup penanaman akidah yang shahih dan akhlak karimah, pemahaman terhadap nash-nash syar’i, penguasaan ilmu alat seperti bahasa Arab, musthalah hadis, dan usul fikih, serta pembekalan fikih ibadah dan muamalah.

Pesantren juga menekankan pentingnya membangun sikap kritis dan korektif terhadap paham yang tidak berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, menumbuhkan kreativitas yang selaras dengan nilai-nilai Islam, membekali santri dengan ilmu penunjang kehidupan, serta membiasakan mereka mengamalkan dan mengembangkan ilmu untuk kemaslahatan umat.

Kesembilan misi tersebut tentu tidak mungkin dibebankan kepada satu pihak.

Guru mengajar. Pengasuh membina. Pimpinan mengarahkan. Yayasan memberikan dukungan. Wali santri ikut menguatkan. Masyarakat menjadi bagian dari lingkungan pengabdian. Dan santri melalui organisasinya belajar menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah P3P memiliki ruang yang luas.

Mengubah Misi Menjadi Kebiasaan
Tantangan kepemimpinan Ridho bukan semata-mata membuat banyak program. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menjadikan program tersebut bermakna bagi pembentukan santri.

Akidah yang shahih, misalnya, tidak berhenti pada materi kajian. Ia perlu tercermin dalam cara santri bersikap.

Akhlak karimah tidak cukup menjadi slogan. Ia perlu terlihat dalam cara berbicara kepada teman, menghormati guru, menjaga fasilitas, menyelesaikan perbedaan, dan menjalankan amanah.

Sikap kritis tidak berarti gemar menyalahkan. Ia dapat diarahkan menjadi kebiasaan memeriksa informasi, memahami dalil, berdiskusi dengan tertib, dan mampu membedakan antara kritik yang membangun dengan sekadar menyampaikan pendapat.

Demikian p**a kreativitas. Santri perlu memiliki ruang untuk menghasilkan karya, mengelola kegiatan, menggunakan teknologi, berkomunikasi melalui media, dan menghadirkan gagasan baru tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai Islam.

Di titik inilah organisasi menjadi penting: nilai yang diajarkan di kelas menemukan ruang praktiknya dalam kehidupan organisasi.

Keunikan P3P: Organisasi yang Hidup Bersama Santri
Ada sesuatu yang khas dari organisasi santri. Para pengurusnya bukan orang yang datang dari luar untuk mengelola santri. Mereka adalah santri sendiri.

Karena itu, mereka memahami kehidupan yang sedang mereka kelola.

Mereka tahu bagaimana rasanya bangun untuk mengikuti agenda pesantren, menghadapi jadwal yang padat, belajar, mengikuti kegiatan asrama, menjalankan tugas organisasi, sekaligus menjaga hubungan dengan teman-teman.

Pengalaman tersebut dapat menjadi kekuatan P3P.

Kepemimpinan Ridho dapat diarahkan untuk membangun organisasi yang dekat dengan kebutuhan nyata santri. Bukan sekadar banyak kegiatan, tetapi kegiatan yang menjawab kebutuhan.

Misalnya, organisasi dapat menjadi ruang pengembangan kepemimpinan muda, pelatihan komunikasi, manajemen waktu, literasi digital, kewirausahaan, kreativitas, kepedulian lingkungan, hingga kegiatan sosial yang menghubungkan santri dengan masyarakat.

P3P juga dapat mengembangkan budaya “santri menggerakkan santri”. Pengurus bukan hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi menjadi fasilitator yang menemukan potensi teman-temannya.

Santri yang pandai berbicara dapat diberi ruang berlatih menjadi moderator atau pembicara. Yang memiliki kemampuan menulis dapat diarahkan menjadi penulis. Yang menyukai desain dapat diberi ruang mengembangkan visual. Yang memiliki kemampuan memimpin dapat dilatih mengelola tim. Yang memiliki kepedulian sosial dapat dilibatkan dalam kegiatan pelayanan masyarakat.

Dengan begitu, organisasi tidak hanya menghasilkan kegiatan, tetapi juga menemukan dan menumbuhkan potensi manusia.

Dari Bangka, Membawa Semangat Nusantara
Perjalanan Ridho dari Bangka Belitung ke Bangil pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kisah seorang santri yang menempuh jarak geografis.

Ia menjadi bagian dari gambaran besar kehidupan Pesantren PERSIS Bangil: santri datang dari berbagai daerah, membawa latar belakang, pengalaman, karakter, dan potensi yang berbeda. Di Bangil, mereka dipertemukan dalam satu lingkungan pendidikan dan diarahkan menuju cita-cita yang sama.

