27/08/2026
Putri Mesir kuno pemanah mungkin bukan sekadar bayangan modern tentang perempuan bangsawan yang pasif.
Di ruang penelitian Museum Mesir di Kairo, para peneliti kembali memeriksa enam pemakaman kerajaan dari Dahshur, lanskap pemakaman kuno yang terkait dengan piramida dan makam elite. Jenazah-jenazah ini pertama kali ditemukan pada 1890-an, lalu sempat tersimpan lebih dari seabad dalam sebuah kotak sebelum ditemukan kembali pada 2020.
Di antara kelompok tersebut ada Princess Ita, Princess Khenmet, Princess Itaweret, Princess Noub-Hotep, serta seorang perempuan yang secara hati-hati diidentifikasi sebagai Princess Sathathormeryt. Mereka dikaitkan dengan keluarga Pharaoh Amenemhat II. Bersama sejumlah jenazah itu ditemukan busur, anak panah, belati, dan gada.
Selama ini, senjata dalam makam kerap dipahami sebagai benda simbolis atau persembahan pemakaman. Namun, studi yang dilaporkan dalam Frontiers in Environmental Archaeology membandingkan benda-benda tersebut dengan jejak pada tulang: perlekatan otot dan beberapa cedera yang dapat mencerminkan aktivitas berat pada tubuh bagian atas.
Kesimp**annya masih berupa interpretasi, bukan kepastian bahwa para putri ini adalah pejuang. Jejak tulang dapat memberi petunjuk tentang kegiatan berulang, tetapi tetap merupakan bukti tidak langsung—terlebih sebagian kerangka tidak lengkap, termasuk tengkorak yang hilang. Meski begitu, para peneliti menilai gabungan senjata dan bukti kerangka mungkin berkaitan dengan memanah, berburu, atau pelatihan senjata.
Temuan dari Dahshur ini mengingatkan bahwa kehidupan perempuan di masa lampau tidak selalu sesuai dengan gambaran sederhana yang diwariskan kepada kita. Kadang, sebuah belati yang lama dianggap simbolis dan tulang yang lama terabaikan dapat membuka kembali pertanyaan besar tentang kuasa, keterampilan, dan kehidupan yang nyaris hilang dari sejarah.