Pesantren Persis Bangil

Pesantren Persis Bangil PESANTREN PERSIS BANGIL

24/08/2026

Nak, bayangkan seseorang hendak melakukan perjalanan jauh. Ia tentu tidak akan berangkat hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Ia akan memikirkan bekal, makanan, pakaian, uang, kendaraan, bahkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi di perjalanan. Mengapa? Karena ia tahu bahwa perjalanan itu panjang. Orang yang memahami jauhnya perjalanan akan lebih serius mempersiapkan dirinya.

Jika Tahu Jauhnya Perjalanan, Bersiaplah Ada sebuah ungkapan mahfuzhat yang sederhana tetapi dalam maknanya: مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اسْتَعَدَّ “Barang siapa mengetahui jauhnya perjalanan, ia akan mempersiapkan bekal.” Nak, bayangkan seseorang hendak melak...

23/08/2026

Nak, hidup di asrama Pesantren PERSIS Bangil bukan sekadar belajar bagaimana mengikuti jadwal, bangun tepat waktu, masuk kelas, hadir di masjid, lalu menyelesaikan tugas. Asrama adalah tempat belajar menjadi manusia. Di sana, setiap kebiasaan kecil sedang membentuk karakter. Karena itu, ada satu prinsip sederhana yang perlu kau pegang: less talk, more action—kurangi bicara yang tidak perlu, perbanyak tindakan yang berarti.

Less Talk, More Action: Santri yang Sedikit Bicara, Banyak Berkarya Nak, hidup di asrama Pesantren PERSIS Bangil bukan sekadar belajar bagaimana mengikuti jadwal, bangun tepat waktu, masuk kelas, hadir di masjid, lalu menyelesaikan tugas. Asrama adalah tempat belajar menjadi manusia. Di sana, setiap...

22/08/2026

Ajang Kreasi Santri Pesantren PERSIS Bangil atau AKSI IX Tahun 2026 merupakan salah satu agenda tahunan yang menjadi ruang bagi para santri untuk mengembangkan potensi, kreativitas, sportivitas, dan wawasan keilmuan. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan kegiatan selama tujuh hari tidak hanya bergantung pada panitia, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh santri putra dan pengasuh asrama. Di sisi lain, santri putri juga mengadakan kegiatan melalui EKSIS IV (Edukasi Kreasi Santri PERSIS) sebagai wadah pengembangan bakat dan prestasi.

Semangat Kebersamaan dalam AKSI IX dan EKSIS IV Ajang Kreasi Santri Pesantren PERSIS Bangil atau AKSI IX Tahun 2026 merupakan salah satu agenda tahunan yang menjadi ruang bagi para santri untuk mengembangkan potensi, kreativitas, sportivitas, dan wawasan keilmuan. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan....

21/08/2026

Asrama pesantren merupakan tempat di mana para santri tidak hanya belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar hidup bersama dengan orang lain. Di asrama, kita bertemu dengan teman-teman yang memiliki karakter, kebiasaan, latar belakang, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itu, menghargai teman menjadi salah satu hal penting yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di asrama Pesantren Persis Bangil.

Pentingnya Menghargai Teman di Asrama Pesantren Persis Bangil Asrama pesantren merupakan tempat di mana para santri tidak hanya belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar hidup bersama dengan orang lain. Di asrama, kita bertemu dengan teman-teman yang memiliki karakter, kebiasaan,....

20/08/2026

Teruslah berdoa agar diri kita selalu terjaga.

20/08/2026

Bersegeralah menuju ampunan Allah Tabaaraka wa Ta'ala.

Letak Kemuliaan dalam Persaudaraan Nak! Ada kisah yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan pelajaran besar tent...
20/08/2026

Letak Kemuliaan dalam Persaudaraan

Nak! Ada kisah yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan pelajaran besar tentang persaudaraan. Pernah ada seorang santri yang dengan penuh kesungguhan membantu urusan administrasi temannya yang sedang mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Ia membantu mencermati berkas, mengurus keperluan administrasi, dan memberikan dukungan agar temannya dapat mewujudkan impiannya.