“Terwujudnya kader ahli fiqih yang istiqamah dan bermanfaat bagi umat.”

Visi itu membutuhkan proses panjang.

Dan proses tersebut tidak hanya berlangsung di kelas. Ia berlangsung ketika santri belajar memimpin rapat, menyusun kegiatan, menyelesaikan konflik, meminta maaf, menerima kritik, bekerja dalam tim, melayani teman, menjaga amanah, dan berusaha menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai.

Semua itu adalah pendidikan.

Bagi Abang Muhammad Ridho, memimpin P3P berarti mendapatkan kesempatan untuk belajar dari proses tersebut sekaligus mengajak teman-temannya belajar bersama.

Ia datang dari Bangka Belitung. Kini ia berada di Bangil, membawa pengalaman dari tempat asalnya dan berhadapan dengan keragaman santri dari berbagai penjuru Nusantara.

Mungkin di situlah salah satu keindahan organisasi santri: jarak antarp**au dipertemukan oleh cita-cita, perbedaan latar belakang dipertemukan oleh pendidikan, dan kepemimpinan dipertemukan dengan pengabdian.

Dari Bangka ke Bangil, perjalanan Ridho belum selesai.

Sebab menjadi pemimpin organisasi bukan tentang seberapa lama seseorang memegang jabatan, melainkan tentang seberapa banyak kebaikan yang dapat tumbuh ketika ia dipercaya memimpin.

Dan insyaallah, ketika P3P mampu menjadi ruang bagi santri untuk belajar memimpin, berorganisasi, berkarya, dan mengabdi, organisasi itu akan menjadi salah satu jalan penting untuk mewujudkan kader yang bukan hanya berilmu, tetapi juga istiqamah dan bermanfaat bagi umat.

Dari Ujung Timur ke Bangil: Ketika Jarak Menjadi Jalan Menuju IlmuAda perjalanan yang diukur dengan kilometer. Ada p**a ...
21/09/2026

Dari Ujung Timur ke Bangil: Ketika Jarak Menjadi Jalan Menuju Ilmu

Ada perjalanan yang diukur dengan kilometer. Ada p**a perjalanan yang diukur dengan keberanian. Bagi Nabila Fairuzka, perjalanan dari Merauke menuju Bangil adalah keduanya.

Dari ujung timur Indonesia, ia datang membawa lebih dari sekadar koper dan perlengkapan belajar. Ada cita-cita untuk menuntut ilmu, harapan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, dan keberanian untuk meninggalkan rumah demi masa depan yang ingin ia bangun.

Merauke dan Bangil terbentang dalam jarak yang tidak pendek. Jika ditempuh melalui laut, perjalanan itu berarti berhari-hari melewati luasnya perairan Indonesia. Jika menggunakan pesawat, waktu tempuh memang jauh lebih singkat, tetapi tetap membutuhkan biaya dan persiapan yang tidak sedikit. Di balik perjalanan tersebut ada tenaga, waktu, biaya, dan terutama pengorbanan keluarga yang mengantarkan seorang anak menuju tempat ia akan ditempa.

Namun, setelah sampai di Bangil, perjalanan Nabila ternyata belum selesai.

Justru di sinilah perjalanan lain dimulai: perjalanan untuk belajar memimpin, bekerja bersama, menemukan potensi diri, dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Sebagai santri yang aktif dalam P4P, Nabila mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan organisasinya. P4P merupakan organisasi induk santri putri di lingkungan pesantren yang menjadi salah satu wadah pembelajaran kepemimpinan, tanggung jawab, kerja sama, dan pengabdian dalam kehidupan santri.

Di antara berbagai pengalaman tersebut, Nabila menemukan satu bidang yang dekat dengan minat dan keterampilannya: dunia kreatif dan media.

Bersama Tim Studio Astrie, ia ikut menggerakkan Creative Media Clinic (CMC), sebuah kegiatan yang memberikan ruang kepada santri untuk belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang konten kreator.

Studio Astrie sendiri merupakan komunitas atau tim kreatif yang bekerja secara lintas seksi untuk memproduksi konten. Secara kelembagaan, Studio Astrie berada di bawah Seksi Perpustakaan dan Publikasi, namun aktivitasnya melibatkan santri dengan beragam minat, kemampuan, dan pengalaman.

