[سُوۡرَةُ المَائدة : 105]
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Jamuan (Al-Mā'idah):105
Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu; orang yang sesat itu tidak akan memberi mudharat padamu bila kamu mendapatkan petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, Dia akan menerangkan padamu apa yang telah kamu kerjakan.
Orang-orang yang sesat tak akan bisa mempengaruhi dan membawa mudharat jika kita teguh pada petunjuk yang telah Allah berikan, yaitu; Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dan tentu mereka bisa mempengaruhi serta membawa orang lain menjadi sesat p**a jika tiada teguh terhadap Al-Qur'an dan Al-Hadits. Semua bergantung pada diri kita, apakah kita mampu meneguhkan diri pada Syari'at agama Allah atau malah cenderung labil dan menerima pengaruh mereka yang jelas-jelas diluar Al-Qur'an dan Al-Hadits? Semua kembali pada diri kita, iman kita dan amal kita yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta'ala.
Kajian Al-Qur'an dan Tafsir
Kajian ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
(Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo)
Pembukaan (Al-Fātiĥah):2
Segala puji hanyalah bagi Allah, Penguasa semesta alam.
_____________
Pujian hanyalah milik-Nya, Dialah Allah satu satunya yang pantas memperoleh puji dan puja. Tak ada satu pun makhluk yang patut untuk kita puji. Sejauh seseorang yang dikagumi adalah seorang "Manusia", maka tak kan pernah luput padanya akan salah dan dosa. Sering p**a kita menemukan manusia yang haus akan pujian. Merasa bangga dengan dirinya & membanggakan segala apa yang dimilikinya. Itulah manusia yang lupa kepada-Nya serta lupa akan hakikat dirinya. Sepatutnya lah kita menempatkan diri sebagai Makhluq di hadapan Sang Khaliq. Segala yang kita punya adalah titip dari-Nya, segala yang ada di alam semesta adalah milik-Nya. Tak ada yang bisa kita sombongkan. Hal yang pantas dapat kita lakukan hanyalah bersyukur atas pemberian yang diamanahkan-Nya.
Demikianlah jalan yang dikehendaki-Nya, setelah menjadi hamba yang tulus Ikhlas di dalam beramal hanya karena Allah, mengharapkan ridha dan rahmat dari-Nya dengan "Basmalah" serta berkasih dan sayang pada sesama makhluq-Nya di muka bumi lalu kita diharapkan untuk menjadi hamba yang rendah hati dan selalu bersyukur kepada-Nya. Qana'ah dengan rizki yang dititipkan-Nya, serta amanah dengan penuh rasa syukur dalam menjalaninya. Tidak selalu mengedepankan hawa nafsu dunia yang tiada ujungnya, tidak p**a selalu pamrih dengan berharap imbalan jasa di setiap amal yang dilakukannya. Menjadi hamba Allah yang penuh kasih, Ikhlas dalam beramal, tiada mengkultuskan seseorang juga tiada membanggakan dirinya, dan tidak p**a mengedepankan nafsu duniawi dalam kehidupannya, adalah jalan untuk menjadi hamba yang akan memperoleh limpahan rahmat Allah Ta'ala.
Allah SWT berfirman:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
"(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)"
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 1)
Segalanya bermula karena Allah. Segala hal sepatutnya didasari niat dan diawali karena mengharap ampunan & rahmat-Nya. Rahmat Allah adalah kehendak-Nya untuk menjadi kebaikan bagi siapapun yang menerimanya. Karena ketulusan pada-Nya lah rahmaan-Nya akan kita peroleh. Karena keikhlasan dalam setiap amal yang dilakukan lah niscaya rahiim-Nya akan kita dapatkan. Bersihkan hati, luruskan niat, hindari riya; ujub; takabbur dan awali segala amal yang dilakukan hanya karena mengharap ridha-Nya; agar kita semakin dicintai-Nya. Aamiin...
Allah SWT berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًۢا بِجَهٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang padamu seseorang membawa kabar, teliti terlebih dahulu kebenarannya, agar kamu tidak merugikan yang lain hingga akhirnya kelak akan menyesali perbuatanmu" (Q.S. Al-Hujaraat : 6)
_________
Menjadi orang yang beriman bukan sebatas menjalankan rukun Islam. Di ayat ini kita diperintah kan p**a untuk berfikir dengan cerdas dalam mencerna dan memilah setiap kabar yang diterima, jangan langsung menerima, mempercayai dan meyakininya benar adanya, karena bisa saja hal itu sebuah fitnah untuk menjatuhkan martabat seseorang yang dipolitisir sedemikian rupa oleh orang yang menyampaikannya karena memiliki kepentingan atau bertujuan mengadu domba, dan yang lebih jauh lagi bahkan mengacaukan persaudaraan hingga akhirnya kita menyesali tindakan yang kita perbuat karena termakan cerita yang mereka kemas dengan sedemikian rupa. Mari kita menjadi mukmin yang tidak hanya sekedar mengaku beriman, melainkan lebih cerdas, sabar dan telaten dalam mensikapi keadaan dan masalah yang dihadapi agar menjadi hamba yang bijak dan semakin dicintai Allah Ta'ala.