Nak! Di balik semua bantuan itu, sebenarnya ia pun memiliki mimpi yang sama. Ia juga ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Ia memiliki harapan, rencana, dan keinginan untuk melihat dunia yang lebih luas. Namun takdir berkata lain. Usahanya belum berhasil. Ia gagal berangkat, sementara temannya justru berhasil melanjutkan perjalanan menuju negeri yang diimpikan.

Nak! Di sinilah letak kemuliaan sebuah persaudaraan. Ia mungkin kecewa, tetapi tidak menjadikan kegagalannya sebagai alasan untuk berhenti membantu. Ia tidak berkata, “Kalau aku tidak bisa berangkat, mengapa aku harus membantu orang lain?” Sebaliknya, ia tetap memberikan dukungan. Ia belajar bahwa keberhasilan seorang saudara tidak harus menjadi ancaman bagi dirinya.

Nak! Rasulullah ﷺ bersabda, «لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه» — “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” Inilah ukuran persaudaraan yang sesungguhnya: mampu berbahagia atas kebaikan yang diperoleh orang lain, bahkan ketika kita sendiri belum mendapatkannya.

Nak! Kisah itu mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu berarti kita mendapatkan sesuatu sebagai balasannya. Terkadang kita membantu orang lain mencapai tempat yang belum mampu kita datangi. Terkadang kita membuka jalan bagi seseorang, sementara perjalanan kita sendiri masih tertunda. Namun kebaikan tidak pernah sia-sia di sisi Allah.

Nak! Allah berfirman, وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ — “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Seorang Muslim tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia menjadi bagian dari kehidupan saudaranya. Ketika saudaranya membutuhkan bantuan, ia hadir. Ketika saudaranya berhasil, ia ikut bersyukur. Ketika saudaranya jatuh, ia membantu menguatkan.

Nak! Di pesantren, semangat seperti inilah yang harus tumbuh. Teman bukan sekadar orang yang duduk di samping kita di kelas atau tinggal bersama dalam satu asrama. Teman adalah saudara seperjuangan. Kita belajar bersama, menghadapi kesulitan bersama, saling mengingatkan, dan saling membuka jalan menuju masa depan.

Nak! Loyalitas kepada saudara bukan berarti membela kesalahan. Loyalitas yang benar adalah tetap menginginkan kebaikan untuknya, mengingatkannya ketika salah, dan mendukungnya ketika berada di jalan yang benar. Solidaritas bukan sekadar berdiri bersama ketika keadaan mudah, tetapi tetap hadir ketika perjuangan terasa berat.

Nak! Mungkin hari ini engkau membantu temanmu mencapai mimpinya, sementara mimpimu sendiri belum terwujud. Jangan merasa rugi. Bisa jadi Allah sedang mengajarkanmu bahwa keberhasilan tidak selalu berbentuk apa yang kita dapatkan. Ada keberhasilan yang lebih dalam: ketika hati kita mampu tetap ikhlas melihat saudara kita bahagia.

Nak! Sebab seorang santri tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi orang yang pintar. Ia dipersiapkan menjadi manusia yang bermanfaat. Kelak ketika berada di tengah masyarakat, ia mampu berkata, “Aku ingin maju, tetapi aku juga ingin saudaraku maju. Aku ingin berhasil, tetapi aku tidak ingin keberhasilanku dibangun di atas kegagalan orang lain.”

Nak! Itulah kepedulian. Itulah kebersamaan. Itulah solidaritas. Dan itulah salah satu wajah indah persaudaraan sesama Muslim: ketika mimpiku belum sampai, aku tetap bersedia membantu saudaraku mencapai mimpinya. Karena aku percaya, rezeki dan keberhasilan bukan perlombaan yang harus membuat kita saling menjatuhkan, tetapi karunia Allah yang semestinya membuat kita saling menguatkan.

Foto: Hanya sebagai ilustrasi saja.

Pelajaran dari Canda yang BerlebihanNak! Beberapa pekan lalu, terjadi sebuah peristiwa kecil di asrama yang menyisakan p...
19/08/2026

Pelajaran dari Canda yang Berlebihan

Nak! Beberapa pekan lalu, terjadi sebuah peristiwa kecil di asrama yang menyisakan pelajaran besar. Seorang santri sedang bersedih. Temannya datang dengan maksud bercanda dan menghibur. Namun, canda yang awalnya dianggap biasa berubah menjadi berlebihan. Sebuah dorongan iseng membuatnya kehilangan keseimbangan dan terbentur dinding. Akibatnya, dagunya mengalami memar yang bahkan masih terlihat hingga beberapa hari kemudian.