Di ruang inilah CMC menjadi salah satu bentuk pembinaan yang menarik.

Santri tidak hanya diajak untuk membuat konten karena mengikuti tren. Mereka diarahkan memahami prosesnya: bagaimana menemukan gagasan, menyusun konsep, menentukan pesan, mengambil gambar, mengolah video, memilih unsur visual, hingga menghasilkan karya yang layak disampaikan kepada publik.

Dengan demikian, CMC bukan sekadar tempat belajar teknis.

Ia menjadi ruang latihan untuk berpikir, berkomunikasi, berkolaborasi, dan bertanggung jawab terhadap pesan yang disampaikan.

Santri belajar bahwa sebuah konten yang baik tidak lahir hanya karena kamera yang bagus atau kemampuan mengedit yang mumpuni. Ada gagasan yang harus dipikirkan, pesan yang harus dijaga, proses yang harus dilalui, dan evaluasi yang perlu dilakukan.

Karena itu, pembinaan di CMC diarahkan agar santri memiliki kesempatan untuk mencoba dan terus memperbaiki diri. Karya yang dibuat menjadi bahan belajar; kekurangan menjadi bahan evaluasi; dan pengalaman menjadi bekal untuk menghasilkan karya berikutnya.

Tumbuh Bersama, Saling Menguatkan
Perjalanan seperti ini tentu tidak dilakukan seorang diri.

Di balik berbagai kegiatan yang dijalankan Nabila bersama Studio Astrie, ada teman-teman yang hadir dengan peran dan kemampuan masing-masing. Mereka mungkin tidak selalu berada di posisi yang sama, tidak selalu mengerjakan hal yang sama, tetapi memiliki satu kesamaan: saling memberikan dukungan untuk menghadirkan kebaikan.

Ada Afifah Alya Amatullah, santri yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Ada Athyrah Zuhratul Auliya dan Diva Safira Ramadhan, keduanya dari Malang. Ada p**a Naila Husna Farafishah yang berasal dari Bangil. Selain mereka, masih ada rekan-rekan lain yang turut mengambil bagian dalam perjalanan dan aktivitas kreatif tersebut, yang tentu tidak mungkin disebutkan satu per satu.

Keberagaman asal daerah itu justru menjadi gambaran kecil tentang bagaimana kehidupan santri di pesantren mempertemukan banyak latar belakang dalam satu ruang belajar.

Merauke, Nusa Tenggara Timur, Malang, Bangil, dan berbagai daerah lainnya bertemu dalam sebuah proses yang sama: belajar, bekerja sama, dan saling menguatkan.

Masing-masing memiliki peran yang berbeda. Ada yang memberikan gagasan, membantu proses produksi, mendukung kegiatan, berbagi keterampilan, memberi masukan, menjadi rekan berdiskusi, atau sekadar menghadirkan semangat ketika sebuah pekerjaan terasa tidak mudah. Tidak semua kontribusi selalu terlihat di depan kamera. Namun, dukungan kecil yang diberikan secara konsisten sering kali menjadi bagian penting dari lahirnya sebuah karya.

Dalam konteks inilah Studio Astrie tidak hanya menjadi tempat produksi konten. Ia juga menjadi ruang perjumpaan dan pembelajaran sosial: tempat santri belajar bahwa sebuah karya yang baik sering kali lahir dari kerja bersama, bukan dari kemampuan seorang diri.

Dari Antusiasme Menjadi Proses Pembinaan
Antusiasme santri pun menjadi energi tersendiri.

Ketika ditanya bagaimana respons santri mengikuti kegiatan CMC, Nabila menjawab singkat, “Mereka sangat semangat.”

Semangat itulah yang kemudian perlu dirawat menjadi proses pembelajaran yang berkelanjutan. Sebab dunia digital terus berubah, sementara kebutuhan terhadap generasi yang mampu menyampaikan pesan secara kreatif, tepat, dan bertanggung jawab semakin besar.

CMC memberikan kesempatan kepada santri untuk belajar dari proses. Mereka tidak harus langsung menghasilkan karya yang sempurna. Yang lebih penting adalah memiliki keberanian untuk mencoba, kemauan untuk menerima masukan, dan kesediaan untuk memperbaiki karya.

Dari proses semacam itu, keterampilan tumbuh secara bertahap.

Bagi Nabila, pengalaman ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinannya. Ia tidak hanya belajar bagaimana mengelola sebuah kegiatan, tetapi juga bagaimana mengajak orang lain tumbuh bersama.