Al-Furqan : 54 - 58
Dan Dialah yang menciptakan manusia dari air lalu Ia jadikan manusia berketurunan & mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. Dan mereka menyembah selain Allah yang tak bermanfaat baginya dan tidak (p**a) memberi mudharat padanya, orang-orang kafir itu penolong untuk berbuat durhaka pada Tuhannya. Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Katakan: "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya. Dan bertawakkal lah kepada Allah yang Maha Hidup & Yang tidak mati, bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa tiap hamba-Nya.
______
Memiliki keturunan dan berbangsa dengan berbagai suku adalah bahagian dari kehendak Allah. Kekufuran hanyalah jalan yang akan membawa manusia menjadi durhaka pada Allah Sang Penguasa Alam. Jika ada yang mengajak pada kekufuran, mengajarkan pengetahuan yang keluar dari agama Allah dan tidak ada tuntunan dalam Qur'an dan Sunnah sehingga menjadi kufur maka ia telah Kafir dalam pandangan Allah. Menyampaikan ayat-ayat agama Allah dari Al-Qur'an adalah bagian dari perintah Allah yang mesti kita lakukan, baik pada orang-orang terdekat mau pun yang lain. Jangan memaksakan diri meraih keberhasilan dalam seruanmu pada mereka, lakukanlah dengan ikhlas karena mengharapkan ridha dari-Nya. Jangan kau lakukan seruanmu dengan mengharap imbalan serta pamrih lainnya. Jangan p**a mencari-cari kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh sesama. Cukuplah Allah yang Maha Mengetahui kesalahan dan dosa setiap hamba-Nya. Tak ada satu pun manusia yang patut menilai kadar iman seseorang. Cukup lah kita mengajak pada kebaikan dan mengingatkan untuk tetep teguh di jalan yang Allah ridhai.
"Wahai orang orang yang beriman, rukuk, sujud, sembah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan agar kalian beruntung" Al Haj : 77
Apabila kita perhatikan ayat ini, dalam kenyataannya ada yang beriman & mau beribadah ada p**a yang ngaku beriman tapi enggan beribadah. Sering kita temukan orang yang beriman, ia membahas agama seolah sudah sampai pada tingkat ma'rifat tapi kenyataannya shalat pun tidak, zakat enggan, puasa ia abaikan, apalagi berhaji tak ada niat dalam dirinya. Allah dalam Al-Qur'an; menjelaskan, mengajak kita rukuk dan sujud kepada Allah serta berbuat kebaikan, namun; ada yang kembali ke jalan Allah ada p**a yang dengan angkuhnya enggan melakukannya. Jangan sampai kita terkelabuhi oleh orang orang yang berkesan iman padahal hanya sebatas pandai bicara, iman bukan pandai bicara, percaya dan sebagainya, melainkan yang mampu beramal sholeh dan taat kepada Allah. Apabila mereka ada yang berbuat kebaikan tetapi tidak menunaikan shalat, zakat, puasa dan haji maka sesungguhnya ia belum taat kepada Allah, berbeda dengan mereka yang mahu menunaikan shalat dan rukun islam lainnya, itulah bukti taatnya kepada Allah. Shalat adalah tolak ukur bukti taat dan tidaknya kita kepada Allah. Sepandai dan seluas apapun pengetahuan agama seseorang, selama ia enggan menunaikan shalat, maka ia belum lah taat kepada Allah. Maril kita tunaikan shalat, agar menjadi hamba yang beruntung.
Allah menciptakan seluruh alam tanpa kesia-siaan. Semua memiliki kemaslahatan dan tujuan bagi kehidupan semua makhluq. Dia mengetahui apa yang diciptakan-Nya. Allah menurunkan tujuh ayat Qur'an dan dengannya berulangkali kita melantunkannya. Di setiap waktu, baik di saat kita menunaikan shalat, maupun diluar shalat. Al-Fatihah adalah surah yang digelari nama Ad-Du'aa (Do'a), karena separuh awal darinya adalah pujian kepada Allah, sedang sebagian akhirnya adalah permohonan kita kepada-Nya. Satu-satunya surah dalam Al-Qur'an yang terbagi dalam dua bagian, dan siapapun yang menunaikan shalat, sesungguhnya belumlah sah shalatnya jika tidak membaca surah Fatihah di setiap rakaatnya. Demikian p**a, sepatutnya kita membaca ayat Al-Qur'an yang mengandung pujian, mengagungkan Allah.