Nak! Barangkali tidak ada niat untuk menyakiti. Tidak ada p**a maksud untuk membuat temannya terluka. Hanya sebuah candaan yang tidak diperhitungkan akibatnya. Tetapi dari peristiwa itu kita belajar: tidak semua yang menurut kita lucu akan terasa lucu bagi orang lain. Terkadang, satu detik keisengan dapat meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada waktu yang kita perlukan untuk tertawa.

Nak! Islam mengajarkan kita agar menjaga lisan, tangan, dan sikap. Rasulullah ﷺ bersabda, «المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده» — “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” Persahabatan bukan alasan untuk menyakiti. Keakraban bukan izin untuk melakukan apa saja. Justru semakin dekat seorang teman dengan kita, semakin besar tanggung jawab kita untuk menjaga dirinya.

Nak! Yang membuat peristiwa ini menjadi pelajaran berharga adalah ketika orang tua datang berkunjung. Mereka melihat bekas memar pada anaknya dan mendengar cerita yang sebenarnya. Orang tua tentu sedih dan khawatir. Namun persoalan itu tidak berhenti pada kemarahan. Komunikasi dibangun dengan pengasuh asrama. Masalah dibicarakan, dicari duduk perkaranya, dan diarahkan menuju islah—perbaikan hubungan dan perdamaian.

Nak! Inilah indahnya kehidupan di pesantren. Kesalahan tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan. Anak yang berbuat salah diberi kesempatan untuk menyadari kesalahannya, meminta maaf, dan memperbaiki diri. Anak yang terluka juga belajar memaafkan dan tidak menyimpan dendam. Pengasuh menjadi jembatan agar keduanya tidak semakin jauh.

Nak! Dari sebuah memar, kita belajar tentang empati. Dari sebuah candaan, kita belajar tentang batas. Dari sebuah kesalahan, kita belajar tentang tanggung jawab. Dan dari sebuah persoalan, kita belajar bahwa **islah lebih baik daripada membiarkan luka berubah menjadi permusuhan**.

Nak! Temanmu bukan sasaran keisenganmu. Ia adalah saudaramu. Jangan tunggu sampai ia terluka untuk menyadari bahwa candaanmu sudah melewati batas. Bercandalah dengan adab, bergembiralah tanpa menyakiti, dan jika pernah berbuat salah, jangan gengsi untuk berkata, “Maaf, aku salah.”

Nak! Sebab menjadi santri bukan berarti tidak pernah salah. Menjadi santri adalah belajar bagaimana ketika salah kita berani mengakuinya, ketika menyakiti kita berani meminta maaf, ketika disakiti kita belajar memaafkan, dan ketika terjadi perselisihan kita berusaha mencari jalan menuju islah.

Nak! Semoga bekas memar itu segera hilang, tetapi pelajarannya jangan pernah hilang. Karena terkadang Allah menghadirkan sebuah peristiwa sederhana agar kita belajar menjadi manusia yang lebih lembut, lebih dewasa, dan lebih mampu menjaga saudaranya. Pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi tempat belajar hidup bersama dengan iman, adab, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Foto: hanya sebagai ilustrasi saja.

18/08/2026

Rizki-Nya dilimpahkan untuk kita. Bersyukurlah atas segala nikmat-Nya.


18/08/2026

Mereka yang takut kepada Allah Ta'ala.

Address

Putra : Jalan Suprapto No. 223/Telp. (0343) 741932/Gempeng , Putri : Jl. Pattimura 185/(0343) 742891/Pogar
Bangil
67153

Opening Hours

Monday 08:00 - 14:00
Tuesday 08:00 - 14:00
Wednesday 08:00 - 14:00
Thursday 08:00 - 14:00
Saturday 08:00 - 14:00
Sunday 08:00 - 14:00

Telephone

+81999955475

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pesantren Persis Bangil posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Pesantren Persis Bangil:

Shortcuts

Share