Dan ia tidak sendirian. Bersama Tim Studio Astrie dan rekan-rekan yang mendukungnya, gagasan itu perlahan dibangun menjadi sebuah ekosistem belajar: santri bertemu santri, keterampilan bertemu kreativitas, dan pengalaman bertemu kesempatan untuk berkarya.

Dari Merauke, Untuk Sebuah Manfaat
Dari Merauke ke Bangil, Nabila telah menempuh perjalanan yang panjang. Tetapi mungkin, perjalanan paling penting justru sedang ia jalani sekarang—perjalanan mengubah ilmu menjadi keterampilan, keterampilan menjadi karya, dan karya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Jarak yang dahulu harus ia tempuh dengan kapal atau pesawat kini menemukan makna lain. Ia tidak sekadar datang dari sebuah tempat yang jauh untuk belajar di Bangil. Ia sedang menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang: perjalanan membangun kemampuan, membangun jejaring kebaikan, dan belajar memberi manfaat melalui apa yang ia miliki.

Insyaallah, dari ruang kecil bernama Creative Media Clinic, akan tumbuh generasi santri yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu mengisinya dengan karya yang bernilai.

Sebab pada akhirnya, ilmu yang bermanfaat bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang apa yang dapat kita lakukan dan berikan kepada orang lain.

Dan mungkin, itulah salah satu makna perjalanan Nabila Fairuzka dari Merauke ke Bangil: jauh perjalanan yang ditempuh, luas ilmu yang dicari, lalu kebaikan yang diupayakan untuk dibagikan kembali.

Ustadz yang penuh dedikasi. Kami siap kembali ke bangku kelas. Satu pekan dalam AKSI IX/ 2026 adalah pernak-pernik perja...
18/09/2026

Ustadz yang penuh dedikasi. Kami siap kembali ke bangku kelas. Satu pekan dalam AKSI IX/ 2026 adalah pernak-pernik perjalanan yang kami lewati dengan penuh semangat. Ada kebaikan kita kuatkan. Bila ada kekurangan, ke depan kita tingkatkan. Kami tidak berhenti berusaha. Kami akan berusaha bersama-sama membawa kebaikan di asrama, sekolah, dan saat kami di luar pesantren. Terlebih lagi ketika kami kembali ke rumah bersama keluarga. Bekas baik itu akan kami bawa terus ke manapun kami melangkah.

Ustadz dan Ustadzah . . . Kegiatan EKSIS IV/ 2026 telah ditunaikan. Keseruan sudah kami rasakan. Saatnya kami kembali ke...
18/09/2026

Ustadz dan Ustadzah . . .
Kegiatan EKSIS IV/ 2026 telah ditunaikan. Keseruan sudah kami rasakan. Saatnya kami kembali ke bangku-bangku kelas. Semangat menyala kembali. APi dalam dada membakar jiwa untuk meraih ilmu yang berguna untuk masa depan Islam. Kami siap belajar. Pengalaman yang kami dapatkan in syaa Allah membekas baik dalam jangka yang teramat panjang dalam kehidupan. Terimakasih semuanya. Tetap semangat!

AKSI KE-IX/ 2026 Dedikasi tinggi yang dikerjakan panitia dan santri adalah wujud kerja sama yang utuh. Sepenggal cerita ...
18/09/2026

AKSI KE-IX/ 2026
Dedikasi tinggi yang dikerjakan panitia dan santri adalah wujud kerja sama yang utuh. Sepenggal cerita yang melelahkan pastinya akan menjadi kenangan manis di masa yang akan datang. Tantangan selama perjalanan adalah pelajaran berharga. Bertambahnya wawasan dan kesempatan mengasah kemampuan hadir bersama seakan menjadi warna indah dalam setiap jejak langkah kebersamaan. Semangat terbina, lihatlah ke depan untuk menyambut mentari kejayaan. Sekali waktu boleh melihat ke belakang sekadar untuk mengamati agar tidak terjatuh di lobang yang sama.

Address

Putra : Jalan Suprapto No. 223/Telp. (0343) 741932/Gempeng , Putri : Jl. Pattimura 185/(0343) 742891/Pogar
Bangil
67153

Opening Hours

Monday 08:00 - 14:00
Tuesday 08:00 - 14:00
Wednesday 08:00 - 14:00
Thursday 08:00 - 14:00
Saturday 08:00 - 14:00
Sunday 08:00 - 14:00

Telephone

+81999955475

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pesantren Persis Bangil posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Pesantren Persis Bangil:

Shortcuts

Share