Dan ketahuilah, Rasulallah menyampaikan syari'at dengan begitu jelas. Diserta teladan menjalankannya, sebagai Sunnahnya. Bagi para penerus syi'arnya, sepantasnya lah meneladani & menjadikannya sebagai teladan satu-satunya dengan kemuliaan akhlak. Jangan mengimani sebagian ayat Al-Qur'an namun mengabaikan ayat lainnya. Mengimani Al-Qur'an; bukan melantunkan ayat-ayat tertentu sebagai rutinitas hingga tiada berbeda menjadi mantera untuk terpenuhinya harapan ini dan itu. Bukan p**a mengagungkan beberapa surah & meninggalkan surah lainnya. Jangan mengkultuskan ayat tertentu menjadi ilmu kebathinan lalu bersandar pengharapan padanya. Karena; bukanlah seperti itu tujuan Al-Qur'an Allah berikan. Bukan menjadi mantera, bukan sebagai ilmu kebatinan, bukan p**a mantra ilmu kanuragan sebagai jalan terpenuhinya hasrat dunia, sekecil apapun itu. Al-Fatihah, yang berulangkali kita lantunkan adalah do'a juga ikrar kita kepada Allah. Bahwa; hanya kepada Allah kita beribadah & hanya pada-Nya kita memohon segalanya, ini lah janji kita yang kelak akan Allah perhitungkan dengan melihat amal perbuatan di sepanjang hidup kita. Apakah selaras dengan ikrar dalam surah Al-Fatihah yang selama ini kita ucapkan? Atau cenderung menyimpang dan keluar dari janji yang telah kita ikrarkan? Al-Qur'an, adalah pedoman untuk kita fahami & kita lakukan dalam menjalani hidup. Bukan menjadi bacaan jampi-jampi, bukan p**a ilmu yang membiaskan makna "Ilmu Hikmah" dalam pandangan khalayak ramai.
Pembukaan (Al-Fātiĥah):7
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan p**a jalan mereka yang sesat.
____________
Demikianlah jalan hidup yang kita mohonkan kepada-Nya, yaitu jalan kehidupan yang penuh nikmat, kebahagiaan, kesejahteraan, kesehatan, juga keselamatan dengan hidayah yang telah diberikan-Nya. Bukan jalan hidup yang dimurkai Allah dan bukan p**a jalan kehidupan mereka yang merasa dan diduga telah beramal dengan benar padahal jauh tersesat dari hidayah Allah karena tiada selaras dalam menjalankan amal dengan kehendak Allah.
Yaa Muhammad Ya Habiiballaah, shalawat dan salam kami bagimu. Semoga Allah ampuni kesalahan dan dosa-dosa kami selama ini.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang Kau ridhai, berikanlah kami jalan hidayah-Mu. Jangan biarkan kami salah dan lalai yang mengakibatkan hidup ini tertimpa kemurkaan-Mu, janganlah p**a Engkau biarkan kami tiada menyadari bahwa segala yang kami lakukan ternyata salah hingga kami jauh tersesat dari jalan kebenaran dari-Mu. Bukakanlah kami jalan hidayah-Mu, Ya Allah. Agar kami mudah memperoleh karunia dan rizki dari-Mu, hingga kami lebih tenang dalam bersujud dan ibadah kepada-Mu. Aamiin...
Pembukaan (Al-Fātiĥah):6
Hidayahkan lah kepada kami jalan yang lurus
___________
Saudaraku, pada ayat ini, begitu banyak umat manusia yang menggambarkan bahwa "Shirath Al-Mustaqiim" adalah sebuah jembatan yang ada di akhirat kelak, yang begitu tajam bagaikan rambut yang terbelah tujuh. Padahal, pada tafsir kalimat Al-Qur'an itu sendiri, Allah tidak tengah membahas tentang sebuah bangunan berupa jembatan. Sebenarnya, itu hanyalah sebuah proyeksi yang digambarkan oleh sebahagian orang terdahulu yang menghubungkannya dengan perhitungan amal ketika hidup di dunia dan mencoba menjelaskan dengan kemampuan ta'wil yang difahaminya dari ayat dan Hadits yang disampaikan, tak ada Hadits yang Shahih yang menjelaskan akan hal itu. Dan sebenarnya, dalam Hadits pun, Rasulullah sama sekali tidak membahas tentang jembatan. Akan tetapi Rasulullah hanya menjelaskan bahwa itu merupakan jalan yang begitu licin berduri, barang siapa yang tak mampu untuk menjalaninya niscaya akan tergelincir menjadi ahli Neraka. Itulah jalan dalam kehidupan dunia yang kita tempuh saat ini. Yang menentukan selamat dan tidaknya kita di akhirat adalah keimanan dan amal sholeh yang kita lakukan, bukan mampu dan tidaknya kita melewati sebuah jembatan di akhirat nanti, lagi p**a di akhirat bukanlah sebuah perlombaan. Karena, di akhirat bukan lah p**a saatnya kita beramal, melainkan mempertanggung jawabkan amal perbuatan yang telah kita lakukan di dunia ini. Oleh karena itu, Marilah kita beriman dengan sebenar-benarnya dan kita sibukkan diri ini untuk beramal sholeh. Itulah jalan yang lurus nan sebenar-benarnya (Shirath Al-Mustaqiim).
Sengaja saya tafsirkan ayat berikut ini dengan menggunakan kata "Hidayah" sebagaimana akar kata yang sebenarnya. Karena intisari dari ayat ini adalah do'a yang kita panjatkan kepada Allah agar memberikan hidayah bagi kehidupan kita di dunia, yaitu jalan kehidupan yang lurus, istiqamah, penuh dengan amal kebenaran yang diridhai-Nya, itulah "Agama Islam". Maka, dapat kita simpulkan bahwa ayat ini sesungguhnya bermakna sebagai berikut; "Ya, Allah. Hidayah-kanlah kepada kami agar menjadi Muslim dan Muslimah yang sebenar-benarnya sebagaimana yang Engkau ridhai". Hamba yang benar-benar memperoleh ridha dan mampu menjalani hidup ini dengan benar, selaras dengan apa yang diharapkan oleh Allah Ta'ala. Aamiin.
Pembukaan (Al-Fātiĥah):5
Hanya pada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
______________
Saudaraku, inilah pertengahan Surah Al-Fatihah, separuh pertama berisikan pujian, dan dimulai pada ayat ini berisikan pujian dan bermula ayat permohonan demi permohonan hingga akhir Surah. Inti dari Surah Al-Fatihah termaktub dalam ayat berikut ini. Hanya kepada-Nya lah sepatutnya kita beribadah dan hanya kepada-Nya p**a kita memohon pertolongan. Memohon pertolongan diawali dengan bukti ketaatan beribadah kepada-Nya. Bukan menjadi hamba yang selalu mengedepankan nafsu keinginan dunia yang melulu ingin terpenuhi, melainkan seorang hamba yang selalu mengedepankan ketaatan dengan penuh keikhlasan bersujud pada-Nya dalam mengharapkan idzin dan ridha-Nya atas apa yang diharapkan
Pembukaan (Al-Fātiĥah):4
Yang menguasai di Hari Pembalasan.
___________________
Saudaraku, Allah lah yang menjadi Penguasa di hari pembalasan. Baik pembalasan yang Allah izinkan menimpa saat masih hidup di dunia ini, terlebih pembalasan yang lebih besar di akhirat nanti. Maka segeralah memohon ampunan atas kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat di dunia ini, tanpa harus menunggu balasan dari amal buruk yang selama ini dilakukan akhirnya menimpa berupa musibah dan adzab. Musibah adalah atas idzin Allah, dengan perhitungan & buah dari amal dosa yang diperbuat. Allah p**a satu-satunya Dzat yang mampu menghilangkan segalanya. Mohonlah hanya kepada-Nya, isilah hari-hari kita dengan amal sholeh penuh iman nan ikhlas sebagai penolong diri kita sendiri. Bukan bersandar pada orang lain yang konon katanya mengaku-ngaku dapat menolong dan melindungimu. Bukan p**a seseorang yang kau anggap dekat kepada-Nya lalu kau sandarkan pengharapan dirimu kepada dirinya.
Pembukaan (Al-Fātiĥah):3
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
_______
Saudaraku, inilah yang disebut dengan "Ayat Rahmaaniyyah", Allah mengulang kembali firman-Nya sebagai bahagian dari bunyi ayat "Basmalah" sebelumnya. Sebagai penegas dan menunjukkan kesungguhan kasih dan sayang kepada seluruh makhluk di alam semesta. Tak ada yang pantas untuk kita ragukan, tak ada yang bisa kita sangkal kan, segala rahmat yang telah Allah berikan kepada kita sebagai hamba-Nya. Maka sepatutnyalah kita melakukan kewajiban bersujud dan tiada menduakan-Nya, bersyukur juga memohon segala apa yang kita harapkan hanya pada-Nya.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Telephone
Website
Address
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Bandung
46575